Kamis, 18 Juli 2013

PEMBAHASAN BUKU “INDAHNYA PERNIKAHAN KRISTEN” TULISAN PDT. SUTJIPTO SUBENO


Oleh: Pdt. Budi Asali, M. Div.


Dalam tulisan ini saya ingin membahas sebagian dari buku ‘Indahnya Pernikahan Kristen’ tulisan Pdt. Sutjipto Subeno. Dalam bagian terakhir dari bukunya itu Pdt. Sutjipto Subeno membuat suatu bab berjudul Jodoh ditakdirkan? (hal 129-135), dan inilah isi dari seluruh bab itu.




Jodoh ditakdirkan?

“Sering kali orang berkomentar, ‘Kalau memang dia jodoh kamu, tidak perlu dikejar-kejar, nanti datang sendiri.’ Betulkah pandangan seperti ini? Apa yang melatarbelakangi pandangan ini?

Jika kita menelusuri lebih dalam, maka pemahaman bahwa jodoh ada di tangan Tuhan sebenarnya adalah manifestasi dari doktrin (pengajaran) tentang takdir. Pemahaman ini mengajarkan bahwa seluruh tindakan manusia sudah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang telah ‘ditakdirkan’ itu tidak pernah bisa diubah oleh manusia. Dengan kata lain, manusia bagaikan sebuah wayang, di mana Tuhan sebagai ‘dalang’-nya. Jadi ketika kita hidup, setiap langkah kita sudah ditetapkan; kapan kita menikah, sudah ditetapkan; dengan siapa kita menikah, juga sudah ditetapkan

.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka diambil kesimpulan bahwa kita menikah atau tidak menikah, itu semua merupakan takdir Allah yang tidak bisa ditolak. Jadi, jika kita tidak bisa menikah dengan seseorang, maka itu merupakan takdir yang Allah tetapkan, dan sebaliknya, jika Allah menentukan kita menikah dengan seseorang, maka orang itu pun tidak bisa lari, dan pasti akan kembali kepada kita. Berdasarkan konsep ini, muncullah kalimat ‘penghiburan’ di atas.

Pemahaman ini merupakan upaya penghiburan di saat seseorang patah hati, tetapi di lain pihak pandangan sedemikian bisa menyebabkan kemungkinan penyalahgunaan yang tidak tepat dan mengakibatkan sifat pasif di dalam memilih teman hidup. Akibatnya, semuanya akan ditanggapi secara skeptis.

Theologi Reformed dan takdir

Berkaitan dengan pemahaman di atas, orang-orang yang salah mengerti dan tidak mempelajari doktrin Reformed dengan tepat, menganggap bahwa doktrin Reformed mengajarkan konsep takdir ini. Kesalah-pengertian doktrin kedaulatan Allah dan doktrin keselamatan, membuat orang menyangka ajaran jodoh di tangan (baca: ditetapkan) Tuhan merupakan ajaran Kristen, khususnya merupakan turunan dari konsep Reformed tentang kedaulatan Allah

.
Kalau demikian, maka orang-orang Reformed diajarkan untuk secara pasif menerima pasangan hidupnya, jika ternyata terjadi kesalahan, ataupun pernikahan yang tidak bahagia, maka itu pun merupakan nasib yang harus diterima dari Tuhan.

Ajaran ini terkadang membuat seorang pria berani mendatangi seorang gadis cantik dan berkata kepadanya, ‘Allah telah menetapkan saya harus menikah dengan kamu.’ Itu membuat sang gadis terperangah dan takut, karena bukankah ini sudah ditetapkan oleh Allah? Tetapi dalam hatinya, ia merasa tidak menyukai pria itu, karena ternyata karakter dan kehidupan pria itu begitu tidak cocok dengan dirinya. Di sini sebenarnya gadis itu sudah ‘dijebak’ oleh pria tadi, karena memang tidaklah demikian adanya. Gadis yang didatangi pria yang berkata seperti itu dapat membalas, ‘Allah justru menetapkan agar saya tidak dekat-dekat denganmu apalagi menikah dengan kamu.’ Ini sekadar untuk mematahkan pola theologisnya yang tidak sesuai dengan Alkitab. Kita tidak boleh sembarang mengatakan ‘Allah menetapkan ...’ karena penetapan Allah adalah sesuatu yang terjadi di dalam kekekalan.

