Kamis, 17 November 2011

APAKAH ALKITAB SUDAH DIPALSUKAN? SEBUAH APOLOGI ATAS PANDANGAN UMAT ISLAM (BAGIAN KEEMPAT)

Oleh: Albert Rumampuk


Suatu saat, Josh McDowell berkesempatan untuk berceramah di Arizona State University. Seorang guru besar yang telah membawa mahasiswa sastranya mendatanginya dan berkata: “Tuan McDowell, Anda mendasarkan semua pernyataan anda tentang Kristus pada sebuah dokumen abad ke-2 yang sudah kuno. Saya menerangkan dalam kelas hari ini bahwa Perjanjian Baru telah ditulis begitu lama sesudah Kristus sehingga kitab itu tak mungkin akurat tentang apa yang dicatatnya.” McDowell menjawab: “Pendapat dan kesimpulan anda mengenai Perjanjian Baru sudah 25 tahun ketinggalan zaman.” (McDowell, Apologetika, vol. 3, hal 153).

Terlihat jelas, guru besar ini sedang meragukan kredibilitas Alkitab. Namun McDowell membantahnya bahwa kesimpulan seperti itu telah kadaluwarsa! Dalam bukunya, McDowell selanjutnya berkata bahwa pendapat guru besar itu bersumber dalam berbagai kesimpulan seorang kritikus Jerman yang bernama F.C. Baur. Baur menganggap bahwa sebagian besar kitab PB ditulis menjelang akhir abad ke-2 M. Ia menyimpulkan bahwa karya-karya tulisan ini pada dasarnya berasal dari berbagai mitos dan dongeng yang telah berkembang selama kurun waktu yang panjang di antara masa hidup Yesus dan saat kisah-kisah ini ditulis.

Senada dengan hal ini, Lee Strobel (mantan ateis), mengatakan: “Selama tahun-tahun kehidupan saya sebagai seorang ateis, saya mencemoohkan kisah-kisah fantastis dan mitologi yang menyolok, yang menurut saya sudah mendiskwalifikasikan Alkitab dari sebuah buku yang diwahyukan secara Ilahi – menjadi sebuah opini, dan secara kebetulan saya merasa lega karena sudah dibebaskan dari keharusan mengikuti ajaran-ajaran moralnya. Meskipun saya belum pernah secara menyeluruh mempelajari isinya, dengan cepat saya menolak Alkitab dengan tujuan memerdekakan diri saya, agar dapat menjalani gaya hidup yang korup, yang jelas-jelas bertentangan dengan pendirian Alkitab.” (Lee Strobel, Pembuktian atas Kebenaran Iman Kristiani. hal 161).

Lee Strobel juga mengutip pendapat seorang filsuf ateis George H. Smith: “Alkitab tidak menunjukkan jejak-jejak apapun tentang pengaruh supranatural,” katanya. “Bahkan sebaliknya, Alkitab jelas-jelas merupakan produk dari orang-orang yang percaya pada takhayul, yang kadang-kadang mau membohongi diri sendiri bahwa Alkitab akan mengembangkan doktrin-doktrin mereka.” (Pembuktian atas Kebenaran Iman Kristiani. hal 161).

Templeton bahkan dengan congkaknya menganggap sebagian besar isi Alkitab sebagai “dongeng-dongeng rakyat yang dibumbu-bumbui” (Charles Templeton, Farewell to God, 38).
Bukan hanya sang Guru Besar dan para ateis yang meragukan keaslian Alkitab, tetapi ada begitu banyak para pengkritik dari umat Islam yang juga mempertanyakan bahkan dengan yakinnya menuduh bahwa telah terjadi manipulasi data / pemalsuan pada Alkitab.

Tasirun Sulaiman yang mengambil kuliah pasca sarjana di ICAS, Paramadina (jurusan Islamic Philosophy) dan pernah menjadi pembicara di seminar internasional Introducing Modernized Curriculum to Islamic Arabic School, bahkan dengan yakinnya menantang umat Kristen: “Juga dengan kasus penyaliban yang misterius itu. Al-Qur’an justru dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa yang disalib adalah bukan Nabi Isa a.s… Justru Al-Qur’an sedang memberikan kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya kepada para pengikut dan penganut ajaran Kristen untuk menjawab tantangan Al-Qur’an itu baik melalui arkeologi atau sejarah. Al-Qur’an mendorong agar para penganut Kristen bersedia mengkaji ulang dan mengkritisi; benarkah tantangan Al-Qur’an itu?” Beliau juga mengatakan: “Juga tuduhan al-Qur’an yang dialamatkan kepada mereka-mereka yang telah menulis Kitab Suci mereka yakni Injil (Bible), yang sesungguhnya itu bukan wahyu atau inspirasi dari Allah lewat Nabi Isa a.s. tapi dari kreativitas dirinya sendiri, maka amat celakalah mereka, kata al-Qur’an.” (AL-QUR’AN BERBICARA AGAMA LAIN, Tasirun Sulaiman. hal 157, 158, 113).

Bagaimana jawaban ilmiah dari umat Kristen atas semua tuduhan ini?

Seorang sejarawan, C. Sanders dalam Introduction to Research in English Literary History menguraikan 3 prinsip pokok yang menjadi dasar pengujian suatu dokumen sejarah: [1] Ujian Bibliografi atau kepustakaan; [2] Ujian bukti internal; dan [3] Ujian bukti eksternal  (hal 143 dst).

Alkitab adalah sebuah buku yang juga harus diuji kredibilitasnya dengan menggunakan 3 prinsip dasar ini, seperti pengujian terhadap semua naskah sejarah lainnya.

Dibagian pertama sampai ketiga dari tulisan ini, saya sudah sedikit menyinggung dan membuktikan bahwa Alkitab sebetulnya telah lolos dari ujian tersebut. Di tulisan keempat ini, saya akan banyak mengutip buku-buku McDowell seperti ‘He Walked Among Us’ , dsb, dan akan mencoba memberi penjelasannya lebih lanjut.

Sekarang mari kita terapkan tiga tes / ujian ini terhadap Alkitab!

[1] Ujian Bibliografi atau kepustakaan

Tes Bibliografi bicara tentang “Penelitian terhadap proses perjalanan naskah dari yang asli sampai kepada bentuknya yang sekarang.” (McDowell, Apologetika. Vol 1, hal. 77).

Pertanyaan penting dibagian ini adalah: Bagaimana kita bisa memastikan keyakinan kita akan kesahihan MMS Alkitab?

Sudah diketahui bersama bahwa kita memiliki lebih dari 5700 manuskrip PB (termasuk 20.000 terjemahan dari bahasa Siria, Latin, Koptik, dsb, dan lebih dari 1.000.000 kutipan dari tulisan bapa gereja).
Karena begitu berlimpahnya naskah Alkitab yang kita punyai, ini menyebabkan manuskrip Alkitab menempati urutan pertama dari segi jumlah dan pembuktiannya.  Bruce Metzger mengatakan: “Di antara seluruh jajaran kesusasteraan Yunani dan Latin, iliad (karangan Homer - pen) menduduki tempat kedua setelah Alkitab dalam jumlah naskah pendukungnya.” (Chapters in the History of New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co., 1963. Hal 144).

Telah dijelaskan sebelumnya, dengan begitu banyaknya naskah-naskah PB yang ada, ini justru merupakan suatu keuntungan bagi kita. Mengapa? Karena dari situ bisa diketahui seperti apakah dokumen / naskah asli yang sesungguhnya. Kita bahkan memiliki naskah PB tertua yang jarak penulisannya sangat dekat dengan naskah aslinya.

Walaupun naskah PB telah disalin berkali-kali, namun isinya tetap sama. Lagi pula, sekalipun ada perbedaan-perbedaan tertentu dalam MMS, namun sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada doktrin Kristen yang terancam karenanya!

Ini menunjukkan bahwa naskah-naskah PB yang kita miliki benar-benar dapat di percaya. Jadi, baik keaslian maupun integritas PB, tak perlu diragukan lagi. Setidaknya, itulah yang ditegaskan oleh Kenyon, seorang kritikus handal dan pakar tulisan kuno.  

John Warwick Montgomery mengatakan bahwa “tidak mempercayai kitab-kitab Perjanjian Baru yang ada sekarang adalah sama saja dengan meniadakan semua kesusasteraan kuno, karena tidak ada dokumen kuno yang di dukung oleh lebih banyak bibliografi seperti Perjanjian Baru.” (History and Christianity. Downers Grove, IL 60515: Inter-Varsity Press, 1971. hal 29).

Lalu bagaimana dengan Perjanjian Lama? Seberapa banyakkah naskah PL yang kita punyai? Ketika saya menanyakan hal ini pada seorang pendeta, beliau dengan jujur berkata “saya tak tahu”. Terus terang, saya memang sering mendengar naskah / manuskrip PB yang begitu berlimpah, tapi bagaimana dengan MSS PL? Fakta membuktikan, kita memang tak mempunyai kelimpahan naskah PL seperti yang dimiliki PB. Tetapi apakah naskah-naskah PL itu memang ada? Ya!

Berikut beberapa diantaranya:

Kodeks Kairo (895 M) terdapat di British Museum. Berisi kitab para nabi.

Kodeks Nabi-Nabi Leningrad (916 M) berisi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan kedua belas nabi kecil.

Kodeks Babylonicus Petropalitanus (1008 M) terdapat di Leningrad. Merupakan naskah lengkap PL yang paling tua.

Kodeks Aleppo (900 M ke atas)

Kodeks British Museum (950 M) berisi sebagian dari kitab Kejadian sampai Ulangan.

Kodeks nabi-nabi Reuchlin (1105 M).

Berbagai sumber menyatakan bahwa, sebelum ditemukannya naskah-naskah Laut Mati, maka naskah PL tertua berasal dari sekitar tahun 900 M ke atas. Tetapi menurut saya, Perjanjian Lama sebagai suatu Kitab Suci yang adalah wahyu Allah, tak perlu dipertanyakan lagi keakuratannya. Mengapa? Karena Yesus sendiri (termasuk para rasul) telah menggunakannya dan mereka sama sekali tidak mempertanyakan kredibilitasnya!

Tetapi toh seorang kritikus ternama sekaliber Sir Frederic Kenyon tetap saja mempertanyakannya: “Apakah teks Ibrani, yang kita sebut teks Masoret, dan yang telah terbukti diturunkan dari sebuah teks yang dibuat sekitar tahun 100 M, sungguh-sungguh mewakili teks Ibrani asli yang ditulis oleh para penulis Perjanjian Lama?” (Our Bible and the Ancient Manuscript. New York: Harper & Brothers, 1941. Hal 47).

Pertanyaan ini memang penting, karena bukankah Kristus berada di zaman / sekitar tahun 32 M? Memang benar, Yesus dan para rasul mengakui keabsahan PL. Namun yang jadi persoalannya adalah, bagaimana kita bisa memastikan ketepatan / keakuratan penurunannya sejak zaman Kristus? Bukankah sebelum tahun 1947 kita hanya memiliki naskah Ibrani yang berasal dari tahun 900-an M? Inilah yang dipertanyakan oleh McDowell.

Jawabannya adalah: ‘Naskah-naskah Laut Mati!’

Naskah –naskah ini terdiri dari 40.000 fragmen tulisan. Diantaranya juga terdapat naskah-naskah Perjanjian Lama. Gulungan kitab ini ditemukan pada tahun 1947 oleh seorang anak gembala Badui bernama Muhammad, yang melihat guci-guci besar (di gua, sebelah barat Laut Mati) berisi gulungan-gulungan kitab kulit yang dibungkus dengan kain lenan.

John Trever wakil direktur dari American School of Oriental Research di Yerusalem banyak mengutip pendapat Dr. Albright (dari Universitas Johns Hopkins, yang diakui secara luas sebagai ketua Arkeolog Alkitab Amerika): “Tidak ada keraguan sedikitpun dalam benakku bahwa naskah ini lebih kuno dari pada papirus Nash… Saya lebih cenderung bahwa ia berasal dari tahun 100 sM…” (Geisler, Norman L. dan William E. Nix. A General Introduction to the Bible. Chicago: Moody Press, 1968. hal. 260). 
Arkeolog Amerika yang terkenal, William F. Albright, menyebutnya “penemuan manuskrip yang terbesar dari segala zaman.” (Biblical Archaeologist 11:55 (1948).
Salah satu gulungan kitab yang ditemukan adalah naskah lengkap dari teks Yesaya Ibrani. Menurut ahli tulisan kuno (paleografer) ia berasal dari sekitar tahun 125 sM.

Sesuatu yang menakjubkan adalah setelah membandingkan teks Masoret Yesaya (916 M) dengan gulungan kitab Yesaya (125 sM), ditemukan ketepatannya secara signifikan. Ini membuktikan betapa luarbiasa telitinya penyalin Kitab Suci selama selang waktu 1000 tahun!

Perhatikan beberapa komentar dari ahli Kitab Suci dan arkeolog berikut ini:

“Diantara 166 kata dalam Yesaya 53, hanya 17 huruf yang diragukan. Sepuluh diantarannya hanya merupakan masalah ejaan, yang tidak mengubah arti. Empat lainnya berupa perubahan gaya yang tidak terlalu penting, seperti kata sambung. Tiga huruf lainnya membentuk kata ‘terang’ yang ditambahkan dalam ayat 11, dan tidak terlalu mengubah arti. Lagi pula kata ini didukung oleh LXX dan IQ. Begitulah dalam satu bab yang berisi 166 kata, hanya ada satu kata (tiga huruf) yang dipertanyakan setelah mengalami penyalinan berulang-ulang selama seribu tahun – dan kata ini tidak menimbulkan perubahan arti penting dalam perikop itu.” (Geisler, Norman L. dan William E. Nix. A General Introduction to the Bible. Chicago: Moody Press, 1968. hal. 263). 

