Selasa, 11 Januari 2011

KESESATAN SEKTE YAHWEHISME BAGIAN KEDUA: IMAN VERSUS PERBUATAN BAIK

Oleh: Albert Rumampuk



Setelah dibagian pertama saya telah membuktikan kesesatan kelompok Yahwehisme karena telah menolak doktrin Allah Tritunggal, maka dibagian kedua dari tulisan ini, saya akan menunjukkan bahwa sekte ini bahkan menghubungkan keharusan penggunaaan nama Yahweh dengan keselamatan.

Gary Mink (internet): “On the other hand, most people in the sacred name movement accept the New Testament as valid when it is convenient for their purposes to do so. The movement in general rejects the New Testament where the names Yahweh and Yahshua are not found, where Paul scolds them for Torah (law) keeping as a means to salvation, and where one or another of their teachings is contradicted” (= Pada sisi yang lain, kebanyakan orang dalam gerakan nama kudus / keramat menerima Perjanjian Baru sebagai sah / benar pada waktu itu sesuai untuk tujuan-tujuan mereka untuk menerimanya. Gerakan ini secara umum menolak Perjanjian Baru dimana nama-nama Yahweh dan Yahshua tidak ditemukan, dimana Paulus menghardik mereka untuk pemeliharaan hukum Taurat sebagai suatu cara / jalan kepada keselamatan, dan dimana salah satu ajaran-ajaran mereka ditentang).

Pdt. Budi Asali: “Perhatikan kutipan terakhir ini, yang menunjukkan bahwa mereka menerima ketaatan terhadap hukum Taurat sebagai syarat keselamatan! Kalau ini benar, ini jelas menunjukkan bahwa mereka bukan sekedar salah, tetapi sesat! (http://www.golgothaministry.org/seminaryhwh/yhwhisme.htm).

Saya akan membuktikan bahwa apa  yang dikatakan Gary Mink ini memang benar adanya.


Berikut perdebatan saya dengan Pdt. Teguh Hindarto M.Th tentang keselamatan menurut Alkitab.


ALBERT RUMAMPUK:

Ada satu hal yang saya ingin tahu dari anda: Bagaimana nasib saya kelak jika sampai mati saya tetap menggunakan kata ‘Allah’ ? Dimana tempat saya berada; surga atau neraka??? Saya melihat anda beberapa kali menghindar dari persoalan ini. Silahkan dijawab dengan jujur. Pak Teguh, saya kira inti persoalan yang sedang kita bahas disini, adalah tentang KEHARUSAN nama YHWH dan bukan persoalan Tritunggal. Sekalipun itu memang ada di note saya, tapi itu bukan tujuan serangan saya buat anda / kelompok Yahwehisme. Diatas sudah saya buktikan bahwa anda yang termasuk dalam kelompok Yahwehisme, jelas adalah seorang Sabelian. Itu sudah cukup. Sekarang anda fokus saja pada ayat2 seperti Kel 3:15, Amsal 8:10 atau Yoh 17:6, yang anda klaim sebagai bukti 'keharusan nama YHWH'. Thanks.

TEGUH HINDARTO:

Siapa yang menghindar? Sejak kapan Anda menanyakan hal tersebut? Baru kali ini Anda menanyakannya. Demikian penjelasan saya.

Yahweh adalah Hakim Yang Adil sebagaimana dikatakan: “Sebab Yahweh ialah Hakim kita, Yahweh ialah yang memberi hukum bagi kita; Yahweh ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita” (Yesaya 33:22). Perhatikanlah kalimat כי יהוה שׁפטנו (ki Yahweh shofetenu: Sebab Yahweh adalah Hakim kita). Dialah yang akan menjadi Hakim atas perkara-perkara yang kita perselisihkan.

Kita semua akan menghadap Tahta Pengadilan Tuhan dan Mesias sebagaimana dikatakan: “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Mesias, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10)

“Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu” (Why 20:11-12)

Berbeda dengan apa yang Anda lakukan terhadap saya dan gerakan yang Anda tuduh “sekte Yahwisme” yaitu menghakimi dan menuduh sesat, saya justru mengembalikan semuanya pada Yahweh Tuhan Yang Adil pada harinya kelak. Anda boleh menyangkal, mengelak dan berargumentasi dengan sekuat tenaga. Kelak kita hanya mendengar keputusan Tuhan. Kewajiban saya hanyalah mengingatkan sebagaimana difirmankan:

“Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama tuhan lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu” (Kel 23:13)

“Sebab segala tuhan bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Yahwehlah yang menjadikan langit” (1 Taw 16:26)

Jika Anda menerima pengajaran tersebut dan disingkapkan oleh Bapa, maka Anda telah mengetahui apa yang benar dan baik. Maka berlakulah hukum berikut: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17). Namun jika Anda belum juga memahami, berlaku hukum berikut: “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman” (1 Tim 1:13). Kiranya penjelasan saya cukup memuaskan apa yang Anda tanyakan.

ALBERT RUMAMPUK:

Sudah jelas bagi saya bahwa anda bahkan menghubungkan keharusan nama YHWH dengan dosa / keselamatan, sekalipun dengan embel-embel "mengembalikan semuanya pada Yahweh Tuhan Yang Adil pada harinya kelak". Jika saya tak lakukan itu anda katakan berdosa dan jelas upah dosa adalah maut (Rom 6:23). Jelas saya akan binasa / masuk neraka!Bandingkan dengan pernyataan Pdt. Yakub Sulistyo disini:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=446984877630

Anda menggembar-gemborkan untuk kembali ke akar Ibrani / Yahudi, jelas juga termasuk keharusan penggunaan nama YHWH yang jelas menurut anda "digunakan" oleh orang Yahudi termasuk Yesus, dsb.

Dengarkan ini: Anda sudah MENENTANG banyak ayat2 KS yang menyatakan bahwa manusia selamat HANYA karena IMAN!

Ef 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Gal 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.”

Ayat-ayat ini jelas mengajarkan bahwa manusia selamat bukan karena PERBUATAN BAIK (termasuk ‘perintah’ untuk MENGHARUSKAN nama YHWH), tetapi HANYA karena IMAN pada TUHAN Yesus Krsitus!

Ini bukti bahwa Yahwehisme adalah sekte dan orang2 didalamnya adalah Bidat!

TEGUH HINDARTO:

Anda mulai linglung. Menyimpulkan atas apa yang tidak saya tuliskan. Saya paham, Anda harus membenarkan asumsi dan tuduhan Anda terhadap saya dan teman-teman. Jadi Anda akan abaikan semua pernyataan saya yang tidak mendukung tuduhan Anda dan berusaha memelintir apa-apa yang tidak saya katakan. Coba buktikan pada bagian penjelasan mana saya mengatakan demikian? Anda akan menuai apa yang Anda tuduhkan...

Inilah pandangan khas Kekristenan yang berpolakan pemikiran Helenis. Mempertentangkan Iman dan Perbuatan. Memang benar, keselamatan diperoleh hanya oleh iman dan iman yang tidak ditunjukkan dengan buah perbuatan tentu tidak akan membawa keselamatan.

Matius 7:21-23 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang MELAKUKAN kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Wahyu 20:12 “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut PERBUATAN mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.”

Rm 2:6-8 “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman”

2 Korintus 5:10 “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan (Mesias) supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”

Anda masih harus lebih banyak lagi belajar mengenai nilai perbuatan baik, sesuatu yang diajarkan Yesus dan rasulnya namun yang diabaikan gereja yang terlalu menekankan iman.

Silahkan membaca artikel saya di sini: NILAI PERBUATAN BAIK DALAM DUNIA SEKARANG DAN DUNIA AKAN DATANG

ALBERT RUMAMPUK:

Nih bukti bahwa nama YHWH berhubungan dengan keselamatan manusia: . . . .

Disitu anda katakan nama YHWH (Yahweh) adalah sumber keselamatan (Yes 33:22) dan sebagai HAKIM. Saat mengahadap tahta pengadilan Tuhan, dan saya masih gunakan kata "Allah" (yang anda gunakan Kel 23:13 dan 1 Taw 16:26 sebagai dasarnya), maka saya berdosa (Yak 4:17).

Sudah jelas bagi saya bahwa anda bahkan menghubungkan keharusan nama YHWH dengan dosa / keselamatan, sekalipun dengan embel-embel "mengembalikan semuanya pada Yahweh Tuhan Yang Adil pada harinya kelak". Jika saya tak lakukan itu anda katakan berdosa dan jelas upah dosa adalah maut (Rom 6:23). Jelas saya akan binasa / masuk neraka! Bandingkan dengan beberapa pernyataan anda ini:

"Beberapa teks dalam Kitab Zakharia (8:20-23; 12:10; 14:8-9,16)
memberikan petunjuk profetik mengenai suatu kondisi waktu dimana Israel yang telah menolak Mesias dan bangsa-bangsa akan mendapatkan keselamatan dengan episentrum Yerusalem dan menerima Mesias Ibrani serta ibadah Yudaik."
http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070701100355

"Mesias Yahshua secara manusia adalah keturunan Yahda [Ibr 7:14], dilahirkan di Betlehem [Mik 5:1], dinubuatkan kedatangan-Nya oleh nabi-nabi Israel [Ul 18:37-38, Yes 7:14]. Suka atau tidak suka, keselamatan yaitu kehidupan kekal karena dipulihkannya hubungan manusia dengan Elohim akibat kutuk dosa yang mendatangkan maut, berasal dari Yahudi. Mengapa? Karena dari suku Yahudi/Yehuda/Yahda, telah lahir Mesias. Dia yang diurapi untuk melakukan karya penyelamatan terhadap dunia dan manusia. Berbagai upaya untuk membuat Yahshua terlihat seperti orang Eropa, seperti orang Yunani, seperti orang Negro, seperti orang Asia, dll. Sikap demikian mencerminkan suatu sikap yang secara sadar atau tidak sadar enggan mengakui Keyahudian Mesias. Ada banyak faktor dan motif dibelakang sikap-sikap demikian. Bisa karena motif politis, bisa karena motif kultural, motif religius dll"

Senada dengan penjelasan diatas, Anton Wessel memberikan keterangan:

“[Yahshua] bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi! Ucapan Jullius Wellhausen ini menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwaq orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan-betapa mungkin secara mengejutkan-betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi-Nya. Mereka lupa bahwa keselamatan datang dari bangsa Yahudi’, sebagaimana terungkap dalam percakapan [Yahshua] di sumur dengan perempuan Samaria itu [Yoh 4:22]” (f2).

Apapun alasannya, Yahshua secara manusiawi adalah Yahudi. Juruslamat itu berasal dari suku Yahda [Ibr 7:14]  http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070704001136

Bandingkan dengan pernyataan Pdt. Yakub Sulistyo disini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=446984877630

----------------
Diatas anda katakan: keselamatan berasal / berpusat pada Yerusalem dan menerima Mesias Ibrani serta ibadah Yudaik. Jelas semua bentuk IBADAH Yahudi, baik Sabat, tidak rayakan Natal, Sunat, 'keharusan nama YHWH' (yang menurut anda diperintahkan oleh YHWH 'Yahudi'), dsb, jelas punya ANDIL dalam keselamatan. Ini betul-betul kesesatan yang tiada taranya!
Anda katakan pandangan Helenis? Memangnya PB yang anda klaim sebagai asli Ibrani itu menulis bagaimana ayat Ef 2:8-9 dan Gal 2:16?? Coba tunjukkan apa memang keselamatan itu bukan HANYA oleh IMAN? Iman dibuktikan oleh perbuatan baik, tapi perbuatan baik itu sendiri tidak punya andil dalam keselamatan!

Ayat2 yang anda tunjukkan itu tidak boleh ditafsirkan bahwa selamat juga karena perbuatan baik. Jika demikian, maka akan MENENTANG banyak ayat dalam Alkitab seperti:

Ef 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Gal 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.”

Ro 3:27-28 - “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.

PERBUATAN BAIK ADALAH BUKTI IMAN:

Yak.2:17 “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”

Jika Perbuatan baik juga punya andil, maka saya yakin secara mutlak TIDAK ADA seorang manusiapun yang selamat (termasuk anda dan saya)!

Bandingkan ayat ini: Rom. 3:10-11 “Seperti ada tertulis: 'Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.'”

Rom 3:23: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah."

Kita dibenarkan hanya karena anugrah Allah lewat penebusan Yesus di kayu salib:

Rom 3:24, "Dan oleh kasih karunia telah DIBENARKAN dengan CUMA-CUMA karena PENEBUSAN dalam Kristus Yesus"

Rom 3:25, "Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan PENDAMAIAN karena IMAN, dalam darah-Nya"

Ro 3:27-28 - “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan PERBUATAN? TIDAK, melainkan berdasarkan IMAN! Karena kami yakin, bahwa manusia DIBENARKAN karena IMAN, dan BUKAN karena ia MELAKUKAN HUKUM TAURAT”.

Ingat, keselamatan itu karena IMAN pada TUHAN YESUS KRISTUS dan bukan karena PERBUATAN BAIK. Perbuatan baik adalah BUAH dari IMAN!

YHWH bukan hanya milik orang Yahudi saja. Yesus bukan hanya milik orang Yahudi saja, tapi juga untuk semua orang di seluruh penjuru dunia! Jadi, propaganda anda bahwa Kristen harus kembali pada akar Ibrani, adalah omong kosong yang tak berdasar pada Kitab Suci! Itu bukan hanya aneh bin ajaib tapi juga aneh bin ngalor ngidul !!!

TEGUH HINDARTO:

Saya tidak perlu memberikan penjelasan apapun terhadap pernyataan Anda yang membosankan dan tidak mencerminkan kecerdasan dalam menyusun premis argumentasi. Ini soal PERCAYA atau TIDAK PERCAYA, bukan soal bukti atau tidak adanya bukti. Kita semua akan mempertanggungjawabkan apa yang kita percayai. Jadi ya silahkan Anda melakukan apa yang Anda yakini sebagaimana saya akan melakukan apa yang saya yakini.

Perbuatan baik memang buah iman. Namun iman tanpa perbuatan baik bukan iman yang sejati. Anda tidak perlu membenturkan ayat-ayat tersebut. Cukup Anda beri penjelasan apa arti pernyataan Matius 7 Matius 7:21-23, Wahyu 20:12, Roma 2:6-8, dimana kata PERBUATAN dibawa sampai pada KEKEKALAN dan PENGADILAN TERAKHIR.

Kesimpulan Anda semata-mata didasarkan prasangka negatif terhadap seluruh message yang saya sampaikan sehingga Anda membuat kesimpulan yang sesungguhnya “aneh” tersebut. Tujuan “Back to Hebraic Root” bukanlh menjadi Yahudi, melainkan membaca Kitab Suci tanpa bias Anti Yahudi, mengangkat unsur Semitik-Hebraik dalam terjemahan Yunani yang kerap disalahpahami dan sulit dimengerti oleh pembaca Kristen modern, dll.

Sebagaimana Islam tidak pernah kehilangan akar Arabiknya di manapun (sekalipun ada kecenderungan Arabisasi dan hegemoni kebudayaan Arab di manapun), demikianlah tujuan saya menghadirkan Kekristenan yang berakar pada nilai-nilai Semitik Hebraik, baik dalam paradigma berpikir/tafsir dan life style

Anda bisa membaca artikel saya sbb: PEMAHAMAN TERHADAP CARA PANDANG SEMITIK HEBRAIK & IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBACAAN TEKS KITAB SUCI

ALBERT RUMAMPUK:

Jika anda ingin kembali pada akar Ibrani, sebaiknya anda HIJRAH saja ke Israel dan jadi warga negara Israel. Disitu anda bisa sepuasnya gunakan keIbranian anda, seperti merayakan hari-hari raya Yahudi, disunat, tidak merayakan natal, gunakan kitab bahasa Ibrani, gunakan huruf YHWH ‘Yahudi’ anda, dsb. Saya juga sudah menganjurkannya pada Pdt. Yakub Sulistyo untuk buat paspor / visa, mengapa kalian tetap bersikeras untuk tinggal di Indonesia?? Lihat kembali penjelasan saya ini:

Anda katakan: keselamatan berasal / berpusat pada Yerusalem dan menerima Mesias Ibrani serta ibadah Yudaik. Jelas semua bentuk IBADAH Yahudi, baik Sabat, tidak rayakan Natal, sunat, 'keharusan nama YHWH' (yang menurut anda diperintahkan oleh YHWH 'Yahudi'), selamat karena iman + perbuatan baik, dsb, jelas punya ANDIL dalam keselamatan. Ini betul-betul kesesatan yang tiada taranya!

Jangan berdusta lagi, karena semakin anda berdusta, maka semakin kelihatan dusta anda itu! Yahwehisme bukan hanya sebuah SEKTE, tapi anda juga adalah BIDAT!!!

TEGUH HINDARTO: Tak ada tanggapan. . .

ALBERT RUMAMPUK:

Sudah saya jelaskan Perbuatan baik adalah BUAH / BUKTI iman, saya sudah tunjukkan ayatnya. Jika keselamatan juga karena perbuatan baik, maka akan menentang banyak ayat-ayat dalam KS. Saya tak ingin punya "KS" seperti anda yang penuh kontradiksi itu!

Lalu, misalnya mengenai Matius 7:21-23, konteks ayat itu bicara tentang nabi PALSU (ayat 15). Apa bukti bahwa mereka itu nabi / Kristen palsu? Mereka tidak berbuah / tidak dibuktikan lewat perbuatan baiknya (ayat 16-20). Disitu jelas membuktikan bahwa perbuatan baik adalah BUKTI iman bukan SYARAT untuk diselamatkan! Jika anda tetap bersikukuh bahwa keselamatan itu juga karena perbuatan baik, maka saya yakin secara mutlak, anda pasti akan ke NERAKA!

Orang yang tidak membuktikan imannya lewat perbuatan baik, itu sama dengan omong kosong, Imannya pasti palsu dan dia pasti orang Kristen Palsu!

TEGUH HINDARTO:

Yang mengatakan keselamatan dapat diperoleh dengan iman siapa? Jangan memperlihatkan kebodohan Anda dengan membuat pernyataan bahwa saya mengatakan hal demikian. Keselamatan dan kehidupan kekal diperoleh melalui iman kepada Yesus Anak Tuhan. Namun iman yang bagaimana yang dimaksudkan? Iman yang dibuktikan dengan berbagai perbuatan. Anda mengaku beriman pada Yesus namun Anda tidak berbuat keadilan, menindas, tidak pernah berbuat baik dan memberikan tsedaqah, apakah iman yang demikian iman yang menyelamatkan? Saya katakan perbuatan baik memiliki nilai DALAM KEKEKALAN (bukan untuk mendapatkan kekekalan) dan diperhitungkan dalam pengadilan upah bagi orang benar. Anda tidak menggubris ayat-ayat yang saya berikan dimana PERBUATAN memiliki nilai. Nampaknya Anda tipe Kristen pada umumnya yang asyik masyuk dengan iman dan tidak memperhatikan perbuatan termasuk kesopanan. Tidak heran jika Anda kerap melontarkan kata-kata kasar kepada saya. Dan Anda merasa tidak salah karena thoh Anda sudah mendapat kepastian keselamatan.

Jika Anda tidak melakukan perbuatan baik setelah diselamatkan, apa yang terjadi saat penghakiman, sementara ayat-ayat di atas menyatakan bahwa setiap perbuatan kita akan dihakimi secara adil oleh Tuhan?

Mengenai pernyataan Yesus dalam Matius 7:21-23 sbb: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuan, Tuan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”, ayat ini bukan sedang berbicara mengenai nabi palsu karena ayat yang membicarakan mengenai nabi palsu ada dalam ayat 15-20. Ayat yang saya kutip merupakan teguran telak bagi siapapun yang hanya berkoar-koar dan menipu jemaat dengan ajaran iman dan kuasa namun tidak sepenuhnya melakukan kehendak Tuhan. Ini setara dengan pernyataan Yesus dalam Matius 25:31-46.

Apa bukti bahwa Anda beriman? Dan jika Anda bertanya hal yang sama, maka saya akan menjawab sebagaimana Rasul Yakobus (Ya’akov) berkata: “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:17-18)

ALBERT RUMAMPUK:

Diatas sudah saya jelaskan mengenai hubungan iman dan perbuatan baik. Jika ingin selamat HANYA oleh IMAN. Perbuatan baik, adalah BUKTI / BUAH iman. Lihat kata-kata anda ini: “Perbuatan baik memang buah iman. Namun iman tanpa perbuatan baik bukan iman yang sejati.” Ini menunjukkan kwalitas anda yang sesungguhnya; saya sudah katakan perbuatan baik adalah buah iman, lalu mengapa anda mengatakan “iman tanpa perbuatan baik bukan iman yang sejati” ? Bukankah jika seseorang beriman dengan sungguh-sungguh, maka itu akan disertai dengan perbuatan baik? Kelihatannya anda sudah terpojok, lalu hanya nyontek pernyataan saya dan setelah tersudut, maka berdalih: “perbuatan baik memiliki nilai dalam kekekalan (bukan untuk mendapatkan kekekalan).” Saya bisa saja menuliskan kembali pernyataan anda yang jelas-jelas menghubungkan keselamatan dengan perbuatan baik, tapi itu tak akan saya ulangi lagi, karena sudah cape. Mengenai hal ini, cukup sekian saja. Ternyata anda tak punya kwalitas sama sekali!   

Penafsiran anda itu, lagi-lagi tak cocok dengan gelar M.Th yang anda sandang. Saya telah diskusi dengan orang-orang Muslim dan saat saya jelaskan konteks ayat itu yang bicara tentang nabi palsu / Kristen palsu, mereka langsung mengerti dan menerimanya. Anda yang punya gelar sarjana Theologi kok punya penafsiran yang amburadul seperti itu? Diayat lain (mengenai Sabat), anda bicara konteks tapi saat mengharuskan nama YHWH dan mengenai Mat 7, anda tak mau bicara konteks, mengapa tak mau konsisten? Ini yang saya sebut dengan penafsiran amburadul! Sebaiknya copot saja gelar anda itu dan ganti dengan M.Gb (Master Goblok!). 

Anda bertanya “apa bukti bahwa saya beriman? Loh, bukankah sudah saya jelaskan diatas? Lihat, anda hanya main nyontek ayat yang saya gunakan untuk mendukung pandangan saya tentang hubungan iman dan perbuatan baik. Mengapa? Sudah ketahuan belangnya? Mengenai persoalan ini, cukup sampai disini saja, saya mulai bosan diskusi dengan anda!



KRISTEN BERAKAR DARI YUDAISME / IBRANI

ALBERT RUMAMPUK:

Yang jelas saya tidak pernah mengatakan bahwa “Yesus dan para rasul beragama Kristen”, anda hanya asal tuduh saja! Perlu anda tahu Yudaisme dan Kristen berbeda / bertolak belakang secara Frontal! Anda menggembar-gemborkan “kembali ke akar Ibrani”, saya peringati anda: hati-hati saja!

TEGUH HINDARTO:

Sekali lagi saya musti bersabar atas kelambanan Anda dalam menangkap semua arah pembicaraan dan membuat diskusi ini berlarut-larut dan berat sebelah. Pernyataan Anda yang mengatakan “Yahudi dan Kristen berbeda secara frontal” saya BUKTIKAN SALAH TOTAL dengan menunjukkan data-data internal bahwa Yesus adalah Yahudi dan Yudais sejati.

ALBERT RUMAMPUK:

Lalu mengenai pernyataan saya yang anda katakan: “Yahudi dan Kristen berbeda secara frontal”, disini anda kembali membuat dusta baru dengan asal kutip pernyataan orang! Yang saya katakan bukan “Yahudi dan Kristen berbeda secara frontal” tapi “Yudaisme dan Kristen berbeda secara FRONTAL!”. Orang Yahudi jaman sekarang, ada yang sudah jadi Kristen, tapi Yudaisme yang saya maksudkan adalah sebuah ‘agama’ yang berbeda  dengan Kristen. Wah, anda memang seorang pendusta ulung! Saya sudah cukup banyak membaca semua dusta yang dilontarkan oleh para pengagung nama YHWH ini (termasuk Pdt. Yakub Sulistyo dan antek-anteknya). Apakah YHWH memang mengajari kalian seperti itu? Buat apa kalian “memasyurkan huruf YHWH” tapi pada saat yang sama kalian telah menghina / mempermalukan pribadi-Nya??

Ini PERBEDAAN Yudaisme dengan Kristen:

[1] Yudaisme hanya menggunakan PL tapi Kristen PL+PB.
[2] Yudaisme menggunakan Sabat sabtu tapi Kristen ibadah pada hari Minggu.
[3] Yudaisme menolak Yesus Kristus sebagai Mesias, Anak Allah, tapi Kristen beriman / akui itu.
[4] Keselamatan dalam Yudaisme, didasari pada iman dan perbuatan baik, tapi Kristen hanya oleh iman.

Dengan melihat semua hal itu, apa anda masih sesumbar dengan mengatakan “ITU SALAH TOTAL” ??

Saya kira persoalan tuduhan / dusta anda pada saya (termasuk Yudaisme vs Kristen), saya akhiri sampai disini saja. Silahkan para pembaca menilainya sendiri.

TEGUH HINDARTO:

Yudaisme yang mana yang Anda maksud? Jika “Modern Judaism”, tentu saja berbeda dengan “Christianity” Namun saya berbicara Kekristenan awal. Mereka bukan agama baru yang dibawa oleh Yesus namun baik Yesus dan para murid adalah Yahudi dan Yudaisme.

Pdt.DR. Meno Subagyo mengatakan: “Para ahli membuat penggolongan yang berbeda-beda terhadap Yudaisme itu, karena Yudaisme memang berkembang dari yang klasik (orthodoks) sampai kepada yang modern. Bahkan ada yang menggolongan Yudaisme menjadi 5 periode: Yudaisme Alkitabiah (abad 20-4 SM), Yudaisme Hellenis (Abad 4 SM-2 M), Yudaisme Rabbinis (Abad 2-18 M), Yudaisme Modern (1750-1970) dan Yudaisme masa kini (1970-) (Studi Yudaisme: Apakah studi Yudaisme itu? Apakah beda studi PL dan studi Yudaisme? Dalam Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, Yogyakarta, 1998, hal 48)

DR. Michael Schiffman menegaskan: “The first Messianic congregation originated in Jerusalem, on Shavuot (Pentecost), after the ascension of Yeshua. It carried an identifiably Jewish identity. Initially it was considered a sect of Judaism” (Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore, Maryland: Lederer Messianic Publishers, 1996, p.9)

Bahkan seluruh ibadah umat Perjanjian Baru tidak berbeda dengan Yudaisme. Pdt. Theo Witkamp, Th.D., menjelaskan dalam artikelnya, “Mazmur-Mazmur Kekristenan Purba Dalam Konteks Yahudi Abad Pertama”, sbb: “Gereja Kristen dimulai sebagai suatu sekte Yahudi. Oleh karena itu, kalau kita ingin tahu tentang asal-usul dan latar belakang ibadah Kristen awal, kita terutama harus memandang kebiasaan-kebiasaan liturgis dan musikal dari agama Yahudi pada Abad Pertama Masehi” (Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, No 48 Tahun 1994, hal 16

Ibadah Yudaisme yang tetap dipelihara pengikut Yesus al.,

Ada Tefilah 3 kali sehari Waktu doa harian Yudaisme terdiri dari Shakharit, Minha dan Maariv. Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan “zemanim”. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb : Daud (Mzm 55:17), Daniel (Dan 6:11), Ezra (Ezr 9:5), Yesus Sang Mesias (Luk 6:12), Petrus dan Yohanes (Kis 3:1), Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)

Sabat. Sebagaimana Yesus mengajar di hari Sabat, demikianpula para rasul merayakan Sabat dan mengajar, baik orang Yahudi dan Goyim (Kis 13:14, Kis 14:1).

Moedim bermakna hari-hari raya. Pengikut Mesias melaksanakan tujuh hari raya yang diperintahkan dalam Imamat 23:1-44. sebagaimana Yesus merayakan salah satu dari tujuh hari raya tersebut (Yoh 7:1-2,14) demikianlah para rasul Yesus melaksanakan tujuh hari raya tersebut (Kis 2:1, Kis 20:16). Para rasul bukan hanya memelihara berbagai perayaan tersebut namun juga menghubungkan berbagai makna peristiwa tersebut dengan peristiwa yang dialami Mesias (1 Kor 5:7-8, 1 Kor 15:22-23, 1 Tes 4:16). Tujuh hari raya tersebut menunjuk pada Mesias Yesus (Kol 2:17).

Silahkan Anda memberikan bukti bahwa Kekristenan tidak berakar pada Yudaisme!

ALBERT RUMAMPUK:

Anda kembali mengulang-ulang pernyataan yang sudah saya jawab! Tentu saja yang saya maksudkan adalah Kristen mula-mula sampai sekarang. Agama Yudaisme berbeda TOTAL dengan Kristen! Sebelum kematian dan kebangkitan Yesus, Dia memang malakukan hukum upacara keagamaan Yahudi seperti disunat, ibadah pada hari sabat sabtu, merayakan paskah PL, dsb. Tapi, pada saat kematian dan kebangkitan-Nya, maka seluruh upacara keagamaan Yahudi itu (sunat, penggunaan imam, mempersembahkan hewan sebagai korban penghapus dosa,dsb), semuanya dihapuskan (Mat 27:51).

Mengenai waktu doa yang dilakukan para rasul, itu tak masalah, mereka atau Kristen mau ibadah 3 kali sehari atau 10 kali seharipun, tak ada yang perlu dipersoalkan. Tetapi, saya berbicara pada inti ajarannya yang sudah saya jelaskan diatas. Misalnya soal Keselamatan dalam Yudaisme adalah karena iman + perbuatan baik (yang juga merupakan ajaran pak Teguh), tapi Kristen hanya oleh iman (Bdk, saat Paulus [Gal 1:6-10; 3:1-24] mengutuk ajaran guru-guru Yahudi yang mengajar keselamatan karena iman + melakukan Taurat / perbuatan baik). Lalu soal penolakan Yudaisme terhadap Yesus bahkan sampai menggantungnya di kayu salib (Kis 13:27), tapi Kristen mengakui Yesus sebagai Mesias, Tuhan dan Juruselamat.

Mengenai Sabat sabtu, Kristen awal (setelah kebangkitan Yesus) mengubahnya menjadi hari Minggu (Yoh.20:19; Kis.20:7; 1 Kor.16:2). Sekalipun Paulus ibadah pada sabat sabtu, tapi disitu dia bukan mengharuskan / membenarkan hari itu, tapi untuk memberitakan Injil.

Anda hanya mendasari pada ibadah Yahudi, liturgis, musikal dan waktu doa. Itu lalu dijadikan dasar bahwa Kristen berakar dari Yudaisme dan mengharuskan Kristen untuk mengikutinya (termasuk penggunaan nama YHWH)? Sungguh argument yang kosong melompong! Tak perduli soal ibadah 3 kali, penggunaan liturgis, dsb, yang jelas inti dari ajaran Yudaisme dan Kristen BERBEDA secara mutlak! Jika anda tetap mempertahankan semua bentuk upacara keagamaan Yahudi (termasuk menghubungkannya dengan keselamatan yang juga karena melakukan Taurat / berbuat baik), saya yakin, kita tak akan bertemu di surga!

TEGUH HINDARTO:

Lagi-lagi pernyataan Anda merefleksikan bahwa Anda seorang pemula dalam Teologia namun sok tahu dan sok pintar dengan mempertahankan pandangan mapan yang dipegang bertahun-tahun karena bias dalam pembacaan teks Kitab Perjanjian Baru yaitu: (1) Yudaisme berbeda secara frontal dengan Kristen (2) Ibadah PL sudah dihapuskan oleh kematian dan kebangkitan Yesus dari kematian. Pernyataan Anda GUGUR dengan data sejarah dan literatur yang saya sampaikan sebelumnya bahwa Kekristenan awal berakar pada Yudaisme dan bukan sebuah agama baru yang hendak menggantikan Yudaisme. Dan Anda tidak memberikan sanggahan apapun atas data historis yang saya paparkan.

Saya meminta ayat bukti bahwa kematian dan kebangkitan Yesus telah MENGHAPUS ibadah PL! Bagaimana dengan pernyataan Yesus dalam Matius 5:17 yang menyatakan “Aku tidak datang membatalkan Torah melainkan menggenapinya. Selama belum lenyap langit dan bumi, satu iotapun tidak akan lenyap dari Torah?” Ibadah harian 3 kali sehari (sesuatu yang hilang dalam Gereja dan Kekristenan Barat, termasuk Anda) untuk membuktikan bahwa ibadah Kristen awal berakar pada Yudaisme dan Kekristenan awal tetap memelihara pola ibadah tersebut.

Kisah Rasul 20:7, diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, sbb : "Pada hari pertama minggu itu,...". terjemahan ini mengesankan bahwa sakramen Perjamuan Kudus dilaksanakan tiap-tiap hari minggu. Dalam naskah Yunani dituliskan, "en de te mia ton sabbaton sunegmenon hemon klasai arton Paulos dielegeto hautois". Dalam naskah Yunani saja tertulis kata 'sabat', mengapa dalam terjemahan Indonesia tidak tertulis? Teks diatas selayaknya diterjemahkan “Pada hari pertama usai Sabat itu…”. Kata “en de te mia” , menurut DR. David Stern, menunjuk pada “Motsaei Shabat” atau “Departure of the Shabat” [Sabat sore/ sabtu sore]13. Selanjutnya beliau menjelaskan, “pertemuan sabtu malam akan lebih tepat bersamaan dengan perayaan Sabat Yahudi, dimana semangat Sabat terkadang dilaksanakan pada sabtu sore setelah upacara Sabat selesai, yang dilaksanakan sesudah matahari tenggelam ketika menjelang gelap, dimana saat yang cukup untuk melihat tiga bintang dilangit”14. Dalam Ortodox Jewish Brit Chadasha, diterjemahkan:

“And on Yom Rishon, when we met for a firen tish (it was Motzoei Shabbos when there was a Melaveh Malkeh communal meal), Rav Sha'ul was saying a shiur to them, since he would have to depart early the next day and was having to extend the message until chatzot halailah”

Kata “Yom Rishon” artinya hari yang pertama setelah melewati Sabat yang jatuh sekitar pukul 19.00 sampai malam. Perhitungan hari menurut orang-orang Yahudi, dimulai bukan pada saat matahari terbit, melainkan saat matahari mulai tenggelam. Dalam buku Passover: A Memorial for All Time disebutkan: “Thus it is clear that Biblical days begin at evening with the setting of the sun and not at sunrise as in ancient Egypt” [Telah jelas dikatakan bahwa hari menurut Kitab Suci dimulai saat matahari terbenam dan bukan saat matahari terbit, seperti di Mesir]15.

TaNaKh menjelaskan mengenai pergantian hari dalam Kejadian 1:5b,8b,13, Ulangan 23:10-11, Imamat 11:24-25; 22:6-7, Imamat 23:32. Maka pertemuan yang diadakan Paul sebenarnya dalam rangka penutupan Sabat yang diakhiri pukul 19.00. Sebelumnya telah dimulai suatu pertemuan. Lalu dilanjutkan sampai malam. Ini bukan pertemuan istimewa yang menggantikan Sabat sebagaimana anggapan Kekristenan pada umumnya. DR. David Stern melanjutkan memberi komentar: “A Saturday night meeting would continue to God oriented spirit of Shabat, rather than require the believers to shift their concern from workday matters, as would be the case on Sunday night”15.

Konteks Kisah Rasul 20:7 membicarakan mengenai persinggahan Paul dari kegiatan pelayanan di Makedonia, Siria, Filipi dan Troas [Kis 20:1-6]. Usai ibadah Sabat di Troas, Paul berbincang-bincang sampai larut malam, sebelum keesokkan harinya berangkat ke Asos, Metilene, Khios, Miletus, Efesus, sebelum kembali ke Yerusalem [Kis 20:13-16]. Kata “dielegeto” yang dihubungkan dengan ucapan Paul bukan berkategori kotbah namun setara dengan “berdiskusi”, “berdebat”, “berbicara” [Mrk 9:34, Kis 17:2, Kis 17:17.

1 Korintus 16:2 dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia: “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing-sesuai dengan apa yang kamu peroleh-menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu diadakan kalau aku datang”.

Dalam naskah Yunani tertulis, “kai humeis poiesate kata mian sabbaton ekastos humon par eautoi titheto”. Ayat inipun menggunakan frasa serupa sebagaimana dalam Kisah Rasul 20:7, “kata mian Sabbaton” yang lebih tepat diterjemahkan “sabat sore” atau “hari pertama usai sabat itu”.

Konteks 1 Korintus 16:2 tidak memberikan indikasi suatu pertemuan ibadah yang khusus layaknya dilakukan oleh gereja Kristen dimanapun. Perikop ini sedang membicarakan penggalangan dana bagi orang Yahudi di yerusalem dengan pola seperti jemaat di Galatia [1 Kor 16:1]. Paul yang mengorganisir pertemuan pengumpulan dana ini. Pengumpulan dana tersebut sangat efektif dilaksanakan setelah ibadah sabat sore saat orang-orang berkumpul [1 Kor 16:2]. Hasil pengumpulan akan dikirim ke Yerusalem [1 Kor 16:3].

ALBERT RUMAMPUK:

Matius 27:50-51, “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.”

“Tabir Bait Suci” adalah tirai yang memisahkan antara ruang kudus dengan ruang yang maha kudus. Zaman PL, orang biasa tak bisa masuk dalam ruang maha kudus untuk langsung ‘bertemu’ dengan Tuhan, tapi harus lewat seorang imam besar. Saat kematian Kristus di kayu salib, maka tabir Bait Suci itu terbelah dua, itu melambangkan bahwa tidak ada lagi sekat yang memisahkan antara umat Tuhan dengan Allah. Yesus telah menjadi korban pendamaian / penghapus dosa manusia. Dia adalah Imam Besar Agung dan kita tak perlu lagi menggunakan imam (seperti jaman PL) sebagai perantara antara Allah dan manusia. Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara dan Imam Besar!

Ibr 10:19-23, “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir,  yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani  yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.”

Ibr 9:12, “Dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.”

1 Tim 2:5, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.”

Ayat ini merupakan bukti bahwa seluruh hukum upacara keagamaan dalam Yudaisme / Yahudi, dihapuskan! Karena itu, jika ada gereja yang masih menggunakan imam dan juga mempersembahkan korban, dia telah menghina pengorbanan Kristus dikayu salib!

Catatan: Yang dihapus disini bukan seluruh hukum Taurat, tapi hanya hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan (ceremonial Law)

Sebetulnya saya sudah menyinggung diatas, tapi kali ini saya akan mempertegasnya. Pak Teguh, saya tanya ke anda:

[1] Apakah gereja anda masih menggunakan imam?
[2] Apakah masih mempersembahkan korban penghapus dosa?
[3] Yudaisme juga mengharuskan sunat. Apakah anda masih melakukannya?
[4] Apakah dalam ibadah, anda juga menghadap ke kiblat (Yerusalem atau yang lainnya)?

Mengenai jam doa 3 kali sehari, mengapa anda mengharuskannya juga? Apakah Tuhan hanya ada / bisa ditemui dalam 3 waktu itu? Bukankah Dia adalah Allah yang berada diatas waktu?? Apa salahnya jika Kristen doa 2 atau 10 kali dalam sehari? Orang-orang Kharismatik sedang gencar-gencarnya buat ‘menara doa’, disitu mereka berdoa bahkan sampai 24 jam nonstop! Anda merasa lebih hebat dari mereka? Dan mengharuskan mereka untuk kembali ke “akar Ibrani”, yang hanya 3 waktu dalam sehari? 

Data sejarah dan literatur yang anda gunakan hanya bicara tentang Yahudi, liturgis, musikal dan waktu doa. Itu lalu dijadikan dasar bahwa Kristen berakar dari Yudaisme dan mengharuskan Kristen untuk mengikutinya (termasuk penggunaan nama YHWH), padahal KS sama sekali tidak mengharuskan manusia untuk kembali pada tradisi Yahudi itu. Anda katakan itu bukti bahwa pernyataan saya tentang Yudaisme dan Kristen berbeda secara frontal telah gugur? Sungguh argument yang kosong melompong!  Silahkan jawab  4 pertanyaan saya diatas dengan jujur (jangan hanya mempromosikan link anda) dan jangan ada dusta diantara kita. Ingat, dusta itu bukan bagian dari perbuatan baik yang menurut anda punya nilai dalam kekekalan!

TEGUH HINDARTO:

Dari ayat-ayat yang Anda kutip, TIDAK ADA SATUPUN AYAT yang menyatakan mengenai PEMBATALAN ibadah PL (Tefilah, Shabat, Moedim). Bahkan saya sudah buktikan pada Anda, Yesus dan para rasul tetap melaksanakan Tefilah (doa harian Luk 6:12, Kis 3:1), Shabat (ibadah pekanan, Luk 4:16, Kis 13:14, Kis 14:1) dan Moedim (hari-hari raya YHWH, Yoh 7:1-2,14, Kis 2:1, Kis 20:16).

Saya sudah membuktikan dengan rujukan literatur dan kajian teks ayat-ayat Kitab Suci yang menggugurkan khalayan Anda bahwa Yudaisme berbeda frontal dengan Kekristenan. Yudaisme pra modern adalah akar Kekristenan karena Kekristenan bukan agama baru melainkan ranting dan cabang dari Yudaisme sebagaimana mazhab Farisi dan Saduki, dll. Tidak heran Kekristenan disebut dengan “sekte Nazarene”. Setelah Kontantin Agung menetapkan edik Milano pada tahun 331 Ms, Gereja dan Kekristenan terlepas dari akar Yudaisme. Anda TIDAK MENYANGGAH sama sekali pernyataan dalam literatur yang saya kutip dan kajian ayat-ayat dalam PL dan PB yang menyatakan kesinambungan ibadah PL dan PB.

TIDAK ADA PEMBATALAN TORAH DAN TIDAK ADA PEMBATALAN IBADAH PL dalam zaman Perjanjian Baru. Yang ada adalah PERUBAHAN SISTEM KEIMAMATAN dari Imamat Lewi yang ditandai dengan korban hewan ke Imamat Malkitsedek yang ditandai dengan pengorbanan darah Sang Mesias sendiri. Yesus dan para rasul tetap melaksanakan pola ibadah PL al., Tefilah (doa harian Luk 6:12, Kis 3:1), Shabat (ibadah pekanan, Luk 4:16, Kis 13:14, Kis 14:1) dan Moedim (hari-hari raya YHWH, Yoh 7:1-2,14, Kis 2:1, Kis 20:16).

Ibrani 7:18-19 mengatakan sbb: “Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna, -- sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan -- tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Tuhan”

Mengenai Ibrani 7:18-19 bukan berbicara mengenai pembatalan Torah tetapi perubahan sistem keimamatan paska kedatangan Yesus dan penghancuran Bait Suci di Yerusalem tahun 70 Ms. Kata Yunani “athetesis” (pembatalan) merupakan penekanan ulang pada apa yang dinyatakan pada ayat 12 tentang “nomou methatesis” (perubahan Torah). Perubahan yang dimaksudkan bukan Torah itu sendiri melainkan sistem keimamatan dari Imamat Lewi yang ditandai dengan korban hewan, menjadi Imamat Melkitsedek yang ditandai dengan persembahan rohani.

DR. James Trimm dalam terjemahan mengungkapkan fakta teks Ibrani-Aramaik Perjanjian Baru, banyak yang disalah pahami oleh para penyalin naskah Perjanjian Baru versi Yunani. Terjemahan DR. James Trimm mengenai Ibrani 7:18-19 adalah sbb, “Sekarang telah terjadi PEMBARUAN (shuklafa, Aramaik) pada perintah yang pertama sebab itu hilanglah kuasanya dan sebab itu tidak memiliki kegunaan. Sebab Torah tidak LENGKAP (gemar, Aramaik) namun pengharapan yang lebih besar dibandingkan Torah telah masuk atas nama Torah yang mendekatkan diri kita pada Tuhan” (The Hebraic Roots Version Scriptures,2005)

Sementara Rabbi Yoseph Moshe Koniuchowsky menerjemahkan kata “shuklafa” dengan “setting aside of the former command” (mengesampingkan perintah pertama). Dalam catatan kakinya, dijelaskan bahwa yang dikesampingkan bukan keseluruhan Torah melainkan mengenai pemindahan (transfer) keimamatan dari Lewi kepada Melkitsedek, melalui Yesus Sang Mesias (Restoration Scriptures, p.952) . . . . .

Pertanyaan Anda tidak perlu dijawab karena penjelasan saya di atas secara tidak langsung telah menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.
Mengenai pertanyaan Anda, “Mengenai jam doa 3 kali sehari, mengapa anda mengharuskannya juga? Apakah Tuhan hanya ada / bisa ditemui dalam 3 waktu itu?”, saya tidak habis pikir Anda selalu MEMPERTANYAKAN mengenai KEHARUSAN apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Bukankah apa yang TERTULIS dalam Kitab Suci sebagai PERINTAH , SEHARUSNYA dilaksanakan? Penjelasan saya mengenai Tefilah, Shabat, Moedim untuk MEMBUKTIKAN pada Anda bahwa Kekristenan awal berakar pada Yudaisme pra modern. Dan literatur sejarah telah membuktikan kebenaran itu. Anda tidak perlu memperluas topik ini dengan mempertanyakan keharusan atau tidak keharusan ibadah 3 kali sehari.

ALBERT RUMAMPUK:

Saya tidak bicara tentang Ibrani 7, tapi 9 dan 10. Bagaimana mungkin anda mengeksposisi Ibr 7:18-19 berdasarkan teks Ibrani-Aramaic PB, jika versi PB Ibrani yang anda klaim sebagai bahasa asli itu (Shem Tov, Du Tillet, dsb) tak memuat Kitab Ibrani? Lalu pake versi Aramaic pula? Alamak, piye tho sampean! Apa yang dimaksud DR. James itu adalah PB Ibrani yang merupakan terjemahan dari Yunani? Ngaku sajalah pak Doktor, jangan jadi seorang pendusta! Jangan gunakan PB Yunani jika anda mengakui PB Ibrani!
Pak Teguh, jika anda ingin kembali pada akar Ibrani, maka anda harus lakukan ini:

[1] Gereja anda harus menggunakan imam sebagai pengantara pada Allah.
[2] Harus mempersembahkan korban penghapus dosa.
[3] Anda dan jemaat anda harus di sunat pada hari ke 8.
[4] Ibadah anda juga menghadap ke kiblat (Yerusalem atau yang lainnya).
[5] Tak boleh makan makanan yang diharamkan.
[6] Keselamatan harus karena iman + perbuatan baik.
[7] Dan semua hal-hal lain yang dilakukan oleh Yahudi.

Anda berani??

Hanya atas dasar doa 3 kali sehari, Sabat, hari2 raya Yahudi dan keharusan nama YHWH “Yahudi”, maka anda mengklaim bahwa Kristen berakar dari Yahudi dan MENGHARUSKAN Kristen untuk lakukan hal itu? Omong kosong! Ayat-ayat yang anda kutip itu SAMA SEKALI TIDAK MENGHARUSKAN manusia untuk ikut-ikutan tradisi Yahudi itu! Sudah saya katakan diatas, sebagai manusia, Yesus memang beragama Yudaisme dan tentunya melakukan Sabat, sunat dan merayakan hari raya Yahudi (misalnya hari raya pondok daun). Tapi setelah Dia bangkit, apa Yesus masih tetap lakukan hal-hal itu? Sejak kebangkitan-Nya, Sabat telah diubah ke HARI PERTAMA (Yoh.20:19; Kis.20:7; 1 Kor.16:2). Penjelasan anda diatas yang meninjau dari teks Yunani sama sekali mengabaikan kata “hari pertama”. Anda katakan itu sekitar pukul 19.00 dan berdalih bahwa itu ibadah lanjutan dari Sabat? “Kelanjutan sabat”, atau tidaknya, yang jelas itu merupakan ibadah (kata: “memecah-mecahkan roti”) dan dilakukan pada HARI PERTAMA. Setelah kebangkitan Yesus, mereka selalu berkumpul pada hari pertama, dan bukan sabtu. Paulus masuk sinagog pada Sabat, karena ingin memberitakan Injil pada orang Yahudi (Kis 13:14, Kis 14:1). Hari Pertama (Minggu) adalah hari-Nya Tuhan dan hari kebangkitan-Nya. Yesus sendiri, secara implicit, merestuinya. Bandingkan dengan teks dibawah ini:

Yoh 20:19-29, “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu! Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! l Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. " Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang , dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. " Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu! " Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku !" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya"

Saat para murid berkumpul, Yesus justru datang dan memberkati mereka bahkan mengaruniakan Roh Kudus. Itu membuktikan bahwa Yesus sendiri merestui pergantian Sabat sabtu! Seminggu kemudian para murid berkumpul lagi pada hari minggu. Yesus kembali menampakkan diriNya, lalu Tomas melihatNya dan berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Dari sini lalu muncul istilah “Hari Tuhan” sebagai hari pertama, hari kebangkitan Tuhan (Mat 28:1).

Kristen sampai sekarang tetap melakukan doa harian, bahkan di kalangan Kharismatik, dilakukan hingga 24 jam non stop! Anda merasa lebih hebat dari kami? Tuhan TIDAK PERNAH memerintahkan untuk HARUS doa sebanyak 3 kali. Jika anda mengharuskannya karena Yesus melakukan hal itu, saya tanya: Yesus lakukan puasa 40 hari 40 malam, tidak menikah dan di sunat pada hari kedelapan, saya menantang anda untuk lakukan hal yang sama! Berani?? Buat apa Tuhan perintahkan harus doa 3 kali? Bukankah saat kita doa 4 – 10 kali, itu justru bagus? Sekali lagi saya pertanyakan: apakah Tuhan hanya ada pada saat jam-jam doa yang 3 kali itu? Lagi-lagi anda hanya omong kosong saja! Mengenai hari Pentakosta, Kristen tetap merayakannya!

SUMBER: http://www.facebook.com/notes/shem-tov/sekte-yahweh/463754383810

********

Diskusi berakhir disini. Teguh Hindarto sama sekali tak menjawabnya dan lagi-lagi hanya sesumbar bahwa "Tidak ada argumentasi baru dari Albert Rumampuk selain argumentasi yang diulang-ulang plus literatur yang sudah dikritisi sebelumnya."

TANGGAPAN SAYA SELANJUTNYA

Pdt. Teguh Hindarto M.Th mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh / berpusat di Yerusalem:

[a] Menerima Mesias Ibrani (Yesus Kristus)

[b] Menerapkan ibadah Yudaik (Tefilah {doa harian 3 kali}, Shabat {ibadah pekanan} dan Moedim {hari-hari raya YHWH}

Pdt. Teguh Hindarto: "Beberapa teks dalam Kitab Zakharia (Maksudnya: Zak. 8:20-23; 12:10; 14:8-9,16) memberikan petunjuk profetik mengenai suatu kondisi waktu dimana Israel yang telah menolak Mesias dan bangsa-bangsa akan mendapatkan keselamatan dengan episentrum Yerusalem dan menerima Mesias Ibrani serta ibadah Yudaik."
http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070701100355

Istilah “episentrum Yerusalem” tentunya kurang lebih identik dengan istilah “akar Ibrani / Yudaisme” yang sangat ditekankan Hindarto disepanjang debat dengan saya. Dalam hal ini, juga termasuk keharusan penggunaan nama Yahweh.

Pdt Teguh Hindarto: “Kewajiban saya hanyalah mengingatkan sebagaimana difirmankan:
‘Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama tuhan lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu’ (Kel 23:13)

‘Sebab segala tuhan bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Yahwehlah yang menjadikan langit’ (1 Taw 16:26)

Jika Anda menerima pengajaran tersebut dan disingkapkan oleh Bapa, maka Anda telah mengetahui apa yang benar dan baik. Maka berlakulah hukum berikut: ‘Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa’ (Yak 4:17). Namun jika Anda belum juga memahami, berlaku hukum berikut: ‘Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman’ (1 Tim 1:13).”

Tentang 1 Timotius 1:13, THE WYCLIFFE BIBLE COMMENTARY berkata: “Ganas. Orang yang bengis, angkuh, penuh angkara: si “pembenci Allah” dari Roma 1:30. Paulus melukiskan keadaannya yang terhilang itu dengan tiga buah kata yang mengerikan: penghujat, penganiaya dan ganas. Berlawanan dengan pengutukan diri ini, secara sangat kontras terdapat kata-kata yang sederhana. “Tetapi aku telah dikasihi-Nya.” Sekalipun Paulus menganiaya gereja dalam ketidaktahuannya, dengan mengira bahwa ia melakukan kehendak Allah (Kis 26:9), ia tidak menganggap kecil dosanya. Bahkan dosa ketidaktahuanpun memerlukan pendamaian (Ibr 9:7; Im. 5:15-19). . .” (Hal. 865).

Kata-kata “Tetapi aku telah dikasihi-Nya”, merupakan pengakuan Paulus yang jujur, dimana hanya lewat kasih Allah / Kristus saja, dosa-dosanya itu bisa diperdamaikan (Bdk. 1Tim 1:14-15). Berdasarkan pertanyaan saya dan jawaban Hindarto ini, jelas sekali  Teguh Hindarto menganggap bahwa semua orang Kristen yang tetap menggunakan kata “ALLAH”, adalah seorang yang berdosa, penghujat, penganiaya dan ganas (angkuh, si “pembenci Allah” / Yahweh), yang tentunya tidak “dikasihi-Nya” dan membutuhkan “pendamaian” oleh Kristus. Berarti, semua orang yang tetap menggunakan kata “Allah” tak akan diselamatkan jika tidak bertobat / diperdamaikan oleh Kristus!

Perhatikan juga beberapa kutipan dari para 'Punggawa' pengagung nama Yahweh berikut ini:

Pdt. Yakub Sulistyo Sth, MA: “Ingat bahwa password masuk ke dalam kerajaan sorga sesuai dengan Kitab Wahyu 14: 1 yaitu nama Yahweh dan nama Yeshua harus ada dalam otak / pikiran kita, dalam Haverit Hakadasha malah hanya Nama BapaNya .” [Artikel: “PERTANYAAN UMUM SEPUTAR NAMA YAHWEH DAN ALLAH (3)”] http://www.messianic-indonesia.com/artikel_detil.php?id=070727044009

“… Sudah diterangkan di atas, bahwa Allah itu sesembahan dan Tuhannya umat Islam, kita harus menghormati mereka dengan tidak mencampur-adukan di dalam kekristenan, masalah masuk sorga atau neraka itu hak Tuhan Yahweh. Tidak ada seorangpun yang berhak menentukan, yang jelas jika kita melakukan firman Tuhan, tentu memiliki kepastian masuk sorga… “ [Artikel: “PERTANYAAN UMUM SEPUTAR NAMA YAHWEH DAN ALLAH (5)”]

Catatan: Pernyataan Yakub Sulistyo ini, saya kutip dari situs milik Teguh Hindarto / komunitas Messianic. Jika Hindarto berani memuat tulisan Yakub Sulistyo di websitenya, berarti dia setuju dengan Sulistyo. Adalah omong kosong jika Teguh Hindarto mengelak dari hal ini!

Bandingkan dengan ajaran Pdt. Yakub Sulistyo disini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=446984877630

Pdt. Lukas Sutrisno: “Dari beberapa referensi diatas jelaslah bahwa ALLAH itu adalah suatu nama pribadi sesembahannya orang Arab sama seperti YAHWEH yang adalah nama suatu pribadi yaitu sesembahan umat Israel. Setelah kita mengetahui kebenaran ini marilah kita menyebut sesembahan kita dengan benar, yaitu YAHWEH yang adalah Bapa kita disurga. dan jangan lagi kita menyebut Allah sebagai istilah Tuhan dalam kitab Tanakh, karena itu adalah nama Berhala yang disembah oleh orang2 jaman pra Islam…”

“Ada orang yang berkata: Kalau kita harus mengganti Allah dengan Elohim atau Tuhan, dengan alasan supaya kita tidak memanggil nama berhala, kenapa dulu-dulu Tuhan tidak mempersoalkan hal ini, bahkan Roh Kudus tetap bekerja sekalipun kita memakai kata Allah? BENAR ! Tuhan seolah tidak mempersoalkannya karena tingkat pengertian kita waktu itu belum sampai, tetapi sekarang setelah pengertian akan kebenaran ini disingkapkan oleh Tuhan, dan kita masih bertahan terus maka Bacalah Ibrani 10: 26.-27. (Ayat ini jangan diperlunak)”. [Sumber: artikel “Siapakah Nama Tuhan yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub?”]

Pdt. Yakub Sulistyo dan Pdt. Lukas Sutrisno juga mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh karena menggunakan nama YAHWEH / taat pada Taurat (firman Tuhan)!

Saya rasa semua / mayoritas orang-orang dalam sekte ini mengajarkan bahwa “ALLAH” adalah nama BERHALA. Jadi saat orang Kristen menggunakan kata itu, misalnya menyebut Yesus sebagai ALLAH, itu sama dengan mengatakan Yesus adalah BERHALA! Mereka menolak Perjanjian Baru dimana Yesus dan para rasul mengganti YHWH dengan KURIOS / THEOS. Saat berdoapun, Yesus hanya menggunakan kata “Bapa” dan bukan YHWH. Sebetulnya, jika kelompok ini mengharuskan orang Kristen untuk menggunakan nama Yahweh, maka konsekwensinya, mereka juga harus ‘MEMAKSA’ Yesus dan para rasul untuk menggunakan nama itu. Ketika sekte ini mengklaim orang Kristen yang menggunakan kata “ALLAH” akan binasa / masuk neraka, itu sama dengan mengatakan Yesus dan para rasul “binasa”! Tindakan para pengagung huruf YHWH ini, benar-benar kurang ajar!

KESIMPULAN

Dari seluruh diskusi saya dengan Pdt. Teguh Hindarto M.Th, dan juga setelah melihat ajaran dari beberapa “Punggawa” pengagung nama Yahweh di Indonesia, maka saya menyimpulkan bahwa pada umumnya sekte ini mengajarkan bahwa keselamatan bukan hanya dengan beriman pada Yesus Kristus saja, namun juga dengan melakukan / taat pada hukum Taurat.

Bandingkan dengan ayat berikut ini:

Gal 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.”

Ayat ini dilatarbelakangi oleh adanya beberapa guru dalam Yudaisme yang mencampurkan iman pada Kristus dengan ketaatan pada Taurat sebagai jalan keselamatan. Ayat ini jelas mengajarkan bahwa manusia selamat bukan karena PERBUATAN BAIK / MELAKUKAN HUKUM TAURAT (termasuk ‘perintah’ untuk MENGHARUSKAN nama YHWH), tetapi HANYA karena IMAN pada TUHAN Yesus Krsitus! Perbuatan baik memang harus dilakukan bukan untuk memperoleh hidup kekal, tapi sebagai bukti kasih kita pada Tuhan (bukti iman).

Bagaimana sikap Rasul Paulus saat menghadapi para penyesat di jemaat Galatia ini? Perhatikan ayat berikut:

Galatia 1:6-9 -  “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, TERKUTUKLAH dia.Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, TERKUTUKLAH dia”.

FULL LIFE STUDY BIBLE (Tentang kata “Terkutuklah dia”): (versi Inggeris NIV menambah kata "untuk kekal" di sini). Istilah "terkutuk" (untuk kekal) (Yun. anathema) berarti bahwa seseorang berada di bawah kutukan Allah, dihukum untuk binasa dan akan menerima murka dan kutukan Allah.

Rasul Paulus menyatakan sikap tegasnya dengan memarahi para guru / pengajar sesat yang telah mengajarkan bahwa keselamatan tak hanya cukup beriman / percaya pada Yesus saja, tetapi juga disertai dengan ketaatan pada hukum Taurat dan merayakan hari-hari raya Yahudi (Gal 3:5; 4:11, dsb). Mencampur Injil yang asli / benar (Mis: Ef 2:8-9; Gal 2:16) dengan “Injil yang lain”, itu sama dengan  "memutarbalikkan Injil Kristus" ( Gal 1:7).

“Injil” yang diberitakan oleh kelompok Yahwehisme adalah Injil yang berbeda / Injil lain, dan jelas merupakan ajaran yang SESAT! Para pengajar dalam Yahwehisme yang mengajarkan hal ini, adalah orang-orang yang TERKUTUK!

Saya menganjurkan orang-orang yang ada dalam komunitas ini untuk segera bertobat, karena jika tidak, maka justru kalianlah yang akan pergi ke neraka!

Tuhan memberkati!

2 komentar:

  1. Shalom Bpk. Albert. R
    Maaf menyela, saya tidak punya kapasitas membela beliau para penyeru nama ABBA YAHWEH dan YAHSHUA HAMASIACH.
    Tetapi melihat tulisan antara bapak Albert dengan Pdt. Yakub Sulistyo juga dengan Bpk. Teguh Hindarto di beberapa blog, saya melihat bahwa mereka sangat sabar dan sangat menguasai bahan yang menjadi topik pembahasan dan menyampaikan pendapat dengan bahasa kasih yang sopan dan tidak bertele-tele ataupun muter-muter, sedangkan untuk Bpk. Albert, saya melihat postingan bapak sekedar saja mengikuti (maaf)tulisan bpk.Budi Asali. yang terlihat tdk emosi bahkan terlihat (maaf lagi) tegar tengkuk. mungkin sudah doktrin yang mendarah daging,serta terlena oleh TITEL / GELAR nya yang tinggi sehingga sulit memahami bahasa sederhana yang disampaikan oleh Bpk. Yakub. S maupun Bpk. Teguh Hindarto.

    Maaf kalau saya tidak sependapat dengan Bpk.Albert.R maupun Bpk.Budi Asali. sekian dan terimakasih.

    NB : Saya tadinya seorang katolik (sekarang cuma katolik KTP), namun oleh kasih karunia TUHAN dengan bantuan Roh Kudus-NYA saya dapat belajar dan mengerti apa yang dahulunya saya tidak mengerti ketika membaca ALKITAB.

    BalasHapus
  2. Saudara yang terkasih

    Jika anda menganggap bahwa Pdt. Yakub dan Pdt. Teguh Hindarto menguasai bahan, sopan dan tak bertele-tele, silahkan saja, itu adalah hak anda. Namun apa yang anda sampaikan sebagai ‘bahasa kasih’ yang dilakukan Pdt. Teguh itu, ternyata tidaklah benar demikian. Perlu diketahui, saat saya debat dengan pak Teguh, dia justru banyak mengeluarkan kata-kata yang tak cocok dengan istilah ‘bahasa kasih’ yang anda berikan itu. Misalnya dia mengatakan bahwa saya adalah seorang yang ‘linglung’, ‘amnesia’, ‘arogan’, ‘daya tangkap lambat’, ‘sok tahu’, ‘kebodohan permanen’, dsb. Menurut anda, apakah itu bisa dikategorikan sebagai ‘bahasa kasih’ ?

    Mengenai soal mengikuti pendapat Pdt. Budi Asali, apa menurut anda itu salah? Mengapa saya tak boleh mengikuti argumentasi orang lain? Jika pandangan itu benar / Alkitabiah, mengapa orang yang boleh menggunakannya? Tak ada yang salah dengan hal itu. Menjadi salah, jika yang diikuti adalah pendapat yang tak sesuai dengan Kitab Suci / pendapat yang sesat. Saya memang kadang-kadang mengutip argument pak Budi Asali dan para teolog lainnya, tapi bukan berarti tanpa menganalisa dan mempelajarinya. Bukan juga karena beliau punya gelar M.Div, tapi karena pandangannya sesuai dengan Firman Tuhan.

    Jika anda tak sependapat dengan kami, itu adalah hak anda. Saran saya, belajarlah Alkitab dengan serius sambil berdoa mohon bimbingan-Nya, saya yakin anda akan temukan kebenaran yang sejati.

    Salam

    BalasHapus