Kesalahan konsep ini semakin nyata jika suatu saat terjadi perceraian. Seorang bisa dengan ringan dan sembrono mengatakan bahwa perceraian itu juga terjadi karena kehendak Tuhan, karena kalau Tuhan tidak menghendaki, ia tidak mungkin bisa bercerai. Padahal konsep ini jelas bertentangan dengan konsep Alkitab. Kalau dia menikah lagi dengan gadis lain, maka kembali ia mengatakan bahwa itupun sudah suratan takdir, atau istilah Kristen yang lebih populer adalah ‘sudah merupakan penetapan Allah’ yang tidak bisa diganggu-gugat. Kalau Allah tidak menetapkan, bagaimana mungkin ia bisa menikah lagi? Padahal jelas bagi iman Kristen, tindakan ini adalah tindakan perzinahan yang harus dihukum, karena Alkitab menyatakan bahwa menikah lagi yang bukan karena cerai meninggal adalah perbuatan zinah (Matius 5:32; Matius 19:9; Markus 10:12; Lukas 16:18). Termasuk, jika seseorang menganggap semua urusan pernikahan adalah ketetapan kekal Allah yang tidak bisa tidak harus terjadi, maka ketika seseorang berselingkuh, juga bisa dianggap bahwa perselingkuhan itu pun adalah ketetapan Allah yang tidak bisa ia tolak, sehingga ia harus melakukan perselingkuhan itu sebagai takdir atau penetapan Allah. Jelas pikiran dan ajaran seperti ini adalah ajaran sesat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, dan juga bukan diajarkan dalam Theologi Reformed.

 Ekposisi: Kejadian 24:44

Ketika dinyatakan salah, para penganut ‘takdir pasangan hidup’ sering mengajukan ayat favorit untuk mendukung argumen mereka, yaitu dari Kejadian 24:44, yang mengatakan ‘dan ia menjawab: Minumlah dan untuk unta-untamu juga akan kutimba air, dialah kiranya isteri, yang telah Tuhan tentukan bagi anak tuanku itu’ [NIV: and if she says to me, Drink and I’ll draw water for your camels too, let her be the one the Lord has chosen (pilihkan) for my master’s son]. Istilah ‘ditentukan’ atau ‘dipilih’ inilah yang menjadi masalah. Ketika seseorang mencoba melakukan penafsiran dengan menggunakan bahasa turunan, di mana sudah terjadi distorsi pengertian dan keterbatasan penerjemahan, sangat rawan terjadi kesalahan arti. Untuk itu kita tidak boleh mengandalkan satu kata seperti istilah ini, untuk mengerti suatu konsep, kecuali didukung oleh suatu eksegesis yang kuat dan ketat sekali. Istilah ini berasal dari padanan kata x:ykiîho-rv,a] (asher-hokiah), yang terdiri dari kata rv,a] (asher) dan hkY (yakach). Seluruh pengertian dari kedua kata ini perlu kita lihat, karena jika kita mengerti semua pengertiannya, kita baru mengerti mengapa di NIV digunakan kata ‘memilih,’ sedangkan di LAI menggunakan kata: ‘menentukan.’ Kata asher ini berupa partikel relatif, artinya secara umum adalah: ‘karena,’ ‘jika,’ ‘dia (whom),’ yang ketika dirangkai dengan kata hokiah menjadi gabungan dengan pengertian: ‘melangkah’ atau ‘memimpin’ atau ‘mengarah kepada;’ juga bisa diartikan ‘mengarah’ atau ‘memiliki kemujuran.’ Kata hokiah (yakach), bentuk hiphil perfek maskulin ketiga singular, memiliki arti: (1) membicarakan atau mendiskusikan bersama; (2) muncul atau terlihat sebagai suatu yang benar; (3) terindikasi benar; (4) ditetapkan, ditunjukkan; (5) memberikan penilaian / penghakiman. KJV/NKJV menggunakan ‘appointed’ yang berarti ‘diarahkan’ atau ‘ditujukan.’ Di sini gabungan kedua kata ini memberikan gambaran pengarahan bagi seseorang. Jadi penggabungan dua kata ini, memang memiliki sifat yang paling keras, yang dapat diterjemahkan sebagai ‘ditentukan.’ Tetapi juga bisa dikatakan diarahkan kepada yang benar. Atau seperti NIV menerjemahkan sebagai Tuhan memilihkan, memberikan penilaian atau penghakiman-Nya. Tetapi yang pasti: Tidak satu pun dari pengertian kata ini, berarti Allah telah menentukan jodoh bagi Ishak. Konsep ini sama sekali tidak menyentuh suatu pengertian takdir yang telah ditetapkan Allah di dalam kekekalan, tetapi lebih kepada pengertian: setelah melihat dari sekian banyak pilihan, kemudian kita ditentukan untuk mengambil satu di antaranya. Hal ini sejajar dan sangat sinkron dengan pergumulan hamba Abraham (diduga Eliezer dari Damaskus), bahwa ia sungguh-sungguh meminta Tuhan memberikan hikmat kepadanya untuk mengerti siapa gadis yang paling tepat bagi tuannya (ayat 14)1, dan ayat 44 merupakan kesimpulan dari hasil pergumulannya. Di situ sama sekali ia tidak memikirkan bahwa Ribka adalah gadis yang sudah ‘dipredestinasikan’ untuk Ishak, tetapi benar merupakan hasil pergumulannya bersama Tuhan, berdasarkan pimpinan Tuhan, untuk mendapat orang yang tepat sesuai kehendak Tuhan.
Di bagian bawah hal 134 ada catatan kaki sebagai berikut:

1 ‘Maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.’ (ayat 14b). Dan ini yang diproklamasikan secara nyata oleh hamba Abraham itu: ‘Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan TUHAN telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!’ (ayat 27).

Kesimpulan

Berdasarkan dari apa yang dipelajari di atas, kita harus menggabungkan dua hal penting untuk mengerti pasangan hidup kita, yaitu (1) kita perlu bergumul dan melihat kriteria yang tepat tentang siapa pasangan hidup kita, mencarinya di tempat yang tepat. Dengan demikian barulah kita menemukan pasangan hidup yang sepadan dengan kita, dan (2) kita harus meminta pimpinan Tuhan, karena kita tidak mampu melihat dan mengarahkan diri dengan tepat. Kita perlu bergumul bersama Tuhan, sehingga tidak mengambil keputusan yang salah. Terkadang kita kurang bijak dan kurang cermat untuk mengerti orang lain, sehingga mudah sekali kita tertipu. Tanpa kita bersandar dan bergantung pada pimpinan Tuhan, perjalanan kita tidak akan berhasil.” - ‘Indahnya Pernikahan Kristen’, hal 129-135.


Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.

I.  BERKENAAN DENGAN JODOH ADA DI TANGAN TUHAN ATAU TIDAK, DAN PENEN-TUAN DOSA / SEGALA SESUATU.

Pdt. Sutjipto Subeno mendustai para pembacanya tentang beberapa hal:

1) Ajaran Arminiannya ia katakan sebagai ajaran Reformed, dan ajaran Reformed yang sebenarnya ia katakan sebagai tidak Alkitabiah dan bahkan sesat!
Saya kutip ulang bagian-bagian tertentu dari bukunya yang sedang saya bahas.
Pdt. Sutjipto Subeno:


Theologi Reformed dan takdir

Berkaitan dengan pemahaman di atas, orang-orang yang salah mengerti dan tidak mempelajari doktrin Reformed dengan tepat, menganggap bahwa doktrin Reformed mengajarkan konsep takdir ini. Kesalah-pengertian doktrin kedaulatan Allah dan doktrin keselamatan, membuat orang menyangka ajaran jodoh di tangan (baca: ditetapkan) Tuhan merupakan ajaran Kristen, khususnya merupakan turunan dari konsep Reformed tentang kedaulatan Allah. ... Jelas pikiran dan ajaran seperti ini adalah ajaran sesat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan, dan juga bukan diajarkan dalam Theologi Reformed.” - ‘Indahnya Pernikahan Kristen’, hal 130,132.

Saya tantang Pdt. Sutjipto Subeno untuk membuktikan, ahli theologia Reformed mana yang tidak mempercayai bahwa Allah menentukan segala sesuatu (berarti juga tentang jodoh, perceraian dsb), termasuk dosa (berarti termasuk perzinahan, perceraian dsb)?

Di bawah saya akan membuktikan dengan memberikan banyak sekali kutipan yang menunjukkan sebaliknya dari apa yang Pdt. Sutjipto Subeno katakan!
Ajaran bahwa Allah menentukan segala sesuatu itu dipercaya oleh banyak (sebetulnya semua, tanpa kecuali) ahli-ahli theologia Reformed, termasuk Calvin sendiri. Jadi menurut Pdt. Sutjipto Subeno, semua ahli theologia Reformed, dan juga Calvin sendiri, adalah orang-orang sesat dan tidak Alkitabiah?


Betul-betul omongan kurang ajar dari seorang ‘Reformed gadungan’ yang mengaku sebagai ‘Reformed’, dan menyebut gerejanya sebagai ‘Reformed Injili’!



Baca selengkapnya disini



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar