Minggu, 02 Maret 2014

RABU ABU



Oleh: Yabina Ministry




“Ada pertanyaan dikalangan jemaat gereja tertentu karena belakangan ini di gerejanya diperingati perayaan Rabu Abu yang tahun ini jatuh pada tanggal 5 Maret 2014. Perayaan apakah itu?”



Rabu Abu atau dies cinerum (bhs Latin) dan ash Wednesday (bhs Inggeris) adalah hari pertama dari 40 hari puasa sebelum Paskah. 40 hari yang diisi puasa wajib dikenal sebagai perayaan Lent meniru lamanya puasa yang pernah dilakukan oleh Musa, Elia dan Yesus (40 hari tidak termasuk 6 hari minggu dimana hari minggu dianggap hari kemenangan karena Tuhan Yesus telah bangkit yang jatuh pada hari minggu).

Gagasan puasa dengan bermandikan abu dilandaskan pengalaman dalam Perjanjian Lama (Bil.19:9,17; Ayb.42:6; Yer.6: 26; Dan.9:3; Jun.3:6) yang juga disebut dalam Perjanjian Baru (Ibr. 9:13), dimana mereka yang mengaku dosa dan bertobat melakukan perkabungan dengan menaburkan abu ke tubuhnya memohon pengampunan Tuhan, dalam PL Abu kurban bakaran yang digunakan adalah abu kurban bakaran lembu muda.

Dalam sejarah gereja, perayaan Rabu Abu berkembang dalam tradisi gereja Katolik dan tercatat dalam Sakramen Gelasian (abad ke-7)  dan juga Gregorian (abad ke-8). Pada abad ke-11 kemudian dirayakan sebagai bagian liturgi mengawali 40 hari puasa sebelum paskah (lent) dimana disusul perayaan Hari Kebangkitan Yesus.

Dalam Rabu Abu, abu yang digunakan adalah abu pembakaran daun palem yang digunakan dalam perayaan minggu palem pada tahun sebelumnya dan seperti dalam Perjanjian Lama melambangkan pengakuan dosa dan pertobatan untuk memohon pengampunan dosa, dan dilakukan didepan altar pada saat permulaan misa. Upacara umumnya dipimpin pastor dengan menaburkan abu yang telah diberkati keatas kepala atau mengoleskan abu palem yang biasanya dicampur air suci atau minyak zaitun ke dahi umat dalam bentuk tanda salib disertai ucapan: “Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej.3:19).

Ketika terjadi skisma gereja pada tahun 1057, Gereja Orthodox Timur tidak merayakannya sekalipun mereka merayakan lent dalam bentuk berbeda sedangkan Gereja Roma Katolik meneruskan perayaan Rabu Abu itu. Sejak Reformasi (1517) gereja Lutheran dan Anglican tetap merayakannya tetapi mereka meniadakan penggunaan abu maupun praktek puasa, sedangkan umumnya Gereja Reformasi (Protestan) dan gereja-gereja bebas umumnya melepaskan perayaan itu dengan pengertian bahwa yang penting bukan lambang pertobatan melainkan pertobatan batin yang ditandakannya dan karena dalam Alkitab semua hari dipandang sama saja maka tidak perlu ada hari khusus atau yang dianggap suci untuk merayakan hal-hal yang tidak disuruh Yesus.

Sejak Konsili Vatikan II (1962-63) dimana mulai terjalin hubungan dekat antara gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Reformasi, mereka saling melihat kekayaan tradisi dalam penanggalan gereja masing-masing, banyak gereja Protestan mulai tertarik menggali kembali perayaan Rabu Abu, itulah sebabnya masakini beberapa gereja mempraktekkan perayaan Rabu Abu sekalipun pada umumnya tanpa menggunakan abu dan hanya lambang salib dan tidak menjalankan puasa seperti yang dilakukan gereja Roma Katolik.

Dibalik kegairahan kembali akan ritual Rabu Abu dan Puasa yang menyusulnya di kalangan gereja-gereja masakini, kita diingatkan untuk tidak mengulang kesalahan umat Israel yang disampaikan Firman Tuhan melalui peringatan nabi Yesaya (Yes.58) tentang ritual Perjanjian Lama yang cenderung menekankan bungkus tetapi mengabaikan isi, melainkan agar menjadikan bungkus itu menyatu dan sesuai dengan isinya:

58:3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.

58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!
Tentang Puasa, Tuhan Yesus juga mengingatkan agar kita menggunakan bungkus yang baru agar menyatu dengan isi yang baru sehingga keduanya terpelihara seperti yang ditulis sesuai yang ditulis oleh Matius (9:17, lih.juga.Mar.2:22 dan Luk.5:37-38):

Mat 9:17 "Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."


A m i n !


Sumber: Yabina Ministry - http://www.yabina.org/

Minggu, 10 November 2013

KRISTEN DAN AGAMA-AGAMA LAIN




Oleh: Pdt. Budi Asali M.Div


Amsal 14:12 - “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”.
Amsal 16:25 - “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut”.
Amsal 12:15 - “Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak”.

Jalan orang berdosa bisa benar dalam anggapannya sendiri, lebih-lebih kalau ia melakukan kebaikan atau mempunyai agama secara lahiriah / sebagai kedok dari kemunafikannya, atau ia telah melakukan reformasi sebagian dalam kehidupannya, upacara-upacara agama (misalnya baptisan), dan semangat yang buta (misalnya jihad), dan sebagainya. Mereka mengkhayalkan bahwa dengan semua ini mereka akan pergi ke surga (Matthew Henry).

Keil & Delitzsch: “The rightness is present only as a phantom, for it arises wholly from a terrible self-deception; the man judges falsely and goes astray when, without regard to God and His word, he follows only his own opinions” (= Ke-benar-an hanya ada sebagai suatu khayalan, karena hal itu muncul sepenuhnya dari suatu penipuan yang buruk sekali terhadap diri sendiri; orang itu menilai secara salah dan tersesat, pada waktu, tanpa mempedulikan Allah dan FirmanNya, ia hanya mengikuti pandangannya sendiri).

Adam Clarke: “it may be his own false views of religion: he may have an imperfect repentance, a false faith, a very false creed; and he may persuade himself that he is in the direct way to heaven” (= itu bisa adalah pandangannya yang salah tentang agama: ia bisa mempunyai pertobatan yang tidak sempurna, suatu iman yang palsu, suatu pengakuan iman yang sangat salah; dan ia bisa membujuk / meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia ada dalam jalan yang langsung menuju surga).

Yang dimaksud dengan ‘jalan’ dalam Amsal 14:12 di atas tentu bukan jalan duniawi, tetapi jalan secara rohani. Dalam dunia ini ada banyak ‘jalan’, yaitu agama-agama yang beraneka ragam. Banyak orang yang berkata bahwa semua agama itu sama. Tetapi ini adalah pendapat yang salah. Memang kalau kita hanya melihat pada hukum-hukum moral / etika, atau apa yang dilarang dan apa yang diharuskan / diperintahkan, maka semua agama mempunyai banyak persamaan, dan hanya sedikit perbedaan. Misalnya: semua agama melarang berdusta, berzinah, membenci / membunuh, kurang ajar kepada orang tua, dan sebagainya.
Tetapi begitu kita melihat pada doktrin, maka semua agama berbeda, bahkan bertentangan satu dengan yang lainnya. Dan kristen, kalau itu mau disebut sebagai suatu agama, secara doktrinal merupakan agama yang paling berbeda dibandingkan dengan agama-agama yang lain.

