Jumat, 25 Juli 2014

TANGGAPAN ATAS PERNYATAAN PDT DR YAKUB NAHUWAY TENTANG PEMILU 2014


Oleh: Albert Rumampuk


 
Berikut adalah tanggapan saya terhadap pernyataan Pdt Yakub Nahuway yang dimuat dalam situs TRIBUNNEWS.COM (TC), Jakarta. [1]




TC: Ketua Umum Persekutuan Gereja Pantekosta di Indonesia (PGPI), Pdt Dr Jacob Nahuway, mengatakan presiden Indonesia haruslah berlatar militer.
Hal tersebut disampaikan Jacob karena Indonesia membutuhkan presiden yang bersikap tegas.

TANGGAPAN SAYA:
Pdt Yakub Nahuway juga adalah gembala sidang di Gereja Bethel Indonesia 'Mawar Sharon' di Jakarta yg punya ribuan jemaat. Sebagai Pdt besar/gembala/pemimpin, saya sangat menyayangkan ketidaknetralan Nahuway dlm pilpres kali ini. Memang benar bhw seorang pdt juga punya hak suara, tapi tetap tdk boleh mengarahkan jemaat utk memilih capres tertentu. Mengapa demikian? Karna jemaat juga punya hak suara sendiri-sendiri yg tentunya tidak boleh diintervensi oleh siapapun juga. Atas dasar apa Yakub menyuruh jemaat pilih presiden yg berlatar militer? Hanya supaya bisa "tegas?" Apa memang ada jaminan jika presiden kelak dari militer maka dia pasti tegas?

TC: "Capres harus berlatar belakang militer. Negara kacau balau pasca Soeharto," ujar Jacob saat menjadi pembicara dalam seminar 'Peranan Gereja Membangun Politik Bersih dan Berkualitas Dalam Pemilu 2014' di GBI Mawar Sharon, Jakarta, Senin (10/2/2014).
Menurut Jacob, presiden yang dimiliki Indonesia dari unsur sipil tidak berhasil sejak reformasi bergulir.

TANGGAPAN SAYA:
Aneh sekali pernyataan Yakub Nahuway ini. Apakah dia tidak tahu bahwa Susilo Bambang Yudhoyono itu juga berlatar belakang militer? Jadi masa pemerintahan SBY itu juga kacau balau? Pastilah demikian adanya bukan? Ini adalah akibat logis dari pernyataan Nahuway "Capres harus berlatar belakang militer. Negara kacau balau pasca Soeharto." Lalu bagaimana bisa Nahuway melontarkan pernyataan "presiden Indonesia haruslah berlatar militer... supaya bisa tegas...dan berhasil??" Saya melihat disini Nahuway telah berlaku cacat pikir. Dia sebetulnya sedang menentang klaimnya sendiri! Soeharto mantan militer dan memimpin dgn sukses/berhasil. SBY juga mantan militer dan tidak berhasil dalam memimpin Indonesia??? Lalu mana yg benar, mantan militer bisa memimpin dgn baik/berhasil atau mantan militer tdk bisa memimpin dgn baik?
Ucapan Nahuway yg mengatakan: "presiden yang dimiliki Indonesia dari unsur sipil tidak berhasil sejak reformasi bergulir." Sama saja mengatakan bahwa Habibie, Gus Dur, Megawati, tidak berhasil. Benarkan mrk tidak berhasil? Bukankah ada sisi positif/keberhasilan tertentu yg mrk capai?

TC: Jacob melanjutkan bahwa calon presiden juga harus sudah kaya karena ketika berkuasa tidak akan mencari kekayaan untuk memperkaya dirinya.
"Koruptor itu karena belum cukup makan dan minum," kata dia.

TANGGAPAN SAYA:
Bagaimana mungkin gaji Presiden RI beserta tunjangannya sebesar Rp 62.497.800 per bulan dan dana operasional atau taktis untuk Presiden sebesar Rp 2 miliar per bulan bisa dikatakan "belum cukup makan dan minum???". [2]
Raja Israel kedua yaitu Daud hanya seorang gembala domba yg miskin. Tapi bagaimana saat dia dinobatkan jadi raja Israel? Adakah skandal korupsi yg ditemukan oleh "KPK" saat itu??? "Keharusan kaya" memang adalah salah satu doktrin favorit dari para Pdt2 didenominasi tertentu (termasuk juga ajarannya Yakub Nahuway). Menurut saya, teologia kemakmuran yg dijunjung tinggi Yakub Nahuway cs, sangatlah berpengaruh atas pengambilan sikapnya dlm pilpres barusan. Sebuah teologia pincang yg hanya dicomot secara asal tanpa memperhatikan bagian teks Alkitab lainnya. Jika seorang pemimpin harus sudah kaya agar tidak korupsi, maka konsekwesinya adalah seorang gembala jemaat yg juga memimpin sebuah gereja juga harus kaya supaya tidak korupsi. Begitu? Ini aturan darimana? Keharusan kaya yg diusulkan Nahuway utk seorang capres buat saya adalah omong kosong belaka terlebih tak punya dasar KS.

Seluruh pernyataan Yakub Nahuway diatas tak punya dasar argumentasi yg valid. Itu hanyalah tipu daya darinya agar jemaat Kristen Indonesia, khususnya jemaat gereja bethel dan Pantekosta mau memilih Prabowo. Ada apa dibalik sikap ngotot Nahuway dalam mendukung Prabowo sampai-sampai menandatangani surat edaran atas nama organisasi gereja untuk memilih capres tertentu bahkan mengadakan ibadah ucapan syukur kemenangan Prabowo - Hatta?? [3]  Mungkinkah ada "udang dibalik batu?"
Saya tidak habis pikir, mengapa acara ibadah yg seharusnya fokus secara full kepada Tuhan malah di pakai untuk orasi politik, bahkan menjelek-jelekkan capres yg lainnya. Memalukan...

Untuk para "Pdt/hamba Tuhan," ingat, jemaat Kristen tak butuh seorang "Pdt" yg "matre," apalagi suka menjual nama Tuhan/Kitab Suci hanya demi "sesuap nasi dan air putih."

"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Mat 6:24)

Tanggapan saya ini jangan dianggap sebagai sebuah serangan utk menjelak-jelekkan Pdt. Yakub Nahuway dan gerejanya. Ini sy berikan agar supaya yang bersangkutan bisa menyadari kesalahannya dan kalau bisa segera bertobat.


Sumber:
[1] https://www.google.com/url?q=http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/02/10/ketua-umum-gereja-pentakosta-capres-harus-berlatar-tni&sa=U&ei=qG_SU_26HtXm8AWPrYKICQ&ved=0CAYQFjAA&client=internal-uds-cse&usg=AFQjCNH6qS8sxJTAJrIFWfiKs1ONN6H8jw

[2] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0CCoQFjAC&url=http%3A%2F%2Fnews.detik.com%2Fread%2F2011%2F01%2F21%2F114718%2F1551556%2F10%2Fgaji-sby-rp-62-juta-dana-taktis-rp-2-miliar&ei=CnLSU_XlM46SuAS854DABQ&usg=AFQjCNF6NR3M33-2bN4PVYnbs7nDiEpOiA&sig2=wqnT29R5AyfCy8VR6tuGwQ&bvm=bv.71778758,d.c2E   



[3] http://reformata.com/news/view/7789/dukung-prabowo-pgpi-tebar-surat-edaran
http://www.youtube.com/watch?v=aTj4IUO8MWg

Minggu, 02 Maret 2014

RABU ABU



Oleh: Yabina Ministry




“Ada pertanyaan dikalangan jemaat gereja tertentu karena belakangan ini di gerejanya diperingati perayaan Rabu Abu yang tahun ini jatuh pada tanggal 5 Maret 2014. Perayaan apakah itu?”



Rabu Abu atau dies cinerum (bhs Latin) dan ash Wednesday (bhs Inggeris) adalah hari pertama dari 40 hari puasa sebelum Paskah. 40 hari yang diisi puasa wajib dikenal sebagai perayaan Lent meniru lamanya puasa yang pernah dilakukan oleh Musa, Elia dan Yesus (40 hari tidak termasuk 6 hari minggu dimana hari minggu dianggap hari kemenangan karena Tuhan Yesus telah bangkit yang jatuh pada hari minggu).

Gagasan puasa dengan bermandikan abu dilandaskan pengalaman dalam Perjanjian Lama (Bil.19:9,17; Ayb.42:6; Yer.6: 26; Dan.9:3; Jun.3:6) yang juga disebut dalam Perjanjian Baru (Ibr. 9:13), dimana mereka yang mengaku dosa dan bertobat melakukan perkabungan dengan menaburkan abu ke tubuhnya memohon pengampunan Tuhan, dalam PL Abu kurban bakaran yang digunakan adalah abu kurban bakaran lembu muda.

Dalam sejarah gereja, perayaan Rabu Abu berkembang dalam tradisi gereja Katolik dan tercatat dalam Sakramen Gelasian (abad ke-7)  dan juga Gregorian (abad ke-8). Pada abad ke-11 kemudian dirayakan sebagai bagian liturgi mengawali 40 hari puasa sebelum paskah (lent) dimana disusul perayaan Hari Kebangkitan Yesus.

Dalam Rabu Abu, abu yang digunakan adalah abu pembakaran daun palem yang digunakan dalam perayaan minggu palem pada tahun sebelumnya dan seperti dalam Perjanjian Lama melambangkan pengakuan dosa dan pertobatan untuk memohon pengampunan dosa, dan dilakukan didepan altar pada saat permulaan misa. Upacara umumnya dipimpin pastor dengan menaburkan abu yang telah diberkati keatas kepala atau mengoleskan abu palem yang biasanya dicampur air suci atau minyak zaitun ke dahi umat dalam bentuk tanda salib disertai ucapan: “Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej.3:19).

Ketika terjadi skisma gereja pada tahun 1057, Gereja Orthodox Timur tidak merayakannya sekalipun mereka merayakan lent dalam bentuk berbeda sedangkan Gereja Roma Katolik meneruskan perayaan Rabu Abu itu. Sejak Reformasi (1517) gereja Lutheran dan Anglican tetap merayakannya tetapi mereka meniadakan penggunaan abu maupun praktek puasa, sedangkan umumnya Gereja Reformasi (Protestan) dan gereja-gereja bebas umumnya melepaskan perayaan itu dengan pengertian bahwa yang penting bukan lambang pertobatan melainkan pertobatan batin yang ditandakannya dan karena dalam Alkitab semua hari dipandang sama saja maka tidak perlu ada hari khusus atau yang dianggap suci untuk merayakan hal-hal yang tidak disuruh Yesus.

Sejak Konsili Vatikan II (1962-63) dimana mulai terjalin hubungan dekat antara gereja Roma Katolik dan gereja-gereja Reformasi, mereka saling melihat kekayaan tradisi dalam penanggalan gereja masing-masing, banyak gereja Protestan mulai tertarik menggali kembali perayaan Rabu Abu, itulah sebabnya masakini beberapa gereja mempraktekkan perayaan Rabu Abu sekalipun pada umumnya tanpa menggunakan abu dan hanya lambang salib dan tidak menjalankan puasa seperti yang dilakukan gereja Roma Katolik.

Dibalik kegairahan kembali akan ritual Rabu Abu dan Puasa yang menyusulnya di kalangan gereja-gereja masakini, kita diingatkan untuk tidak mengulang kesalahan umat Israel yang disampaikan Firman Tuhan melalui peringatan nabi Yesaya (Yes.58) tentang ritual Perjanjian Lama yang cenderung menekankan bungkus tetapi mengabaikan isi, melainkan agar menjadikan bungkus itu menyatu dan sesuai dengan isinya:

58:3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu.

58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku!
Tentang Puasa, Tuhan Yesus juga mengingatkan agar kita menggunakan bungkus yang baru agar menyatu dengan isi yang baru sehingga keduanya terpelihara seperti yang ditulis sesuai yang ditulis oleh Matius (9:17, lih.juga.Mar.2:22 dan Luk.5:37-38):

Mat 9:17 "Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."


A m i n !


Sumber: Yabina Ministry - http://www.yabina.org/

Minggu, 10 November 2013

KRISTEN DAN AGAMA-AGAMA LAIN




Oleh: Pdt. Budi Asali M.Div


Amsal 14:12 - “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”.
Amsal 16:25 - “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut”.
Amsal 12:15 - “Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak”.

Jalan orang berdosa bisa benar dalam anggapannya sendiri, lebih-lebih kalau ia melakukan kebaikan atau mempunyai agama secara lahiriah / sebagai kedok dari kemunafikannya, atau ia telah melakukan reformasi sebagian dalam kehidupannya, upacara-upacara agama (misalnya baptisan), dan semangat yang buta (misalnya jihad), dan sebagainya. Mereka mengkhayalkan bahwa dengan semua ini mereka akan pergi ke surga (Matthew Henry).

Keil & Delitzsch: “The rightness is present only as a phantom, for it arises wholly from a terrible self-deception; the man judges falsely and goes astray when, without regard to God and His word, he follows only his own opinions” (= Ke-benar-an hanya ada sebagai suatu khayalan, karena hal itu muncul sepenuhnya dari suatu penipuan yang buruk sekali terhadap diri sendiri; orang itu menilai secara salah dan tersesat, pada waktu, tanpa mempedulikan Allah dan FirmanNya, ia hanya mengikuti pandangannya sendiri).

Adam Clarke: “it may be his own false views of religion: he may have an imperfect repentance, a false faith, a very false creed; and he may persuade himself that he is in the direct way to heaven” (= itu bisa adalah pandangannya yang salah tentang agama: ia bisa mempunyai pertobatan yang tidak sempurna, suatu iman yang palsu, suatu pengakuan iman yang sangat salah; dan ia bisa membujuk / meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia ada dalam jalan yang langsung menuju surga).

Yang dimaksud dengan ‘jalan’ dalam Amsal 14:12 di atas tentu bukan jalan duniawi, tetapi jalan secara rohani. Dalam dunia ini ada banyak ‘jalan’, yaitu agama-agama yang beraneka ragam. Banyak orang yang berkata bahwa semua agama itu sama. Tetapi ini adalah pendapat yang salah. Memang kalau kita hanya melihat pada hukum-hukum moral / etika, atau apa yang dilarang dan apa yang diharuskan / diperintahkan, maka semua agama mempunyai banyak persamaan, dan hanya sedikit perbedaan. Misalnya: semua agama melarang berdusta, berzinah, membenci / membunuh, kurang ajar kepada orang tua, dan sebagainya.
Tetapi begitu kita melihat pada doktrin, maka semua agama berbeda, bahkan bertentangan satu dengan yang lainnya. Dan kristen, kalau itu mau disebut sebagai suatu agama, secara doktrinal merupakan agama yang paling berbeda dibandingkan dengan agama-agama yang lain.

Penerapan: Karena itu, kalau ada orang yang tidak senang doktrin, dan hanya senang pada ajaran-ajaran yang bersifat praktis seperti moral dan etika, sebetulnya tak terlalu jadi soal bagi orang itu apakah ia beragama kristen atau beragama lain, apakah ia mengikuti gereja kristen yang benar atau yang sesat.

Dan perbedaan-perbedaan antara Kristen dan agama-agama lain itu justru merupakan perbedaan-perbedaan yang bersifat prinsip / dasar, seperti:


I) Pengakuan terhadap Yesus Kristus.

Agama kristen mempercayai Yesus Kristus sebagai:

1)   Tuhan / Allah.

Istilah ‘Tuhan’ menunjuk pada kedudukan / jabatan, sedangkan istilah ‘Allah’ menunjuk kepada ‘jenis makhluk’nya. Kristen mempercayai Yesus baik sebagai Tuhan maupun sebagai Allah!
Sedangkan agama lain / sekte paling-paling hanya menganggap Yesus sebagai orang yang baik / saleh, atau sebagai nabi.

Dalam hal ini harus diwaspadai ajaran dari sekte seperti Unitarianisme / Saksi Yehuwa, dan juga dari Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena, yang mengajarkan bahwa Yesus bukanlah ‘Tuhan’ tetapi ‘tuan’, bukanlah ‘Allah’ sungguh-sungguh tetapi hanya ‘allah kecil’. Ini SAMA SEKALI bukan ajaran kristen, karena kristen yang benar mempercayai Yesus betul-betul sebagai Allah dan Tuhan dalam arti kata yang setinggi-tingginya, setara dengan Bapa dan Roh Kudus.

Catatan: perlu diketahui  bahwa Gereja Orthodox Syria versi Bambang Noorsena menyimpang dalam hal ini dari Gereja Orthodox Syria yang asli.

2)   Juruselamat / Penebus dosa, yang membayar hutang dosa kita.

Jadi, Kristen mempercayai, sesuai dengan ajaran Kitab Suci, bahwa Yesus yang adalah Tuhan / Allah sendiri, karena kasihNya kepada manusia berdosa, mau menjadi manusia, dan lalu menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kita yang berdosa, dan seharusnya kita yang dihukum, tetapi Yesus rela menjadi pengganti bagi kita, dan memikul hukuman kita, sehingga kalau kita percaya kepada Yesus, kita tidak akan dihukum, tetapi sebaliknya diselamatkan / diampuni.

Tidak ada agama lain yang mempunyai seorang Juruselamat / Penebus dosa. Prinsip dari semua agama-agama lain adalah:

  • Manusia sendirilah yang harus membayar hutang dosanya sendiri.

    Subhadra Bhiksu: A Buddhist Catechism: “No one can be redeemed by another. No God and no saint is able to shield a man from the consequences of evil doings. Every one of us must become his own redeemer” (= Tak seorangpun bisa ditebus oleh orang lain. Tidak ada Allah dan tidak ada orang suci yang bisa membentengi seorang manusia dari konsekwensi dari tindakan jahat. Setiap orang dari kita harus menjadi penebusnya sendiri) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 590.
  • Allah, karena Ia adalah maha pengasih dan penyayang, mengampuni manusia berdosa begitu saja tanpa ada penebusan ataupun penghukuman. Dari sudut pandang Kristen, ini menunjukkan Allah itu kehilangan keadilanNya.

    Catatan: dalam persoalan pengakuan terhadap Yesus Kristus ini, Katolik sama dengan Kristen, karena Katolik juga mempercayai Yesus sebagai Tuhan / Allah, maupun sebagai Juruselamat / Penebus dosa.


II) Prinsip kekristenan adalah Allah mencari manusia.

Prinsip dari semua agama lain adalah manusia mencari Allah (dengan jalan membuang dosa, berbuat baik, berbakti, dsb).

Thomas Arnold: “The distinction between Christianity and all other systems of religion consists largely in this, that in these others, men are found seeking after God, while Christianity is God seeking after men” (= Perbedaan antara Kekristenan dan semua sistim agama lain sebagian besar terletak di sini, yaitu bahwa dalam agama-agama lain, manusia didapati mencari Allah, sedangkan Kekristenan adalah Allah mencari manusia) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 95.

Untuk bisa mengetahui yang mana prinsip yang benar / yang sesuai dengan ajaran Kitab Suci kita, mari kita melihat beberapa point di bawah ini:

1)   Kej 3:6-9 - “(6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. (9) Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: ‘Di manakah engkau?’”.

Kalau kita melihat dalam Kej 3 ini, pada waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka mereka tidak mencari Allah (Kej 3:6-7). Sebaliknya pada waktu mereka mendengar kedatangan Allah, maka mereka justru bersembunyi (Kej 3:8). Allahlah yang mencari mereka dengan memanggil: “Di manakah engkau?” (Kej 3:9). Ini tentu tidak berarti bahwa Allah tidak tahu dimana mereka berada. Allah hanya mau mereka datang kepadaNya dan mengaku dosa. Tetapi bagaimanapun juga di sini kita melihat suatu prinsip yang sudah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa untuk pertama kalinya, yaitu Allahlah yang mencari manusia dan bukan sebaliknya!

2)   Dalam Luk 19:10, Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”.

Istilah ‘Anak Manusia’ menunjuk kepada Yesus, yang juga adalah Allah sendiri. Jadi ayat ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pada waktu manusia itu terhilang dalam dosa, Allah mencari manusia untuk menyelamatkannya.

Bdk. Yeh 34:16 - “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”.

Tidak ada domba hilang yang mencari gembalanya, gembalanyalah yang mencari domba yang hilang itu.

3)   Dalam Ro 3:11 dikatakan bahwa: “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah”.

Ro 3:11 ini perlu dicamkan khususnya pada waktu kita melihat ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah, seperti:

  • 1Taw 16:11 - “Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.
  • Maz 27:8 - “Hatiku mengikuti firmanMu: ‘Carilah wajahKu’; maka wajahMu kucari, ya TUHAN”.
  • Maz 105:3-4 - “(3) Bermegahlah di dalam namaNya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! (4) Carilah TUHAN dan kekuatanNya, carilah wajahNya selalu!”.
  • Yes 55:6 - “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.
  • Amos 5:4-6 - “(4) Sebab beginilah firman TUHAN kepada kaum Israel: ‘Carilah Aku, maka kamu akan hidup! (5) Janganlah kamu mencari Betel, janganlah pergi ke Gilgal dan janganlah menyeberang ke Bersyeba, sebab Gilgal pasti masuk ke dalam pembuangan dan Betel akan lenyap.’ (6) Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup, supaya jangan Ia memasuki keturunan Yusuf bagaikan api, yang memakannya habis dengan tidak ada yang memadamkan bagi Betel”.

Ayat-ayat yang menyuruh manusia mencari Allah ini, tidak menunjukkan bahwa manusia bisa mencari Allah, dan juga tidak menunjukkan bahwa ada manusia yang mencari Allah. Manusia mungkin sekali ikut agama tertentu untuk mencari keselamatan. Mereka bisa saja mencari berkat Tuhan. Tetapi manusia tidak mungkin mencari Allah.

Tetapi benarkah manusia tidak akan pernah mencari Allah? Sebetulnya manusia bisa mencari Allah, tetapi itu baru bisa terjadi kalau Allah sudah terlebih dahulu mencari dia dan bekerja di dalam dirinya, sehingga ia lalu mencari Allah. Kalau Allah tidak mencari manusia lebih dulu dan bekerja di dalam diri manusia itu, maka manusia itu tidak akan mencari Allah.

Jadi, prinsip yang benar tetap adalah ‘Allah mencari manusia’, bukan ‘manusia mencari Allah’.


III) Keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus.

Dalam semua agama-agama lain, keselamatan didapatkan karena perbuatan baik, atau karena iman / percaya + perbuatan baik. Jadi, dalam semua agama-agama lain, perbuatan baik mempunyai andil untuk menyelamatkan manusia / membawa manusia ke surga.

Untuk menunjukkan hal itu, saya akan membahas secara singkat prinsip keselamatan dari agama-agama besar dalam dunia:

  • Yudaisme / agama Yahudi.

    Fritz Ridenour (tentang ajaran Yudaisme / agama Yahudi tentang ‘keselamatan’): “Anyone, Jew or not, may gain salvation through commitment to the one God and moral living” (= Siapapun, orang Yahudi atau bukan, bisa mendapatkan keselamatan melalui komitmen kepada satu Allah dan hidup yang bermoral) - ‘So What’s the Difference’, hal 63.
  • Agama Hindu.

    Fritz Ridenour (tentang keselamatan dalam agama Hindu): “Man is justified through devotion, meditation, good works and self-control” (= Manusia dibenarkan melalui pembaktian, meditasi, perbuatan baik dan penguasaan diri sendiri) - ‘So What’s the Difference’, hal 82.
  • Agama Buddha.

    Fritz Ridenour (tentang keselamatan dalam agama Buddha): “Man is saved by self-effort only” (= Manusia diselamatkan hanya oleh usaha sendiri) - ‘So What’s the Difference’, hal 92.
  • Agama Islam.

    Fritz Ridenour (tentang ajaran Islam tentang ‘keselamatan’): “Man earns his own salvation, pays for his own sins” (= Manusia memperoleh keselamatannya sendiri, membayar untuk dosa-dosanya sendiri) - ‘So What’s the Difference’, hal 72.

    Catatan: kata ‘to earn’ sebetulnya berarti ‘memperoleh karena telah melakukan sesuatu’.
  • Dalam agama-agama lain secara umum.

    Fritz Ridenour: “Many religions and cults admit the problem of sin, but their solution is always different from Christianity’s. While Christianity says that the only salvation from sin is faith in Jesus Christ and His atoning death on the cross, other religions seek salvation through good works or keeping rules and laws” (= Banyak agama dan sekte mengakui problem dosa, tetapi solusi mereka selalu berbeda dengan solusi dari kekristenan. Sementara kekristenan mengatakan bahwa satu-satunya keselamatan dari dosa adalah iman kepada Yesus Kristus dan kematianNya yang menebus di salib, agama-agama lain mencari keselamatan melalui perbuatan-perbuatan baik atau pemeliharaan peraturan-peraturan dan hukum-hukum) - ‘So What’s the Difference’, hal 17.
  • Agama Katolik.

    Dalam persoalan ini Roma Katolik termasuk dalam kategori agama lain, karena dalam Roma Katolik:

    1. Baptisan dianggap mutlak perlu untuk keselamatan, padahal baptisan jelas termasuk perbuatan baik / ketaatan.
    2. Dipercaya adanya Mortal sin (= dosa besar / mematikan) dan Venial sin (= dosa kecil / remeh). Mortal sin dianggap bisa menghancurkan keselamatan seseorang. Jadi, supaya tetap selamat seseorang harus menjauhi mortal sin. Lagi-lagi terlihat bahwa ketaatan seseorang punya andil dalam keselamatannya.
    3. Dipercaya adanya api penyucian, ke dalam mana semua ‘orang percaya’ yang kurang sempurna hidupnya, akan masuk; dan surga, ke dalam mana orang percaya yang kehidupannya memenuhi standard Tuhan, akan masuk.

      Bahwa Katolik menekankan pentingnya perbuatan baik untuk keselamatan / masuk surga, juga bisa terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

      • Fritz Ridenour: “Roman Catholicism teaches that faith is just the beginning of salvation, so the believer must constantly work throughout his life to complete the process” (= Roma Katolik mengajar bahwa iman hanyalah permulaan dari keselamatan, sehingga orang percaya harus terus menerus bekerja dalam sepanjang hidupnya untuk melengkapi proses itu) - ‘So What’s the Difference’, hal 41.
      • Fritz Ridenour: “The Catholic believes that good works are necessary for salvation” (= Orang Katolik percaya bahwa perbuatan baik perlu untuk keselamatan) - ‘So What’s the Difference’, hal 45.
      • Fritz Ridenour (tentang keselamatan dalam Roma Katolik): “Salvation is secured by faith plus good works - as channeled through the Roman Catholic Church” (= Keselamatan dipastikan oleh iman ditambah perbuatan baik - seperti yang disalurkan melalui Gereja Roma Katolik) - ‘So What’s the Difference’, hal 45-46.

Dalam agama kristen / kekristenan, kita bisa selamat hanya karena iman / percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sama sekali bukan karena perbuatan baik kita. Jadi, dalam agama kristen, sekalipun perbuatan baik itu juga harus dilakukan, tetapi perbuatan baik itu sama sekali tidak punya andil dalam menyelamatkan kita / membawa kita ke surga.

Bahwa Kitab Suci memang mengajarkan bahwa perbuatan baik sama sekali tidak mempunyai andil dalam keselamatan, terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

  • Kis 15:1-11 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. (3) Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: ‘Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.’ (6) Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: ‘Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendakNya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, (9) dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? (11) Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.

    Bdk. ay 11b dengan Rom 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
  • Rom 3:24,27-28 - “(24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. ... (27) Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
  • Rom 9:30-32 - “(30) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah memperoleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. (31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. (32) Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan”.
  • Gal 2:16 - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat”.
  • Gal 3:6-11 - “(6) Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (7) Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. (8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’ (9) Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (10) Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’ (11) Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: ‘Orang yang benar akan hidup oleh iman.’”.
  • Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
  • Fil 3:7-9 - “(7) Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. (8) Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, (9) dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.
  • Bahwa perbuatan baik tidak mempunyai andil dalam keselamatan seseorang, juga bisa terlihat dari selamatnya penjahat yang bertobat di atas kayu salib, padahal ia hanya percaya kepada Kristus (pada akhir hidupnya) dan boleh dikatakan tidak mempunyai perbuatan baik.

    Luk 23:42-43 - “(42) Lalu ia berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.’ (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”.


-AMIN-