Jumat, 17 April 2015

YESUS TURUN KE DALAM NERAKA: PEMBAHASAN KALIMAT TURUN KE DALAM KERAJAAN MAUT DALAM KREDO RASULI




Oleh: Albert Rumampuk



Biasanya gereja-gereja Protestan selalu mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli dalam kebaktian Minggu. Gereja kita bahkan mengucapkan hal itu disetiap minggunya. Tetapi apakah saudara memahami setiap kata-kata yang tercantum didalamnya? Apa makna/tujuan mengucapkan hal itu?

Dalam PA kali ini kita akan membahas sebuah kalimat yang terdapat dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli, yaitu kata-kata “turun ke dalam kerajaan maut.”
Ada cukup banyak penafsiran terhadap kalimat ini dan jika kita adalah seorang yang kritis/jemaat yang baik, maka seharusnya kita berusaha memahami atau setidaknya mempertanyakan kata-kata tersebut.


Latar belakang kata-kata “turun ke dalam kerajaan maut”

Istilah “Pengakuan Iman Rasuli” (Latin: Symbolum Apostolorum) bukan berarti ditulis oleh para rasul/murid Yesus seperti cerita legenda dimana setiap rasul menyumbangkan satu pasal (1), tetapi bahwa isinya sesuai dgn ajaran para Rasul di Alkitab. Pada mulanya kalimat “turun ke dalam kerajaan maut” itu tidak ada. Ini baru ditambahkan pada sekitar tahun 390 M (2)  Dalam bahasa Latin-nya “descendit ad inferna” seharusnya diterjemahkan “turun ke dalam neraka.” Ada yang menduga bahwa untuk menghilangkan kesan yang mengerikan, maka kalimat “turun ke dalam neraka” di ubah menjadi “turun ke dalam kerajaan maut.”


Tujuan diucapkannya Pengakuan Iman Rasuli.

Menurut konteks pada saat itu, pengakuan iman/Kredo dikutip pada saat baptisan dan biasanya dalam bentuk tanya-jawab. Lohse berkata: “... formula iman pertama-tama dimaksudkan sebagai (bahan) pengajaran bagi calon-calon baptisan... Kredo berfungsi sebagai suatu ikhtisar formal dari iman Kristen.” (3). Kredo bukannya hanya untuk dilafalkan berulang-ulang dalam gereja tanpa dimengerti maknanya. Itu bukan hanya sebagai aturan gereja untuk memenuhi rutinitas belaka. Pengakuan iman yg selalu diucapkan dalam kebaktian itu berfungsi untuk mengingatkan jemaat terhadap pokok-pokok ajaran Kristen/Alkitab dan untuk membentengi jemaat dari ajaran-ajaran sesat.


Macam-macam pandangan terhadap kalimat “turun ke dalam kerajaan maut.” (4)

  1. Gereja Katholik menganggap bahwa hal itu berarti setelah Kristus mati Ia pergi ke Limbus Patrum di mana orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan wahyu dan penerapan penebusan-Nya, memberitakan Injil kepada mereka dan membawa mereka ke surga. [Bandingkan dengan ajaran Andereas Samudera yg mengatakan bahwa saat Yesus mati diatas kayu salib, Ia pergi ke alam maut dan bahkan melakukan PI(5)] 
  2. Lutheran menganggap bahwa Kristus yang turun ke dalam kerajaan maut adalah awal dari Kristus yang dimuliakan. Kristus turun ke bumi paling bawah untuk mengungkapkan dan mencapai penggenapan kemenangan-Nya atas iblis dan kuasa kegelapan, dan mengumumkan hukuman bagi mereka. Sebagian kaum Lutheran menempatkan perjalanan kemenangan ini antara kematian Kristus dan kebangkitan-Nya; sekelompok lain mengatakan hal ini terjadi setelah kebangkitan.
  3. Gereja di Inggris percaya bahwa kendatipun tubuh Kristus berada dalam kuburan, jiwa-Nya pergi ke dalam kerajaan maut, khususnya ke Firdaus, tempat tinggal jiwa-jiwa orang benar, dan memberikan kepada mereka ungkapan kebenaran yang lebih penuh.
  4. Calvin menafsirkannya secara metafora, menunjukkan penderitaan akhir Kristus di atas kayu salib, di mana Ia sungguh-sungguh merasakan rasa sakit dari hempasan neraka. Katekismus Heidelberg juga berpendapat demikian. Menurut pendapat Raformed yang biasa, kalimat itu bukan saja menunjuk pada penderitaan di atas salib, tetapi juga penderitaan di taman Getsemani.
Dari seluruh penafsiran yg ada, hanya no. 4 (Calvin) yang tidak memahami kalimat itu secara literal.

Benarkah Yesus turun ke dalam Kerajaan maut/neraka?


Untuk menjawab hal ini, mari kita melihat teks berikut:

Lukas 23:43 “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’”

Alkitab mencatat bahwa setelah kematian-Nya, Yesus dan penjahat itu pergi ke Firdaus. Dimanakah lokasi Firdaus itu? Ini yg menjadi perdebatan banyak kalangan. Menurut para teolog Dispensasionalisme (misalnya Henry C. Thiessen dan Charles F. Baker), Firdaus itu bukan surga tetapi sebuah tempat penantian sementara dimana orang-orang kudus di jaman PL/sebelum Kristus bangkit itu berada. Orang yg tak percaya juga ada di Hades (6)
Benarkah pandangan tersebut?

Firdaus, adalah kata dari bahasa Persia kuno (pairidaeza) yang berarti “taman yang dikelilingi tembok”. Sedangkan kata PARADEISOS (istilah Yunani), “pertama sekali dipakai oleh Xenofon untuk taman dari raja-raja Persia.” (7)
Bagaimana arti kata itu menurut Alkitab? Dalam Kitab Suci, kata Firdaus / PARADEISOS, digunakan sebanyak tiga kali, yaitu dalam Luk 23:43; 2 Kor 12:4 dan dalam Wah 2:7. Apa arti kata “Firdaus” menurut ketiga ayat itu? Sebelum membahas Luk 23:43, mari kita lihat dua ayat yang lainnya.

  • 2 Kor 12:2-4. “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. [3] Aku juga tahu tentang orang itu, --entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya— [4] ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.”

    Para penafsir umumnya berpendapat bahwa di ayat ini, Paulus sedang membicarakan dirinya sendiri sebagai seorang Kristen yang diangkat ke sorga. Rogers berkata: “Paulus menggunakan cara dari para Rabi Yahudi yang memiliki kebiasaan dalam menggunakan kata ganti impersonal ‘seseorang’ untuk mengungkapkan dirinya sendiri. Karena itu, yang dimaksud dengan seseorang didalam Kristus yang diangkat ke sorga dalam ayat tersebut adalah Paulus sendiri.”(8) Setelah Paulus katakan bahwa “orang Kristen” itu diangkat ke “sorga”, di ayat keempat dia kemudian memperjelas bahwa orang yang diangkat ke “Firdaus” itu (disini Paulus mengganti kata “sorga” dengan “Firdaus”), sedang “mendengar kata-kata yang tak terkatakan.” Jadi, Paulus sebetulnya sedang mengidentikan kata “Firdaus” dalam ayat keempat, dengan kata “sorga” diayat kedua. Jika Firdaus bukan sorga, maka ayat kedua dan keempat menjadi saling bertentangan.    
  • Wah 2:7 “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

    Ini adalah teks selanjutnya yang mencatat kata “Firdaus”. Ayat ini berkata bahwa “pohon kehidupan” ada di “taman Firdaus”. Dimanakah “taman Firdaus” itu? Jika kita melihat dalam Wah 22:2;14 dan 19, maka disana terdapat kata-kata “pohon kehidupan” dan konteks menunjukkan bahwa pohon tersebut terdapat di “kota kudus / Yerusalem baru,” dimana terdapat tahta Allah, penyembahan dan pemerintahan yang kekal (Wah 22:3, 5). Tidak akan ada penderitaan di dalamnya (Wah 21:4) dan    “… Hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba” yang akan masuk ke sana (Wah 21:27b). Penggambaran tentang “Yerusalem baru” ini, dikontraskan dengan “lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang” yang akan diterima bagi mereka yang tidak percaya (Wah 21:8; 20:15). Sepertinya cukup jelas, “kota kudus/Yerusalem Baru” yang dimaksudkan dalam ayat 2, 14 dan 19, menunjuk pada/di “surga”. Jadi, “taman Firdaus” yang tertulis dalam Wah 2:7, rasanya identik dengan “surga”.
Nah, 2 teks tersebut sama-sama menunjukkan bahwa “Firdaus” itu adalah surga. Ada satu ayat lagi yang bicara tentang Firdaus yaitu Luk 23:43. Jikalau kata Firdaus dalam Luk 23:43 diartikan sebagai “tempat penantian sementara” (yang mereka sebut “Sheol/Hades”) atau menunjuk pada “neraka”, maka itu tak cocok dgn 2 Kor 12:2-4 dan Wah 2:7. Allah kita adalah Allah yang konsisten yang tak mungkin mengubah-ubah Firman-Nya. Maka tidak bisa tidak, kita harus memahami kata Firdaus dalam Luk 23:43 sebagai surga. Ini cocok dengan konteks ayat tersebut dimana Yesus “berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian ‘Ia menyerahkan nyawa-Nya.’”  (Luk 23:46). Karena Bapa itu ada di sorga (Bdk. Mat 6:9 – “Bapa kami yang di sorga”), maka roh Yesus pasti juga ke sorga.

Saat mengomentari Luk 23:43, Wycliffe berkata: “Firdaus merupakan istilah Persia kuno untuk sebuah taman atau tempat yang indah. Istilah itu kemudian menjadi nama untuk tempat tinggal Allah (bdg. II Kor. 12:4).”(9)

Jadi, Yesus tidak turun kemana-mana; bukan ke “tempat penantian” (seperti ajaran Katolik dan Andereas Samudera) atau ke neraka atau kemanapun juga, tetapi roh/jiwa Yesus pergi ke surga!


Dasar Kitab Suci untuk kalimat “turun ke dalam neraka/kerajaan maut”


1. Gereja Katholik menganggap bahwa hal itu berarti setelah Kristus mati Ia pergi ke Limbus Patrum di mana orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan wahyu dan penerapan penebusan-Nya, memberitakan Injil kepada mereka dan membawa mereka ke surga. [Bandingkan dengan ajaran Andereas Samudera yg mengatakan bahwa saat Yesus mati diatas kayu salib, Bapa mengirimnya ke alam maut untuk melepaskan tawanan yaitu orang-orang kudus di PL dan kedua, memberitakan Injil kepada orang-orang mati yang dipenjara di Hades (10)].


Kredo Rasuli versi Katolik bukan berbunyi “turun ke dalam kerajaan maut” tetapi “yang turun ke tempat penantian” Lalu dalam KGK 633 disebutkan “Kitab Suci menamakan tempat perhentian orang mati, yang dimasuki Kristus sesudah kematian-Nya “neraka”, “sheol” atau “hades” (Bdk. Flp 2:10; Kis 2:24; Why 1:18; Ef 4:9)...”
  1. Tanggapan saya: coba kita lihat ayatnya satu persatu:
    • Fil 2:10  “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,”
      Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa Yesus pergi ke ‘bawah bumi/alam maut/tempat penantian/neraka’ lalu menyatakan kuasa-Nya/memberitakan Injil sehingga mereka bertekuk lutut, tetapi itu hanya untuk menyatakan keilahian Yesus (bdk. Ayat 11).
    • Kis 2:24  “Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.”
      Ayat ini bicara sisi kemanusiaan Yesus, dimana tubuhnya dibangkitkan dan tak mungkin dibiarkan terus dalam kuasa kematian (bdk. Ay 31).
    • Wah 1:18 “dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”
      ‘Memegang kunci maut dan kerajaan maut’ menunjukkan bahwa nasib akhir manusia tergantung dan berada sepenuhnya dalam kekuasaan Yesus.
    • Ef 4:9 “Bukankah ‘Ia telah naik’ berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?
      Louis Berkhof: “Mereka yang mencari dukungan dari ayat ini menganggap perkataan ‘turun ke bagian bumi yang paling bawah’ sama artinya dengan ‘kerajaan maut’ Akan tetapi tafsiran semacam ini masih diragukan. Rasul Paulus berpendapat bahwa kenaikan Kristus memberikan presuposisi turun. Namun, lawan dari kenaikan Kristus ke surga adalah inkarnasi, bandingkan Yohanes 3:13. Sebagian besar para penafsir Alkitab menganggap bahwa kalimat 'bagian bumi yang paling bawah' adalah bumi itu saja. Pernyataan itu dapat diperoleh dari Mazmur 139:15 dan lebih menunjuk pada inkarnasi.” (11).

      Dikatakan bahwa “Kristus mati Ia pergi ke Limbus Patrum di mana orang-orang kudus Perjanjian Lama menantikan wahyu dan penerapan penebusan-Nya, memberitakan Injil kepada mereka dan membawa mereka ke surga.” Ini menjadi tidak masuk akal karena untuk apalagi orang-orang kudus dibritakan Injil, bukankah mereka adalah orang beriman?? Jika harus dipahami bahwa Yesus turun ke “tempat penantian” yg bersifat sementara (neraka sementara?), maka itu akan menentang Luk 23:43 dan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa neraka itu bersifat kekal (Mat 3:12b; 25:41; Wah 20:10; dsb).

      1. Andereas Samudera menggunakan 1 Ptr 3:19-20 untuk mendukung pahamnya bahwa Yesus pergi ke alam maut dan menginjil.
        “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu” (1 Petrus 3:18-20).
        Andereas Samudera
        : “Saya percaya tidak ada aliran gereja yang menolak kebenaran ini, yaitu ketika Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa-Nya di atas kayu salib, Bapa Surgawi telah mengirim-Nya dalam keadaan Roh ke alam maut untuk melakukan 2 hal. Pertama-tama melepaskan tawanan-tawanan, yaitu orang-orang kudus sebelum Tuhan Yesus, dari tahanan mereka di alam maut dan yang kedua adalah memberitakan Injil kepada orang-orang mati, yaitu kepada orang-orang penjara di Hades.”(12)

        Tanggapan saya:
        Pernyataan Andereas ini lucu, apakah dia telah mengadakan jajak pendapat diseluruh gereja-gereja tentang hal itu? Tahu darimana bahwa tak ada denominasi gereja yang menolak ajaran tersebut?? Setahu saya ada banyak gereja yang tak setuju dengan ajaran itu. Minimal saya, saya menolak tegas bahwa Yesus benar-benar turun secara harfiah untuk memberitakan Injil di Hades/neraka! Tak ada ayat yang mencatat bahwa Bapa mengirim Yesus pergi ke dalam kerajaan maut.
        Andereas kemudian mengajarkan ada 2 hal yang dilakukan Yesus di alam maut:

        • Pertama, melepaskan tawanan-tawanan yaitu orang2 kudus di zaman PL. Jawab: Jika kita bicara tentang ‘orang-orang kudus’ di PL, maka itu tentu termasuk Abraham, Elia, dsb. Apakah Yesus yang turun ke alam maut itu pergi untuk membebaskan Abraham, Elia, dan orang-orang kudus lainnya? Kenyataannya, Abraham dan Elia tidak tinggal disana. Abraham jelas ada di surga (Bdk. Luk 16:22-24). Bagaimana dengan Elia? Alkitab mencatat Elia juga telah naik ke surga (2 Raj 2:11) dan Henokh pun demikian (Kej 5:24; Ibr 11:5). Saya percaya bukan hanya Abraham, Elia, Henokh yang telah ada di surga sebelum kematian Yesus, tetapi juga termasuk Ayub, Daud, dan semua orang kudus lainnya.
        • Kedua, memberitakan Injil kepada orang-orang mati, yaitu kepada orang-orang penjara di Hades.
          Jawab: Disini Andereas menggunakan 1 Ptr 3:19 untuk mendukung ajarannya. Tetapi haruskah teks tersebut dipahami seperti itu? Perhatikan beberapa komentar berikut ini:
          Wycliffe: Waktu dari tindakan pemberitaan ini adalah pada masa pelayanan Nuh, ketika Kristus melalui Roh memberitakan Injil melalui Nuh kepada orang-orang fasik yang belakangan sudah menjadi roh-roh yang tinggal di dunia orang mati ketika Petrus menulis. Semua ini terjadi ketika Allah tetap menanti dengan sabar, dengan menunda terjadinya air bah...”   (13).
          Louis Berkhof: "Ayat ini dianggap menunjuk kepada Kristus yang turun ke dalam kerajaan maut dan menyatakan tujuan tindakan itu. Roh yang disebutkan itu kemudian dianggap sebagai jiwa Kristus, dan memberitakan Injil ini dianggap terjadi antara kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi inipun sama tak mungkinnya dengan yang lain. Roh yang disebutkan bukanlah jiwa Kristus akan tetapi Roh yang mengaktifkannya, dan oleh Roh pemberi hidup yang sama itulah Kristus memberitakan Injil. Pandangan Protestan yang umum akan ayat ini adalah bahwa di dalam Roh, Kristus memberitakan Injil melalui Nuh, pada orang-orang yang tidak taat yang hidup sebelum masa air bah. roh-roh itu ada di dalam penjara ketika Petrus menulis surat ini, oleh karena itu dapat dianggap demikian..”(14)

          Saya sepakat dengan penafsiran ini. Pemberitaan itu bukan dilakukan oleh Yesus setelah kematian-Nya di salib tetapi Yesus melalui Roh-Nya yang menggunakan  Nuh sendirilah yang pergi berkhotbah (Bdk. 2 Ptr 2:5 – “dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik;” Ibr 1:1-2 – Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,  maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.”).
          Kata kuncinya ada pada kata-kata “roh-roh yang didalam penjara”. Apa maknanya? Ini dijelaskan dengan kalimat selanjutnya: “yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah.” Kalimat ini sebetulnya menjelaskan bahwa yang menjadi sasaran pemberitaan itu adalah mereka/orang-orang yang masih hidup pada zaman Nuh, bukan saat mereka sudah mati. Mengapa disebut sebagai “roh-roh didalam penjara?” Karena pada saat Petrus menulis surat ini, mereka sudah dikubur/mati. Tetapi yang dipersoalkan Andereas disini  adalah waktu dari tindakan pemberitaan. Itu dilakukan antara kematian dan kebangkitan Kristus. Jikalau memang teks tersebut harus dimaknai seperti itu, maka sekali lagi akan menentang Luk 23:43, 46. Mungkinkah ayat-ayat Alkitab bisa saling bertentangan? Jikalau pemberitaan Injil itu tetap bisa dilakukan setelah manusia mati, maka pertanyaannya adalah: Apa gunanya? Dapatkah orang yang diinjili itu bertobat??

      2. Orang yang di Injili di alam maut bisa bertobat.

        Andereas Samudera: “Petrus menyatakan bahwa orang mati di alam roh dapat bertobat dan hidup dalam keadaan berkenan kepada Allah walaupun mereka sudah berada di alam maut: ‘Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, - karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa -, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang. Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu. Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.’ (1Petrus 4:1-6)"(15)

        Tanggapan saya:
        • Bagaimana mungkin Yesus turun ke alam maut/penantian untuk menginjil dan akhirnya mempertobatkan orang, padahal orang-orang fasik/tak beriman sudah menanggung siksaan kekal di neraka (Lihat Yudas 1:7 - “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota2 sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan2 yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.) Dalam teks itu dikatakan ‘telah menanggung’ bukan ‘akan menanggung’. Ini menunjukkan bahwa orang-orang fasik langsung ada di neraka kekal dan bukannya menanti di Hades/alam maut dan tidak ada kesempatan untuk bertobat.
        • Untuk 1 Ptr 4:6, Berkhof berkata: “Dalam kaitan ini Petrus memperingatkan para pembaca bahwa mereka tidak boleh hidup seluruhnya dalam daging dan nafsu manusia, tetapi menurut kehendak Allah, bahkan juga jika mereka harus menentang kawan-kawan mereka yang lama dan dihina oleh mereka, sebab mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Tuhan, yang siap menghakimi orang yang hidup dan yang mati. ‘Orang mati’ yang kepadanya Injil diberitakan sebetulnya belumlah mati ketika Injil itu diberitakan, sebab tujuan dari pemberitaan itu sebagian adalah ‘agar mereka dapat dihakimi menurut manusia dalam daging.’ Hal ini hanya dapat terjadi ketika mereka masih hidup dalam dunia. Bagaimanapun juga Petrus membicarakan roh-roh yang sama yang dipenjarakan, yang disebut dalam pasal sebelumnya.”(16) 
        • Maz 88:11 menunjukkan ketidakmungkinan adanya pemberitaan Injil didunia orang mati/neraka: “Dapatkah kasih-Mu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaan-Mu di tempat kebinasaan?”