Penerapan: Karena itu, kalau ada orang yang tidak senang doktrin, dan hanya senang pada ajaran-ajaran yang bersifat praktis seperti moral dan etika, sebetulnya tak terlalu jadi soal bagi orang itu apakah ia beragama kristen atau beragama lain, apakah ia mengikuti gereja kristen yang benar atau yang sesat.

Dan perbedaan-perbedaan antara Kristen dan agama-agama lain itu justru merupakan perbedaan-perbedaan yang bersifat prinsip / dasar, seperti:


I) Pengakuan terhadap Yesus Kristus.

Agama kristen mempercayai Yesus Kristus sebagai:

1)   Tuhan / Allah.

Istilah ‘Tuhan’ menunjuk pada kedudukan / jabatan, sedangkan istilah ‘Allah’ menunjuk kepada ‘jenis makhluk’nya. Kristen mempercayai Yesus baik sebagai Tuhan maupun sebagai Allah!
Sedangkan agama lain / sekte paling-paling hanya menganggap Yesus sebagai orang yang baik / saleh, atau sebagai nabi.

Dalam hal ini harus diwaspadai ajaran dari sekte seperti Unitarianisme / Saksi Yehuwa, dan juga dari Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena, yang mengajarkan bahwa Yesus bukanlah ‘Tuhan’ tetapi ‘tuan’, bukanlah ‘Allah’ sungguh-sungguh tetapi hanya ‘allah kecil’. Ini SAMA SEKALI bukan ajaran kristen, karena kristen yang benar mempercayai Yesus betul-betul sebagai Allah dan Tuhan dalam arti kata yang setinggi-tingginya, setara dengan Bapa dan Roh Kudus.

Catatan: perlu diketahui  bahwa Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena menyimpang dalam hal ini dari Gereja Orthodox Syria yang asli.

2)   Juruselamat / Penebus dosa, yang membayar hutang dosa kita.

Jadi, Kristen mempercayai, sesuai dengan ajaran Kitab Suci, bahwa Yesus yang adalah Tuhan / Allah sendiri, karena kasihNya kepada manusia berdosa, mau menjadi manusia, dan lalu menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kita yang berdosa, dan seharusnya kita yang dihukum, tetapi Yesus rela menjadi pengganti bagi kita, dan memikul hukuman kita, sehingga kalau kita percaya kepada Yesus, kita tidak akan dihukum, tetapi sebaliknya diselamatkan / diampuni.

Tidak ada agama lain yang mempunyai seorang Juruselamat / Penebus dosa. Prinsip dari semua agama-agama lain adalah:

  • Manusia sendirilah yang harus membayar hutang dosanya sendiri.

    Subhadra Bhiksu: A Buddhist Catechism: “No one can be redeemed by another. No God and no saint is able to shield a man from the consequences of evil doings. Every one of us must become his own redeemer” (= Tak seorangpun bisa ditebus oleh orang lain. Tidak ada Allah dan tidak ada orang suci yang bisa membentengi seorang manusia dari konsekwensi dari tindakan jahat. Setiap orang dari kita harus menjadi penebusnya sendiri) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 590.
  • Allah, karena Ia adalah maha pengasih dan penyayang, mengampuni manusia berdosa begitu saja tanpa ada penebusan ataupun penghukuman. Dari sudut pandang Kristen, ini menunjukkan Allah itu kehilangan keadilanNya.

    Catatan: dalam persoalan pengakuan terhadap Yesus Kristus ini, Katolik sama dengan Kristen, karena Katolik juga mempercayai Yesus sebagai Tuhan / Allah, maupun sebagai Juruselamat / Penebus dosa.


II) Prinsip kekristenan adalah Allah mencari manusia.

Prinsip dari semua agama lain adalah manusia mencari Allah (dengan jalan membuang dosa, berbuat baik, berbakti, dsb).

Thomas Arnold: “The distinction between Christianity and all other systems of religion consists largely in this, that in these others, men are found seeking after God, while Christianity is God seeking after men” (= Perbedaan antara Kekristenan dan semua sistim agama lain sebagian besar terletak di sini, yaitu bahwa dalam agama-agama lain, manusia didapati mencari Allah, sedangkan Kekristenan adalah Allah mencari manusia) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 95.

Untuk bisa mengetahui yang mana prinsip yang benar / yang sesuai dengan ajaran Kitab Suci kita, mari kita melihat beberapa point di bawah ini:

1)   Kej 3:6-9 - “(6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’”.

Kalau kita melihat dalam Kej 3 ini, pada waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka mereka tidak mencari Allah (Kej 3:6-7). Sebaliknya pada waktu mereka mendengar kedatangan Allah, maka mereka justru bersembunyi (Kej 3:8). Allahlah yang mencari mereka dengan memanggil: “Di manakah engkau?” (Kej 3:9). Ini tentu tidak berarti bahwa Allah tidak tahu dimana mereka berada. Allah hanya mau mereka datang kepadaNya dan mengaku dosa. Tetapi bagaimanapun juga di sini kita melihat suatu prinsip yang sudah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa untuk pertama kalinya, yaitu Allahlah yang mencari manusia dan bukan sebaliknya!

2)   Dalam Luk 19:10, Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”.

Istilah ‘Anak Manusia’ menunjuk kepada Yesus, yang juga adalah Allah sendiri. Jadi ayat ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pada waktu manusia itu terhilang dalam dosa, Allah mencari manusia untuk menyelamatkannya.

Bdk. Yeh 34:16 - “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”.

Tidak ada domba hilang yang mencari gembalanya, gembalanyalah yang mencari domba yang hilang itu.

3)   Dalam Ro 3:11 dikatakan bahwa: “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah”.

Ro 3:11 ini perlu dicamkan khususnya pada waktu kita melihat ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah, seperti:

  • 1Taw 16:11 - “Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.
  • Maz 27:8 - “Hatiku mengikuti firmanMu: ‘Carilah wajahKu’; maka wajahMu kucari, ya TUHAN”.
  • Maz 105:3-4 - “(3) Bermegahlah di dalam namaNya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! (4) Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.
  • Yes 55:6 - “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.
  • Amos 5:4-6 - “(4) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: ‘Carilah Aku, maka kamu akan hidup! (5) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.’ (6) Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel”.

Ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah ini, tidak menunjukkan bahwa manusia bisa mencari Allah, dan juga tidak menunjukkan bahwa ada manusia yang mencari Allah. Manusia mungkin sekali ikut agama tertentu untuk mencari keselamatan. Mereka bisa saja mencari berkat Tuhan. Tetapi manusia tidak mungkin mencari Allah.

Tetapi benarkah manusia tidak akan pernah mencari Allah? Sebetulnya manusia bisa mencari Allah, tetapi itu baru bisa terjadi kalau Allah sudah terlebih dahulu mencari dia dan bekerja di dalam dirinya, sehingga ia lalu mencari Allah. Kalau Allah tidak mencari manusia lebih dulu dan bekerja di dalam diri manusia itu, maka manusia itu tidak akan mencari Allah.

Jadi, prinsip yang benar tetap adalah ‘Allah mencari manusia’, bukan ‘manusia mencari Allah’.


III) Keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus.

Dalam semua agama-agama lain, keselamatan didapatkan karena perbuatan baik, atau karena iman / percaya + perbuatan baik. Jadi, dalam semua agama-agama lain, perbuatan baik mempunyai andil untuk menyelamatkan manusia / membawa manusia ke surga.

Untuk menunjukkan hal itu, saya akan membahas secara singkat prinsip keselamatan dari agama-agama besar dalam dunia:

  • Yudaisme / agama Yahudi.

    Fritz Ridenour (tentang ajaran Yudaisme / agama Yahudi tentang ‘keselamatan’): “Anyone, Jew or not, may gain salvation through commitment to the one God and moral living” (= Siapapun, orang Yahudi atau bukan, bisa mendapatkan keselamatan melalui komitmen kepada satu Allah dan hidup yang bermoral) - ‘So What’s the Difference’, hal 63.
  • Agama Hindu.

    Fritz Ridenour (tentang keselamatan dalam agama Hindu): “Man is justified through devotion, meditation, good works and self-control” (= Manusia dibenarkan melalui pembaktian, meditasi, perbuatan baik dan penguasaan diri sendiri) - ‘So What’s the Difference’, hal 82.
  • Agama Buddha.

    Fritz Ridenour (tentang keselamatan dalam agama Buddha): “Man is saved by self-effort only” (= Manusia diselamatkan hanya oleh usaha sendiri) - ‘So What’s the Difference’, hal 92.
  • Agama Islam.

    Fritz Ridenour (tentang ajaran Islam tentang ‘keselamatan’): “Man earns his own salvation, pays for his own sins” (= Manusia memperoleh keselamatannya sendiri, membayar untuk dosa-dosanya sendiri) - ‘So What’s the Difference’, hal 72.

    Catatan: kata ‘to earn’ sebetulnya berarti ‘memperoleh karena telah melakukan sesuatu’.
  • Dalam agama-agama lain secara umum.

    Fritz Ridenour: “Many religions and cults admit the problem of sin, but their solution is always different from Christianity’s. While Christianity says that the only salvation from sin is faith in Jesus Christ and His atoning death on the cross, other religions seek salvation through good works or keeping rules and laws” (= Banyak agama dan sekte mengakui problem dosa, tetapi solusi mereka selalu berbeda dengan solusi dari kekristenan. Sementara kekristenan mengatakan bahwa satu-satunya keselamatan dari dosa adalah iman kepada Yesus Kristus dan kematianNya yang menebus di salib, agama-agama lain mencari keselamatan melalui perbuatan-perbuatan baik atau pemeliharaan peraturan-peraturan dan hukum-hukum) - ‘So What’s the Difference’, hal 17.
  • Agama Katolik.

    Dalam persoalan ini Roma Katolik termasuk dalam kategori agama lain, karena dalam Roma Katolik:

    1. Baptisan dianggap mutlak perlu untuk keselamatan, padahal baptisan jelas termasuk perbuatan baik / ketaatan.
    2. Dipercaya adanya Mortal sin (= dosa besar / mematikan) dan Venial sin (= dosa kecil / remeh). Mortal sin dianggap bisa menghancurkan keselamatan seseorang. Jadi, supaya tetap selamat seseorang harus menjauhi mortal sin. Lagi-lagi terlihat bahwa ketaatan seseorang punya andil dalam keselamatannya.
    3. Dipercaya adanya api penyucian, ke dalam mana semua ‘orang percaya’ yang kurang sempurna hidupnya, akan masuk; dan surga, ke dalam mana orang percaya yang kehidupannya memenuhi standard Tuhan, akan masuk.

      Bahwa Katolik menekankan pentingnya perbuatan baik untuk keselamatan / masuk surga, juga bisa terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

      • Fritz Ridenour: “Roman Catholicism teaches that faith is just the beginning of salvation, so the believer must constantly work throughout his life to complete the process” (= Roma Katolik mengajar bahwa iman hanyalah permulaan dari keselamatan, sehingga orang percaya harus terus menerus bekerja dalam sepanjang hidupnya untuk melengkapi proses itu) - ‘So What’s the Difference’, hal 41.
      • Fritz Ridenour: “The Catholic believes that good works are necessary for salvation” (= Orang Katolik percaya bahwa perbuatan baik perlu untuk keselamatan) - ‘So What’s the Difference’, hal 45.
      • Fritz Ridenour (tentang keselamatan dalam Roma Katolik): “Salvation is secured by faith plus good works - as channeled through the Roman Catholic Church” (= Keselamatan dipastikan oleh iman ditambah perbuatan baik - seperti yang disalurkan melalui Gereja Roma Katolik) - ‘So What’s the Difference’, hal 45-46.

Dalam agama kristen / kekristenan, kita bisa selamat hanya karena iman / percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sama sekali bukan karena perbuatan baik kita. Jadi, dalam agama kristen, sekalipun perbuatan baik itu juga harus dilakukan, tetapi perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam menyelamatkan kita / membawa kita ke surga.

Bahwa Kitab Suci memang mengajarkan bahwa perbuatan baik sama sekali tidak mempunyai andil dalam keselamatan, terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

  • Kis 15:1-11 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11) Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.

    Bdk. ay 11b dengan Rom 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
  • Rom 3:24,27-28 - “(24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... (27) Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
  • Rom 9:30-32 - “(30) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. (31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. (32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan”.
  • Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
  • Gal 3:6-11 - “(6) Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. (8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’ (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (10) Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’ (11) Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.
  • Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
  • Fil 3:7-9 - “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.
  • Bahwa perbuatan baik tidak mempunyai andil dalam keselamatan seseorang, juga bisa terlihat dari selamatnya penjahat yang bertobat di atas kayu salib, padahal ia hanya percaya kepada Kristus (pada akhir hidupnya) dan boleh dikatakan tidak mempunyai perbuatan baik.

    Luk 23:42-43 - “(42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.


-AMIN-

Jumat, 25 Oktober 2013

MENELUSURI PRA-EKSISTENSI YESUS: RESPON TERHADAP BAMBANG NOORSENA



Oleh: Albert Rumampuk



Injil Yohanes pasal satu ayat satu adalah teks yang sangat akrab bagi orang Kristen. Ayat ini seringkali digunakan sebagai dasar untuk menyatakan keAllahan Yesus. Bagi kita yang percaya, ini adalah sebuah pernyataan eksplisit dari Firman Allah tentang Kristus pra-inkarnasi. Dia adalah sepenuhnya Allah / setara dengan Allah dan berpribadi. Tetapi pandangan seperti ini rupanya bukanlah satu-satunya pandangan dalam kekristenan, karena ternyata ada orang-orang “Kristen” tertentu yang berpendapat lain.

Pendapat yang kontra terhadap iman Kristen ini adalah pandangan yang mengatakan bahwa Yesus pra-inkarnasi adalah logos (LAI: “Firman”), dalam arti “pikiran / kata-kata Allah”. Setidaknya, itulah yang sepertinya terlihat dalam seminar yang diselenggarakan ISCS di Hotel Rama Garden, Palu, Sulawesi Tengah, pada tanggal 8-10 Oktober 2013. Pembicara dalam seminar itu adalah Dr. Bambang Noorsena, SH. MH dari komunitas Orthodox Syria. Tema yang diusung dalam seminar itu sebenarnya adalah “Membedah keabsahan Alkitab”, tetapi didalamnya juga membahas tentang keTritunggalan Allah. Saat menjelaskan ajaran Tritunggal, Noorsena menolak penggunaan istilah “oknum” yang katanya “tidak ada di Alkitab”. Beliau juga tidak setuju dengan konsep Tritunggal Gereja Barat (Katolik & Protestan) yang menyatakan bahwa keesaan Allah itu terletak pada hakekat-Nya (bukan pada pribadi-Nya). Baginya, keesaan Allah itu terletak pada “wujud Allah (Bapa)” dimana “Firman dan Roh Kudus berada dalam wujud Allah (Bapa)”.

Menurut panitia, acara tersebut dihadiri sekitar lebih dari 400 orang dari berbagai latarbelakang denominasi / gereja. Dr. Bambang mengajak peserta untuk “Stop belajar dari Eropa (barat) tapi belajar dari Alkitab dan gereja Timur / kembali ke akarnya”, kurang lebih seperti itu. Buat saya pernyataan seperti ini aneh, bukankah “orang Barat”  juga belajar dari Alkitab? Dalam seminar itu, dia sama sekali tidak membahas dasar Alkitab dari “orang Barat” (tentang adanya “kejamakan pribadi”), tetapi saat menyinggung paham gereja Timur (yang adalah pahamnya), maka sederet ayat (seperti Kej 1:1-3; Ul 6:4; 1 Kor 8:4; Yoh 8:42, dsb) dibahasnya. Apakah dia sengaja tak mau tahu dengan argument “orang Barat”, atau sengaja menyembunyikannya dari peserta seminar?  

Bagi saya, Allah itu memang “satu” di dalam hakekat-Nya, tetapi “jamak” dalam pribadinya. Banyak orang yang salah paham dengan mengatakan bahwa “kalau Allah itu berpribadi 3, bukankah ini menunjukkan adanya 3 Allah?” Pertanyaan seperti ini seharusnya diubah: “Apakah Kitab Suci mensahkan 3 pribadi itu atau tidak?” Jadi yang ditekankan adalah “menurut Kitab Suci” bukan menurut “akal/pikiran manusia”. Benarkah paham Allah itu satu pribadi yang tunggal mutlak bisa dijumpai dalam Alkitab? Apakah Sang Anak (“logos”, dalam Yoh 1:1) bukanlah suatu pribadi yang berbeda dengan Bapa? Tulisan ini adalah respon terhadap ajaran Bambang Noorsena, yang khusus menyoal Yesus Kristus sebelum hadir di dunia.   

Sejak kapan Logos ada?

Sebelum kita membahas apakah “Firman/logos” itu berpribadi atau tidak, kita harus tahu dulu, apakah “logos” memiliki titik awal atau tidak. Ini penting sebagai pijakan awal, karena jika “logos” itu tidak kekal, maka Tritunggal harus dibubarkan! Untuk mengidentifikasi siapakah “logos” yang sebenarnya, sebaiknya kita melihat Yoh 1:1 dari teks bahasa aslinya.

“En arkhe ēn ho logos kai ho logos ēn pros ton theon kai theos ēn ho logos”

Terjemahan LAI: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” 

Kata “logos” yang diterjemahkan “Firman” dalam ayat ini, jelas berbicara tentang Yesus pra-inkarnasi (Bdk. ayat 14). Sebelum berinkarnasi, Yesus Kristus disebut “Firman”. Sekalipun Yohanes secara tegas mencatat bahwa “Firman itu adalah Allah”, ini tidak membuat para Saksi Yehuwa dan Unitarian menerima begitu saja. Terjemahan dunia baru (kitab suci Saksi Yehuwa) menterjemahkan kata-kata “… kai theos en ho logos” menjadi “… Firman itu adalah suatu allah.”(1) Perhatikan, Saksi Yehuwa menambahkan kata “suatu” didepan kata “allah” dan kata “allah” – pun diawali dengan huruf “a” kecil. Ini menunjukkan penolakan mereka terhadap keAllahan logos/Firman. Mereka beranggapan bahwa posisi logos lebih rendah dari Theos/Allah/Yahweh dan bahwa logos/Firman Allah (Yesus pra-inkarnasi) adalah ciptaan pertama dan kemudian melalui logos-lah tercipta segala sesuatu. (2) Jadi, Saksi Yehuwa beranggapan bahwa Yesus pra-inkarnasi tidak sekekal Bapa-Nya.

Bahasa Yunani untuk teks Yoh 1:1 sebetulnya sudah sangat jelas menerangkan keberadaan “Firman” tersebut. Kata-kata “pada mulanya adalah Firman” diterjemahkan dari kata-kata Yunani “en arkhe en ho logos”. Ungkapan ini menunjuk pada masa lampau yang tak terbatas / kekekalan masa lampau dari “Firman”. “Logos/Firman” yang dimaksud, terus ada dan tidak pernah tidak ada. Manusia, hewan, dan segala yang nampak, punya awal karena diadakan/dicipta oleh Allah. Tetapi logos berbeda, Dia tidak punya titik awal. 

Paul Enns: “Kata ‘adalah’ (Inggris: ‘was’) dalam kalimat ‘pada mulanya adalah Firman’ adalah kata Yunani en, dalam bentuk tensa imperfek yang menekankan keberadaan yang terus menerus pada waktu yang lampau. Frasa itu jadi dapat diterjemahkan, ‘Pada mulanya adalah Firman yang terus menerus ada’ … Yohanes mengindikasikan bahwa sejauh kebelakang manapun, Firman itu terus ada.”(3)

Yesus sendiri sebagai ‘perwujudan’ logos, dengan sangat meyakinkan berkata:  "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." (Yoh 8:58). Abraham lahir sekitar 2000 tahun sebelum Kristus, tetapi Yesus berkata sebelum Abraham jadi Ia telah ada. Ini tidak berarti bahwa Yesus telah ada beberapa tahun atau beberapa abad sebelum Abraham lahir. Kata-kata “Aku telah ada” tidak tepat, seharusnya “Aku ada”. Istilah ini berasal dari kata Yunani ego eimi, yang menunjuk pada kekekalan Kristus dimasa lampau. Tentu saja yang kekal masa lampau itu bukan kemanusiaan-Nya, tapi bicara Yesus sebagai Anak Allah / Sang Firman.

Charles C Ryrie: “Kristus menyatakan kekekalan-Nya ketika Ia menyatakan, ‘Sebelum Abraham ada, AKU TELAH ADA’ (terjemahan yang tepat adalah AKU ADA – ego eimi) (Yoh 8:58). ‘Aku telah ada’ mungkin menunjukkan bahwa Ia sudah ada beberapa abad sebelum Abraham, tetapi Aku ada (eimi) menyatakan kekekalan.” (4)

Ryrie memberi 3 konsekwensi jikalau kekekalan logos tidak diakui: “(a) tak ada Tritunggal; (b) Kristus bukan sepenuhnya Allah, dan (c) Ia berbohong.”(5)

Jikalau “Firman/logos” itu kekal di minus tak terhingga, maka siapakah Dia? Tentu dengan mudah kita akan mengatakan bahwa Dia adalah Allah, sesuai dengan kesaksian Yohanes dalam Yoh 1:1c (“Firman itu adalah Allah”). Jadi, frasa “Firman itu adalah Allah” memang benar, karena “Firman itu kekal”. Kekekalan dari Firman, ternyata juga mendapat pengakuan dari Bambang Noorsena. Baginya, “Ungkapan ‘Pada mulanya adalah Firman’, untuk menekankan bahwa Firman Allah itu tidak berpermulaan, sama abadi dengan Allah karena Firman itu adalah Allah sendiri, dan bukan wujud selain-Nya.”(6) Dibagian ini, pandangan Noorsena cocok dengan gereja barat. Tetapi bukankah Bambang Noorsena (yang katanya mengusung teori “gereja Timur”), juga mengakui bahwa logos itu adalah Allah? Lantas, dimana letak perbedaannya dengan Barat (Protestan & Katolik)?

Logos: pribadi vs bukan pribadi

Dalam sebuah diskusi tentang Tritunggal, Pdt. Teguh Hindarto (seorang Judeo Christianity), yang mengaku punya pandangan yang sama dengan kelompok Orthodox Syria, berkata kepada saya: “… Bukan pula tiga pribadi melainkan satu pribadi dengan tiga karya dan manifestasi kuasa. Mengapa satu pribadi ? Bapa, Putra dan Roh Kudus (YHWH, Firman-Nya, Roh-Nya) adalah satu pribadi dalam kekekalan, karena yang satu tidak ada dan diadakan lebih dahulu oleh yang lain. Kata ‘satu’ dalam ulasan ini bukan bermakna aritmetik melainkan ontologik, karena kita sedang membicarakan Tuhan yang mengatasi dan berada didalam segala sesuatu yang Dia ciptakan.”(7)

Dalam kesempatan yang lain, saya juga menanyakan padanya “… Apa praeksistensi-Nya Yesus adalah firman/kata2 YHWH?”  Hindarto menjawab: Betoel. Pra Eksistensi Yesus adalah Firman ( Yoh 1:3). Firman tidak diciptakan melainkan Daya Cipta Tuhan (Kej 1:3, Mzm 33:6). Firman bersama Tuhan YHWH sejak kekal. Tidak pernah ada waktu dimana Tuhan tidak bersama Firman dan Roh- Nya ( Kej 1:1-3). Istilah ‘Sang Firman’ adalah opsi terjemahan untuk ‘ho Logos’ atau ‘ha Davar’ atau ‘Milta d' Alaha’ atau ‘The Word”. (8)


Jadi, menurutnya, Yahweh, Firman Yahweh dan Roh Yahweh adalah satu pribadi bukan 3 pribadi. Ajaran bahwa Logos/Anak punya pribadi yang berbeda dari Bapa, menurutnya adalah salah. Baginya, logos adalah “kata-kata Allah” yang kemudian menjadi manusia ( di ayat 14).

Senada dengan ini, Bambang Noorsena juga berkata: “Jadi, kalau Roh Kudus disebutkan ‘keluar dari Bapa’ (Yoh 15:26), Firman Allah dikatakan ‘dilahirkan dari Sang Bapa’, karena Firman itu menyatakan siapakah Allah yang sebenarnya (band. Yoh 1:18). Seperti kata-kata seseorang dilahirkan dari pikiran (Logos) seseorang, dan pikiran itu satu dan tidak terpisah dengan seseorang.”(9)

Bambang Noorsena: “Selanjutnya, ‘Firman itu bersama-sama Allah’, menekankan bahwa Firman itu berbeda dengan Allah.  Allah adalah Esensi Ilahi (Arab: al-dzat, the essence),  yang dikiaskan Sang Bapa, dan Firman menunjuk kepada ‘Pikiran Allah dan Sabda-Nya. Akal Ilahi sekaligus Sabda-Nya’ (‘aql al-lâh al-nâtiqi, au nâtiq al-Lah al-‘âqli, fahiya ta’ni al-‘âqlu wa al-nâtiqu ma’an), demikianlah term-term teologis yang sering dijumpai dalam teks-teks Kristen berbahasa Arab.”(10)

Bambang Noorsena: “Makna gelar ‘Putra Allah’ ialah Allah menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya. Artinya, Firman yang berdiam secara kekal dalam Allah itu keluar dari Allah untuk menyatakan siapakah Allah.”(11)

Bambang Noorsena: “Sebaliknya, ditekankan bahwa keyakinan Kristen mengenai Firman Allah yang menjadi manusia, justru paralel dengan keyakinan Islam mengenai Kalam Allah yang kekal yang turun menjadi al-Qur’an atau nuzul al-Qur’an. Umat Islam yang mungkin akan sulit mengerti ajaran Kristen mengenai kodrat ganda Yesus: ‘sepenuhnya insani (kamil bi al-lahut) sebagai Kalimatullah, dapat membandingkannya dengan ajaran Islam sendiri mengenai kitab suci al-Qur’an al-karim.”(12)

Bambang Noorsena: Sebagaimana umat Islam memahami Firman Allah yang kekal telah nuzul dalam bentuk temporalnya al-Qur’an berbahasa Arab, dari kacamata dialog teologis Kristen-Islam, umat Kristen dapat juga mengajukan paralelnya: ‘Kalau Firman Allah bisa dipahami telah nuzul menjadi kitab, apa sulitnya memahami keyakinan Kristen bahwa Firman itu menjadi manusia, yang adalah mahkota segala ciptaan Allah?”(13)

Dalam berbagai kesempatan (termasuk seminarnya di Palu), pada saat menjelaskan Tritunggal, Bambang Noorsena selalu mencontohkan adanya pikiran dan roh manusia yang selalu bersama-sama dengan manusia itu, demikian pula dengan Firman dan Roh-Nya. “Firman dan Roh Kudus berada dalam wujud Allah (Bapa)”. (14)  Jadi, “Firman” itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri diluar dzat Allah, tetapi ada di dalam diri Bapa. Untuk mendukung ajarannya, Bambang mengutip Yoh 1:1; 8:42. Teks lain seperti Kej 1:1-3 dan Maz 33:6, juga menjadi andalannya. Noorsena juga menyamakan antara "Firman Allah" (pra-inkarnasi Yesus) dengan "Firman Allah / Kalam Allah / Kalimatullah" dalam Islam. Dan, dalam Islam, "Firman Allah / Kalimatullah" itu tidak pernah dikaitkan dengan pribadi. Itu menunjuk pada "sifat" atau "kalimat / perkataan" Allah.

Disini terlihat bahwa Bambang memaksudkan kata “Firman” itu bukan sebagai “pribadi” tetapi adalah “pikiran/kata-kata Allah” yang dilahirkan/keluar dari Allah. Inilah yang menjadi perbedaan antara Bambang Noorsena dengan pandangan Protestan/Katolik.

Benarkah logos dalam Yoh 1:1 adalah “kata-kata Allah?” Untuk menjawab hal ini, mari kita melihat Injil Yohanes 1:1b. Dalam Yunani disebutkan: “… kai ho logos ēn pros ton theon” (Firman itu bersama-sama dengan Allah.) Kata-kata “bersama-sama dengan” berasal dari kata Yunani “pros”. Apakah arti kata “pros” tersebut? Ada empat kemungkinan makna yang diberikan oleh Murray Harris: “a) berbicara kepada; b) mengenai hal-hal ini; c) menunjukkan posisi, sama dengan kata “para”; dan d) adanya relasi atau komunikasi. (15) Mangapul Sagala lebih memilih point d). Menurutnya, kata sandang “pros” bukan sekedar dipahami sebagai “posisi”, tetapi bahwa “Logos berada dalam persekutuan yang aktif dengan Allah.” (16) Demikian pula dengan Robert Cook yang memberi arti hurufiah dari kata “pros” yaitu “berhadapan muka dengan”. Ini tegas menunjukkan bahwa logos/Firman dan Theos/Allah adalah berbeda satu dengan yang lainnya.

W. Robert Cook: “The phrase PROS TON THEON (with God) has the idea of ‘toward’ or ‘face-to-face with,’ giving the picture of two personal beings facing one another and engaging in intelligent discourse” [= Ungkapan PROS TON THEON (dengan Allah) mempunyai gagasan / ide tentang ‘kepada / terhadap’ atau ‘berhadapan muka dengan’, memberikan gambaran tentang 2 pribadi berhadapan satu dengan yang lain dan terlibat dalam percakapan yang cerdas / percakapan yang menggunakan pikiran] - ‘The Theology of John’, hal 49. (17)

Kalimat “Firman itu bersama-sama dengan Allah,” menunjukkan bahwa “Firman” itu berbeda dengan “Allah” (Bapa). Perbedaan yang dimaksudkan disini bukan dalam hal “hakekat”.  Jika Sang Firman tidak mempunyai hakekat yang sama dengan Allah, maka ini akan menentang kata-kata “Firman itu adalah Allah.” Jika “Firman” adalah Allah, maka sudah pasti Firman itu setara / sehakekat dengan Allah (Bapa).
Lalu “berbeda” dalam hal apa? Jika kita melihat arti kata “pros” yang sudah diberikan diatas, maka ini tentu bicara tentang adanya perbedaan pribadi-pribadi Allah. 

Bahwa logos bukanlah sekedar “kata-kata Allah” saja, ini sejalan dengan ayat-ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa “Anak Allah” – lah yang diutus kedunia dan bukan “kata-kata/pikiran Allah” (Yoh 3:16; 1 Yoh 4:9-10; Ibr 1:6, dsb). Istilah “Anak Allah” dalam konteks PL dan PB, jelas menunjuk pada Allah yang berpribadi (bdk. Maz 2:7; Ibr 1:8).

Jadi, kata “Firman” dalam Yohanes 1:1, jelas berbicara tentang suatu pribadi! Ini sekaligus menggugurkan paham bahwa “Firman” itu hanyalah sekedar “kata-kata/pikiran Allah” yang kemudian nuzul (turun) ke dunia. Sungguh lucu karena Bambang justru menggunakan ayat ini untuk membenarkan ajarannya.

Menjawab argumentasi Bambang Noorsena

Dalam seminar-nya di Palu, Bambang Noorsena membagikan beberapa makalah yang membahas beberapa isu. Diantaranya tentang “Textual Criticism”, “Sejarah kata Allah”, “keesaan Allah”, dan tentang “Tritunggal”. Dibagian ini saya akan mengutip dasar argument Bambang ketika bicara tentang ajaran Tritunggal yang saya ambil dalam makalah yang berjudul “Tiga arus pemikiran mengenai ajaran Tritunggal dan hubungannya dengan Tauhid (Monotheisme)”, dan menanggapinya. Berikut adalah beberapa point penting yang menjadi acuan-nya.

1) Bambang Noorsena mengutip dari Tanakh/PL, yaitu Kej. 1:1-3 (18)

 “(1) Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. (2) Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita  menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. (3)  Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.”

Menurutnya, disini terlihat 3 hal: Elohim (Allah / Bapa), Ruah Elohim (Roh Kudus) dan Davar / Omer Elohim (Firman).

Jawaban saya:

Jika melihat pemahamannya, maka Roh Kudus dan Firman Allah yang dimaksudkan disini adalah 2 hal yang berada di dalam diri Bapa. Kutipan ayat ini semakin mempertegas pandangan Bambang bahwa Kristus pra-inkarnasinya adalah “Firman” dalam arti “kata-kata Allah”. Tentu saja kata “berfirmanlah…” sama sekali bukan menunjuk pada Yesus sebelum hadir didunia. Kalimat “Berfirmanlah Allah” sebetulnya bisa diartikan: “Berkatalah Allah”. Ini cocok dengan kata-kata selanjutnya: “‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.” Kata-kata “Jadilah terang…” adalah kalimat yang keluar dari Allah.

Kejadian pasal satu menceritakan tentang penciptaan alam semesta, dimana Elohim/Allah mencipta dengan “Firman-Nya”. Kata itu tidak sama dengan “logos” dalam Yoh 1:1. Apa yang dipahami Bambang disini memang benar, kata “Firman” dalam Kej 1:1 memang berarti “ucapan Allah”. Tetapi pada saat dia mengutip ini dan menerapkannya pada “logos” yang dibicarakan Yohanes, ini jelas sebuah pemaksaan! Menurut saya, Kej 1:1-3 hanya bicara 2 pribadi: Elohim/Bapa dan Roh Kudus, tetapi sama sekali tidak menyinggung Yesus pra-inkarnasi.

2) Bambang Noorsena mengutip Maz 33:6 (19)

“Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.”

Terdapat 3 hal: Davar (Firman), YHWH (TUHAN), Nafas (Ruah) dari mulut-Nya.

Jawaban saya:

Dalam sebuah tulisannya, Bambang Noorsena berkata: “Dan sebagaimana dicatat dalam targum-targum, yaitu komentar-komentar Perjanjian Lama dalam bahasa Aram, sosok Sang Mesiah ini diidentikkan dengan Memra (Firman Allah), yang oleh-Nya Allah menciptakan alam semesta, dan melalui-Nya pula Allah mengkomunikasikan Diri-Nya dengan umat ciptaan-Nya. Konsep Memra inilah yang melatarbelakangi prolog Injil Yohanes mengenai pra-eksistensi Firman Allah (Yoh. 1:1-3,14), dan bukan konsep logos dalam filsafat Helenisme, sekali pun teks bahasa Yunani dari Injil tersebut memakai istilah Logos yang sebelumnya sudah dipakai dalam Septuaginta.”(20)

Bambang Noorsena:  “Mengapa kesimpulan kaum Arian berbeda dengan Gereja mengenai Logos Ilahi tersebut? Jawabnya sederhana saja, sebab pemahaman Gereja dilatarbelakangi oleh pandangan Targum mengenai Memra (Firman Allah) yang satu dengan Allah, yang oleh-Nya telah diciptakan alam semesta (Yoh 1:3). Jadi, Logos dari Injil Yohanes sama dengan Dabar Yahwe dan hokmah (Hikmat) dalam kesusasteraan Hikmat Yahudi (cf. Ams. 8).”(21) 

Kutipan ini menunjukkan bahwa Bambang percaya bahwa istilah logos dalam Yoh 1:1-3,14 berasal dari konsep Memra (Firman Allah) di PL. Benarkah logos di Yoh 1:1 itu sama dengan Dabar / Memra di Perjanjian Lama?

Mari kita kembali melihat Maz 33:6 yang menjadi salah satu dasar argument Bambang. Kata-kata “Firman TUHAN” dalam ayat itu sebetulnya bermakna sama dengan Kej 1:3. Itu berarti “ucapan/kata-kata” Tuhan / YHWH. Ini terlihat di ayat selanjutnya (ay. 9): “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” Tuhan memang mencipta segala sesuatu dengan “Firman-Nya”. Namun ini tentu bukan bicara tentang “logos” yang ada di Yoh 1:1. Mengapa? Karena logos yang dimaksudkan oleh Yohanes itu berpribadi.

Dalam Perjanjian Lama, ungkapan “Firman TUHAN” atau “Firman Yahweh” muncul lebih dari 241 kali, dimana 93% (sekitar 221 kali), “menggambarkan sebuah perkataan nubuat.” (22) Jadi, kita tak boleh mengambil seadanya kata “Firman” dalam Alkitab untuk diterapkan pada Kristus pra-inkarnasi. Sekali lagi, “Firman” (Ibr. dabar) Allah yang ada dalam PL, tidak sama dengan “logos” (Sang Anak) dalam PB. Baik Bultman maupun E. Harris, menolak memahami logos berdasarkan PL.

 “Bultman menegaskan bahwa Logos dalam prolog tidak bisa dipahami berdasarkan Perjanjian Lama. Karena Logos dalam injil Yohanes bukanlah suatu peristiwa yang berulang di dalam dunia yang temporal, tetapi merupakan pribadi kekal yang ada bersama-sama dengan Allah sejak awal.(23) 

“… E. Harris, dalam responnya terhadap para pakar biblika (yang melihat Kej 1:3 dan Maz 33:6 ada di balik Prolog), berkata: ‘Sangat diragukan apakah penggunaan yang sama berada dibalik cara Yohanes menggunakan Logos.”(24)

Jikalau kita tetap memaknai logos dalam Yoh 1:1 sebagai “kata-kata/pikiran Allah” (yang bukan pribadi) dan bahwa “kata-kata/pikiran Allah” itulah yang menjadi manusia, ini akan menimbulkan beberapa problem: 1) Saat orang-orang Yahudi/murid-murid Yesus menyembah-Nya dalam Mat 14:33, maka mereka sedang menyembah “kata-kata/pikiran Allah.” 2) Saat Stefanus, Paulus berdoa kepada Yesus dalam Kis 7:59-60 dan 2 Kor 12:8-9, maka mereka sedang berdoa kepada “kata-kata/pikiran Allah.” 3) Saat semua orang Kristen diseluruh dunia datang ke gereja untuk beribadah, memuji, menyembah dan berdoa, maka mereka melakukan itu semua untuk “kata-kata/pikiran Allah”. Apakah memang benar demikian? Tentu saja yang disembah dan dipuji itu adalah diri / pribadi Allah-Nya!

3) Bambang Noorsena: "Keesaan Allah pada wujud Allah: 'Satu Allah, yaitu Bapa…' (1 Kor 8:4). Dalam Bapa (wujud Allah) berdiam kekal Firman Allah (Yoh 1:1, 8:42) dan Roh Kudus (Yoh. 15:26; 1 Kor 2:10-11). Bapa, Putra dan Roh Kudus 'satu' bukan 'bersatu' (seperti satunya pikiran dan roh saya dalam wujud saya)."(25)

Jawaban saya:

Disini Bambang menggunakan 1 Kor 8:6 untuk mendukung keesaan Allah pada Bapa (wujud Allah). Mari kita melihat ayatnya: “namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” Saya bingung dengan kutipan ayat ini. Apakah Bambang memaksudkan bahwa hanya Bapa saja yang adalah Allah? Kalau memang demikian, apakah berarti Bapa bukan “Tuhan”? Bagaimana dengan sapaan Tomas yang menyebut Yesus bukan hanya sebagai “Tuhan” saja tetapi juga adalah “Allah” (Yoh 20:28)? Mungkin ada yang protes: “Jika Bapa adalah Allah dan Yesus juga adalah Allah, lalu mana yang benar? Bukankah ini akan menentang 1 Kor 8:6 yang mencatat ‘hanya ada SATU Allah saja, yaitu Bapa?’” Ini sebetulnya sama dengan Yoh 17:3 yang menyatakan bahwa Bapa-lah satu-satunya Allah yang benar. Tetapi bagaimana dengan 1 Yoh 5:20 yang mencatat bahwa Yesus juga adalah Allah yang benar? Bagi kami yang percaya pada 3 pribadi Allah, ayat ini tak jadi soal. Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah, Roh Kudus juga adalah Allah. Berarti ada 3 Allah? Tidak. Tetap satu Allah! Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah 3 pribadi tetapi satu dalam hakekat. Jadi, kata “satu” dalam 1 Kor 8:6, harus dimengerti dalam hubungannya dengan “hakekat ke-Allah-an” bukan “pribadi”.

Sebagai contoh, dalam hal penciptaan. Bapa adalah pencipta (Kej 1:1), Yesus (Sang Firman) adalah Pencipta (Yoh 1:3; Kol 1:16), Roh Kudus juga adalah pencipta (Mzm 104:24-26,30). Timbul pertanyaan, apakah berarti ada tiga pencipta? Tidak! Kitab Suci mencatat tetap SATU pencipta (Yes 44:24). Nah, ketika Alkitab mencatat kata “seorang diri” dalam Yes 44:24, ini tidak berarti hanya berbicara satu pribadi saja. Jika demikian, mengapa dibagian tertentu Alkitab mencatat kata “satu” atau “seorang diri” tetapi dibagian lain mencatat adanya sebuah “kejamakan”? Jawab: ini tentu untuk menjelaskan bahwa di dalam keberadaan Allah yang “Esa” itu, terdapat semacam “kejamakan tertentu”.

Memang, dalam seminarnya, Bambang Noorsena menggunakan istilah “Tritunggal”, tetapi tak jelas, apanya yang disebut “Tri”. Di sebuah rekaman video-nya, saya melihat penjelasannya bahwa ketika bicara Tritunggal, maka yang dibicarakan itu adalah "aspek-aspek di dalam diri Allah". Setelah saya menyimak seluruh penjelasannya, maka dapat disimpulkan bahwa “aspek-aspek” yang dimaksudkan itu adalah 1) Wujud Allah yaitu Bapa; 2) Firman yaitu “kata-kata/pikiran Allah”; dan 3) Roh Allah yaitu hidup ilahi-Nya. Jadi, “Tritunggal” menurut Bambang adalah “3 aspek didalam satu pribadi”. Pendapat seperti ini tentu saja akan menentang begitu banyak ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan ke-pribadi-an dari Sang Bapa, Sang Firman dan Roh Kudus.

Jadi, kita tak boleh menafsirkan 1 Kor 8:6 tanpa melihat ayat-ayat lain yang berhubungan dengan ayat tersebut (mis: Yoh 1:1; 1 Yoh 5:20, Tit 2:13, Ibr 1:8, dsb).

Selanjutnya, Bambang berkata bahwa “Firman Allah” berdiam dalam Bapa (Yoh 1:1 dan Yoh 8:42). Kesimpulan seperti ini, yaitu bahwa logos yang adalah “kata-kata/pikiran Allah” berdiam dalam diri Bapa, tentu saja akan menentang kata “pros” (“bersama-sama dengan”) dalam Yoh 1:1 yang sudah dijelaskan diatas.

