Sabtu, 12 Februari 2011

KESELAMATAN DALAM KRISTUS: TANGGAPAN ATAS ARTIKEL PELAKSANAAN HUKUM TAURAT; PERTENTANGAN PAULUS DENGAN PARA MURID YESUS

Oleh: Albert Rumampuk


Sudah beberapa hari ini saya terlibat diskusi dengan seorang pengikut Sai Baba, sebuah sekte yang ada di dunia. Saya baru tahu, ternyata orang ini tidak mengakui keberadaan surga dan neraka. Bagi dia, surga dan neraka hanyalah suatu kondisi dan bukan sebuah lokasi. Apakah hal ini memang benar? Tidak! Surga itu ada, untuk membuktikan bahwa Allah itu kasih dan neraka ada, membuktikan bahwa Allah itu adil dan suci. Menurut saya, kasih dan kesucian Allah tidak akan terlihat jelas / mencolok, jika tak ada kedua hal ini. 

Saat manusia menghembuskan nafas terakhirnya, sebetulnya dia sedang pindah ke dua  tempat yang kekal yang bernama ‘surga’ atau ‘neraka’. Surga adalah tempat yang kekal bagi orang yang beriman / percaya, tetapi neraka adalah tempat yang kekal bagi mereka yang tidak beriman. Surga adalah ‘hadiah’ yang di berikan Tuhan secara cuma-cuma, tetapi neraka adalah bentuk penghukuman Allah. Alkitab mencatat bahwa ‘surga’ itu diperoleh hanya karena iman pada Kristus. Tetapi kontras dengan mayoritas agama-agama didunia, jika Kristen hanya oleh iman (Sola Fide), maka agama-agama lain mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh karena iman dan / atau perbuatan baik.

Yang mana yang benar: keselamatan karena iman atau perbuatan baik? Apakah keselamatan yang telah diterima saat beriman pada Yesus itu bisa hilang? Mengapa ada ayat-ayat tertentu dalam Alkitab yang sepertinya ‘bertentangan’ dalam menjelaskan konsep keselamatan ini? Inilah yang akan kita bahas bersama.


Definisi

Doktrin tentang keselamatan dalam Alkitab, mengajarkan bahwa hidup kekal / surga, diperoleh hanya pada saat seseorang beriman pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman yang dianugerai oleh Allah itu, tidak akan pernah hilang; sekali seseorang menjadi Kristen yang sejati / sungguh-sungguh, dia tidak akan bisa berhenti menjadi Kristen / murtad, sekali selamat, tetap selamat!


Tujuan ajaran ini

Ajaran kepastian keselamatan ini ada, bukan untuk memberi kesempatan bagi manusia untuk berbuat dosa, tapi untuk memberi kepastian keselamatan bagi mereka yang sungguh-sungguh beriman / mengasihi Tuhan!

Firman Tuhan begitu banyak mencatat keselamatan karena iman pada Kristus yang tidak dapat diperoleh dengan berbuat baik. Berikut beberapa diantaranya:

Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.
  
Ef 2:8-9 - “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
  
Ro 3:27-28 - “Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat”.
  
Ketiga ayat ini memberi penjelasan bahwa manusia selamat hanya oleh iman dan bukan karena ketaatan pada hukum Tuhan. Lalu bagaimana hubungannya dengan perbuatan baik, apakah manusia tak perlu melakukannya? Perbuatan baik harus dilakukan bukan untuk memperoleh keselamatan, namun merupakan bukti dari iman / kasih pada Allah.

Yak.2:17 - “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
  
Yoh 14:15 - "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu".

Walaupun amal saleh sama sekali tidak punya andil, tetapi sikap hidup ke arah yang lebih baik / positif pasti ada dalam diri orang yang sungguh-sungguh beriman pada Yesus. Keselamatan yang telah diberikan oleh Allah kepada seseorang, pasti berdampak pada kehidupan orang tersebut, dimana kecenderungan hidupnya bukan lagi untuk melakukan / menikmati dosa, tetapi sudah diubah oleh Tuhan untuk bertekun dalam kehidupan yang benar. Mengapa demikian? Karena saat seseorang beriman, dia pasti menerima Roh Kudus (Yoh 7:38-39; Ef 1:13-14), itulah yang akan mendorong manusia untuk menghasilkan perbuatan baik (Gal 5:22-23).

Efesus 1:13-14 “Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.”

Roh Kudus yang ada dalam diri orang yang telah percaya pada Yesus, akan menghasilkan buah Roh / perbuatan baik;

Gal 5:22-23 - “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Jadi, jika ada orang yang mengaku kristen dan telah beriman pada Yesus, tapi hidupnya kacau balau / amburadul secara konsisten (dosa menjadi gaya hidupnya), maka imannya pasti palsu!

Ajaran Sola fide (keselamatan hanya oleh iman), merupakan ajaran yang ‘unik’ yang tidak dimiliki oleh mayoritas agama yang ada. Agama-agama yang ada, mengajarkan bahwa manusia selamat bukan hanya oleh iman saja, tetapi harus ditambah lagi dengan menjalankan syariat agama / taat pada hukum Tuhan.


Apakah keselamatan juga ditentukan oleh perbuatan baik? 

Hal yang terpenting untuk menjawab persoalan ini adalah, dengan memberi pertanyaan balik: ‘Apakah manusia itu bisa berbuat baik dengan sempurna?’. Alkitab mengajarkan bahwa manusia itu bukan hanya ‘berpotensi berbuat dosa’, tapi bahkan tidak bisa berbuat baik / berdosa secara terus menerus!

Kej 8:21b - "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya".

Maz 58:4 - "Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat".

Yer 13:23 - "Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?".

Yes 64:6a - "Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor".

Bahkan nabi Yesaya-pun mengakui dengan jujur bahwa ‘kesalehan’ yang dianggap sebagai perbuatan baik itu, dihadapan Tuhan hanyalah seperti kain kotor! Bandingkan dengan Paulus yang bergumul dengan dosa yang ada dalam dirinya (Rom 7:14, 17-25). Manusia itu identik dengan dosa, tak ada seorangpun yang suci, semua manusia berdosa!

Tidak ada seorangpun yang berhak mengklaim dirinya seorang yang ‘benar’ tanpa pembenaran oleh Kristus. Dengan mengandalkan usaha / kekuatannya sendiri, mustahil untuk mencapai surga! Manusia dibenarkan, bukan karena amal saleh yang dilakukannya, tapi karena pengorbanan Kristus dikayu salib!

Tit 1:15 - "Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis".

Rom 5:9 - “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”

Kebenaran yang diperoleh berdasarkan iman pada Yesus, memunculkan satu konsekwensi: manusia itu terbebas dari dosa  / penghukuman Allah!

Seorang teman Islam mengatakan pada saya: dalam agamanya, penghapusan dosa itu diperoleh lewat permohonan ampun / maaf kepada Allah dan sesamanya. Saya lalu bertanya padanya: ‘Bagaimana jika permohonan ampun itu tak sempat dilaksanakan karena saat buat dosa,  sipendosa langsung mati?’ Orang itu menjawab: ‘Nanti akan ditimbang; jika amalnya lebih berat dari dosanya, maka akan diberi surga’. Saya Tanya lagi: ‘Bukankah natur manusia adalah pendosa yang selalu dan selalu akan jatuh dalam dosa?’ Dia lalu menjawab: ‘Dosanya akan dicuci di neraka dan setelah itu akan dimasukkan ke surga’.

Bagaimana saudara menilai konsep ‘penghapusan dosa’ seperti ini? Jika konsep ini memang benar, bukankah semua manusia yang adalah pendosa itu sudah pasti akan masuk neraka? Walaupun misalnya pada akhirnya semua muslim akan masuk surga, tapi bagaimana jika ‘pencucian’ / hukuman neraka itu berlangsung selama 10, 20, atau 100 tahun sesuai dengan tingkat dosa yang diperbuatnya?

Bandingkan dengan gambaran neraka berikut ini:

Mat 13:50 - "lalu mencampakkan orang jahat ke dalam DAPUR API; di sanalah akan terdapat RATAPAN dan KERTAKAN GIGI".

 Luk 16:23-25 - "... sementara ia MENDERIITA SENGSARA di alam maut ... aku SANGAT KESAKITAN dalam NYALA API ini. ... Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau SANGAT MENDERITA".

Mark 9:43-48 - "Dan jika tanganmu menyessatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam API YANG TAK TERPADAMKAN; [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, dimana ULAT-ULAT BANGKAI TIDAK MATI dan API TIDAK PADAM".  

Pertanyaannya: Siapakah manusia yang bisa tahan walau semenit saja dalam neraka?? Apakah ini tidak akan membuat jantung manusia berdetak dengan kencangnya?


Apakah memang manusia yang berdosa itu bisa langsung masuk surga tanpa dihukum? 

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ada seorang yang ditangkap polisi karena telah membunuh. Lalu beberapa waktu kemudian, dia harus diadili karena kasus tersebut. Tetapi sebelum waktu persidangan tiba, orang ini banyak berbuat baik untuk menebus dosanya yang telah membunuh orang tersebut. Ia menolong orang, memberi sedekah, menyumbang panti asuhan, dsb. Pada waktu persidangan, si terdakwa lalu membawa orang-orang kepada siapa ia telah berbuat baik sebagai saksi dalam persidangan. Pada waktu hakim bertanya: “Benarkah saudara telah membunuh?” Si pelaku lalu menjawab: “Benar pak hakim, tetapi saya telah banyak berbuat baik untuk menebus dosa saya, ini saksi-saksinya.”

Sekarang pikirkan, jika hakim itu waras, apakah sang hakim akan membebaskan orang ini karena telah banyak berbuat baik? Jawabannya tentu saja TIDAK! Lalu apakah hakim akan menimbang-nimbang / menghitung berapa banyak perbuatan baik dan perbuatan jahatnya, dan karena amal saleh lebih banyak, maka orang ini akhirnya dibebaskan begitu saja? Lagi-lagi jawabannya tentu saja TIDAK! Si pembunuh itu pasti dihukum!!

Tidak ada satu manusiapun didunia ini yang tahu persis, berapa banyak amal saleh dan berapa banyak kejahatan yang sudah diperbuatnya selama didunia ini. Lalu bagaimana mungkin bisa memastikan keselamatannya?? Hal ini lagi-lagi membuktikan bahwa keselamatan karena perbuatan baik, adalah konsep yang bukan hanya bertentangan dengan Kitab Suci, namun juga sangat tidak logis dan membuat jantung manusia 'berdebar-debar'!

'Surga' dan 'neraka' dalam ajaran Kristen bukanlah suatu kondisi / keadaan, tapi adalah sesuatu yang nyata. Sekali manusia ada disalah satu tempat itu, maka dia tak akan pernah berpindah ke tempat yang lain, sekali di surga tetap disurga dan sekali di neraka selama-lamanya di neraka! 

Hukuman neraka bersifat kekal:

Mat 25:41 - "Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya".

Wah 20:10 - "dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya".

Kehidupan disurga bersifat kekal

Yoh 10:28 - "dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya... "

Allah memang mengasihi manusia, tetapi Dia juga adalah Allah yang benci terhadap dosa. Dan karena itu, Dia tak akan membebaskan manusia yang berdosa itu dari penghukuman!

Nahum 1:3 - “Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah

Tanpa penebusan Kristus, maka dosa manusia itu akan dipikul selama-lamanya di neraka!


Bagaimana orang Kristen bisa memastikan keselamatannya, padahal dia sendiri belum ada disurga?

Keselamatan dalam Kristen bukan sesuatu yang dibuat-buat / diciptakan oleh orang Kristen sendiri, tapi itu adalah janji Tuhan / firman Tuhan. Ketika Tuhan berjanji, maka Dia pasti akan menepatinya.