2. Ada yang memahami bahwa kalimat “turun ke dalam kerajaan maut” bukan berarti Yesus turun ke neraka dan memberitakan Injil, tetapi turun ke neraka untuk mengumumkan kemenangan-Nya atas maut dan memenuhi hukuman neraka yang seharusnya ditanggung oleh manusia.

Tanggapan saya:

  • Untuk soal proklamasi yang dilakukan Yesus dalam kerajaan maut/neraka, Andereas Samudera berkata: “Ada yang menginterpretasikan bahwa itu bukan Injil yang memberi keselamatan, tetapi sekedar proklamasi kemenangan saja. Alasannya karena dalam bahasa Grika dipakai kata ‘kerusso’, (to proclaim, to announce, atau pengumuman) dalam ayat ini, bukan ‘evangelizo’ seperti pemberitaan Injil untuk orang hidup. Apa maksud Injil proklamasi ini? Coba bayangkan kisah seperti ini:
    Yesus turun di Hades, dia mengadakan KKR selama dua malam di dunia orang mati yang telah terpenjara disana beribu-ribu tahun, dan kira-kira Ia berkata begini: ‘Hai orang-orang mati yang berdosa! Aku datang kemari hendak memberitahu kamu bahwa Aku telah mengalahkan si iblis dengan ketaatan-Ku kepada perintah Allah. Sejak sekarang orang-orang di atas bumi sana yang percaya kepada-Ku akan diselamatkan dari hukuman neraka dan bahkan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Tetapi ini hanya berlaku bagi mereka yang masih hidup sekarang, tidak untuk kalian. Kalian akan tetap binasa di lautan api karena dosa-dosamu dahulu. Sekian pengumuman-Ku, selamat tinggal!!!!’
    bila injil yang diberitakan tak dapat menyelamatkan orang-orang mati di alam maut, proklamasi kemenangan Yesus disana hanya akan merupakan ejekan terhadap mereka yang malang itu. masakan Yesus jauh-jauh turun ke dasar alam maut hanya untuk menyampaikan pengumuman semacam itu? Itu kurang pekerjaan namanya! Injil baru disebut Injil bila itu menyelamatkan orang!
    Roma 1:16 - Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, ..................(Rom 1:16)(17)


    Saya setuju terutama dengan kalimat yang saya garis bawahi itu. Benar, jika itu hanya sekedar proklamasi/pengumuman, pertanyaannya adalah untuk apa Yesus memproklamirkan kemenangan-Nya? Supaya terlihat hebat/sakti? Apakah tindakan tersebut berguna buat orang-orang yang telah ada di neraka? Jika tak berguna, lalu apakah itu hanya buat iseng saja? Jangankan memproklamirkan, ‘turun ke neraka’ saja sudah bertentangan dengan Kitab Suci! Dan juga, katanya itu adalah sebuah “proklamasi kemenangan Kristus dari maut”? Ini aneh, bagaimana mungkin Yesus mengumumkan kemenangan dari maut/kematian sementara Dia masih ada dalam kuasa kematian itu? Kemenangan itu diperoleh saat Kristus bangkit dari kematian. Saat Dia bangkit, maut dikalahkan! Yesus memang tak akan pernah dibiarkan terus berada dalam kuasa maut itu (bdk. Maz 16:10). Kebangkitan/kemenangan Kristus dari kuasa maut merupakan jaminan kemenangan bagi kita yang percaya pada-Nya (bdk. I Kor 15:54-57). Dalam bahasa Yunani, kata ‘memberitakan’ dalam 1 Ptr 3:19 memang bisa juga berarti ‘berkhotbah’ (Bdk. KJV: preached = berkhotbah/memberitakan). Jadi itu bukan hanya sekedar sebuah pengumuman belaka.
  • Jikalau Yesus harus menanggung hukuman neraka lagi, setelah penderitaan-Nya di kayu salib, maka itu akan menentang perkataan Yesus sesat sebelum kematian-Nya: Yesus berkata ‘Sudah sele¬sai’ (Yoh 19:30). Ini menunjukkan seluruh karya/misi penyelamatan/penebusan-Nya telah selesai. Tak ada lagi penderitaan/siksaan yang harus ditanggung Yesus di alam maut/neraka karena semuanya sudah selesai!
  • Louis Berkhof: Alkitab sama sekali tidak pernah mengajarkan tentang Kristus yang secara harfiah turun ke dalam neraka. Lebih dari itu terdapat keberatan-keberatan yang serius terhadap pandangan ini...” (18)

3. Calvin menafsirkannya secara simbolis untuk menunjukkan penderitaan akhir Kristus di atas kayu salib, di mana Ia sungguh-sungguh merasakan rasa sakit dari hempasan neraka. Jika mula-mula Dia mengalami penderitaan secara jasmani/terlihat (menderita, disalib, mati, dikuburkan), maka selamjutnya Dia mengalami penderitaan secara rohani. Ini terjadi pada saat Ia berteriak: ‘ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?’ (Mat 27:46).

Tafsiran Calvin yg tidak memahami kalimat “turun kedalam kerajaan maut/neraka” secara literal lebih bagus dari yg menghurufiahkannya. Tetapi jika dilihat secara urut-urutan penempatan kalimat itu, ternyata kalimat tersebut ada setelah kata-kata  “menderita, disalibkan, mati dan dikuburkan...” Rasanya tidak pas jika kita memahami kalimat itu sebagai sebuah “penderitaan.” Kalimat itu ada setelah kematian Kristus bukan saat disalib. Dan juga, seluruh kalimat dalam pengakuan iman Rasuli (mulai pasal 1 sampai 12) selalu dimengerti secara literal/hurufiah, lalu mengapa hanya dalam kalimat “turun ke dalam kerajaan maut/neraka” harus dimaknai secara metafora?

4. Berbeda dengan Calvin, Charles Hodge memahaminya sebagai “... masuk ke dalam kubur, berpindah dari alam yang kelihatan ke alam yang tidak kelihatan sebagaimana terjadi pada semua orang yang meninggal.” (19).
Demikian juga dengan Berkhof, setelah membahas tafsiran-tafsiran mengenai kalimat tersebut, dia lalu menyimpulkan 2 hal: (a) Bahwa Kristus menderita sakitnya neraka sebelum kematian-Nya, di Getsemani dan di atas salib; dan (b) bahwa Ia memasuki kehinaan kematian yang terdalam (20). Jadi, kalimat itu ada hanya untuk memperjelas kematian Yesus. Tetapi jika kita harus memahami demikian, maka kata-kata dalam kredo tersebut menjadi mubazir (terjadi pengulangan-pengulangan kata). 


Bagaimana sebaiknya umat Kristen memaknai kalimat tersebut?


Jika makna literal dan simbolis dari kalimat tersebut tak dapat diterima, lantas bagaimana kita harus memahaminya? Saya akan menjawab pertanyaan ini dengan mengajukan sebuah pertanyaan: Adakah dasar Kitab Suci untuk kata-kata tersebut? Jika tak ada, lalu buat apa kita berusaha memahaminya?? Sebaiknya kita berpatokan saja pada pernyataan Rasul Paulus berikut ini:

1 Kor 15:1-5 “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.”

Inilah inti dari berita Injil yang disampaikan Paulus; bahwa Kristus telah mati, dikuburkan dan bangkit pada hari yang ketiga. Paulus katakan bahwa ketiga hal ini ada/sesuai dengan Kitab Suci. Tidak ada lagi hal yang perlu ditambahkan diantara kematian dan kebangkitan-Nya. Jika Yesus memang benar-benar turun ke dalam neraka/Kerajaan maut, maka pasti sang Rasul menuliskannya. Menambahkan sesuatu yang tidak ada dalam Alkitab sebetulnya menunjukkan ketidakpuasan terhadap Kitab Suci itu sendiri! 



Kesimpulan:

  • Sekalipun Pengakuan Iman Rasuli itu baik untuk mengingatkan jemaat akan ajaran Kitab Suci, tetapi itu tidak diharuskan oleh Alkitab. Maka jangan mempersalahkan gereja yang tidak mengucapkan kredo tersebut dalam kebaktian Minggu. 
  • Kalimat “turun kedalam kerajaan maut/neraka,” hanyalah merupakan penambahan dan menurut saya tak punya dasar Kitab suci-nya. Jika kredo tersebut harus diucapkan dalam kebaktian, maka kalimat tersebut sebaiknya dihapuskan.

Footnotes:
(1)   Bernhard Lohse, Pengantar sejarah dogma Kristen, hal. 44-45
(2)   Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol.3 Doktrin Kristus, hal.87
(3)   Bernhard Lohse, Pengantar sejarah dogma Kristen, hal. 43
(4)   Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol.3 Doktrin Kristus, hal.90-92
(5)   Andereas Samudera, Dunia orang mati, hal.45
(6)   Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, hal. 591, 592
(7)   Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, hal. 315
(8)   Welly Pandensolang, Eskatologi Biblika, hal. 96-97
(9)   The Wycliffe Bible Commentary, hal. 290
(10)   Andereas Samudera, Dunia orang mati, hal.45
(11) Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Vol.3 Doktrin Kristus, hal.88
(12) Andereas Samudera, Dunia orang mati, hal. 45
(13) The Wycliffe Bible Commentary, vol.3, hal. 1006
(14) Teologi sistematika vol.3, Doktrin Kristus, hal.88-89
(15) Andereas Samudera, Dunia orang mati, hal. 46-47
(16) Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol.3 Doktrin Kristus, hal.89-90
(17) Andereas Samudera, Dunia orang mati, hal. 45-46
(18) Teologi Sistematika, Vol.3 Doktrin Kristus, hal.91
(19) Charles Hodge, Systematic Theology Vol 2. [Grand Rapids: Eerdmans, 1993], hal 617
(20) Louis Berkhof, Teologi Sistematika Vol.3 Doktrin Kristus, hal.91-92




Rabu, 25 Februari 2015

SIAPAKAH YESUS KRISTUS DITINJAU DARI TIGA ERA KEBERADAANNYA


Oleh: Albert Rumampuk

Yesus Kristus adalah pribadi yang luar biasa. Tak ada pemimpin agama didunia ini yang sefenomenal tokoh ini. Ia bukan saja dihormati, di puji dan di sembah oleh para pengikut-Nya, tetapi juga di hina, di caci dan di anggap sebagai mahluk ciptaan belaka. Tak terelakkan pro dan kontra mengenai tokoh ini menimbulkan perdebatan yang sengit. Para sarjana dan pemuka agama melakukan diskusi/adu argumentasi tentang diri-Nya.

Jika ingin mengetahui dengan benar siapakah Yesus Kristus yang sesungguhnya, maka kita tidak boleh hanya melihat salah satu bagian dari eksistensi-Nya. Ini sangat penting, karena kalau hanya melihat satu sisi saja, maka pemahaman kita pasti keliru/menyesatkan. Misalnya: kalau melihat Yesus hanya pada saat Dia ada di dunia, maka bisa saja disimpulkan bahwa Dia hanyalah seorang manusia biasa, orang saleh, utusan Tuhan, nabi, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kita harus melihat keseluruhan keberadaan Kristus, bukan hanya saat berada di dunia, tapi saat Dia belum di dunia dan setelah Dia naik ke sorga. Inilah yang saya maksudkan dengan tiga ‘era’ keberadaan-Nya: Masa Pra-inkarnasi, masa inkarnasi dan keberadaan Kristus setelah naik ke sorga.


A.  Keberadaan Yesus Kristus dalam kekekalan masa lampau (Pra-Inkarnasi)

“Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kej. 1:26).
Kata “kita” dalam ayat diatas, merupakan kata ganti orang bentuk jamak yang menunjuk kepada Allah. Kejadian 1:26 merupakan ayat yang pertama kali mengindikasikan adanya semacam “kejamakan tertentu” dalam diri Allah. Ayat tsb mencatat adanya perundingan ilahi sebelum proses penciptaan manusia.Tetapi aneh, disini terlihat bahwa penciptaan itu dilakukan oleh lebih dari satu pribadi. Jika memang Sang pencipta itu ada dalam bentuk yang “jamak,” lalu siapakah pribadi-pribadi itu? Jika kita hanya melihat pada satu ayat ini saja, maka kita tak bisa memastikan siapa-siapakah yg dimaksudkan di ayat tsb. Tentunya kita harus mempelajari keseluruhan ayat-ayat yang berhubungan dgn teks itu, kemudian bisa menyimpulkannya dengan benar.

Kej 1:26 merupakan salah satu dasar dari doktrin Allah Tritunggal dan sebetulnya mencatat keberadaan Kristus pra-inkarnasi, namun masih belum jelas/kabur.