Lalu bagaimana dengan Yoh 8:42? Mari kita lihat ayatnya:   “Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.’”

Rupanya yang menjadi dasar argument Bambang terletak pada kata-kata “sebab Aku keluar dan datang dari Allah.” Jadi, logos/Firman (“kata-kata/pikiran Allah”) itulah yang “keluar” dari dalam diri Bapa. Sama halnya dengan Bambang Noorsena, Pdt. Teguh Hindarto juga memahami seperti itu.

Bagaimana menjawab hal ini? Dalam menafsirkan sebuah ayat, kita tak boleh langsung memahami “kata per kata” saja tanpa melihat keseluruhan kalimat atau konteksnya. Tindakan seperti inilah yang menyebabkan seringkali terjadinya “salah tafsir”. Kalimat “sebab Aku keluar dan datang dari Allah,” tidak boleh mengabaikan kalimat selanjutnya: “Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.” Dengan melihat konteksnya, maka kata-kata “keluar dan datang” bukan berarti sesuatu yang ada didalam diri Bapa itu yang keluar/datang, tetapi ini bicara tentang pelayanan/jabatan yang diemban Yesus. Diayat itu, Yesus sedang menjelaskan siapakah diri-Nya yang sesungguhnya kepada orang-orang Yahudi yang menolak dan bahkan akan membunuhnya (bdk. ay 37, 40). Yesus mengatakan bahwa Dia “keluar dan datang dari Allah,” dalam pengertian bahwa Dia “diutus oleh Bapa”.

Noorsena kemudian mengatakan bahwa “Bapa, Putra dan Roh Kudus ‘satu’ bukan ‘bersatu’ (seperti satunya pikiran dan roh saya dalam wujud saya).” Ini disimpulkan berdasarkan pemahamannya bahwa Firman/logos dan Roh Kudus berada didalam diri Allah, maka ketiganya “satu”. Dalam makalahnya itu, Bambang mengatakan bahwa Bapa yang adalah Allah, Putra adalah Allah dan Roh Kudus yang adalah Allah (menurut gereja Barat), itu sebenarnya “bersatu” dalam hakikat ke-Allah-an bukan “satu” hakikat. Jadi dia mempersalahkan gereja Barat yang mengklaim bahwa Bapa, Anak dan Roh kudus itu 3 pribadi tetapi satu hakekat dan sepertinya berasumsi bahwa 3 pribadi itu bukan “satu Allah” tetapi “bersatu” atau terdiri dari “beberapa”. Klaim seperti ini tentu saja tak cocok dengan pandangan gereja Barat, karena gereja Barat mendasari ajaran Tritunggal bukan hanya pada satu atau 2 ayat saja, namun pada keseluruhan ayat-ayat yang ada di dalam Kitab Suci. Alkitab bukan hanya mencatat ke-Esa-an Allah (Ul 6:4; 1Kor 8:4; 1Tim 2:5, dsb), tetapi juga “kejamakan tertentu” (Kej 1:26; Maz 2:7; 110:1; Hos 1:7; Ibr 1:8, dsb). Dengan menggabungkan kedua kelompok ayat ini, maka muncullah doktrin Allah Tritunggal!

Kesimpulan dan penerapan

  • Keberadaan Logos/Sang Firman yang dimaksudkan Yohanes dalam Injilnya pasal satu ayat satu, adalah keberadaan yang tanpa titik awal.
  • Istilah “Logos” yang dimaksudkan bukanlah menunjuk pada “ucapan/kata-kata/pikiran Allah” semata, tetapi adalah suatu pribadi yang memiliki akal budi, emosi dan kehendak. Logos/Anak Allah yang berpribadi itulah yang diutus datang kedunia menyelamatkan orang berdosa.
  • Dalam seminar-nya di Palu, Bambang Noorsena memamerkan kefasihannya berbahasa Arab, Aram dan Ibrani. Ada seorang teman saya yang awalnya sepaham dengan saya tentang ketritunggalan Allah. Tetapi saat melihat “kefasihan” Noorsena yang selalu menggunakan bahasa-bahasa timur tersebut, dia akhirnya mengikuti pandangan Bambang. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, “kehebatan” seperti itu janganlah dijadikan acuan untuk memastikan kebenaran ajarannya. Ujilah segala sesuatu berdasarkan Kitab Suci!
  • Percayalah pada Kitab Suci yang mengajak manusia untuk beriman pada Anak Allah yang dapat menyelamatkan orang berdosa (Yoh 3:16-17). Manusia tidak diselamatkan karena iman pada “kata-kata Allah”!



Catatan:

(1) KS-TDB, hal. 1604, Cetakan 2006
(2) Apa yang sebenarnya Alkitab ajarkan, hal. 41. Penerbit: Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, cet. 2009.
(3) Paul Enns, The Moody Handbook Of Theology, hal. 263.
(4) Charles C. Ryrie, Teologi dasar 1, hal. 354
(5) Ibid, hal. 353
(6) http://bambangnoorsenacenter.wordpress.com/2012/05/22/keesaan-allah-dalam-dialog-teologis-kristen-islam/
(7) http://www.facebook.com/notes/shem-tov/sekte-yahweh/463754383810
(8) https://www.facebook.com/ajax/sharer/?s=37&appid=2309869772&p%5B0%5D=10151723237659473&profile_id=198045829472&share_source_type=group
(9) Bambang Noorsena, Jangan sebut saudaramu kafir, hal. 58
(10) http://bambangnoorsenacenter.wordpress.com/2012/05/22/keesaan-allah-dalam-dialog-teologis-kristen-islam/
(11) Bambang Noorsena, Jangan sebut saudaramu kafir, hal.61
(12) Ibid, hal. 64
(13) Ibid, hal. 67
(14) Bambang Noorsena, dalam makalah seminar di Palu, tanggal 8-10 Oktober 2013: Tiga arus pemikiran mengenai ajaran Tritunggal dan hubungannya dengan Tauhid (Monotheisme), hal. 8
(15) Mangapul Sagala, Firman menjadi daging, hal. 61
(16) Ibid, hal. 62
(17) Budi Asali, Eksposisi Injil Yohanes
(18) Bambang Noorsena, dalam makalah seminar: Tiga arus pemikiran mengenai ajaran Tritunggal dan hubungannya dengan Tauhid (Monotheisme), hal. 1, Palu, tanggal 8-10 Oktober 2013.
(19) Ibid, hal. 2
(20) http://bambangnoorsenacenter.wordpress.com/2012/05/22/keesaan-allah-dalam-dialog-teologis-kristen-islam/
(21) Bambang Noorsena, The History of Allah, hal. 144
(22) Mangapul Sagala, Firman menjadi daging, hal. 47
(23) Ibid, hal. 48. (dikutip dari R. Bultman, The Gospel, hal. 21).
(24) Ibid, hal. 48, 49. (dikutip dari E. Harris, The Prologue, hal. 197).
(25) Bambang Noorsena, dalam makalah seminar: Tiga arus pemikiran mengenai ajaran Tritunggal dan hubungannya dengan Tauhid (Monotheisme), hal. 11, Palu, tanggal 8-10 Oktober 2013.