Bil 23:19 - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

Yohanes 10:26-29 adalah salah satu ayat yang secara explicit menyatakan bahwa keselamatan yang diperoleh karena iman, itu tidak akan pernah bisa hilang!

Yoh 10:26-29 - “tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku  dan Aku mengenal mereka  dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup  yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa  sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku,  besar dari pada siapapun,  dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

Istilah ‘domba’ yang dimaksud dalam ayat ini, menunjuk pada setiap orang yang percaya / beriman pada Yesus (ayat 26). Ayat ini mencatat ciri-ciri dari domba:

[1] Beriman pada Yesus
[2] Suka mendengar Yesus / firman Tuhan
[3] Mengikuti / taat pada Yesus (firman Tuhan)

Namun, ayat ini bukan hanya mencatat ciri-ciri dari domba / orang percaya, tapi juga konsekwensi yang diterima saat seseorang memutuskan untuk sungguh-sungguh beriman pada Yesus:

[1] Dikenal Yesus
[2] Diberi hidup yang kekal (surga)
[3] Keselamatannya terjamin

Yohanes 10:28-29, merupakan janji yang sangat indah bagi semua orang percaya. Ayat ini menjelaskan adanya kepastian keselamatan yang tidak mungkin bisa hilang karena Allah sendiri yang ‘memegang’ domba-dombaNya itu.

Ada 5 hal yang dapat kita pelajari dari ayat ini:

    [1] Yesus memberi  hidup kekal kepada orang yang percaya

Ayat ini menjelasan bahwa ‘hidup kekal’ yang dimiliki  oleh orang percaya, bersumber dari Yesus. Keselamatan yang diperoleh, semata-mata hanya karena anugerah Tuhan (Sola Gratia). Tidak ada apapun dari dalam diri manusia yang bisa menjadikannya selamat. Perbuatan baik, ketaatan dan karunia yang dimiliki, sama sekali tidak mempunyai andil untuk membawa kita ke sorga. Manusia sama sekali tidak punya kemampuan / kekuatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Allah yang harus memberi keselamatan itu pada manusia!
Kata “kekal” (Yunani: aionios), berarti: ‘yang tiada akhir; terus menerus, abadi, selama-lamanya’. Ini menunjukkan bahwa ketika Allah memberi ‘hidup’ bagi orang yang percaya, Allah tidak memberikannya secara ‘berjangka’. Keselamatan yang dianugerahkan-Nya itu, berlangsung secara tetap, tidak berubah dan terus-menerus tanpa henti.

    [2] Mereka pasti tidak akan binasa

Setelah diberi keselamatan, maka Yesus sendiri menjamin bahwa orang yang telah percaya itu,  pasti tidak akan binasa! Hal ini menegaskan bahwa dalam Kristus ada kepastian keselamatan! Tidak ada seorangpun / agama manapun di dunia ini yang bisa membawa manusia ke sorga, selain harus lewat Kristus. Banyak orang (termasuk orang Kristen), ketika ditanya “Apa anda yakin akan keselamatannya?” Mereka menjawab “Ya, saya yakin”. Tetapi ketika ditanya “Apa anda yakin keselamatan yang telah diperoleh itu tidak akan hilang?” Mereka menjawab “Tidak yakin” atau “Kalau orang itu murtad, maka keselamatan itu bisa hilang”. Jika memang demikian, lalu mengapa “yakin” dengan keselamatannya?
Orang yang mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang, sebenarnya dia tidak yakin akan keselamatannya sendiri!

   [3] Tidak binasa sampai selama-lamanya

‘Ketidak binasaan’ ini, bukan hanya berlangsung dalam kurun waktu tertentu; satu bulan, satu tahun, satu abad, 1000 abad, dst, tetapi itu berlangsung secara kekal selama-lamanya! Tidak pernah ada suatu saat atau suatu waktu tertentu dimana orang percaya bisa kehilangan keselamatannya sehingga membuat dia akhirnya dicampakkan ke neraka. Yesus, yang adalah Allah itu sendiri, menjamin dengan pasti bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan kita binasa sampai selama-lamanya.

    [4] Tidak akan ada yang dapat merebutnya dari tangan Yesus dan Bapa

Mengapa setelah Yesus mengatakan “seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” harus diulangi lagi dengan kalimat “seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” ? Hal ini jelas menunjukkan adanya penekanan yang sangat kuat, bahwa orang yang telah percaya, tidak akan mungkin murtad / binasa.  Mereka yang telah percaya pada Yesus, tidak akan bisa direbut oleh siapapun juga, termasuk oleh setan (Bdk Matius 24:24).

    [5] Bapa lebih besar dari siapapun

Tidak ada seorangpun yang lebih besar dari Bapa, membuktikan bahwa Bapa adalah Allah itu sendiri. Ini bukan berarti bahwa secara kedudukan / posisi, Bapa lebih besar, lebih tinggi atau lebih berkuasa dari Yesus, tidak! Mereka jelas setara (Bdk. Yoh 5:18; 10:30). 'Keperkasaan', 'kebesaran', dan 'Ke-Maha Kuasaan' Allah, menjamin bahwa keselamatan kita aman!  

Kelima hal ini memberikan keyakinan yang sangat kuat bagi semua orang yang percaya, untuk bersukacita selalu, sebab kita memiliki kepastian keselamatan!!


Manfaat ajaran kepastian keselamatan

Dengan adanya doktrin 'jaminan keselamatan' ini, membuat semua orang percaya bersukacita dan sama sekali tidak mempunyai rasa ketakutan sedikitpun saat kematian menjemputnya.


Menjadikan orang percaya semakin mengasihi Allah, karena Dia terlebih dahulu telah mengasihi kita (bdk 1 Yoh 4:19).



Tanggapan atas artikel 'Pelaksanaan hukum Taurat; Pertentangan Paulus dengan Para murid Yesus'

Kemarin saya diberi sebuah link oleh seorang yang bernama Arda Chandra (seorang muslim) yang menunjukkan sebuah tulisan seseorang (mungkin juga seorang muslim) tentang adanya ‘pertentangan’ ajaran keselamatan, antara Paulus, para murid dan bahkan Yesus sendiri.

http://jalanyanglurus-alfha.blogspot.com/2010/12/pelaksanaan-hukum-taurat-pertentangan.html

Bagi saya, tulisan ini sangat kacau balau dan tidak bisa dipertanggung jawabkan sama sekali secara Alkitabiah! Berikut akan saya berikan beberapa argumentasi dari tulisan tersebut dan yang akan langsung saya tanggapi.

INTERNET: Ajaran tentang tidak perlu lagi hukum Taurat dilaksanakan oleh pengikut Yesus Kristus tidaklah datang dari ajaran Yesus sendiri, tapi disampaikan oleh Paulus. Secara panjang lebar, Paulus berusaha mencari pembenaran terhadap pendapat dia bahwa setelah penyaliban Yesus, maka aturan-aturan yang terdapat dalam Taurat sudah tidak berlaku lagi, diganti dengan iman kepada Yesus Kristus, kita bisa menemukannya dalam Roma 3:19-31, 4:13-16, 6:13-15, 10:4-14.

TANGGAPAN SAYA:
Penulis ini kelihatannya yakin sekali akan tuduhannya bahwa Paulus telah menghapus hukum Taurat. Sejak awal, tulisan ini didahului oleh prasangka buruk / negatif terhadap keseluruhan pesan yang disampaikan oleh para penulis Alkitab dan Yesus sendiri sebagai ‘sang firman’. Tahu darimana Paulus telah menghapus hukum Taurat? Menurut saya, tuduhan yang didahului oleh ‘asal tuduh’, pasti selalu ngawur!

INTERNET: Intinya adalah :
1. Tuhan menurunkan hukum Taurat untuk menunjukkan bahwa manusia tidak terlepas dari dosa karena tidak satu orangpun yang bisa melaksanakan hukum tersebut dengan sempurna.
2. Diturunkannya hukum Taurat ‘membuka kesempatan’ bagi Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya dengan pengorbanan Yesus Kristus. Kalau sebelumnya tidak ada hukum Taurat maka pengorbanan Yesus di tiang salib tentu tidak perlu terjadi.
3. Aturan Taurat dan pengorbanan Yesus dikatakan sebagai bentuk keadilan Tuhan bagi manusia, karena membiarkan dosa-dosa sebelumnya dan menghapusnya pada saat penyaliban Yesus. Dikatakan apa yang dilakukan Tuhan adalah benar dan orang yang beriman kepada Yesus juga akan dibenarkan.

TANGGAPAN SAYA:
[1] Point pertama benar, hukum Taurat ada, agar manusia sadar akan dosanya dan lalu datang pada Kristus!

Rom 3:20 – “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Rom 10:4  “Sebab Kristus adalah kegenapan (tujuan) hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.”

(KJV) “ For Christ [is] the end of the law for righteousness to every one that believeth.”

[2] Point kedua salah, adanya Taurat, bukan ‘membuka kesempatan’ bagi Tuhan untuk korbankan Anak-Nya, tapi ‘kesempatan’ itu sudah direncanakan sejak semula!

Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakmu”.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencananya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

[3] Point ketiga salah, aturan Taurat dan korban Kristus, bukan bentuk keadilan Tuhan, tapi bukti kasih Tuhan. Hukuman neraka bagi yang berdosa, adalah bukti keadilan Tuhan.

Rom 5:6 - “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”

Nahum 1:3 - “Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah”

Apa yang dilakukan Tuhan adalah benar dan orang yang beriman kepada Yesus juga akan dibenarkan.

Rom 5:9 - “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”

INTERNET: Berdasarkan pokok-pokok pikiran ini, Paulus kemudian menyimpulkan bahwa : Tuhan itu bukanlah Tuhan hanya untuk Yahudi saja melainkan untuk semua umat manusia dan keselamatan bukanlah karena melaksanakan aturan Taurat seperti yang dijalankan oleh kaum Yahudi, tapi karena iman kepada Yesus Kristus.

TANGGAPAN SAYA:
Kesimpulannya benar, tapi pokok-pokok pikirannya banyak salah! Kok bisa menyimpulkan sesuatu yang benar setelah didahului oleh pokok-pokok pikiran yang kacau balau? Mungkin penulisnya lagi ngantuk!

Rom 10:13 - “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.”   (>>> Rom 10:9-10)

Bdk. Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

INTERNET: Tidak lupa Paulus kemudian mengkaitkan dengan Abraham (Roma 4:13-16) dengan mengatakan Abraham dan keturunannya yang telah dijanjikan-pun diselamatkan karena iman, karena pada masa Abraham belum ada hukum Taurat. Selanjutnya dalam Roma 10:4-14, Paulus memperkuat pendapatnya tersebut dengan mengkaitkannya dengan cara ‘menohok’ Musa yang telah menyatakan tentang hukum Taurat bahwa ‘orang yang melakukannya, akan hidup karenanya’, lalu kembali menjelaskan keselamatan hanya bisa diperoleh dengan iman kepada Yesus.

TANGGAPAN SAYA:
Kok tumben pinter? Keselamatan karena iman juga ada di Perjanjian Lama atau sebelum adanya Taurat.

Kej 15:6  “Lalu PERCAYALAH Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”  

Cocok dengan pernyataan Paulus:

Rom 4:13 – “Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman”.

Tapi tetap saja penulis artikel ini ada salahnya: Paulus tidak memaksudkan hal ini untuk  ‘menohok’ Musa, tapi si penulislah yang tertohok! Mau andalkan perbuatan baik untuk masuk surga?? Sama dengan usaha menjaring angin!!  

INTERNET: Terlihat jelas bahwa Paulus berusaha untuk ‘mengambil Tuhan orang Yahudi namun pada saat yang sama berusaha membuang ajaran Tuhan yang telah ditentukan-Nya bagi Yahudi’.

TANGGAPAN SAYA:
Tuhan bukan hanya untuk Yahudi saja, tapi juga bagi semua bangsa!

Rom 10:12 – “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan”.

Tidak ada ajaran Tuhan yang dibuang!!

INTERNET: Kalau kita perhatikan dan teliti, apakah dalam alkitab ada ajaran Yesus Kristus yang sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Paulus ini, maka kita akan menemukan hal yang menarik, bahwa TIDAK ADA SATUPUN AJARAN YESUS YANG MENYATAKAN BAHWA HUKUM TAURAT SUDAH TIDAK BERLAKU LAGI karena kedatangan beliau.

TANGGAPAN SAYA:
Yesus memang tidak pernah membatalkan hukum Taurat!

Mat 5:17-18, “‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”.

INTERNET: Satu-satunya ‘cantelan’ Paulus untuk membenarkan ajarannya ini hanyalah terkait dengan istilah ‘menggenapi’ seperti apa yang tercantum dalam Matius 5:17. Paulus terlihat mencomot kata ‘menggenapi hukum Taurat’ ini lalu memberikan penafsiran sesuai maunya sendiri, ini dilakukan dengan memotong-motong penjelasan lain dari Yesus Kristus,

TANGGAPAN SAYA:
Terlalu PeDe (Percaya Diri), itulah julukan yang layak bagi sipenulis ini! Yang beri penafsiran semaunya sendiri itu anda bukan Paulus! Tidak ada penjelasan Yesus yang dipotong-potong! Yesus yang tidak pernah membatalkan hukum Taurat, itu sejalan dengan kata-kata Paulus:

Ro 3:31 - “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? SAMA SEKALI TIDAK! Sebaliknya, kami meneguhkannya”.


Keluaran 20:1-17

[20:1] Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: [20:2] "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar  dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.  [20:3] Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.  [20:4] Jangan membuat bagimu patung  yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. [20:5] Jangan sujud menyembah  kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan  yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, [20:6] tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. [20:7] Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. [20:8] Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat :  [20:9] enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,  [20:10] tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. [20:11] Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.[ 20:12] Hormatilah ayahmu dan ibumu,  supaya lanjut umurmu di tanah  yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. [20:13] Jangan membunuh. [20:14] Jangan berzinah. [20:15] Jangan mencuri.  [20:16] Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.  [20:17] Jangan mengingini  rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Seluruh perintah Tuhan itu tetap dilaksanakan oleh semua orang Kristen!

INTERNET: misalnya lanjutan ayat ini pada Matius 5:18-20, dan ‘serangan’ Yesus terhadap para imam Yahudi soal pelaksanaan hukum Taurat pada Matius 23. Disitu Yesus jelas-jelas menyatakan bahwa apa yang dimaksud dengan ‘menggenapi hukum Taurat’ bukanlah berarti tidak melaksanakannya, namun menyatakan bahwa aturan tersebut jangan ‘diperalat’ untuk kepentingan para pemuka Yahudi dan harus dijalankan dengan keimanan kepada Tuhan. Bahkan secara jelas Yesus menyatakan kepada para pengikutnya :

Matius 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

dan diperkuat lagi dengan pernyataan :
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

TANGGAPAN SAYA:
Penulis ini lagi-lagi terlalu PeDe dengan klaimnya yang mengatakan bahwa ajaran Yesus tentang hukum Taurat ternyata ‘bertentangan’ dengan ajaran rasul Paulus, padahal apa yang diajarkan Yesus itu sejalan dengan yang diajarkan Paulus. Dia lalu mengutip kata-kata Yesus ini:

Matius 23:3 Sebab itu TURUTILAH DAN LAKUKANLAH SEGALA SESUATU YANG MEREKA AJARKAN kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Kata-kata “turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkanpada Mat 23:3, jangan diartikan bahwa manusia harus menuruti apapun yang diajarkan / dikatakan oleh para ahli Taurat itu. Yesus sendiri seringkali menyerang ajaran yang salah dari para ahli Taurat itu:

Mat 15:9 – “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”.

Mat 16:6 – “Yesus berkata kepada mereka: ‘berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki’”

Ajaran orang Farisi dan ahli Taurat itu harus ditaati, jika ajarannya benar / sesuai dengan Kitab Suci.

INTERNET: dan diperkuat lagi dengan pernyataan :
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

TANGGAPAN SAYA:
Kata-kata ‘hidup keagaman’ pada ayat ini berasal dari kata Yunani DIKAIOSUNE yang berarti ‘perbuatan benar / kebenaran’.
Pada zaman itu, para ahli Taurat dan orang Farisi dianggap sebagai teladan bagi orang-orang disana. Yesus menegaskan bahwa kebenaran manusia harus melebihi dari para ahli Taurat dan orang Farisi itu jika ingin masuk surga.

Penulis ini sedang sesumbar mengatakan bahwa Paulus tidak sedang mengikuti ajaran Yesus tentang keselamatan, padahal disini Yesus sedang menekankan bahwa perbuatan baik memang bisa membawa manusia ke surga, tetapi harus dilakukan dengan sempurna! Orang Farisi dan ahli Taurat sangat menekankan ketaatan pada Taurat sampai sedetil-detilnya dan Yesus menghendaki manusia untuk melebihi kebenaran yang dimilki oleh mereka (Bdk. Mat 5:21-28).

Diatas si penulis menuduh Paulus telah ‘memotong’ ajaran Yesus, padahal justru dialah yang telah memotong-motong ajaran Yesus:

Mat 5: 48 – “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna.”

INTERNET: E.P Sanders, seorang Guru Besar Ilmu Kristen di Oxford dan Cambridge University, dalam buknya ‘The Historical Figure of Jesus’ menyatakan :”Kita perlu menambahkan disini kenyataan bahwa Injil-Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas) tidak pernah memperlihatkan bahwa Yesus melanggar hukum Taurat atau menganjurkan orang lain untuk melanggarnya”.

TANGGAPAN SAYA:
Yesus tidak pernah membuang hukum Taurat, Paulus juga tidak. Keduanya sejalan! Yang dilanggar para murid adalah adat istiadat nenek moyang yang diajarkan para ahli Taurat dan orang Farisi yang seakan-akan adalah ajaran yang benar / sesuai dengan hukum Taurat!

Bdk. Mat 15:1-6 - “Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: ‘Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan’. Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.

INTERNET: Bangunan logika yang dikemukakan Paulus juga menimbulkan pertanyaan, ketika dia menyatakan bahwa : Tidak seorangpun yang sanggup menjalankan hukum Taurat dengan sempurna maka dengan adanya hukum Taurat, manusia mengenal dosa,

TANGGAPAN SAYA:
Paulus berkata dalam Rom 3:19-20

“Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup dibawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh kebawah hukuman Allah. Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”

Paulus mengajarkan ketaatan yang sempurna jika ingin diselamatkan. Tetapi faktanya,  semua manusia telah gagal! Semua respon manusia terhadap wahyu Allah telah gagal dalam mencapai standar keselamatan dari Allah.  Karena itu, tidak akan ada seorangpun yang bisa lolos dari hukuman Allah!! Ajaran Paulus ini sejalan dengan Yesus:

Mat 5: 48 – “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna.”

Tuhan menuntut kesempurnaan, bukan ‘ketaatan sebagian’, kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa hidup sempurna, maka Yesus berkata:

Yoh 6:47 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal”

Karena tak ada orang yang bisa taat hukum Taurat dengan sempurna, maka hanya ada satu cara agar manusia terhindar dari neraka: IMAN PADA TUHAN YESUS KRISTUS!!!

Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus”.

Saya yakin tuduhan penulis ini, hanyalah bangunan logika yang tak berlogika!

INTERNET: ini artinya :
1. Sama saja mau mengatakan bahwa Yesus Kristus-pun tidak luput dari dosa, termasuk juga ibundanya Maria, padahal doktrin Kristen menyatakan bahwa Yesus dan Ibunya (seperti yang ada dalam ajaran Katolik) adalah manusia yang tidak pernah mengenal dosa.

TANGGAPAN SAYA:
Lagi-lagi hanyalah kesimpulan yang amburadul! Bagaimana mungkin menciptakan kesimpulan dari dasar yang salah?? Karena Paulus ajarkan tak ada yang bisa lakukan Taurat dengan sempurna, maka Yesus juga berdosa? Apa hubungannya?? Alkitab mencatat bahwa Yesus adalah Allah (Yoh 1:1; 1 Yoh 5:20; Wah 1:8, dsb), bagaimana mungkin Dia bisa berbuat dosa??  

Yesus Kristus adalah suci:

2Kor 5:21- “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”

Yoh 8:46 - "Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?"

Itu membuktikan bahwa Yesus BERBEDA dengan nabi-nabi yang lain, karena hanya dia seorang yang SUCI. Juga membuktikan bahwa Yesus bukan hanya seorang manusia saja, namun juga adalah TUHAN!


Tahu dari mana Maria ibu Yesus juga suci? Maria juga adalah pendosa, sama seperti anda, saya dan semua manusia yang ada dibawah kolong langit ini!

INTERNET: 2. Tentu saja bagi orang yang tidak menjalankan aturan yang telah ditetapkan Tuhan, maka dia dikatakan berdosa, namun ajaran ini menafikkan adanya ampunan Tuhan, dosa yang muncul pada manusia dianggap merupakan suatu hal yang ‘melekat’ dan tidak bisa dihapus oleh permintaan ampun dan taubat kepada Tuhan, tapi harus dilenyapkan dengan cara Tuhan sendiri yang harus mengorbankan dirinya. Saya sendiri tidak tahu apakah dalam ajaran Kristen tidak ada konsep tentang Tuhan yang Maha Pengampun.

TANGGAPAN SAYA:
Tuhan memang Maha Pengampun:

1 Yoh 1:9 – “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Dia juga panjang sabar, namun juga adalah Allah yang adil:

Nahum 1:3 - “Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah”

Allah itu Maha Adil dan karena itu Dia pasti membalas kejahatan dengan ‘kejahatan’ atau dosa dengan neraka!

Rom 6:23a - “Sebab upah dosa ialah maut.”


Wah 21:8 - "Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya,orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka didalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua".

Wujud ‘hukuman’ Allah dalam ayat diatas adalah neraka! Inilah bukti keadilan Allah! Namun Dia bukan hanya adil tapi juga mengasihi manusia yang berdosa.  Allah yang adalah Kasih itu, menyediakan jalan untuk membebaskan manusia dari hukuman kekal. Yesus Kristus adalah jawabannya! Dia mati di kayu salib untuk menebus / memikul semua dosa manusia dan karena itu tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang percaya pada-Nya.

Rom 5:6 - “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”

Kol 1:20 - “Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada dibumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus”.

1 Pet 2:24-25 - "Ia sendiri telah memikul dosa kita didalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada Gembala dan pemelihara jiwamu”.

Nahum 1:3 menjelaskan manusia yang berdosa tidak akan bisa lepas dari PENGHUKUMAN Allah! Siapa yang berdosa? SEMUA manusia! Wujud penghukuman Allah adalah Neraka! Tetapi ada kabar baik untuk anda: Yesus Kristus telah mati di kayu salib untuk menebus semua dosa-dosa manusia dan dengan itu, manusia dilayakkan untuk menikmati surga! Manusia yang tadinya berdosa, kini menjadi SEMBUH. Kita bisa ada di surga BUKAN dengan kekuatan / amal saleh, tetapi hanya karena iman pada Yesus Kristus Tuhan!!

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya padaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

Hidup kekal / surga yang diberikan Allah ini bukan hanya sementara tetapi KEKAL SELAMA-LAMANYA! Dalam Kristen tidak ada istilah ‘cicip-mencicipi’ seperti dalam Islam! Sekali ada disurga, selama-lamanya di surga dan sekali ada di neraka, selama-lamanya di neraka! Pilihan ada ditangan anda!!

INTERNET: Selanjutnya Yakobus kembali menyampaikan ajaran Yesus yang sebenarnya tentang hukum Taurat untuk menggugat ajaran yang diciptakan oleh Paulus (selamat karena iman – red):
Yak 2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Berkaitan dengan dasar argumentasi Paulus yang melakukan pembenaran ajarannya terhadap Abraham, Yakobus memberikan bantahan :
2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."
2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Dengan mengkaitkan amal saleh dengan perbuatan Abraham, Yakobus mau menunjukkan bahwa cikal-bakal ajaran Taurat datang dari Tuhan dan harus dilaksanakan, ketika hal tersebut dijalankan maka itulah yang akan diperhitungkan sebagai amal saleh untuk mendapatkan keselamatan..

TANGGAPAN SAYA:
Memang, jika kita mencermati tulisan-tulisan Paulus dan Yakobus, maka sepertinya ada ‘pertentangan’ di antara kedua rasul ini.

'Iman vs perbuatan' yang dikemukakan Yakobus, dimulai dari ayat 14:

Yak 2:14 - "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?"

Yakobus memberi sebuah pertanyaan tentang iman yang tanpa perbuatan baik, dia bertanya: "Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?"

Apa yang dimaksud oleh Yakobus, selamat itu karena iman, atau karena iman dan perbuatan baik? Lihat ayat-ayat selanjutnya:

15-16: "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: 'selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!', tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?".

Disini Yakobus memberi sebuah ilustrasi tentang orang yang berkekurangan yang tidak mendapatkan apapun dari seseorang yang memberi nasihat padanya. Orang tersebut hanya memberi pendapatnya tanpa bertindak. Yakobus menekankan bahwa kata-kata tanpa tindakan, itu tak ada gunanya. Orang yang mengaku telah beriman tetapi tidak bisa menunjukkannya lewat perbuatan, itu sama dengan omong kosong!  

Sekarang lihat ayat 17:

"Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati..."

Yakobus mengatakan bahwa iman yang tidak disertai perbuatan = iman yang mati. Maksudnya apa? Lihat ayat selanjutnya:

Ayat 18: "Tetapi mungkin ada orang berkata: 'Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan', aku akan menjawab dia: 'Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."

Diayat ini, Yakobus sedang membandingkan dirinya dengan orang itu. Kata-kata 'padaku ada perbuatan' tidak berarti bahwa orang itu bisa berbuat baik tanpa iman, ini tak mungkin terjadi. Kata-kata 'Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan' menunjukkan penyangkalan Yakobus akan adanya usaha yang memisahkan antara iman dan perbuatan. Yakobus menyatakan bahwa dia adalah seorang beriman dan itu ditunjukkan / dibuktikan oleh perbuatannya. Makanya Yakobus berkata "Jika iman itu tidak disertai (Yunani: EKHO = 'menyebabkan atau menghasilkan') perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati..." 

Jika tak ada perbuatan, maka iman itu sebetulnya juga tidak ada / mati. Ini yang terus ditekankan oleh Yakobus:

Ayat [20] "Hai manusia bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?... [26] Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati". 

Jadi, Yakobus sedang menekankan bahwa adanya iman dalam diri seseorang itu, harus menghasilkan perbuatan; iman dibuktikan oleh perbuatan baik!

Lalu bagaimana dengan persoalan Abraham (Yak 2:21) yang disebut 'dibenarkan karena perbuatannya'?

Yak 2:21-24 - "Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, diatas mezbah? [22] Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. [23] Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: 'Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.' [24] Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman."

Abraham 'dibenarkan' (ayat 21) jangan diartikan sebagai 'diselamatkan' karena perbuatan. Tindakan Abraham ini menunjuk pada realitas dari iman yang sudah dimilikinya sejak awal (Kej 15:6). 'Iman bekerjasama dengan perbuatan' artinya lewat perbuatan, iman menjadi sempurna (Yunani: TELEIOO = 'menjadikan nyata; berhasil'). Yakobus memaksudkan bahwa tanpa perbuatan, maka iman itu = kosong / tak ada! Jika iman itu menghasilkan perbuatan baik, itulah iman yang sempurna / sejati!

Ayat 24 adalah jawaban atas pertanyaan ayat 14. Iman yang kosong tak dapat menyelamatkan manusia (artinya dia sebetulnya tak punya iman). Iman yang sejati akan diaplikasikan / dinampakkan lewat perbuatan. Iman seperti inilah yang menghasilkan pembenaran. Jika ayat 24 ini diartikan bahwa manusia selamat karena iman dan perbuatan, maka akan menentang konteks dan semua ayat yang bicara tentang keselamatan yang hanya diperoleh lewat iman!

Apa yang dikatakan Yakobus ini, tidak bertentangan dengan Paulus:

Rom 4:13 - "Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunanya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman".

Tanpa perbuatan baik tak ada seorangpun yang berhak mengklaim bahwa dia sudah beriman, tetapi tanpa iman, tak ada seorangpun yang berhak mengatakan bahwa dia telah bebuat baik. Pengakuan iman harus dibuktikan lewat adanya perbuatan baik. Itulah hubungan iman dan perbuatan baik yang dimaksudkan Yakobus.

Jadi, tuduhan bahwa Paulus ‘bertentangan’ dengan Yakobus yang mengajarkan ‘ketaatan pada Taurat punya andil dalam keselamatan’, bertentangan dengan seluruh maksud Yakobus dan itu hanyalah klaim kosong dari anda saja!