1.  Kekekalan Yesus Kristus
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh 1:1).

Yunani: “En arche en ho logos kai ho logos en pros ton theon kai theos en ho logos”
Kata “Firman” dalam ayat ini berbicara tentang Yesus (lihat ayat 14). Yesus Kristus sebelum hadir didunia disebut sebagai “Firman.” Bahkan, dalam teks ini Yesus dinyatakan sebagai “Allah”. Mestinya itu merupakan bukti yg sangat kuat tentang keilahian Yesus. Tetapi para Saksi Yehuwa menterjemahkan kata Yunani “THEOS” (dibagian akhir ayat tsb), dengan “suatu allah” (yang bukan Allah sejati). Seorang pengkotbah Kristen bahkan mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah ciptaan Allah, ciptaan pertama.
Tabloid Gloria: “.. Diketahui rekaman khotbah berdurasi 36 menit 48 detik ini, menyebutkan Tuhan Yesus adalah ciptaan. Hal ini berdasarkan Wahyu 3:14 yang berbunyi “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodekia : Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah” (LAI terjemahan 1974)…Yesus diciptakan Allah, namun Yesus adalah Allah itu sendiri… Selanjutnya, pengkotbah menjelaskan, bahwa Yesus itu yang keluar dari Bapa adalah ciptaan, ciptaan yang mula-mula sama dengan kita juga asalnya diciptakan. Namun perbedaannya adalah bahan kejadian (asal) kita berasal dari tanah sedangkan Yesus memakai bahan / tubuh-Nya Bapa..” (Sumber : Tim ‘Kontra Bidat-Paguyuban AMIN’, Dikutip dari Tabloid Gloria, edisi 379 – Minggu V November 2007. Ini merupakan khotbah dari Ev. Yusak Tjipto, tentang Kitab Wahyu bag. 7).
Ajaran seperti ini sungguh kacau karena secara logika-pun pernyataan diatas tak bisa diterima sebab merupakan sebuah inkonsistensi/kontradiksi. Di satu sisi si pengkotbah mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan (yang tentunya memiliki permulaan/diawali waktu). Tetapi disisi lain dia mengatakan bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri (yang tidak diawali oleh waktu). Dua hal yang saling bertabrakan!
Tetapi bagaimana dengan kesaksian Alkitab? Benarkah Yesus adalah mahluk ciptaan? Berikut adalah komentar Dr. Marantika tentang teks dalam Yoh 1:1. 
“Kata-kata ‘pada mulanya’ diterjemahkan dari ungkapan kata-kata bahasa Yunani ‘en’ yang berarti ‘di dalam’ atau ‘pada’ dan ‘arche’ yang berarti ‘purbakala’ (tanpa artikel), maka ini berarti purbakala itu tak terbatas (timeless existence). Ditambah pula dengan penggunaan bentuk ‘imperfect’ yaitu keterangan waktu ‘past continuous’ bagi kata ‘adalah’ (en), maka teranglah sudah yang dimaksudkan disini adalah masa lampau yang tak terbatas atau kekekalan masa lampau. Kata ‘bersama-sama dengan’ berasal dari kata ‘pros’ (face to face) yang dalam pikiran Yunani berarti satu kesatuan, menunjukkan bahwa Kristus yang adalah Firman itu bukan saja ada terus menerus di masa lampau yang tak terbatas (kekal), juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah” (Yesus Kristus Allah, manusia sejati, oleh Chris Marantika, Th.D, hal 15-16).
Kata ‘PROS’ dalam ayat itu yang diterjemahkan “bersama-sama dengan,” secara hurufiah berarti ‘face to face’ (berhadapan muka). Jadi, kata “Firman” di Yohanes 1:1 tentu menunjuk pada suatu pribadi. Dan keberadaan dari “Sang Firman”, merupakan keberadaan yang tanpa batas. Itulah makna kata “Pada mulanya” yang jika ditinjau dari bahasa aslinya, menunjuk pada masa lampau yang tak berawal/kekal.
Kekekalan Kristus di masa yang lampau, juga diungkapkan oleh nabi Mikha dan Yesaya, jauh sebelum kelahiran-Nya.
“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:1).
Ini merupakan nubuatan kelahiran Yesus di Betlehem, namun ditekankan bahwa Dia sudah ada sejak purbakala, sejak dahulu kala. Ungkapan ini mengandung pengertian waktu yang kekal, tiada hentinya.
“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).
Yesus disebut sebagai Bapa yang Kekal, istilah Ibraninya adalah ABI AD, yang seharusnya lebih tepat dikatakan Bapa dari keabadian / kekekalan. Disini bukan membicarakan pribadi Allah Bapa, tetapi pribadi Anak Allah (Yesus Kristus). Sebutan itu mengusulkan praeksistensi dan kekekalan; Ia menguasai zaman dan berada diatas waktu.

Para Rasul juga telah menyatakan hal ini dengan gamblang;

•    Yesus telah ada sebelum Yohanes ada (Yoh 1:15),
•    Yesus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu (Kol 1:17).

Bahkan, Yesus sendiripun bersaksi tentang diri-Nya bahwa Dia telah ada sebelum Abraham.
“Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (Yoh 8:58).
NIV/NASB: Before Abraham was born, I am (= Sebelum Abraham dilahirkan, Aku adalah).
Yohanes 1:1, menunjukkan dengan jelas tentang keberadaan Yesus Kristus sebelum berinkarnasi; Pada masa lampau yang kekal, Ia terus menerus ada, tidak pernah suatu saat Dia tidak ada, Ia kekal adanya.


2.    Yesus Kristus adalah Pencipta
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3).
Karya yang menonjol saat pra-inkarnasi adalah penciptaan.  Kitab Suci mencatat bahwa Yesus Kristus adalah pencipta segala sesuatu! “Segala sesuatu”, berarti semuanya, apapun itu !

Bandingkan dengan Kolose 1:16,
“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (Kol 1:16).
Pengertian “Segala sesuatu” disini, mencakup:
  •   Yang ada di sorga maupun di bumi
  •   Yang kelihatan dan yang tidak kelihatan
  •   Singgasana maupun kerajaan
  • Pemerintah maupun penguasa
Kata-kata “Tanpa Dia” dalam Yoh 1:3, menunjukkan bahwa Yesus adalah sumber dari segala sesuatu yang telah diciptakan. Tanpa-Nya maka tidak ada suatupun yang jadi. Dengan kata lain, tanpa Yesus, maka: Langit dan bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, para malaikat, dan segala yang ada, tidak akan pernah ada! Dengan demikian maka kata “Kita” di Kej 1:26 juga mencakup Yesus.

Kesimpulan yang dapat diambil tentang keberadaan Yesus sebelum hadir di dunia adalah:

--> “Sang Firman” yang adalah Yesus itu kekal adanya (Yoh 1:1)
--> Yesus adalah pencipta segala sesuatu (Yoh 1:3)

2 hal itu membuktikan secara tegas bahwa Yesus adalah Allah sejati/100% Allah tanpa kemanusiaan. Pada mulanya, Sang firman / Yesus bukanlah hanya sekedar kata-kata Allah saja, tetapi sejak masa lampau yang kekal Dia adalah suatu pribadi, Dia adalah Allah yang kekal, pencipta segala sesuatu!


B.    Keberadaan Yesus Kristus saat di dunia (Inkarnasi    Kristus)

Kristus berinkarnasi, menunjuk pada tindakan Anak Allah, yang mengambil bagi diri-Nya natur / hakekat tambahan yaitu natur manusia, melalui kelahiran dari seorang perawan.
“Kata ini berasal dari kata bahasa Latin IN [= in (= dalam)] + CARO / CARNIS [= flesh (= daging)]. Jadi, inkarnasi bisa diartikan ‘masuk ke dalam daging’. Tentu saja yang dimaksud dengan ‘daging’ bukan hanya tubuh, tetapi seluruh manusia.” (Christologi, oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div)
Ada orang-orang Kristen punya konsep yang salah tentang hal ini. Mereka menganggap bahwa ketika Allah berinkarnasi, Ia hanya menjadi manusia 100% saja, segala atribut / sifat-sifat keAllahan-Nya ditanggalkan-Nya. Ajaran seperti ini biasanya disebut dengan teori “Kenosis”. Tetapi apakah kata “Kenosis” harus berarti demikian?
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” Filipi 2:5-8
Teks ini dijadikan dasar oleh para penganut teori Kenosis untuk membenarkan pemahamannya. “Ajaran ini menandai doktrin bahwa Logos pada saat inkarnasi dilepaskan dari semua atribut-atribut ilahi-Nya, dijadikan sekedar suatu potensi saja, dan kemudian dalam persatuan dengan natur manusia, berkembang lagi menjadi pribadi Manusia-Ilahi.” (Teologi Sistematika, Berkhof, hal. 55).