Gleason Archer menyatakan bahwa salinan kitab Yesaya masyarakat Kumran “ternyata menunjukkan ketepatan kata demi kata dengan Alkitab Ibrani standar kita sampai lebih dari 95 persen dari seluruh teks. Lima persen penyimpangannya sebagian besar terdiri dari salah tulis dan variasi dalam pengejaan.” (A Survey of the Old Testament. Chicago: Moody Press. 1964. hal 19).
Arkeolog dari Universitas Yale, Millar Burrows (dikutip dari Geisler dan Nix), menyimpulkan: “Adalah suatu keajaiban bahwa dalam waktu yang sedemikian lama seperti 1000 tahun teks itu hanya sedikit sekali mengalami perubahan. Sebagaimana yang kukatakan dalam artikel saya yang pertama tentang gulungan kitab ini, ‘Di sinilah letak keistimewaannya, yang mendukung kecermatan tradisi Masoret.’” (Geisler, Norman L. dan William E. Nix. A General Introduction to the Bible. Chicago: Moody Press, 1968. hal 261).

Kita bisa melihat, sekalipun dipisahkan oleh rentang waktu yang begitu lama (1000 tahun!), tetapi nyatanya naskah-naskah ini tidak mempunyai perbedaan-perbedaan yang berarti dengan Alkitab Ibrani kita! Sekali lagi ini menunjukkan betapa telitinya para penyalin Kitab Suci itu.
Seperti yang telah diketahui, tuduhan adanya pengeditan / pemalsuan Alkitab, itu telah ada sejak zaman Ali Ibn Hazm (994-1064 M). Jika tuduhan ini benar, lalu mengapa manuskrip-manuskrip yang ditemukan tahun 1947 itu secara umum isinya sama dengan naskah yang muncul 1000 tahun sesudahnya??

[2] Ujian bukti internal

Jika tes kepustakaan hanya menetapkan bahwa MSS yang kita miliki sekarang pada dasarnya sama dengan naskah awalnya, maka pada ujian yang kedua ini, perlu ditetapkan “apakah catatan tertulis itu dapat dipercaya dan sejauh mana ia dapat dipercaya.” (McDowell, Apologetika, vol 3, hal. 159).
Di bagian ini, naskah yang diteliti itu harus bisa membuktikan sendiri kebenarannya.

Aristoteles: “pembebasan dari tuduhan akan diberikan kepada dokumen itu sendiri, bukan direbut oleh sang peneliti bagi dirinya sendiri.” Dengan demikian, Montgomery menjelaskan:“Orang harus mendengarkan pernyataan dokumen yang sedang dianalisis, dan tidak menganggapnya salah atau palsu kecuali bila sang pengarang sendiri dapat mendiskualifikasi dirinya oleh karena berbagai kontradiksi atau fakta-fakta yang diketahui tidak akurat.” (Montgomery, John W. History and Christianity. Downers Grove, IL 60515: Inter-Varsity Press, 1971. hal. 29).

Bagaimana Alkitab membuktikan kebenarannya?

Dr. Louis Gottschalk, mantan guru besar sejarah pada University of Chicago menjelaskan bahwa “kemampuan penulis atau saksi untuk menceritakan kebenaran bahkan menolong sejarawan untuk menetapkan kredibilitas ‘meskipun itu terkandung dalam sebuah dokumen yang diperoleh dengan kekerasan atau penipuan, atau yang dapat dicurigai, atau didasarkan pada kabar orang, atau dari seorang saksi yang berkepentingan.’” (McDowell, Apologetika, vol 3, hal. 159). 
Semua peristiwa / kejadian mengenai Yesus Kristus ataupun ajaran-Nya, telah ditulis oleh para saksi mata atau orang-orang yang menceritakan kisah para saksi mata. Hal ini terlihat jelas di beberapa teks dalam Alkitab, misalnya:

Lukas 1:1-3 – “Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu.”

Kis 2:22,32 - “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu… [32]  Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” 

2Pe 1:16 - “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.”

1Yoh 1:3 – Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

Yoh 19:35 – Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.”

Adanya para saksi mata atas suatu peristiwa yang tercatat dalam suatu naskah, jelas menunjukkan kebenaran / keakuratan dari tulisan tersebut. Tetapi disini perlu diwaspadai akan keberatan-keberatan yang muncul. Misalnya, “bisa saja para saksi mata itu berkata bohong bukan?” Ya. Ini memang bisa saja terjadi. Namun perlu dicatat bahwa para saksi mata itu bukan hanya terdiri dari para rasul / penulis Alkitab, tapi juga termasuk para pengkritik yang hidup dimasa itu. Perhatikan teks berikut:

Kis 26:24-26 – “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’ Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil.’”

Ayat ini dilatarbelakangi oleh adanya kesaksian Paulus tentang kehidupan pribadinya, bagaimana dia menyerang / menyiksa orang-orang percaya, menentang Yesus, kisah pertobatannya, memberitakan pengampunan dosa karena iman pada Kristus, dan bahkan menekankan penderitaan dan kebangkitan sang Mesias. Tetapi bagaimana respon orang yang ada disana saat itu? Festus mengatakan Paulus gila!
Dengan kata lain, sebenarnya si pengkritik itu sedang mempertanyakan (meragukan) kesaksian Paulus tersebut. Festus, orang Romawi itu, mungkin mempertanyakan soal kebangkitan orang mati dan menganggap Paulus tidak waras. Tetapi Paulus kemudian membuktikan bahwa bukan hanya dia saja (saksi mata) atas semua kejadian itu, tapi juga bahkan sang raja sendiri!

Bandingkan dengan teks berikut:

Kis 2:22 - “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu

Disini Petrus menjelaskan bahwa peristiwa keajaiban / mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus, dan bahkan pembunuhan dan penyaliban-Nya (ayat 23), juga diketahui oleh mereka sendiri (orang Yahudi). Adanya saksi-saksi mata atas suatu peristiwa yang dicatat, semakin memperkuat kredibilitas dari Alkitab!

Lawrence J. McGinley dari Saint Peter’s College memberi komentar tentang manfaat saksi-saksi yang bermusuhan berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang sudah tercatat: “Pertama-tama, para saksi mata dari peristiwa-peristiwa yang sedang dibicarakan masih hidup ketika tradisi itu telah terbentuk sama sekali; dan di antara para saksi mata itu terdapat musuh-musuh yang sangat membenci gerakan keagamaan yang baru ini. Namun, tradisi itu menyatakan telah menceritakan serentetan perbuatan yang terkenal dan di depan umum mengajarkan doktri-doktrin pada waktu pernyataan-pernyataan yang palsu dapat dan akan ditentang.” (Form Criticism of the Synoptic Healing Narratives. Woodstock College Press, 1944. hal 25).

[3] Ujian bukti eksternal

Ini adalah tes ketiga untuk kesejarahan. Bagian ini akan menjelaskan “apakah materi sejarah lain menguatkan atau menolak kesaksian internal dokumen-dokumen itu sendiri. Dengan kata lain, sumber-sumber apakah yang ada, selain dari kepustakaan yang sedang dianalisis, yang menguatkan keakuratan, kesahihan, dan keasliannya?” (McDowell, Apologetika Vol. 3, hal. 162,163).

Mungkin saja karena alasan tertentu, para pengkritik dari umat Islam tidak mau menerima ujian bukti Bibliografi dan Ujian bukti internal yang telah meloloskan Alkitab sebagai sebuah tulisan yang akurat. Namun disini, saya akan menunjukkan begitu berlimpahnya pandangan-pandangan dari para penulis di luar Alkitab yang justru menguatkan / meneguhkan kesahihan Alkitab.

Berikut beberapa diantaranya.

Sejarawan Eusebius, menyimpan berbagai karya tulis Papias, uskup Hierapolis (tahun 130 M): “Sang penatua (Rasul Yohanes) biasanya mengatakan hal ini juga, ‘Markus, yang menjadi juru bahasa Petrus menulis dengan teliti segala sesuatu yang dia (Petrus) katakan, apakah itu ucapan atau perbuatan Kristus, akan tetapi tidak secara berurutan. Karena ia bukan seorang pendengar atau kawan Tuhan; tetapi kemudian hari, seperti yang saya katakan, ia menemani Petrus, yang menyesuaikan ajaran-ajarannya sebagaimana diperlukan, bukan seakan-akan ia hendak menghimpun ucapan-ucapan Tuhan. Jadi, Markus tidak membuat kesalahan, ketika menulis beberapa hal sebagaimana ia telah menyebutkannya; karena ia memperhatikan hal yang satu ini, yaitu ia tidak mengabaikan apa pun yang telah didengarnya, dan ia tidak mencantumkan pernyataan palsu apa pun di antaranya.” (Eusebius, The History of the Church 3. 39).

Irenaeus, Uskup Lyons (180 M), murid Polikarpus, Uskup Smirna, murid rasul Yohanes, yang meninggal sebagai martir pada tahun 156 M, menulis: “Begitu kuatnya dasar penulisan Injil, sehingga kaum bidat sendiri memberikan kesaksian tentangnya, dan berdasarkan (dokumen) ini, mereka masing-masing berusaha mengembangkan ajarannya sendiri.” (Against Heresies III).

“Klemens dari Roma (sekitar tahun 95 M) memakai Kitab Suci sebagai sumber yang terpercaya dan asli.” (McDowell, Apologetika, Vol 1, hal 113).

Ignatius (70-110 M) adalah uskup Antiokhia dan menjadi martir oleh karena imannya kepada Kristus. Dia mengenal semua rasul dan dia sendiri adalah murid dari Polikarpus, murid rasul Yohanes. (Liplady, Thomas. The Influence of the Bible. New York: Fleming H. Revell, 1924. hal 209). “Ignatius menunjukkan kepercayaannya pada Kitab Suci dengan mendasarkan imannya pada ketepatan Alkitab. Dia mempunyai cukup banyak bahan dan kesaksian untuk membuktikan kredibilitas Kitab Suci” (McDowell, Apologetika, Vol 1, hal 113).

“Polikarpus (70-156 M) adalah murid Yohanes dan wafat sebagai martir pada usia 86 tahun karena kesetiannya yang tidak tergoyahkan pada Kristus dan Kitab Suci.” (McDowell, Apologetika, Vol 1, hal 113).

“Tatian (sekitar tahun 170 M) menyusun Kitab Suci secara teratur dan merangkumnya dalam ‘keselarasan Injil’ pertama yang disebut Diatesaron.” (McDowell, Apologetika, Vol 1, hal 114).

Mereka adalah orang-orang yang hidup di abad pertama dan kedua, yang kesaksiannya tentu sangat penting dan tak mungkin diabaikan begitu saja!

Namun bukan hanya mereka saja, para arkeolog / sejarawan juga memberi persetujuan tentang berbagai peristiwa dalam Alkitab yang terjadi secara tepat dan akurat.

Dr. Norman L. Geisler ketika diwawancarai Lee Strobel, mengatakan “Sejarawan Romawi terkenal Colin J. Hemer, dalam bukunya berjudul The Book of Acts in the Setting of Hellenistic History, menunjukkan bagaimana arkeologi sudah mengonfirmasikan bukan hanya lusinan, melainkan beratus-ratus detail dari peristiwa-peristiwa dalam Alkitab Perjanjian Baru tentang gereja yang mula-mula,” kata Geisler. “Bahkan detail-detail yang kecilpun sudah dibenarkan, seperti ke arah mana angin bertiup, berapa dalamnya air dari jarak tertentu dari pantai, penyakit jenis apa saja yang ada di pulau itu, nama-nama pejabat setempat, dan sebagainya.” (The Case for Faith, edisi Indonesia halaman 164).

Jika di tulisan bagian pertama saya sudah sedikit menyinggung soal ini, maka disini saya akan tunjukkan lebih banyak lagi kutipan-kutipan dari para penulis / arkeolog dan sejarawan termasyhur di sepanjang abad. 

A. N. Sherwin-White seorang sejarawan zaman purba, menulis bahwa “penegasan kesejarahan kitab Kisah Para Rasul berlimpah-limpah.” Ia melanjutkan “setiap usaha untuk menolak kesejarahan yang mendasar dalam hal detail pun sekarang kelihatan tak masuk akal. Para ahli sejarah Romawi sudah lama menerimanya selaku benar.” (Sherwin-White, A. N. Roman Society and Roman Law in the New Testament. Grand Rapids: Baker Book House, 1963. 189).

Joseph P. Free (1910-1974), mantan ketua departemen arkeologi di Wheaton College, Wheaton, IIIinois, Profesor arkeologi dan sejarah di Bemidji State College, Minnesota, berkata: “arkeologi telah meneguhkan banyak sekali bagian Alkitab yang telah ditolak oleh para kritikus karena mereka menganggapnya tidak sesuai dengan sejarah atau bertentangan dengan kenyataan-kenyataan yang ada.” (Arkeologi dan Sejarah Alkitab, Gandum Mas. 2001, hal. 13).

Nelson Glueck, arkeolog Yahudi yang tersohor itu menulis: “Dapat dipastikan secara mutlak bahwa tidak pernah ada penemuan arkeologi yang bertentangan dengan pernyataan di dalam Alkitab.” Dia melanjutkan pernyataannya tentang “catatan sejarah Alkitab yang nyaris tidak dapat dipercaya ketepatannya, terutama bila dikuatkan oleh fakta arkeologi.” (Rivers in the Desert; History of Negev. Philadelphia: Jewish Publications Society of America, 1969. hal 31).

William F. Albright, yang terkenal karena reputasinya sebagai seorang arkeolog besar, menyatakan: “Tidak dapat diragukan bahwa arkeologi telah menegaskan kebenaran historis tradisi Perjanjian Lama.” (Archaeology and the Religions of Israel. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1956. hal 176). 

Merrill Unger menyatakan: “Peranan arkeologi dalam riset Perjanjian Baru (maupun Perjanjian Lama) dalam memperlancar penelitian ilmiah, mendukung dan menguatkan latar belakang historis dan budaya, menunjukkan suatu titik cerah bagi masa depan kritikan terhadap teks yang kudus.” (Archaeology and The Old Testament. Chicago: Moody Press, 1954. hal 25,26).

Miller Burrows, arkeolog dari Universitas Yale berkata: “Dalam banyak kasus arkeologi telah mematahkan pandangan para peneliti modern. Pada beberapa kesempatan arkeologi menunjukkan bahwa pandangan-pandangan ini bertumpu pada dugaan yang keliru dan skema perkembangan historis yang tidak benar atau palsu (AS 1938, HLM.182). Ini adalah suatu sumbangan yang nyata dan tidak boleh dianggap enteng.” (Burrows, Millar. What Mean These Stones? New York: Meridian Books, 1956, hal 291).
Sir Frederic Kenyon, direktur dan pustakawan utama di British Museum, ahli tulisan kuno, mengatakan: “Patut untuk dikatakan bahwa, dalam hal bagian Perjanjian Lama yang menjadi sasaran utama kritikan yang menjatuhkan pada paruh kedua abad kesembilan belas, bukti-bukti arkeologi telah memulihkan kembali otoritasnya, dan dengan demikian memperbesar nilainya secara intelektual melalui pengetahuan yang lebih lengkap mengenai latarbelakang dan lingkungannya. Arkeologi masih belum selesai; tapi hasil yang telah dicapai menegaskan apa yang dinyatakan oleh iman, dan bertambahnya pengetahuan tidak dapat tidak telah menguntungkan Alkitab.” (Kenyon, Frederic G. The Bible and Archaeologi. New York: Harper & Row, 1940. hal 279).

Bernard Ramm: “Arkeologi juga telah memberikan bukti yang menguatkan ketepatan teks Masoret kita…” (Ramm, Bernard. “Can I Trust My Old Testament?” The King’s Business. Februari 1948. hal 8).

Sir Wiliam Ramsay, salah seorang arkeolog terbesar berkata: “Sejarah Lukas tidak tertandingi dalam hal kredibilitasnya.” (Ramsay, W. M. St. Paul the Traveller and the Roman Citizen. Grand Rapids: Baker Book House, 1962. hal 81).

E. M. Blaiklock, professor sastra klasik dari Universitas Auckland, berpendapat bahwa: “Lukas adalah sejarawan sempurna, yang patut disejajarkan dengan para penulis besar Yunani.” (The Act of the Apostles. Grand Rapids: William B. Eerdsmans Publishing Co., 1959. hal 89).

Sejarawan Will Durant, peneliti berbagai catatan kuno, mengatakan bahwa bukti sastra menunjukkan keaslian sejarah mengenai Perjanjian Baru:

“Sekalipun berbagai prasangka dan praanggapan teologis para penulis Injil, mereka mencatat banyak kejadian yang akan disembunyikan oleh orang-orang yang sekedar mebuat-buat cerita – persaingan para murid untuk mendapat kedudukan yang tinggi di dalam kerajaan, pelarian mereka setelah Yesus ditangkap, penyangkalan Petrus, Kristus tidak mengadakan mukjizat di Galilea, acuan beberapa ahli Taurat bahwa Ia mungkin tidak waras, ketidakpastian-Nya yang mula-mula mengenai misi-Nya, pengakuan-Nya bahwa Ia tidak tahu tentang masa depan, saat-saat Ia merasa getir, seruan keputusasaan-Nya di salib; tak seorangpun yang membaca adegan-adegan ini dapat meragukan kenyataan tokoh yang ada dibaliknya. Bahwa beberapa orang sederhana dapat menciptakan dalam satu generasi seorang tokoh yang begitu berkuasa dan menarik, prinsip moral yang begitu agung, dan sebuah visi persaudaraan manusia yang begitu membangkitkan semangat, akan merupakan sebuah mukjizat yang luarbiasa daripada mukjizat yang tercatat dalam kitab-kitab Injil. Setelah dua abad lamanya penelitian sastra-sejarah Alkitab, garis besar kehidupan, watak, dan ajaran Kristus masih jelas, dan merupakan ciri yang paling mempesonakan dalam sejarah manusia.” (Durant, Will. Caesar and Christ. Vol 3 in The Story of Civilization Series. New York: Simon & Schuster, 1944).

Catatan: kutipan-kutipan ini hanyalah beberapa diantara begitu berlimpahnya pengakuan dari para sejarawan dan arkeolog ternama, terhadap keaslian Alkitab. Saya memutuskan untuk menghentikan pada kutipan dari Sejarawan Will Durant, karena faktor kelelahan saat mengetiknya di computer saya.
 
Para pengarang / penulis Islam mengutip ayat-ayat Alkitab untuk melengkapi data sejarah tulisannya

Bambang Noorsena sebetulnya menjelaskan bahwa fakta telah membuktikan adanya banyak kutipan Al-Qur’an terhadap ayat-ayat dari PL dan PB yang merupakan Kitab Suci sebelumnya. Misalnya Q.s. al-Maidah/5:45 yang dikutip dari Taurat (Kel 21:23-25), Q.s. al-A’raf/7:40 dari Mat. 19:23-24, dsb. (The History of Allah, Bambang Noorsena. Penerbit ANDI,hal 46,48). Ini jelas membuktikan adanya semacam ‘pengakuan’ dari Al-Qur’an sendiri terhadap keaslian Alkitab sebagai wahyu Allah.

Tetapi saya tidak akan menekankan hal ini, karena bisa saja umat Islam mengelaknya. Disini saya akan tunjukkan bukti dari para penulis Islam sendiri yang terang-terangan mengakui kebenaran Alkitab.

 “Sampai abad berikutnya, kita menemukan kutipan ayat-ayat Injil dalam bahasa Arab dari buku yang dinisbatkan dengan nama besar Imam al-Ghazali, Ar-Radd al-Jamil li Ilahi-yyat Isa bi Syarih al-Injil, yang rupanya juga memakai terjemahan bahasa Koptik. Mengenai bagian-bagian dari Kitab Perjanjian Lama, sebuah fragmen Arab dari Mazmur yang berasal dari abad ke VIII ditemukan di Damaskus. Isinya Mazmur 78. Al-Kindi, dalam bukunya ar-Risalah (dibuat tahun 819 M) dan Ibn Kutaiba, sebagaimana disebut dalam buku al-Jawzi yang berjudul Wafa’ ditemukan kutipan ayat-ayat Mazmur dalam terjemahan Arab harfiah.”

Mengenai Taurat, seperti juga Injil dan Mazmur, para penulis Islam terdini mulai Ibn Ishaq (768 M) dalam karyanya yang lain, Maqhazi dan penerusnya Ibn Hisyam (838 M) dalam kitab al-Tijan telah mengutipnya, terutama untuk melengkapi data-data sejarah dari karyanya. Ibn Kutaiba, dalam kitab al-Ma’arif (889 M) juga telah mengutip kitab Kejadian (Sifr at-Takwin). Sedangkan Ali Ibn Rabban ath-Thabari, seorang anggota gereja Assyria Timur yang kemudian masuk Islam, telah mengutip hampir seluruh Perjanjian Lama dalam bukunya Kitab ad-Din wa ad-Daulah (ditulis sekitar tahun 854-855 M).” [Bambang Noorsena, The History of Allah, hal 55].

Pengutipan ayat-ayat Alkitab oleh para penulis Islam ini, tentu saja membuktikan pengakuan mereka atas kebenaran Alkitab!

Para tokoh-tokoh / ulama Islam mengakui kesahihan Alkitab

Bukanlah rahasia umum lagi jika para tokoh-tokoh ulama Islam dan ahli sejarah Islam juga mengakui kesahihan Alkitab. Misalnya Al-Mas'udi (meninggal 956) dan Ibn-Khaldun (meninggal 1406 ) yang adalah ahli sejarah Islam, telah mengakui / berpegang pada kesahihan teks Injil. Bahkan tokoh ulama sekaliber imam Al-Ghazzali (1111) juga mengakuinya.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Muhammad Abduh (1849-1905), seorang tokoh (yang menurut ensiklopedia Britannica sebagai reformator Islam modern) dari Universitas Al-Azhar di Mesir, telah mengakui bahwa :

"Tuduhan korupsi teks Kitab Injil sesungguhnya tidak berdasar sama sekali. Adalah MUSTAHIL bagi umat Yahudi dan Kristen di seluruh wilayah untuk berkomplot dan bersatu mengubah teks Kitab-kitab Suci mereka. Walau pun seandainya mereka di tanah Arab telah melakukannya, perbedaan di antara kitab-kitab mereka dan kitab-kitab umat Nasrani Kristen di tempat lain-misalnya di Eropa akan berbeda dengan begitu jelas dan nyata."

Pengakuan dari ahli sejarah ternama abad pertama

Yosefus, seorang sejarawan Yahudi kenamaan yang lahir hanya beberapa tahun setelah kematian Yesus, juga mengakui keaslian Alkitab yang tak pernah mengalami pemalsuan. Dia menulis:

“… dan betapa teguhnya kita menaruh kepercayaan pada kitab-kitab bangsa kita terlihat pada apa yang kita lakukan; karena selama masa-masa yang kita lalui selama ini, tidak ada seorangpun yang berani mengurangi atau menambahkan sesuatu padanya, tetapi bagi setiap orang Yahudi, sepertinya sudah menjadi hal yang semestinya, bahkan sejak saat mereka dilahirkan, untuk menganggap buku-buku ini sebagai ajaran ilahi, dan menaatinya, dan, bila dirasa perlu, rela mati untuknya. Karena bukan hal yang aneh bagi para tawanan kita, baik dalam jumlah maupun waktunya, untuk menanggung segala macam siksa dan kematian diarena, sehingga mereka tidak akan mungkin mengucapkan sepatah katapun untuk menentang hukum kita, dan catatan yang memuatnya…” (Flavius Josephus, “Flavius Josephus Against Apion.” Josephus Complete Works. Diterjemahkan oleh William Whiston, Grand Rapids: Kregel Publications, 1960. Hal 609).

Bernard Ramm, menunjukkan bagaimana orang-orang Yahudi memperlakukan PL dan menyalinnya dengan luar biasa telitinya. Dia berkata: “Orang-orang Yahudi telah melindunginya dengan cara yang lebih baik daripada perlindungan terhadap naskah manapun. Dengan massora (parva, magna, finalis)nya mereka mengawasi setiap huruf, suku kata, kata, dan paragraph. Ada kelas-kelas khusus di dalam masyarakat mereka yang semata-mata bertugas melindungi dan menyalin dokumen-dokumen ini dengan ketelitian yang nyaris sempurna – ahli kitab, ahli Taurat, dan ahli naskah (masoret). Siapakah yang pernah menghitung jumlah huruf dan suku kata dan kata dalam karya Plato atau Aristoteles? Cicero atau Seneca?” (Protestant Christian Evidences. Chicago: Moody Press, 1957. hal 230,231).

Tantangan untuk para pengkritik dari umat Islam
Saya sudah membuktikan bahwa Alkitab telah lolos dari 3 (tiga) macam ujian / tes seperti yang dikemukakan oleh sejarawan, C. Sanders dalam menguji suatu dokumen sejarah: [1] Ujian Bibliografi atau kepustakaan; [2] Ujian bukti internal; dan [3] Ujian bukti eksternal 

Sekarang saya menantang para pengkritik umat Islam untuk melakukan hal yang sama terhadap Al-Qur’an! Dapatkah Al-Qur’an lolos dari tiga macam ujian ini???


KESIMPULAN DAN PENERAPAN
Setelah melihat seluruh argumentasi para pengkritik dari umat Islam yang menuduh bahwa telah terjadi korupsi / pemalsuan terhadap Alkitab, saya sampai pada kesimpulan bahwa memang tidak ada kepastian / bukti yang valid dari para pengkritik itu sendiri. Mereka memang mengutip ayat-ayat Al-Qur’an sebagai dasarnya, tapi Qur’an sendiri bahkan tidak memberi kepastian, kapan, oleh siapa dan bagaimana terjadinya pemalsuan itu. Ada juga yang mengutip ayat-ayat Alkitab yang mencatat adanya ‘pemalsuan’ Injil / Taurat, tapi sayangnya orang ini melakukan eisegesis!
Ada lagi sebagian umat Islam dengan bangganya menunjuk tahun 325 sebagai titik awal ‘pengubahan’ Alkitab, namun ini justru membuktikan bahwa orang ini buta sejarah!

Saya sudah membuktikan bahwa keaslian Alkitab bukan hanya disahkan oleh Alkitab itu sendiri (bukti internal), tapi juga telah teruji oleh sejarah dan arkeologi. Dengan demikian, tuduhan yang tidak berdasar dari para pengkritik umat Muslim ini akan menentang hal-hal berikut:
  • Menentang kesaksian dari orang-orang yang hidup di abad pertama – kedua, yang mengakui kebenaran Alkitab.
  • Menentang sejarah yang membuktikan bahwa tak pernah ada pemalsuan dititik manapun dalam sepanjang peradaban. Jika memang Alkitab telah dipalsukan, maka ada saat tertentu dimana ribuan manuskrip-manuskrip Alkitab itu musnah. Tapi fakta menunjukkan bahwa MSS itu tetap ada dan terjaga. Ini membuktikan bahwa memang tak pernah terjadi pemalsuan!
  • Menentang sejarah yang mendukung seluruh peristiwa yang telah terjadi dan dicatat dalam Alkitab. Misalnya tentang penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.
  • Menentang arkeologi yang menjelaskan betapa akuratnya berbagai hal / kejadian yang tercatat dalam Alkitab.
  • Menentang para tokoh sejarah / arkeolog ternama sepanjang abad yang mengakui keaslian Alkitab.
  • Menentang para tokoh / alim ulama Islam yang mengakui kesahihan Alkitab. 
 
Adanya tuduhan pemalsuan Alkitab oleh para pengkritik ini, tentunya didasari oleh latarbelakang tertentu. Ada yang mengatakan bahwa karena adanya begitu banyak perbedaan dalam Alkitab dan Al-Qur’an, dan karena tak mungkin 2 kitab suci yang di klaim sebagai ‘wahyu Allah’ itu bisa bertentangan, maka jalan satu-satunya adalah mengatakan bahwa Alkitab sudah ‘dipalsukan’. Apakah hal ini memang benar? Hanya kelompok Islam yang bisa menjawabnya.
 
Namun ada pertanyaan penting yang sampai saat ini belum bisa dijawab oleh para pengkritik dari umat Islam: kapan pemalsuan itu dilakukan? Dimana? Oleh siapa? Dan bagaimana itu bisa terjadi?
 
Kelihatannya para pengkritik hanyalah mengikuti seorang tokoh Islam yang bernama  Ali Ibn Hazm (tahun 994-1064) seorang yang pertama kali melontarkan tuduhan itu. Ini lalu diteruskan turun temurun dan menjadi sebuah ‘tradisi’ yang ternyata hanya didasari pada dongeng belaka tanpa dukungan fakta sejarah!
 
Saya akan memberi sebuah contoh ironi sejarah yang seharusnya diperhatikan oleh para pengkritik.
 
Sydney Collett dalam All About the Bible mengatakan “Voltaire, seorang kafir dari Perancis yang meninggal dunia dalam tahun 1778, mengatakan bahwa dalam seratus tahun sejak zamannya, agama Kristen akan musnah dari muka bumi dan hanya menjadi bagian dari sejarah. Tetapi apa yang terjadi?” Selanjutnya, Geisler dan Nix menunjukkan “Hanya 50 tahun setelah kematiannya Lembaga Alkitab Genewa telah memakai percetakan dan rumahnya untuk memproduksi bertumpuk-tumpuk Alkitab.”
 
Perhatikan ayat-ayat berikut:
 
Yesaya 40:8 “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya."
 
1 Petrus 1:24-25 “Sebab: ‘Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.’ Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.”

Yesus sendiri sebagai ‘sang firman’ bahkan mengklaim:

Matius 24:35 “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Sekalipun Alkitab telah berusaha didiskreditkan bahkan dimusnahkan dengan berbagai cara, tetapi aneh bin ajaib, buku itu tetap ada dan terpelihara! Bualan Voltaire tentang kepunahan Alkitab dan kekristenan dalam seratus tahun, justru dibantah oleh fakta sejarah yang menggunakan percetakan dan rumahnya untuk memproduksi bertumpuk-tumpuk Alkitab. SUNGGUH SUATU IRONI SEJARAH!

Allah sendiri telah menjamin / menyatakan dengan tegas bahwa segala sesuatu akan lenyap / berlalu, tetapi firman Tuhan akan tetap selama-lamanya! Ini lagi-lagi membuktikan bahwa Alkitab benar-benar adalah Firman Tuhan!

Lalu bagaimana umat Kristen menjawab tuduhan para pengkritik dari umat Islam bahwa Alkitab / Injil nya orang Kristen itu sudah palsu? Karena tuduhan ini sama sekali tak di dasari fakta sejarah, maka dengan mudah kita dapat menjawabnya bahwa tuduhan ini hanyalah ISAPAN JEMPOL BELAKA!

Penerapan

Saya sudah cukup banyak membuktikan betapa Alkitab itu sangat akurat dan dapat dipercaya. Kitab itu bukan hanya ditulis oleh para nabi / rasul yang diilhamkan oleh Allah, namun para rasul itu adalah saksi mata yang telah menulis berdasarkan apa yang dilihatnya sendiri atau mencatat kesaksian dari orang yang melihatnya sendiri. Kesaksian mereka bahkan didukung oleh bukti sejarah dan arkeologi!
Rasul Yohanes berkata:

1 Yoh 1:1-3 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”

Yoh 20:30-31 “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Jika Alkitab telah terbukti benar dalam setiap kata-kata / tulisannya, maka konsekwensinya adalah, manusia harus menerimanya sebagai sebuah Kitab Suci / wahyu Allah!

Rasul Yohanes menjelaskan bahwa semua yang tercatat dalam Alkitab (Injil) bertujuan agar manusia menjadi percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan dengan iman inilah yang menjadikan manusia diselamatkan.

Pertanyaan saya untuk seluruh umat Islam: Sudahkah saudara percaya pada Tuhan Yesus Kristus? Maukah anda beriman pada-Nya?

Semoga Tuhan membuka hati dan pikiran umat Islam untuk menerima kebenaran Alkitab.

Tuhan memberkati.

Rabu, 09 November 2011

APAKAH ALKITAB SUDAH DIPALSUKAN? SEBUAH APOLOGI ATAS PANDANGAN UMAT ISLAM (BAGIAN KETIGA)

Oleh: Albert Rumampuk


Beberapa hari yang lalu, saya mampir ke sebuah toko buku dan melihat-lihat buku yang ada disana. Mata saya akhirnya tertuju pada sebuah buku baru (cetakan pertama, tahun 2011) yang berjudul “AL-QUR’AN BERBICARA AGAMA LAIN” yang ditulis oleh Tasirun Sulaiman.

Di point / Bab yang ke-7, halaman 99-115, si penulis memberi sub-judul “Al-Qur’an Mengomentari Kristen”. Sama seperti kaum muslim yang lain, penulis juga mengkritik soal keTuhanan Yesus dengan mengatakan bahwa iman orang Kristen itu telah berlebihan karena meyakini bahwa Nabi Isa a.s itu Putra Allah. “Inilah yang dikritik habis Al-Qur’an. Kenapa? Nabi Isa a.s sebagai seorang nabi sudah terlibat kontrak dengan Allah bahwa dirinya mengemban misi tawhid! Jadi bagaimana mungkin malah menyebarkan kemusyrikan?” (AL-QUR’AN BERBICARA AGAMA LAIN, hal 108).

Penulis buku ini meyakini bahwa sang Nabi (Isa) telah terlibat ‘kontrak’ dengan Allah untuk mengemban misi tauhid. Jadi, Yesus tak mungkin adalah Putra Allah / Tuhan. Penulis melanjutkan dengan mengutip al-Maidah 5:116 dan mengatakan “Maka wajarlah kalau al-Qur’an yang memiliki rekaman lengkap kemudian menyampaikan berita dan kritik kepada mereka yang mengatakan kalau Nabi Isa a.s. itu Putra Allah.” (Hal 108). Dia mengatakan bahwa al-Qur’an sedang melaksanakan misinya yaitu melakukan koreksi! Karena telah terjadi penyimpangan (hal 110).

Ada banyak orang Islam yang mengaku bahwa ‘Taurat, Zabur (Mazmur) dan Injil’ itu, ada didalam Al-Qur’an. Mungkin ini yang dijadikan dasar bahwa Al-Qur’an memiliki ‘rekaman yang lengkap’.
Baik, jika memang Al-Qur’an adalah ‘wahyu Allah’ yang berisi ‘rekaman yang lengkap’, maka silahkan jawab pertanyaan saya ini: Kitab Taurat terkenal dengan  ‘The ten commandments’ yaitu 10 perintah / hukum Tuhan yang diberikan kepada orang Israel melalui nabi Musa (Kel 20:1-17). Dapatkah umat Islam menunjukkan di ayat manakah dalam Al-Qur’an yang memuat 10 Hukum Tuhan itu? Kitab Mazmur terdapat nubuatan tentang penderitaan Yesus. Dimanakah ayatnya dalam Al-Qur’an? Injil terkenal dengan penyaliban, pembunuhan dan kebangkitan Yesus Kristus. Apakah Al-Qur’an juga merekamnya?

Mengenai bukti keilahian Yesus (baik di PL maupun PB), sudah saya singgung di tulisan bagian kedua. Taurat / PL dan Injil / PB sama-sama ‘sepakat’ tentang keTuhanan Yesus. Mengapa hanya Al-Qur’an yang berbeda?

Apakah memang benar, Al-Qur’an adalah sebuah kitab / buku yang benar-benar memiliki ‘rekaman yang lengkap’ dan bertujuan untuk ‘mengoreksi’ Kitab sebelumnya? Mari sekali lagi kita buktikan kebenarannya! 
Saya akan menunjukkan tuduhan selanjutnya dari para pengkritik umat Islam yang mempertanyakan kredibilitas Alkitab dan menuduh bahwa Alkitab sudah mengalami ‘korupsi’ / pemalsuan.

Tuduhan Keenam

Tasirun Sulaiman: “Namun selanjutnya, al-Qur’an memperingatkan telah terjadinya korupsi dan distorsi kalau kitab suci Bible memuat kesalahan seperti diantaranya tentang ramalan kelahiran seorang nabi setelah nabi Isa a.s, yakni Nabi Muhammad s.a.w.

Coba baca dan perhatikan ayat berikut ini: “Dan ketika Isa ibnu Maryam berkata: ‘Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (al-Shaf; 61;6)

Para doctor ahli kajian Kitab Suci telah membuat dugaan adanya kesalahan penerjemahan dari kata Yunani ‘periclytos’ yang artinya lebih dekat kepada Ahmad dan Muhammad, menjadi ‘penghibur’ yang diduga terjemahan dari kata ‘paracletos’. Coba lihat Bible Johanes; xiv. 16 dan xv.26 dan xvi. 7. Karena itu kemudian para doctor ahli kajian kitab suci menduga ada kesalahan penerjemahan atau malah korupsi atau distorsi. Tapi, bila itu korupsi dan distorsi maka siapa pelakunya?

Al-Qur’an membuat sebuah pernyataan yang cukup menarik:
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; ‘Ini dari Allah’, untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah; 2; 9).” [AL-QUR’AN BERBICARA AGAMA LAIN, Tasirun Sulaiman. hal 110.111)]


Tanggapan saya:

Disini Tasirun Sulaiman sedang mempertanyakan keaslian Alkitab yang menurut sura al-Baqarah 2;9, orang-orang yang menulisnya adalah orang yang ‘celaka’ karena telah menulis Firman / wahyu palsu yang bukan berasal dari Allah.

Tetapi ada hal yang aneh, jika memang Alkitab itu sudah di ‘korupsi’ / ‘diubah’, lalu mengapa  Sulaiman justru mengutip Yoh 14:16; 15:26 dan Yoh 16:7 untuk membenarkan sura al-Shaf; 61;6? Saya justru melihat bahwa secara implicit, Sulaiman sebenarnya sedang mengakui bahwa Yoh 14:16, 15:26 dan Yoh 16:7 adalah Firman Allah. Namun keanehan selanjutnya adalah, dia membuat perkecualian, yaitu kata  Yunani “periclytos” yang seharusnya ada di ayat itu, diduga telah disalah terjemahkan menjadi “paracletos”. 
Saya melihat ada sesuatu yang ‘salah’ dengan cara berpikir Sulaiman. Disatu sisi dia mengklaim bahwa Alkitab telah mengalami ‘korupsi’ / ‘distorsi’ (pemalsuan), tetapi disisi yang lain, dia malah mengutip ayat-ayat Alkitab yang dianggap ‘mendukung’ / ‘cocok’ dengan Al-Qur’an. Saya kira ini adalah bentuk ketidakkonsistenan!


Pertanyaannya adalah, bagian-bagian mana sajakah dalam Alkitab yang merupakan Firman Allah dan mana yang bukan Firman Allah? Apa standard / dasar yang digunakan pihak Islam untuk menilai / menentukan benar tidaknya suatu ayat dalam Alkitab? Mungkin akan dijawab: ‘semua yang tak cocok dengan Al-Quran, pasti bukan Firman Allah’. Jika memang demikian, sayapun bisa mengatakan bahwa ‘semua yang tak sesuai dengan Alkitab, pasti bukan Firman Tuhan’. Lalu yang mana yang benar?

Siapa saja memang bisa mengklaim hal yang demikian, itu adalah hak setiap pribadi. Tapi yang menjadi persoalannya adalah, apakah ‘klaim’ seperti itu bisa dipertanggungjawabkan ataukah hanya klaim kosong belaka?

Teks seperti Yoh 14:16, adalah teks umum (termasuk Ul 18:15-19) yang sering digunakan oleh umat Islam untuk mengklaim bahwa ayat itu berbicara / sedang menubuatkan kedatangan Muhammad. Sulaiman menggunakan Yoh 14:16; 15:26 dan Yoh 16:7 sebagai dasarnya dan mengatakan telah terjadi kesalahan terjemahan pada kata Yunani “periclytos” yang seharusnya diartikan “Ahmad” atau “Muhammad”, tetapi diubah menjadi “paracletos”. Benarkah demikian?

Saya menemukan sebuah link yang memuat buku Ahmaed Deedat, The Choice Islam and Chritianity (edisi Indonesia Dialog Islam Kristen), yang juga menjelaskan hal ini. Disitu tertulis: “‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’ orang mulia, adalah terjemahan dari kata Yunani periclytos… Para doctor berpendapat bahwa Parakletos adalah pembacaan yang menyimpang dari periclytos, dan dalam firman asli Yesus, ada ramalan tentang nabi suci yang bernama Ahmad.” (Dialog Islam Kristen, Deedat. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta,  hal 23).

Disini dikatakan bahwa kata Yunani periclytos dapat diterjemahkan menjadi ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’ orang mulia. Dibeberapa sumber lain, saya juga menemukan hal yang sama, bahwa kata periclytos diartikan sebagai ‘terpuji’ atau ‘dia yang terpuji’. Kata ini tentunya memiliki arti yang bebeda dengan kata PARAKLETOS yang berarti ‘penolong’ atau ‘penghibur’.

Disebutkan bahwa: “Para doctor berpendapat bahwa Parakletos adalah pembacaan yang menyimpang dari periclytos, dan dalam firman asli Yesus, ada ramalan tentang nabi suci yang bernama Ahmad.” Benarkah demikian? Saya tanya: mana sumber valid dari para ahli bahasa Yunani yang mengatakan bahwa istilah yang seharusnya adalah ‘periclytos’ dan bukan ‘parakletos’? ‘Parakletos’ adalah pembacaan yang menyimpang? Sejak kapan penyimpangan itu terjadi?

Perhatikan kata-kata seorang penafsir berikut:

Pulpit Commentary (hal 226) mengatakan bahwa kata PARAKLETOS sering digunakan oleh penulis-penulis Yahudi maupun oleh bapa-bapa gereja, sebagai lawan kata dari kata ‘accuser’ (= penuduh), yang merupakan salah satu gelar / sebutan untuk setan (bdk. Zakh 3:1  Wah 12:10b). (Eksposisi Injil Yohanes, Pdt. Budi Asali, M.Div).

Dijelaskan bahwa kata PARAKLETOS telah digunakan orang Yahudi dan bahkan sejak para bapa gereja. Apakah berarti kata ‘periclytos’ memang telah ada di manuskrip-manuskrip awal? Dapatkah pengkritik menunjukkan manuskrip PB yang mencatat hal ini? Sekalipun misalnya kata itu benar, namun mengapa begitu PD / yakin untuk menerapkannya pada Muhammad? Dasarnya apa? Sudahkah pengkritik melihat konteks ayat yang dimaksud?

Ataukah pemilihan kata tersebut hanya didasari pada ‘kemiripan’ huruf? Perhatikan ilustrasi berikut: Guru saya bernama atau biasa dipanggil dengan pak Budi. Bagaimana jika saya mencari kata-kata yang mirip dengan nama itu (misalnya ‘Bodo’) untuk memanggilnya? Apa mungkin sang guru tidak akan memarahi saya? Jika para pengkritik umat Islam mencari kata-kata yang mirip dengan kata PARAKLETOS misalnya kata PERICLYTOS (yang juga mengandung arti berbeda), apakah sang pengilham Kitab Suci (Allah) tidak akan berbuat sesuatu??

Sekarang saya akan membahas kata ‘Penolong’ dalam Yoh 14:16 yang dipersoalkan Tasirun. Kata ‘Penolong’ dalam ayat itu, berasal dari kata Yunani παράκλητος - PARAKLETOS. Kata ini muncul sebanyak 5 x: Yoh 14:16;  Yoh 14:26;  Yoh 15:26;  Yoh 16:7 yang menunjuk pada Roh Kudus, dan 1Yoh 2:1 yang menunjuk pada Yesus. Rupanya kata ini bisa digunakan baik untuk Roh Kudus, maupun untuk Yesus. Ini mungkin mengisyaratkan adanya kesetaraan antara Roh Kudus dan Yesus.

Apakah arti dari kata ini? Perhatikan beberapa kutipan berikut ini:

Dr. Paul P. Enns: “Penolong orang-orang kudus (Yoh 14:16). Di teks itu Yesus berjanji kepada para murid ‘seorang penolong yang lain’. Penolong dalam kata Yunani PARAKLETON yang berasal dari dua kata. ‘berjalan disamping’ dan ‘dipanggil’, jadi, ‘seseorang yang dipanggil untuk berjalan di samping untuk menolong.’" (Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology. Literatur SAAT, 2006, hal 310).

Donald C. Stamps, MA, M.Div, penulis The Full Life Study Bible dalam komentarnya terhadap teks Yoh 14:16 berkata: “Yesus menyebut Roh Kudus sebagai ‘penolong’. Kata ini adalah terjemahan dari kata Yunani PARAKLETOS, yang secara harfiah berarti, ‘seseorang yang dipanggil untuk mendampingi agar menolong.’ Kata ini kaya artinya: Penasihat, Penguat, Penghibur, Penolong, Pembela, Juruselamat, Sekutu dan Sahabat.” (Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Gandum Mas, 2004. hal 1733).

Everett F. Harrison, Th.D., Ph.D., Profesor bidang Perjanjian Baru, Fuller Theological Seminary, Pasadena, Calif: “… Penolong yang lain (Authorized Version menerjemahkan istilah ini dengan Penghibur yang lain; Penghibur lebih mempertahankan unsur pemberi kekuatan yang ada pada istilah aslinya.) … Di dalam Roh kita memiliki lebih daripada sekedar Penolong pada saat-saat diperlukan – supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (The Wycliffe Bible Commentary, vol 3. Gandum Mas, 2008, hal 363,364). 

Leon Morris (NICNT): “Kata Yunaninya adalah PARAKLETOS yang artinya lebih menunjuk kepada seorang pengacara dari pada seorang penghibur” - hal 649.


William Hendriksen: “Arti dari kata ini tidak boleh dibatasi secara terlalu sempit. Roh Kudus adalah Penolong dalam begitu banyak segi: Ia memang menghibur, dan karena thema utama dari pasal 14 adalah penghiburan, maka adalah mungkin bahwa Yesus mempunyai ini dalam pikiranNya lebih dari apapun yang lain. Tetapi Roh itu juga (dan dalam hubungan yang dekat dengan pekerjaan memberikan penghiburan) mengajar, mempimpin dalam kebenaran (16:13,14); mengingatkan murid-murid akan ajaran Kristus (14:26); dan tinggal di dalam mereka sebagai sumber inspirasi dan kehidupan (14:17). Bapa dan Anak menyuruh Roh untuk berada di sisi para murid untuk menghibur, menegur / mengingatkan / menasehati, mengajar, dan memimpin mereka; dengan kata lain, supaya dalam setiap situasi dan kondisi Sang PARAKLETOS bisa memberikan pertolongan apapun yang dibutuhkan. Jadi, kami tidak mengetahui terjemahan yang lebih baik dari istilah ‘Penolong’” - hal 276.

Para ahli Kitab Suci / penafsir, semua menyatakan bahwa istilah ‘Penolong’ berasal dari kata Yunani PARAKLETOS, yang bisa diartikan bermacam-macam: ‘Penghibur, pengacara / pembela, penolong’, dan sama sekali tidak menyinggung soal kata ‘periclytos’ yang memiliki arti ‘terpuji’.

Siapakah ‘penolong’ / ‘penghibur’ itu? Perhatikan konteks dari Yoh 14:16; 15:26; Yoh 16:7, dan ayat lain yang berhubungan dengan sang ‘PARAKLETOS’ ini.

Yoh 14:16. ‘Penolong’ diayat ini menunjuk pada ‘Roh Kebenaran’. Juga disebut sebagai ‘penghibur’ yaitu Roh Kudus (ayat 26). Penolong ini berfungsi untuk ‘menyertai manusia / orang percaya selama-lamanya’ (ayat 16), tinggal / diam di dalam orang Percaya (ayat 17). Penghibur yaitu Roh Kudus diutus oleh Bapa dalam nama Yesus (ayat 26), akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan orang percaya akan akan apa yang telah dikatakan Yesus (ayat 26b).

Yoh 15:26. Kata penghibur yang dimaksud di ayat ini adalah ‘Roh Kebenaran’. Roh ini di utus oleh Yesus (Bdk Yoh 16:7) dan bersaksi tentang Yesus (ayat 26).

Yoh 16:7. Beberapa pekerjaan dari penghibur  adalah ‘menginsafkan dunia akan dosa ketidakpercayaannya pada Yesus’ (ayat 8-9. Bdk Kis 2:37), memimpin kedalam seluruh kebenaran (ayat 13), ‘memuliakan Yesus dan memberitakan pada manusia apa yang diterimanya dari Yesus’ (ayat 14).

Ayat-ayat ini dengan sangat jelas telah memberitahu bahwa yang dimaksud dengan sang ‘Penolong’ itu, adalah ‘Roh Kebenaran’ yaitu Roh Kudus. Bagaimana mungkin lalu dipelintir menjadi ‘Muhammad’?

Secara lebih rinci, Alkitab juga mencatat tentang siapakah Roh Kudus itu; Dia adalah Allah itu sendiri!
Kis 5:3-4  “Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’"

Setelah meninjau konteks dari semua ayat-ayat ini, sekarang saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh pihak Islam:
  • Apakah Muhammad adalah suatu ‘Roh’ yang ‘kudus’? 
  • Dapatkan ia menyertai manusia selama-lamanya? 
  • Bisakah Muhammad tinggal / diam di dalam manusia? 
  • Apakah Muhammad di utus oleh Yesus? 
  • Apakah Muhammad telah melakukan misi untuk menginsafkan dunia akan dosa ketidakpercayaannya pada Kristus?  
  • Apakah disepanjang hidupnya, Muhammad telah bersaksi tentang Yesus dan memuliakan-Nya? 
  • Yang lebih penting lagi, apakah Muhammad adalah Allah?

Saudara bisa melihat sendiri, tak satupun para ahli Kitab Suci yang dikutip diatas, yang mengatakan bahwa ayat itu berbicara tentang ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’. Disamping, konteks ayat ini sangat tidak mungkin dipenuhi oleh seorang Muhammad. Tetapi anehnya, Sulaiman mengatakan bahwa para ‘doctor ahli kajian Kitab Suci’ yang menyatakan bahwa kata ‘penghibur’ dalam ayat itu berasal dari kata Yunani ‘periclytos’ yang bisa berarti ‘Ahmad’ atau ‘Muhammad’. Saya tanya: para ‘doktor’ yang mana?? Dibukunya itu, Tasirun sama sekali tidak memberi kutipan pandangan para ‘doktor’ yang dimaksud atau memberi ulasan mendalam atas kata Yunani tersebut, namun hanya berlindung dibalik kata ‘para doctor ahli kajian Kitab Suci’ dengan tanpa memberi kajian. Bagi saya, klaim seperti ini tak punya kekuatan apapun juga!

Lebih lanjut, Tasirun bahkan mengutip ayat Al-Qur’an dan menghakimi penulis / penerjemah Kitab Suci sebagai orang yang ‘celaka’ karena telah mengubah isi Alkitab!
Bagi saya ini lagi-lagi aneh. Mengapa? Seperti yang sudah dkatakan diatas, pengkritik menuduh bahwa Alkitab sudah dipalsukan. Tapi mengapa justru menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk membenarkan Al-Qur’an? Yang mana yang benar, Alkitab sudah dipalsukan atau belum dipalsukan? Anehnya lagi, setelah menggunakan ayat Alkitab untuk membenarkan Al-Qur’an, para pengkritik dari Islam kemudian memodifikasi ayat itu untuk disesuaikan dengan keinginannya sendiri. Ini jelas ‘pemerkosaan’ terhadap ayat Kitab Suci!


Melihat sang penulis yang penuh ketidakjelasan / ketidakkonsistenan ini, bagaimana mungkin dia bisa menghakimi penulis Alkitab sebagai seorang yang ‘celaka’? Apa dasar penghakiman itu?
Mungkinkah para pengkritik dari umat Islam hanya ingin mencari ‘pembenaran’ dari Alkitab akan keabsahan nabi mereka? Jika para pengkritik yakin bahwa Al-Qur’an adalah Firman Tuhan, namun mengapa justru mencari dukungan pada kitab lain? Bukankah secara implicit para pengkritik ini sebenarnya mengakui bahwa Alkitab juga adalah Firman Tuhan? Tetapi, apakah Alkitab memberi pengesahannya? Sama sekali tidak!


Catatan / penerapan: Jaman sekarang ada banyak orang Kristen tertentu yang menggunakan Al-Qur’an sebagai dasar untuk membuktikan keTuhanan Yesus. Menurut saya, ini adalah suatu ketolollan! Saya tak akan mencari dukungan dari kitab suci lain manapun juga. Saya yakin Alkitab adalah Firman Allah, dan karena itu, saya yakin apa yang tertulis didalamnya adalah benar secara mutlak!

Sekarang saya ingin lanjutkan dengan menunjukkan beberapa naskah Yunani yang memuat kata PARAKLETOS yang menunjuk pada ROH KUDUS dan bukan bicara tentang Muhammad:

Yohanes 14:26

Textus Receptus (TR): ὁ δὲ παράκλητος τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον ὃ πέμψει ὁ πατὴρ ἐν τῷ ὀνόματί μου ἐκεῖνος ὑμᾶς διδάξει πάντα καὶ ὑπομνήσει ὑμᾶς πάντα ἃ εἶπον ὑμῖν

Westcott & Hort (WH): ὁ δὲ παράκλητος τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον ὃ πέμψει ὁ πατὴρ ἐν τῷ ὀνόματί μου ἐκεῖνος ὑμᾶς διδάξει πάντα καὶ ὑπομνήσει ὑμᾶς πάντα ἃ εἶπον ὑμῖν ἐγώ

Kata  παράκλητος (paraklêtos) pada kedua naskah diatas, menunjuk pada πνεῦμα ἅγιον (pneuma hagion / Roh Kudus). Kedua naskah Yunani ini jelas-jelas menuliskan PARAKLETOS yang merujuk pada ROH KUDUS dan sama sekali tidak menulis ‘periclytos’ / Muhammad.

Bandingkan dengan versi NIV dan LAI:

NIV  “But the Counselor, the Holy Spirit, whom the Father will send in my name, will teach you all things and will remind you of everything I have said to you.”

LAI  “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Saya menyadari bahwa saya memang tak menguasai bahasa Yunani. Namun saya yakin saya tak lebih bodoh dari para ‘doktor’ itu yang memaksakan sesuatu yang tidak tercatat pada naskah aslinya dan bahkan menentang konteks ayat yang dimaksud!

Sekarang kita kembali pada klaim Tasirun Sulaiman yang mengatakan bahwa Al-Qur’an memiliki ‘rekaman lengkap’ dan bertujuan untuk ‘mengoreksi’ kitab sebelumnya. Pertanyaan saya adalah: dimanakah di sepanjang Al-Qur’an yang mencatat kedatangan sang PARAKLETOS (Roh Kudus) atau penggenapannya ??

Saya menganjurkan pada para pengkritik umat Islam untuk tak perlu susah payah mencari dukungan Alkitab tentang nubuat kedatangan nabi anda, karena tak ada satupun ayat yang mencatatnya! Hal ini tentunya berbeda dengan Yesus Kristus yang adalah nabi dan Tuhan umat Kristen. Dia bukan hanya dinubuatkan 700 tahun sebelum kelahiran-Nya, tetapi bahkan 1000 tahun sebelumnya! Hal itu sudah tercatat dalam Taurat / Perjanjian Lama yang adalah Kitab Suci pendahulunya.  

Tuduhan Ketujuh:

Tasirun Sulaiman: “Juga berkenaan dengan pernyataan yang mengatakan mereka telah membunuh Nabi Isa a.s. dan menyalibnya. Al-Qur’an dengan tegas menyangkalnya! Kenapa? Tentu saja, al-Qur’an sebagai kitab yang menyatakan dirinya diciptakan oleh Tuhan yang menciptakan alam semesta, telah merekam semua kejadian yang terjadi dalam sejarah kemanusiaan, khususnya, berkenaan dengan masalah-masalah keyakinan, etika dan moral.

Perhatikan ayat berikut ini:
‘Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa’. (al-Nisa; 4;157).

 Sehingga al-Qur’an kemudian mengindikasikan adanya orang-orang tidak bertanggungjawab yang mencoba merubah keaslian ajaran Nabi Isa a.s. seperti yang terjadi dengan kasus; penisbahan atau asosiasi kalau Isa a.s. itu putra Allah, penyaliban Nabi Isa a.s dan lain-lain. Dan itu dialamatkan kepada para tokoh agama yang tidak bertanggungjawab… Juga tuduhan al-Qur’an yang dialamatkan kepada mereka-mereka yang telah menulis Kitab Suci mereka yakni Injil (Bible), yang sesungguhnya itu bukan wahyu atau inspirasi dari Allah lewat Nabi Isa a.s. tapi dari kreativitas dirinya sendiri, maka amat celakalah mereka, kata al-Qur’an. Kenapa? Karena mereka telah menyesatkan ajaran yang benar, yang diperjuangkan Nabi Isa a.s dengan mati-matian. Mereka melakukan korupsi dan distorsi juga menyembunyikan fakta-fakta kebenaran yang menjadi misi utama Nabi Isa a.s. sendiri, yakni ajaran tawhid.” (AL-QUR’AN BERBICARA AGAMA LAIN, Tasirun Sulaiman. hal 111, 112, 113).

Tanggapan saya:

Disini Tasirun menuduh bahwa pembunuhan dan penyaliban Yesus / ‘Isa’, itu tidak pernah terjadi dan merupakan bukti bahwa pernyataan yang ada didalam Alkitab tentang hal itu, salah dan membuktikan bahwa Alkitab bukan kitab yang diwahyukan / diinspirasikan oleh Allah, namun hanyalah buatan manusia. 
Saya akan menyoroti kata-kata Al-Qur’an berikut: “Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”. (al-Nisa; 4;157).


Perhatikan kalimat yang saya garis bawahi itu. Apakah hal ini benar? Sekarang saya akan tunjukkan bukti historisnya!
  • Pertama, ada beberapa penulis Romawi. Tacitus, “senior” di antara para sejarawan Roma (sekitar 60-120 M), antara lain telah menulis Annals, sebuah sejarah tentang para kaisar dari wangsa Julius-Claudius, mulai dengan Tiberius sampai dengan Nero (14-68 M). Dalam bagian tentang Nero, Tacitus secara ringkas menggambarkan penganiayaan orang-orang Kristen dan dalam proses tersebut menyebut nama pemimpin mereka, “Kristus, dari nama ini mereka telah memperoleh nama mereka, yang dibunuh oleh procurator Pontius Pilatus dalam pemerintahan Tiberius.” (Tacitus, Annals, 15:44. Dari buku Arkeologi dan Sejarah Alkitab, Joseph P. Free, direvisi dan diperluas oleh Howard F. Vos. Gandum Mas, 2001, hal 369). 
  • Lucian dari Samosata (sekitar tahun 125-190), yang dianggap oleh banyak orang sebagai penulis yang paling brilian dari sastra Yunani yang hidup kembali dibawah kekaisaran Romawi, yang juga menjadi pejabat pemerintah di Mesir, dalam karangan sindirannya tentang orang Kristen, yang diterbitkan dengan judul The Passing of Peregrinus (sekitar tahun 170), menggambarkan Kristus sebagai pemrakarsa kultus kekristenan dan menyebutkan bahwa Ia “disalibkan di Palestina” karena telah menciptakan kultus ini (Lucian, Passing of Peregrinus, 1.11 13.  Dari buku Arkeologi dan Sejarah Alkitab, Joseph P. Free, direvisi dan diperluas oleh Howard F. Vos. Gandum Mas, 2001, hal 369, 370).
  • Seorang sejarawan Yahudi ternama (abad pertama) yang bernama Josephus, dalam karyanya Antiquities (93 M) membuat sebuah pernyataan tentang Yesus dan “memberitahu bagaimana Pilatus menjatuhkan hukuman mati pada-Nya dan bagaimana Ia hidup kembali dan menampakkan diri kepada para pengikut-Nya pada hari ketiga” (Josephus, Antiquities of the Jews. Translated by William Whiston. Dari Arkeologi dan Sejarah Alkitab, Joseph P. Free, direvisi dan diperluas oleh Howard F. Vos. Gandum Mas, 2001, hal 370).
  • Yulius Afrikanus, menulis kira-kira tahun 221 M, mengutip seorang sejarawan keturunan Samaria (yang menulis tahun 52 M), menyatakan tentang saat-saat kegelapan pada waktu penyaliban Yesus, “Thallus, dalam buku ketiga tentang sejarahnya, menjelaskan tentang kegelapan ini sebagai sebuah gerhana matahari – kelihatannya tidak masuk akal bagi saya… Dan pada saat itu adalah masa bulan purnama paskah ketika Yesus mati.” (Yulius Africanus, Chronography 18.1. Dikutip dari buku Apologetika, Josh McDowell, Vol 3. Gandum Mas, 2007, hal 43,44).  
  • Philopon (De. opif. mund. II 21) mengutip kata-kata Phlegon, seorang sejarawan abad pertama, mengatakan: “Dan mengenai kegelapan ini… Phlegon mengenangnya dalam Olympiads (judul buku sejarahnya).” Dia berkata bahwa “Phlegon berbicara tentang gerhana matahari yang terjadi pada waktu penyaliban Tuhan Kristus…” (Apologetika, Josh McDowell, Vol 1. Gandum Mas, hal 142)
Semua kutipan ini adalah bukti sejarah di luar Alkitab tentang keberadaan Kristus yang disalibkan, mati dan bangkit. Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang hidup pada abad pertama dan kedua ini, cocok dengan pernyataan Alkitab:

Mat 27:19-26 “Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: ‘Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.’ Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: ‘Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?’ Kata mereka: ‘Barabas.’ Kata Pilatus kepada mereka: ‘Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?’ Mereka semua berseru: ‘Ia harus disalibkan! Katanya: ‘Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?’ Namun mereka makin keras berteriak: ‘Ia harus disalibkan!’ Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: ‘Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!’ Dan seluruh rakyat itu menjawab: ‘Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!’ Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.”

Mat 27:45-50  “Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: ‘Ia memanggil Elia.’ Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: ‘Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.’ Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya."

Mat 28:1-7  “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: ‘Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.’"

Sekarang bandingkan dengan pernyataan Origen, seorang sarjana Kristen pada awal abad ketiga. Dalam Against Celsus, dia berkata:
“Agaknya Yesus telah disalibkan pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius. Pada peristiwa itu telah terjadi gerhana matahari dan gempa bumi besar, saya kira Phlegon juga telah menulis kejadian-kejadian itu di dalam buku Tawarikhnya yang ke-13 atau yang ke-14.” (Origenes, Against Celsus 2.33. Dari buku Apologetika, Josh McDowell, Vol 3. Gandum Mas, hal 45).

Bukan hanya mereka saja, tetapi para Rabi (orang Yahudi) yang hidup di jaman dahulu dan para bapa Gereja awal  lainnya juga mengakui hal ini (seperti Ignatius yang wafat tahun 117 M, Polikarpus tahun 69-155, dsb).

Tentu saja semua orang Kristen yang sejati juga mengakui dan beriman pada Kristus yang telah mati, disalibkan dan bangkit. Ini adalah ‘jantung’ dari kekristenan / Alkitab. Para rasul / murid Yesus bahkan rela mati demi imannya pada Kristus. Polikarpus, murid dari Yohanes yang meyakini bahwa Yesus Kristus telah mati di kayu salib untuk memikul dosa manusia, bahkan dibakar pada kayu pancang dan ditikam dengan pedang!

Setelah saudara melihat semua fakta sejarah ini, sekarang bandingkan dengan kata-kata Al-Qur’an:
“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”. (al-Nisa; 4;157).


Klaim Al-Qur’an ini, secara langsung diperhadapkan dengan fakta sejarah yang mendukung kebenaran Alkitab! Disini ada dua kelompok yang saling bertentangan:

Alkitab + Sejarah VS Al-Qur’an

Al-Qur’an menyerang Alkitab dan menuduh bahwa Isa putra Maryam tidak dibunuh dan disalib. Tetapi fakta menunjukkan bahwa Yesus memang benar-benar mati dan disalib. Orang-orang yang hidup di abad pertama sampai ketiga juga mengakui kebenaran tersebut. Jadi, pada saat Al-Qur’an menentang Alkitab, itu sama saja dengan menentang sejarah!

Lalu yang mana yang benar? Alkitab yang didukung oleh bukti sejarah, atau Al-Quran dengan tanpa dukungan sejarah? Silahkan para pembaca memberi penilaiannya masing-masing.

Serangan balik untuk para pengkritik dari umat Islam.
Tasirun menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengindikasikan adanya orang-orang yang mencoba merubah keaslian ajaran Isa, seperti ajaran tentang penyaliban, kematian dan keTuhanan Yesus. Dan itu dilakukan oleh para tokoh agama. Lalu menuduh bahwa Injil (Bible) bukanlah wahyu / inspirasi dari Allah, tetapi hanyalah kreativitas / buatan manusia saja, karena penulisnya telah melakukan ‘korupsi’ dan ‘distorsi’ juga menyembunyikan fakta-fakta kebenaran yang menjadi misi utama Nabi Isa a.s. Pertanyaan saya adalah: siapakah para ‘tokoh agama’ yang telah merubah ajaran Yesus itu? Kapan mereka merubah ajaran Yesus? Dimana? Mengapa dengan adanya begitu berlimpahnya manuskrip PB, tak seorangpun yang tahu peristiwa pemalsuan itu?

Ajaran Alkitab tentang kematian dan penyaliban Yesus sangat cocok dengan bukti sejarah, lalu bagaimana mungkin pihak Islam menuduh Alkitab telah diubah? Bukankah justru Al-Qur’an yang sedang mencoba merubah keaslian ajaran Yesus itu? Anda mengatakan bahwa ada Fakta kebenaran yang ‘disembunyikan’? Bukankah justru anda yang sedang menyembunyikan dan bahkan menentang Fakta kebenaran tentang Yesus yang bersejarah itu?

Sekarang kita kembali pada ‘klaim’ Tasirun yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang memiliki ‘rekaman yang lengkap’ dan bertujuan untuk mengoreksi kitab sebelumnya. Sanggahan saya adalah, bagaimana mungkin Al-Qur’an dikatakan memiliki ‘rekaman lengkap’ jika ternyata dia tidak memuat tentang pembunuhan dan penyaliban Yesus? Bagaimana mungkin Al-Qur’an dikatakan sedang mengoreksi Alkitab, jika ajaran Alkitab tentang pembunuhan dan penyaliban Yesus benar-benar adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan? Mau mengoreksi apa?? Justru sebaliknya, Alkitab-lah yang seharusnya mengoreksi Al-Qur’an karena tidak memuat dan bahkan tidak mengakui fakta sejarah tentang pembunuhan dan penyaliban Yesus.
Untuk mengakhiri bagian ini, perhatikan kutipan kata-kata berikut.

E. J. Young: “Sejarah dan iman tidak bisa diceraikan / dipisahkan satu dengan lainnya. Buanglah dasar sejarahnya dan iman akan lenyap. ... Mengatakan bahwa apa yang Alkitab ceritakan tentang sejarah bisa salah, tetapi apa yang Alkitab ceritakan tentang iman tidak bisa salah, adalah omong kosong" - ‘Thy Word Is Truth’, hal 101.

Tuduhan kedelapan

Ustad Mokoginta dalam bukunya ‘Mustahil Kristen Bisa Menjawab’ menulis: “Bukti lain bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah, seandainya di Arab Saudi diadakan pekan Tilawatil Qur’an, kemudian seluruh dunia mengakses siaran tersebut, kami umat Islam bisa mengikutinya, bahkan bisa menilai apakah bacaannya benar atau salah. Dan ketika mengikuti siaran acara tersebut, tidak perlu harus mencari kitab Al Qur’an cetakan tahun 2000 atau 2005. Sembarang Al Qur’an tahun berapa saja diambil, pasti sama. Beda dengan Alkitab Seandainya ada acara pekan tilawatil Injil disiarkan langsung dari Amerika, kemudian seluruh dunia mengaksesnya, kitab yang mana yang jadi rujukan untuk diikuti dan dinilai benar tidaknya? Sama-sama bahasa Inggris saja beda versi, jadi sangat mustahil jika umat Kristiani bisa melakukan pekan tilawatil Injil, karena satu sama lainnya berbeda.”

Arda Chandra, dalam sebuah forum dialog Kristen-Islam, berkata: “Taurat dan Injil yang diakui asli oleh Kristen ternyata palsu karena selalu direvisi, dan memiliki banyak versi. Taurat dan Injil yang diakui Kristen tidak bisa diteliti dan dibuktikan keasliannya karena bukti yang ada hanya sampai kepada manuskrip SALINAN yang dibuat orang belakangan…Kalau Taurat dan Injil yang anda pegang adalah asli, mana mungkin ada ayat yang dimasukkan dan dibuang..?? Mana naskah yang anda bilang asli yang dijadikan rujukan untuk membuat salinan alkitab yang ada sekarang..?? Fakta adanya perbedaan versi menunjukkan kebenaran klaim Al-Qur’an bahwa yang diakui sebagai Taurat dan Injil oleh Kristen merupakan kitab yang sudah bercampur-aduk antara yang hak dengan yang bathil, ada ayat yang ditambah dan dikurangi. Bukankah klaim Al-Qur’an tersebut terbukti tanpa harus menunjukkan bukti arkeologis berupa kitab tua yang ditulis dan diakui kebenarannya oleh Musa dan Isa Almasih..??”


Tanggapan saya:

Sebenarnya ini adalah sebuah serangan yang justru bisa diserang balik oleh orang Kristen untuk membuktikan bahwa kitab yang diyakini umat Islam ternyata juga ‘palsu’ dan bukan firman Allah. Mengapa demikian? Nanti akan saya jelaskan dibawah.

Di bagian pertama dari seri tulisan apologi ini, saya sudah mengutip penjelasan dari Dr. Woodrow Kroll, seorang pengajar Alkitab dari Back to the Bible yang selama sepuluh tahun telah menjabat sebagai presiden dari Practical Bible College di Binghamton, New York, tentang sedikit sejarah Alkitab versi bahasa Inggris.

Namun kita bukan hanya memiliki berbagai versi Inggris, tetapi juga memiliki banyak versi lain dalam berbagai bahasa di dunia. Mengapa kita memiliki demikian banyak terjemahan dan versi? Berikut saya tuliskan lagi kutipan pendapat dari Dr. Kroll dalam buku ‘Bagaimana Alkitab Dlahirkan’:

“Terjemahan-terjemahan ini dibuat bukan dengan maksud untuk menyingkirkan darah dari Alkitab atau untuk memperlemah Kitab Suci. KJV, NKJV, NASB dan NIV semuanya diterjemahkan dengan niat yang sebaik mungkin. Para penerjemah ingin menghasilkan terjemahan Alkitab yang akurat. Mereka semua mempunyai motif yang benar.

Versi-versi tersebut ada karena ada perbedaan dalam keluarga naskah dari mana mereka diterjemahkan. Tidak ada konspirasi untuk menghapuskan bahan dari Alkitab. Para penerjemah hanya menerjemahkan apa yang dikatakan dalam naskahnya. Tetapi ada naskah yang berbeda dari naskah yang lainnya, dan pilihan naskah yang dipergunakan tentu menentukan bagaimana hasil terjemahannya.

Lalu, mengapakah kelompok penerjemah yang satu memilih naskah yang satu, sementara kelompok penerjemah lain memilih naskah yang lain? Masing-masing kelompok penerjemah harus menilai, naskah mana yang mereka rasakan paling jelas mewakili otograf orisinil dari Kitab Suci itu. Hal ini merupakan suatu tindakan iman. Para penerjemah yang bermaksud baik, percaya bahwa mereka mempergunakan naskah yang terbaik. Mungkin anda tidak sependapat dengan kesimpulan mereka, tetapi anda tidak bisa tidak setuju dengan niat mereka.” (Hal. 18)

Point yang dibicarakan Dr. Kroll disini adalah, berbagai versi itu ada, dikarenakan adanya perbedaan naskah / manuskrip dari mana mereka diterjemahkan. KJV misalnya, mereka mendasari terjemahannya pada Textus Receptus, yang merupakan kumpulan naskah yang paling tersedia diawal abad ke-17.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Mengapa naskah / manuskrip-manuskrip tersebut bisa berbeda satu dengan yang lainnya? Apakah itu membuktikan bahwa Kitab Suci Kristen telah mengalami pengeditan / pemalsuan? Berikut, saya akan mencoba memberi penjelasannya.


Manuskrip-manuskrip (MMS) Yunani yang kita miliki sekarang, terdapat lebih dari 5700. MMS ini terdiri dari empat kelompok: Papirus, Majuskel, Minuskel dan Leksionari.

Daniel B. Wallace, seorang Profesor Studi Perjanjian Baru, pendiri The Center for the Study of New Testament Manuscripts, dalam bukunya ‘Interpreting The New Testament Text: Introduction to the Art and Science of Exegesis (a Festschrift for Harold W. Hoehner), mengatakan bahwa pada bulan Maret 2006, statistic MSS Yunani PB adalah berjumlah 5745 manuskrip! Kebanyakan MSS ini berasal dari abad kedua sampai abad keenam belas. Fragmen terawal, yang disebut Papirus 52 atau P52, sangat mungkin berasal dari dari  paruhan kedua dari abad kedua (sekitar 100-150 M). Beberapa tahun belakangan, ditemukan beberapa papirus yang tersimpan di Universitas Oxford, sehingga jumlahnya bertambah antara 10 sampai 15 papirus yang usianya sedini abad kedua. (Dari buku Meletakkan Dasar: Kritik Tekstual Perjanjian Baru, hal 12-14).

Perlu diketahui, manuskrip-manuskrip / salinan para penulis itu, tetap terjaga / tersimpan di museum-museum dan perpustakaan (bandingkan dengan manuskrip-manuskrip awal dari Al-Qur’an yang justru dimusnahkan / dibakar).  Berikut adalah beberapa diantaranya:

Naskah John Rylands (130 M) terdapat diperpustakaan John Ryland di Manchester, Inggris (fragmen PB yang tertua).
Bodmer Papyrus II (150-200 M) terdapat di perpustakaan kesusasteraan dunia Bodmer, berisi sebagian besar Injil Yohanes.

Papiri Chester Beatty (200 M) terdapat di museum Chester Beatty di Dublin dan sebagian dimiliki oleh Universitas Michigan. Koleksi ini terdiri dari kodeks-kodeks papirus, tiga diantaranya memuat bagian terbesar dari Perjanjian Baru.
Kodeks Vaticanus (325-350 M), terdapat di Vatican Museum berisi hampir semua kitab Perjanjian Baru.
Kodeks Sinaiticus (350 M) terdapat di British museum. naskah yang berisi hampir seluruh PB dan lebih daripada separuh seluruh Perjanjian Lama.

Kodeks Alexandrinus (400 M) terdapat di British museum. Memuat hampir seluruh Alkitab.

Kodeks Ephraenti (tahun 400-an M) terdapat di Bibliotheque Nationale, Paris. Setiap kitab PB termuat dalam naskah itu, kecuali II Tesalonika dan II Yohanes.
Kodeks Bezae (450 M ke atas) terdapat di perpustakaan Cambridge dan berisi Injil-Injil serta Kisah Para Rasul, bukan hanya dalam bahasa Yunani tapi juga dalam bahasa Latin.

Jujur saja, diantara ribuan MMS ini, memang terdapat perbedaan-perbedaan tertentu. Bagaiman kita menilai hal ini? Pengkritik dari Islam melihat hal ini sebagai bukti bahwa Alkitab yang dimiliki oleh orang Kristen saat ini bukan Firman Tuhan dan menuduh telah terjadi pemalsuan didalamnya. Apakah memang demikian? Tentu saja tidak! Perbedaan-perbedaan seperti ini memang wajar, karena kita memiliki sangat banyak MMS (bandingkan dengan manuskrip Al-Qur’an yang setahu saya hanya beberapa saja). Perbedaan ini ada, bukan karena para penyalin melakukan konspirasi untuk menghapus bagian-bagian tertentu dalam Alkitab. Salah eja, salah baca, dsb, adalah beberapa faktor penyebab adanya perbedaan itu.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Alkitab adalah sebuah buku kuno yang ditulis dari bahan-bahan yang tak bisa bertahan lama. Karena itu, dibutuhkan salinan-salinan untuk mempertahankan tulisannya. Lalu bagaimana menentukan, yang mana diantara salinan ini yang sesuai dengan naskah aslinya? Ini tentunya membutuhkan kajian / penelitian khusus terhadap salinan-salinan dokumen tertulis tersebut. Inilah yang disebut sebagai kritik tekstual.

Menurut Prof. Wallace, semua varian tekstual dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: pertama, varian yang insignifikan bagi makna teks; kedua, varian yang bermakna (signifikan) namun tidak “mampu bertahan” (viable); ketiga, varian yang bermakna dan mampu bertahan. (Yang kita maksudkan dengan istilah “mampu bertahan” adalah varian yang dapat diklaim sebagai yang mungkin otentik.) Mayoritas varian tekstual masuk dalam kategori pertama dan kedua.

Kelompok terbesar varian tekstual adalah perubahan ejaan yang sebagian besar bahkan tidak dapat diterjemahkan. Misalnya “Di dalam MMS biasanya ‘Yohanes’ dapat dieja sebagai Ἰωάνης atau Ἰωάννης. Setiap nu (v) yang tidak tetap (movable), dalam beberapa MMS disingkirkan, namun tetap dipertahankan dalam MMS yang lain. Ada tidaknya nu ini tidak memberi pengaruh apa-apa.”

Perubahan ejaan ini termasuk kategori varian yang insignifikan.
Hal-hal seperti ini bisa terjadi karena beberapa hal, misalnya: penyalin keletihan, kurang memperhatikan, dsb. Namun, ditegaskan bahwa perubahan ini tidak mempengaruhi satu iota pun dari maknanya!

Bagaimana menentukan keotentikan di antara varian-varian ini? Wallace menjelaskan: “Dengan membandingkan bukti eksternal dan bukti internal, kita dapat sampai kepada kesimpulan tentang varian mana yang asli. Varian tekstual yang lebih mungkin otentik ditemukan dalam saksi-saksi yang terawal, terbaik dan tersebar paling luas secara geografis. Varian ini sesuai dengan konteks dan gaya penulis kitab, dan jelas merupakan induk yang memunculkan varian-varian pesaing lainnya berdasarkan pertimbangan literer.” (Meletakkan Dasar: Kritik Tekstual Perjanjian Baru, hal 44).

Tetapi walaupun ada perbedaan-perbedaan semacam demikian, dapat dipastikan bahwa tidak ada doktrin Kristen yang berubah!

Sebagai contoh, dalam 1 Yoh 5:7, ada kata-kata yang merupakan rumusan Tritunggal “di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi.” Bagian ini diragukan keasliannya! Sekalipun terdapat dalam KJV (1611), namun Wycliffe menyatakan bahwa tidak ada satupun naskah kuno yang mencantumkan bagian ini sebelum abad ke empatbelas. Di samping itu, tidak ada Bapa-bapa Gereja yang mengutip hal ini. Makanya LAI memberi tanda kurung tegak pada bagian ini untuk menunjukkan usianya yang relative muda. Tetapi yang jelas, doktrin Tritunggal tidak tergantung pada ada atau tidaknya rumusan itu dalam 1 Yoh 5:7! Mengapa? Karena doktrin itu telah tersebar di banyak ayat, baik dalam PL maupun PB.
Dari seluruh penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kami / Kristen mempunyai begitu melimpahnya bahan yang tersedia untuk menentukan kata-kata PB yang asli: paling tidak ada lebih dari 5700 MMS PB Yunani, 20.000 terjemahan, dan lebih dari 1.000.000 kutipan dari tulisan bapa gereja! Jika dibandingkan dengan rata-rata penulis Yunani klasik, salinan-salinan PB seribu kali lipat banyaknya!

Dr. Wallace berkata: “Jika tebal MMS yang berukuran rata-rata adalah sekitar 6,5 cm, tumpukan seluruh salinan dari tulisan rata-rata penulis Yunani hanya akan mencapai sekitar 1,3 m, sedangkan tumpukan salinan-salinan PB akan mencapai lebih dari 1,6 km! Luar biasa melimpah ruah!” (Meletakkan Dasar: Kritik Tekstual Perjanjian Baru, hal 21)

Adanya begitu banyak manuskrip / salinan-salinan, versi terjemahan dan kutipan-kutipan, justru membuktikan bahwa Alkitab tak pernah mengalami pengeditan / pemalsuan (misalnya ajaran tentang pembunuhan, penyaliban, keTuhan-an Yesus, kebangkitan-Nya, dsb). Mengapa? Karena jika memang itu terjadi, maka orang bisa dengan mudah menunjukkannya melalui MMS yang ada.

Jadi, tuduhan para pengkritik dari umat Islam bahwa adanya banyak versi terjemahan Alkitab merupakan bukti bahwa Alkitab sudah palsu, merupakan tuduhan yang mengada-ada! Mengapa? Karena perbedaan-perbedaan yang ada di berbagai versi itu diakibatkan oleh adanya perbedaan naskah darimana mereka diterjemahkan. Mengapa MMS itu bisa berbeda? Ini bukan bicara tentang adanya konspirasi / pemalsuan dari para penyalin untuk secara sengaja mengubah, mengedit atau menghapus bagian-bagian tertentu dalam Kitab Suci, tetapi itu karena kesalahan penyalinan dan mayoritas dari kesalahan itu adalah kesalahan dalam meng-eja sebuah kata seperti yang sudah dicontohkan diatas. Tetapi lagi-lagi hal itu sama sekali tidak MENGUBAH doktrin / ajaran Kristen.

Dalam bagian keempat ceramahnya di Lancaster Bible College (untuk Staley Bible Lectureship) bulan Maret 2001, Dr. Wallace yang berbicara mengenai adanya berbagai macam versi Alkitab, memberi kesimpulan sebagai berikut:

“Kecuali NKJV, pada umumnya semua terjemahan modern mengikuti MSS tertua. Jadi dasar tekstual (walau berbeda dalam beberapa bagian tertentu) pada umumnya sama. Bahkan disini, tidak ada doktrin utama yang dipertaruhkan disetiap perbedaan tekstual. Tuhan memelihara kata-kataNya sehingga manusia bisa diselamatkan melalui membaca KJV, Tyndale, Bishops’, RSV, NIV, REB atau NET.

Mengenai terjemahan, ada tiga rasa berbeda: accurate, readable, elegant. Setiap orang Kristen seharusnya memilikinya setidaknya salah satu rasa. Saya merekomendasikan RSV, ESV, dan NASB untuk akurasi, NIV untuk readable/mudah dibaca, dan REB untuk elegance. Atau jika ingin menggabungkan ketiganya, the NET. Untuk belajar Alkitab, NET Bible yang terbaik.

Apakah semua ini mengakibatkan kebingungan? Apakah kita kehilangan Firman Tuhan yang sebenarnya? Tidak, sama sekali tidak. Realitasnya adalah Alkitab King James bisa bertahan selama 270 tahun hanya bisa terjadi karena gereja dan negara bersatu, seperti yang mereka lakukan diInggris tahun 1611. Tapi sekarang berbeda, khususnya Amerika. Saya kira senat Amerika tidak perlu menentukan Alkitab mana yang harus kita pakai dalam gereja!

Untuk pertama kalinya dalam 1500 tahun keberadaan gereja, kita hanya memiliki MSS tulisan tangan. Tapi gereja mampu bertahan dengan itu. Dan MSS itu lebih berbeda satu sama lainnya daripada terjemahan modern sekarang ini! Hanya karena adanya mesin cetak kita percaya mitos akan kesempurnaan pengkalimatan Alkitab. Walaupun ada perbedaan nyata dalam pengkalimatan dan gaya terjemahan dari terjemahan baru, semua menyatakan pesan yang sama.”

Serangan balik untuk para pengkritik dari umat Islam:

Adanya tuduhan ‘pemalsuan’ Alkitab oleh para pengkritik dari kaum muslim, sebenarnya harus diteruskan dengan menjawab pertanyaan ‘kapan pemalsuan itu dilakukan?’ Beberapa muslim memberi tahun 325 sebagai titik awal pemalsuan Alkitab, tetapi hal itu justru menunjukkan bahwa orang tersebut ‘buta sejarah’. Ada yang mengatakan itu terjadi setelah nabi Musa dan Yesus wafat (yang didasari pada teks Alkitab), namun sayangnya, orang ini melakukan eisegesis. Ada lagi yang menggunakan ‘Injil Barnabas’ dan diklaim sebagai Injil yang ‘asli’. Namun lagi-lagi menunjukkan bahwa orang ini sama sekali tak mengerti sejarah!

Sampai detik ini tak ada satupun pihak Islam yang bisa menjawabnya! Jika ditelusuri dalam sejarah, maka pemalsuan itu tidak ada. Kalau ada pengeditan, maka ada satu titik tertentu dalam sejarah dimana ribuan manuskrip itu musnah, tapi semua manuskrip tetap ada / dijaga. Hal ini menunjukkan bahwa tidak pernah terjadi pemalsuan kitab!

Pengkritik berargumentasi bahwa adanya banyak versi dalam Alkitab, membuktikan bahwa kitab itu telah dipalsukan. Baik, saya akan menggunakan argument / serangan ini untuk menyerang balik.

Apa para pengkritik umat Islam lupa bahwa Al-Qur’an juga punya banyak bacaan dan versi yang saling berbeda satu dengan yang lainnya? Pada zaman Usman (lahir tahun 573 M), terdapat berbagai macam versi Qur’an. Dia lalu memutuskan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan antar versi / naskah tersebut dengan cara membakarnya! Perhatikan berbagai sumber kutipan berikut ini:

“Suatu karya Khalifah Usman yang penting ialah penyusunan Kitab Suci Al-Qur’an. Selama Kekhalifahannya didapati bahwa terdapat berbagai bacaan dan versi Kitab Suci Al-Qur’an di berbagai wilayah imperium. Usman memutuskan untuk menghilangkan perbedaan dan menghimpun versi yang benar dari Kitab Suci Al-Qur’an. Maka dia menyusun suatu dewan yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dewan ini menghimpun Kitab Suci yang autentik dan salinan yang terdapat pada Hafsah, salah seorang istri nabi, banyak memberikan pertolongan dalam perhimpunannya. Mereka membuat beberapa salinan dari Kitab Suci yang sudah disusun itu. Salinan-salinan ini dikirimkan ke berbagai wilayah imperium, dan sisanya dibakar sehingga keautentikan Kitab Suci Al-Qur’an dapat dipelihara” (‘Islam Konsepsi dan Sejarahnya’  Syed Mahmudunnasir. Penerbit: PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. 2005. hal 159).
Seorang Guru besar pendidikan Sejarah dan mantan pengurus wilayah Muhammadiyah dan MUI Jawa Tengah, berkata: “Hasil karya besar kedua dari Khalifah Usman adalah keberhasilannya melakukan kodifikasi Qur’an… Dengan kodifikasi itu maka semua naskah atau mushaf Qur’an terdahulu dimusnahkan. Demikian juga dengan berbagai catatan diatas kulit maupun tulang belulang hewan sebagai dokumen awal dimusnahkan, agar tidak membingungkan umat Islam dalam mengkaji Quran.” (‘Islamologi. Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia.’ Prof. Dr. Abu Su’ud. Penerbit: Rineka Cipta. 2003. hal 61).

“Mushaf Utsmani itupun tuntas disusun… Mushaf-mushaf lain yang berbeda dari mushaf utama itu diperintahkan dibakar.” (Kisah hidup Utsman Ibn Affan. Dr. Musthafa Murad. Penerbit Zaman. 2009. hal 56)

Sekarang saya tanya pada para pengkritik dari umat Islam:

Mengapa semua naskah / salinan Al-Qur’an yang terdahulu (termasuk salinan dari para sahabat Muhammad dan berbagai catatan diatas kulit maupun tulang belulang hewan sebagai dokumen awal) itu dibakar?? Sekali lagi saya tekankan bahwa yang dimusnahkan atau dibakar itu adalah naskah terdahulu yang merupakan dokumen awal yang lebih dekat dengan teks ‘aslinya’! Mengapa naskah awal yang begitu ‘sangat penting’ ini dimusnahkan? Apa yang melatarbelakanginya?

Dari kutipan diatas, Usman melakukan itu untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan antar salinan tersebut. Perbedaan-perbedaan seperti apa yang dimaksudkan itu? Mengapa semua naskah / salinan awal yang berbeda dengan kelompok Usman dimusnahkan?

Disebutkan juga bahwa naskah awal itu dimusnahkan agar umat Islam tidak bingung dalam mengkaji Al-Qur’an. Tetapi mengapa harus dokumen awal yang dimusnahkan?? Apa keistimewaan naskah Usman dibandingkan dengan salinan-salinan awal (termasuk salinan dari sahabat Muhammad)?

Mungkin pengkritik dari umat Islam punya argument tertentu untuk ‘membela’ kitab sucinya, tetapi saya akan tunjukkan kutipan-kutipan para pakar Kitab Suci / kritikus tentang betapa pentingnya salinan awal ini sebagai bukti keotentikan sebuah teks / naskah (dalam hal ini dikaitkan dengan naskah Alkiab).

Greenlee yang menulis dalam Introduction to New Testament Textual Criticism tentang rentang waktu diantara naskah asli (otograf) dan naskah yang ada sekarang (salinan kuno yang selamat), berkata bahwa “karena para cendikiawan secara umum mengakui kredibilitas karangan-karangan klasik kuno meskipun naskah pendukungnya yang tertua ditulis jauh setelah naskah aslinya dan jumlah naskah yang selamat pada beberapa kasus sangat sedikit, maka kredibilitas teks Perjanjian Baru dapat dikatakan sudah diakui.” (Greenlee, J. Harold. Introduction to New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co., 1964. hal 16).

F. F. Bruce, seorang professor Rylands dari Biblical Criticism and Exegesis di Universitas Manchester berkata: “Naskah yang ada dari karya-karyanya yang kurang terkenal (Dialogus de Oratoribus, Agricola, Germania) semuanya disalin dari sebuah kodeks dari abad ke-10. Naskah sejarah karangan Thucydides (sekitar tahun 460 sampai 400 sM) sampai kepada kita melalui empat buah naskah kuno, yang tertua berasal dari sekitar tahun 900 M, dan beberapa sobekan papirus, dari masa sekitar permulaan zaman Kristen. Begitu pula halnya dengan karya sejarah Herodotus (tahun 488-428 sM). Namun tidak ada cendikiawan klasik yang mau tahu bahwa keaslian karya Herodotus atau Thucydides patut diragukan karena naskah tertua dari karya mereka yang dapat kita peroleh terpisah lebih dari 1300 tahun daripada tulisan aslinya.” (F. F. Bruce. The New Testament Documens: Are They Reliable? Downers Grove; IL 60515: Inter-Varsity Press, 1964. hal 16,17).

Kenyon, dalam The Bible and Archaeology berkata: “Jarak diantara waktu penulisan karangan asli dan bukti tertua yang masih ada telah menjadi sedemikian kecil sehingga dapat dikatakan tidak ada artinya, sehingga dasar terakhir untuk meragukan bahwa Kitab Suci Perjanjian Baru telah diwariskan kepada kita secara utuh sebagaimana ia ditulis sekarang sudah tidak berlaku lagi. Jadi, baik keaslian maupun integritas umum kitab-kitab Perjanjian Baru pada akhirnya dapat dianggap telah ditetapkan.” (Kenyon, Frederic G. The Bible and Archaeology. New York: Harper & Row, 1940. hal 288).

J. Harold Greenlee: “… Jumlah naskah Perjanjian Baru yang ada jauh melebihi naskah kesusasteraan kuno lain yang manapun. Di lain pihak, salinan naskah Perjanjian Baru tertua yang ada ditulis pada jarak waktu yang paling dekat dengan naskah aslinya daripada kesusasteraan kuno lainnya.” (J. Harold Greenlee. Introduction to New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Co., 1964. hal 15).

Prof. Daniel B. Wallace, Ph.D. Seorang Profesor Studi Perjanjian Baru, pendiri The Center for the Study of New Testament Manuscripts, berkata: “Varian yang diutamakan biasanya varian yang terdapat dalam MSS terawal. Sebab, lebih kecil selang waktu antara MSS itu dan teks aslinya, dan lebih sedikit salinan yang memuat kesalahan-kesalahan. Semakin dekat jarak antara suatu MS dan aslinya, semakin besar kemungkinannya mengandung kata-kata yang tepat.” (Meletakkan Dasar: Kritik Tekstual Perjanjian Baru. hal 36).

Seluruh kutipan ini menunjukkan betapa pentingnya manuskrip / naskah awal / tertua untuk menentukan keotentikan / kredibilitas suatu tulisan. Lalu bagaimana dengan Al-Qur-an sendiri? Mengapa naskah yang awal / tertua, justru dimusnahkan?

Hal ini tentunya berbeda dengan Alkitab. Perjanjian Baru misalnya, mempunyai lebih dari 5700 naskah yang walaupun terdapat perbedaan-perbedaan didalamnya, tetapi MMS itu tidak ada yang dimusnahkan, namun tetap dijaga / tersusun rapi (termasuk Naskah John Rylands (130 M), fragmen PB yang tertua)!

Problemnya adalah, jika dalam suatu kitab (baik dalam Al-Qur’an maupun Alkitab) terdapat suatu kesalahan tertentu, lalu bagaimana cara mengoreksi kesalahannya itu? Jika ini ditanyakan pada Alkitab, maka dengan gampang dijawab bahwa ‘kesalahan’ itu dapat dibetulkan oleh setidak-tidaknya satu diantara ribuan bukti. Tetapi bagaimana jika hal ini ditanyakan pada Al-Qur’an? Ada berapa naskah pendukungnya yang obyektif? Bukankah begitu banyak naskahnya (termasuk dokumen awal) telah dengan sengaja dimusnahkan? Lalu metode apa yang harus digunakan? Saya rasa, mungkin ‘metode dugaan’ adalah salah satu jalan keluarnya!

Philip Schaff seorang ahli sejarah (mengutip Tregelles dan Scrivener) berkata: “Kita memiliki begitu banyak naskah Alkitab, dan kita didukung oleh begitu banyak versi, sehingga kita tidak pernah perlu memakai metode dugaan untuk memperbaiki kesalahan tulis atau cetak.” (Tregelles, Greek New Testament, “Protegomena,” P.X.)

Bandingkan dengan klaim Arda Chandra: “Taurat dan Injil yang diakui asli oleh Kristen ternyata palsu karena selalu direvisi, dan memiliki banyak versi. Taurat dan Injil yang diakui Kristen tidak bisa diteliti dan dibuktikan keasliannya karena bukti yang ada hanya sampai kepada manuskrip SALINAN yang dibuat orang belakangan…"

Terlihat jelas, orang ini hanya asal ngomong saja! Padahal bukan Alkitab yang tak bisa diteliti dan dibuktikan keasliannya, tetapi justru sebaliknya Qur’an lah yang menurut saya tak bisa dibuktikan.
Jika pengkritik umat Islam menuduh banyaknya versi dalam Alkitab sebagai bukti bahwa telah terjadi pemalsuan Kitab Suci, maka, apakah berarti sebelum zaman Usman dimana terdapat banyak naskah / versi Al-Qur’an itu juga menjadi bukti bahwa Al-Qur’an sudah dipalsukan / bukan Firman Tuhan? Dan setelah Usman menyusun versi-nya (dijadikan standard) dan memusnahkan berbagai versi yang lain, maka Al-Qur’an menjadi asli kembali / menjadi Firman Tuhan?

Tetapi bukankah menurut Ensiklopedia Encarta, setelah usman merevisi Al-Qur’an dengan membuat satu teks yang dianggap terbaik dan dijadikan standard, namun toh masih ada beberapa versi Al-Qur’an yang berbeda? Jika argumennya didasari pada hal ini (bahwa adanya berbagai versi merupakan bukti bahwa suatu kitab adalah palsu), lalu kapan Al-Qur’an bisa menjadi kitab suci asli / menjadi firman Tuhan? Bagaimana mungkin sebuah kitab suci yang adalah ‘wahyu Allah’ bisa berubah-ubah seperti itu??

Silahkan para pengkritik menjawab pertanyaan ini!



[bersambung ke bagian keempat]