INTERNET: Dalam menyampaikan ajaran ciptaannya, Paulus terlihat ‘percaya diri’ dan seolah-olah sudah dirasuki oleh roh kudus, dia menganggap dirinya sebagai pemegang kebenaran karena mendapat ‘wangsit’ langsung dari Tuhan, sebaliknya pihak lain adalah salah.

TANGGAPAN SAYA:
Jangan terlalu percaya diri untuk menuduh Paulus ‘percaya diri’. Saya sudah buktikan diatas, justru andalah yang terlalu PeDe dan asal tuduh!  
Perlu anda tahu, kami tidak hanya mendasari keyakinan kami hanya pada kata-kata Paulus saja, tapi pada seluruh Alkitab yang merupakan inspirasi Allah.

2 Tim 3:16 - “Segala tulisan yang diilhamkan  Allah  memang bermanfaat untuk mengajar,  untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

NASB: “All Scripture is inspired by God” (= Seluruh kitab suci diilhamkan Allah).

INTERNET: Untuk meyakinkan pendengarnya, Paulus juga tidak lupa melakukan ‘ancaman’ :
Gal 2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
2:21 Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.

Dia menyatakan :”Bagi orang yang masih mengatakan hukum Taurat perlu dijalankan, dia otomatis menyatakan bahwa kematian Yesus ditiang salib adalah sia-sia”.

TANGGAPAN SAYA:
Ini bukan ancaman tapi kesaksian hidupnya yang telah beriman pada Yesus Kristus.
Ini ancaman dari Paulus untuk anda:

Rom 6:23a - “Sebab upah dosa ialah maut.”

Ini dari Yesus:

Yoh 8:24 - “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.’”.

INTERNET: Kelakuan Paulus ini sebenarnya sudah diprediksi oleh Yesus Kristus, beliau mengingatkan pengikutnya untuk berhati-hati tentang adanya nabi palsu :
Mat. 7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Nabi palsu tersebut datang dari dalam komunitas pengikut Yesus sendiri, mengaku mendapatkan ajaran dan wangsit dari Yesus dan mengajarkan ajaran yang berbeda, bahkan bertolak-belakang dengan apa yang diajarkan oleh Yesus, ketika Yesus mengajarkan :”Sembahlah Bapa…”, maka nabi palsu membelokkan ajaran :”Sembahlah Yesus, karena Yesus adalah Tuhan juga…”.

TANGGAPAN SAYA:
Lagi-lagi hanya asal comot ayat sesukanya sendiri!

Ayat itu bukan ditujukan untuk Paulus, Yakobus, Petrus dan semua orang yang sungguh-sungguh percaya, tapi sedang bicara nabi palsu / Kristen KTP yang tidak membuktikan imannya dengan perbuatan baik (ayat 15, 21,23). Paulus bukan nabi palsu, karena semua perkataannya benar dan semua sejalan dengan perkataan Yesus! Dia juga bukan orang Kristen KTP, karena dia telah sungguh-sungguh beriman pada Yesus.

Gal 2:20 -  "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."

Diatas sudah saya jelaskan bahwa tak ada pertentangan antara Paulus dan Yesus. Mereka sejalan! Bahkan, saat Paulus menyatakan bahwa 'Yesus adalah Allah' (Rom 9:5), itu cocok dengan pengakuan Yesus sendiri bahwa Dia sama / setara dengan Allah (Yoh 5:17-18; 10:30-33).

Injil adalah kabar baik tentang Yesus Kristus yang mati disalib bagi dosa manusia. Hanya dengan beriman pada-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat, manusia akan diselamatkan! Anda telah memberitakan Injil yang lain, Injil yang berbeda dengan seluruh ajaran dalam Alkitab. Kelakuan anda ini, sebetulnya sudah diprediksi oleh rasul Paulus:

Gal 1:6-9 “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”

Rasul Paulus mengatakan dengan tegas, jika ada manusia atau bahkan seorang malaikat dari sorga, memberitakan ‘Injil yang lain’, maka orang itu adalah orang yang TERKUTUK!

Full Life: “Istilah ‘terkutuk’ [untuk kekal (NIV)] (Yunani = anathema) berarti bahwa seseorang berada dibawah kutukan Allah, dihukum untuk binasa dan akan menerima murka dan kutukan Allah”

Bertobatlah, sebelum prediksi ini menjadi kenyataan!!


KESIMPULAN

Sadari bahwa semua manusia yang ada dibawah kolong langit ini tidak ada yang suci, semua manusia berdosa (Rom 3:23).

Keberdosaan manusia itu, akan berujung pada penghukuman kekal di neraka (Rom 6:23a; Wah 21:8)

Allah bukan hanya adil, tapi juga Tuhan yang penuh belas kasihan (Kel 34:6). Bukti kasih-Nya, Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk mati disalib tebus dosa manusia (Yoh 3:16).

Jangan pernah berharap untuk memperoleh keselamatan dengan berbuat baik, itu hanya mimpi disiang bolong (Gal 2:16; Rom 3:19-20).

Satu-satunya cara agar manusia terbebaskan dari semua dosanya adalah, ketika manusia itu mengambil keputusan untuk beriman / menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat.


Rom 10:9-10 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan”


Kis 13:39 - “Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya  memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.”


Rom. 8:1 - “Demikianlah sekarang TIDAK ADA PENGHUKUMAN BAGI MEREKA YANG ADA DI DALAM KRISTUS YESUS.”

2 komentar:

  1. Saya sangat di berkati dengan artikel ini untuk itu saya mengucapkan terimakasih untuk ilmu yang di bagikan, berharap kedepannya da banyak lagi kebenaran Firman yang semakin di bukakan,,,

    BalasHapus
  2. Saya sedang membuat makalah tentang "Keselamatan adalah Anugerah Allah".Terima kasih buat anda sehingga saya lebih banyak tahu tentang Firman Tuhan.

    BalasHapus