Misalnya Matius 24:36 , disitu dijelaskan bahwa Yesus tidak maha tahu. Jadi karena Dia tidak maha tahu, maka berarti keilahian-Nya telah ditanggalkan-Nya. Tetapi, teori Kenosis ini salah! Mengapa? Karena di dalam diri Allah sama sekali tidak ada perubahan (Bdk. Maz 102:26-28). Ia tak pernah bisa berhenti menjadi Allah.
Paul Enns dalam bukunya The Moody Handbook of Theology, hal. 281 mencatat bahwa “Pengosongan” bukan merupakan pengurangan / penanggalan, tetapi merupakan penambahan. Perhatikan konteks dari Filipi 2:7-8

~    Mengambil rupa seorang hamba
~    Menjadi sama dengan manusia
~    Dalam keadaan / rupa manusia
~    Ia merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati

Jadi, pengosongan yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah menanggalkan/melepas sesuatu yang tadinya ada, tetapi justru penambahan. Apa yang ditambahkan? Yang ditambahkan adalah hakekat yang baru / yang lain, yaitu hakekat manusia. Sehingga saat Anak Allah berinkarnasi, Dia menjadi Allah dan Manusia yang sejati.
“Mengosongkan diri” adalah sebuah tindakan yang menunjukkan kerendahan hati Allah yg begitu mulia dan agung (bdk. ayat 8b). Ini ditunjukkan lewat peristiwa inkarnasi. Inkarnasi juga membuktikan bahwa sebelumnya Yesus memiliki pra-eksistensi (Yoh 1:1; 6:38).

1.   Yesus Kristus adalah manusia sejati
“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” Yesaya 7:14.
Ini adalah nubuat dari nabi Yesaya sekitar 700 tahun sebelum kelahiran Kristus. Dan dalam Matius 1:23; 2:6, nubuat itu terjadi secara tepat.
"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita” Matius 1:23.

“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel" Matius 2:6
Kelahiran Yesus dari seorang manusia (Maria), menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah anak manusia / manusia sejati. Berikut adalah beberapa alasan tentang kemanusiaan Yesus:

1.    Yesus memiliki unsur manusiawi:
  • Tubuh (Mat 26:26,28; Luk 24:39)  
  • Jiwa / roh (Mat 27:50; Luk 23:46)
2.    Ia memiliki kelemahan-kelemahan manusia:
  • Lapar (Mat 4:2)
  • Sedih (Mat 26:37)
  • Tidur (Mat 8:24)
  • Haus (Yoh 19:28)
  • Mati (Yoh 19:30)
3.    Bertumbuh seperti manusia biasa (Luk 2:40-52)

4.    Kitab suci mencatat bahwa Allah telah menjadi manusia (Yoh 1:14; 1Tim 3:16; 1Yoh 4:2)

Semua hal ini, menunjukkan bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia yang sejati. Dalam segala hal, Dia sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Dia tidak pernah melakukan dosa, Ia suci (2 Korintus 5:21; Ibrani 4:15; 7:26).
    
2.    Yesus Kristus adalah Allah yang sejati

Pada abad-abad awal, masalah kemanusiaan Yesus sangat ditentang, tetapi yang terjadi sekarang, sebaliknya; ke-Allahan-Nya yang justru ditentang.

Teologi Liberal dengan gencar mengekspresikan penyangkalan terhadap keAllahan Yesus. Kelompok Kristen Tauhid mengatakan bahwa Yesus pada mulanya adalah malaikat, Dia bukan Allah yang sejati. Saksi Yehova menganggap Yesus sebagai “allah kecil”, Dia bukan Allah dalam arti yang sebenarnya. Bahkan ada kelompok Kristen tertentu yang menganggap Yesus (Firman) itu hanyalah merupakan ‘sifat’ dari Allah tetapi bukan Allah.
Henney Sumali (dosen pakar dalam Kristen Orthodox Syria): “Suatu ketika Almarhum Nurchollis Madjid yang dipanggil akrab dengan Cak Nur bertanya Kristen Orthodox Syria, ajaran Allah Tritunggal itu penjelasan yang sebenarnya itu bagaimana? Lalu saya menjawab, yang satu adalah wujud Allah yang lain adalah sifat-sifat Allah. Dari penjelasan yang sederhana itu Cak Nur akhirnya mengetahui dan memahami apa maksud sebenarnya dari ajaran Tritunggal” kisah Henney. (Tabloid Gloria edisi 380 – Minggu I Desember 2007, halaman 6).
Pengertian Kristus adalah Allah, tidaklah berarti hanya mengatakan Ia “seperti Allah” atau Ia adalah manusia “setengah Allah” atau Ia “bersifat ilahi”. Kristus secara mutlak setara dengan Allah! Saat di dunia, Dia bukan hanya manusia sejati, tetapi juga adalah Allah yang sejati.

Bukti-bukti keilahian Kristus:

1.    Yesus Kristus memiliki sifat-sifat ilahi yang hanya  dimiliki oleh Allah:

*    Maha hadir                       
“ Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yohanes 14:23).
*    Maha tahu
“Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia (Yohanes 2:23-25).
“Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah"  (Yohanes 16:30).   
*    Maha kuasa    
“Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu” (Markus 2:10).
*    Maha suci
Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?” Yohanes 8:46 (Bdk. Ibr. 4:15; 7:26).     
*    Sifat tetap / tidak berubah
“ Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).


2.    Saat di dunia, Yesus disembah dan Dia menerima penyembahan itu.

•    Orang-orang menyembah-Nya
“Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku" (Matius 8:2).

“ Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya (Yohanes 9:35-38).
•     Murid-murid menyembah-Nya
“ Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah"  (Matius 14:33).
Ingat, dalam Mat 4:10 Yesus melarang untuk menyembah yg bukan Allah. Hanya Allah saja yg wajib disembah. Tetapi faktanya Yesus justru menerima penyembahan manusia. Itu membuktikan bahwa Dia adalah Allah itu sendiri.

3.    Yesus adalah Anak Allah
“ Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah(Yohanes 5:18).

“Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah" (Yohanes 19:7).
Pada saat itu, pada waktu Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah, semua orang-orang Yahudi tahu bahwa Ia memaksudkan diri-Nya sebagai Allah.
4.    Adanya ayat-ayat yang menunjukkan Yesus adalah Allah
“Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28)
 
“Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” (Roma 9:5)

Kitab Suci menjelaskan bahwa sekalipun Yesus adalah seorang “manusia”, tetapi   Dia tetap disebut Allah.

5.    Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah / Yahweh itu sendiri

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5).

“Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita” (Yeremia 23:5-6).
Ini merupakan nubuat tentang Yesus yang akan lahir di dunia, tetapi anehnya, Dia tetap disebut sebagai Yahweh.


Kesimpulan yang dapat diambil tentang keberadaan Yesus pada saat di dunia adalah:

--->   Yesus Kristus adalah manusia sejati
--->   Yesus Kristus adalah Allah yang sejati

Kedua hakekat ini ada di dalam satu pribadi. Dalam keadaan-Nya sebagai Allah dan manusia sejati, ada semacam dualisme dalam diri Yesus; Di satu saat sisi keAllahan-Nya yang muncul tapi disaat yang lain, sisi kemanusiaan-Nya yang muncul, tetapi dalam semua hal ini Yesus tetap satu pribadi.

Akibat dari kesatuan dua natur / hakekat dalam diri Yesus, maka Dia disebut sebagai pribadi Theanthropik (Allah dan manusia). Keberadaan Yesus Kristus sebagai Allah dan manusia sejati, berlangsung seterusnya sampai selama-lamanya.


C.   Keberadaan Yesus Kristus setelah bangkit dan naik ke sorga

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Yesus pernah mati didunia ini. Tetapi fakta juga membuktikan bahwa Dia bangkit dari kematian! Pada hari yang ketiga, Dia bangkit dari antara orang mati (Kis 26:23; Kolose 1:18). Sebagai orang beriman, kita harus percaya baik kematian maupun kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus dari antara orang mati, membuktikan bahwa Dia adalah Allah.

Namun yang jadi pertanyaannya adalah: setelah bangkit dan naik ke sorga, keberadaan Yesus seperti apa ? Dia adalah Allah sejati saja, atau Allah dan manusia, atau bagaimana?

1.    Sebagai manusia
Yang pertama, perhatikan ayat2 berikut:

“Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (
Ibrani 2:14)
“Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa” (Ibrani 2:17).
Ayat ini sedang menjelaskan sisi kemanusiaan dari Yesus, Ia sama dengan kita yaitu terlahir dari darah dan daging.
Manusia, setelah mengalami kematian, sebetulnya dia tidak berhenti ada / tidak musnah, tetapi hanya berpindah tempat ke surga atau neraka. Dia tetap seorang manusia sampai selamanya walaupun berada di alam yang lain. Demikian pula dengan Yesus, saat lahir didunia sebagai manusia, “kemanusiaan-Nya” tidak pernah berhenti, Ia tetap sebagai manusia sampai selama-lamanya.
Ibrani 2:17 mencatat bahwa dalam segala hal, Yesus sama dengan manusia. Jadi dalam hal apapun, Dia sama dengan kita, kecuali satu hal yaitu dosa. Yesus Kristus adalah manusia tanpa dosa (Ibrani 4:15; 2 Korintus 5:21).
Kedua, setelah mengalami kematian, manusia Yesus itu bangkit secara jasmani dan naik ke surga dengan tubuh jasmani-Nya.

Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka” (Lukas 24:39-40).

“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga" (Kisah 1:9-11).
Ketiga, 1 Timotius 2:5 mencatat, saat di surga, Yesus tetap seorang manusia. 

“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” 

Bandingkan dengan Ibrani 4:14-15

“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”.
Keempat, Lukas menjelaskan bahwa saat Yesus datang untuk kedua kalinya, Ia akan datang sebagai seorang manusia.
“Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati" Kisah 17:31

Bandingkan dengan Matius 16:27

“Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”             
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Yesus sebagai manusia, itu bukan hanya ketika Ia terlahir didunia, menderita di salib sampai mati, tetapi juga setelah Dia bangkit dan naik ke surga dan sampai selama-lamanya.
C. Ryrie berkata: “Kelahiran perawan merupakan cara inkarnasi. Setelah digenapi, inkarnasi tersebut merupakan suatu pernyataan Allah yg abadi. Hal ini mulai sejak kelahiran-Nya dan berlanjut terus selama-lamanya (walaupun sekarang sudah dalam tubuh yang bangkit).” (Teologi Dasar 1, hal.359)

2.    Sebagai Allah
Salah satu sifat Allah yang tidak bisa dimiliki oleh semua mahluk hidup adalah sifat-Nya yang tetap / tidak berubah. Hewan dan tumbuh-tumbuhan suatu saat akan musnah. Manusia, hanyalah mahluk ciptaan-Nya yang pada mulanya tidak ada. Tetapi Allah, tetap ada, tahun-tahun-Nya tidak pernah berkesudahan Ia kekal bukan hanya ke masa lampau tetapi juga ke masa depan.

“Aku berkata: "Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahun-Mu tetap turun-temurun!" Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan (Mazmur 102:25-28).
a)    Saat di surga Yesus disembah.

Rasul Yohanes mencatat, disurga Yesus akan menjadi sasaran penyembahan oleh segala mahluk.

 “Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: "Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi." Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: "Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!" Dan keempat makhluk itu berkata: "Amin". Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah (Wahyu 5:6-14).
      
Bandingkan dengan Filipi 2:10-11

“Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Tidak ada seorangpun manusia, malaikat atau setan yang layak menerima penghormatan, pujian dan penyembahan selain dari Allah sendiri! Disurga Yesus disembah, menunjukkan Dia adalah Allah!
b).  Yesus sendiri bersaksi; saat disurga, Dia adalah Allah yang kekal.

“Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa" (Wahyu 1:7-8).

Ayat ini, jelas berbicara tentang Yesus. Bandingkan dengan Wahyu 2:8,

"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali”
 Istilah “Alfa dan Omega” menunjuk pada kekekalan Kristus. Dia adalah Allah yang kekal.
Kesimpulan yang dapat diambil, tentang keberadaan Yesus saat disurga adalah:                         
 
--->   Yesus Kristus adalah manusia sejati
--->   Yesus Kristus adalah Allah sejati

Kedua hakekat ini tetap ada didalam diri Kristus sampai selama-lamanya.


Kesimpulan akhir
  1. Pada mulanya, sebelum Anak Allah berinkarnasi (era pra-inkarnasi), Dia adalah Allah sejati tanpa kemanusiaan
  2. Setelah berinkarnasi (saat didunia), Dia adalah Allah dan Manusia sejati
  3. Saat naik ke surga, Dia tetap Allah dan Manusia sampai selama-lamanya. 


Penerapan & Penutup

Data Kitab Suci telah menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang sejati. Saudara mau tinjau dari sisi yang manapun juga diseluruh era keberadaan Kristus, saudara tetap mendapati bahwa Dia adalah Allah seutuhnya. Terimalah Dia sebagai Tuhan dan juruselamat dalam hidup-mu, maka pengampunan dosa dan hidup yang kekal menjadi bagian anda.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yohanes 3:16-18).

“Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya  memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.” (Kis 13:39).

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Roma 10:9-10).

Bagi saudara yang telah beriman pada Yesus, bersyukurlah dan teguhkan iman saudara karena saudara ada di alamat yang tepat. Saudara menyembah Allah yang benar.
Memang ada ungkapan yang mengatakan “Banyak jalan menuju Roma”, tetapi Alkitab memberitahu bahwa hanya ada satu jalan menuju surga, yaitu lewat Yesus Kristus (Yoh 14:6).

Maukah saudara percaya pada-Nya? Semoga Tuhan memberi anugerah-Nya.





Sumber:

1) The Moody Handbook Of Theology; Paul Enns

2) Yesus Kristus Allah, manusia sejati; Chris Marantika

3) Teologi Sistematika; Louis Berkhof.

4) Christologi; Budi Asali, M.Div