Sabtu, 24 Maret 2012

HARUSKAH PERINGATAN EMPAT PULUH HARI DIADAKAN BAGI ORANG KRISTEN YANG TELAH MENINGGAL?

Oleh: Albert Rumampuk


Hari ini tanggal 25 Maret 2012, ayah saya genap empat puluh hari setelah kematiannya pada tanggal 14 Pebruari 2012. Seperti kebiasaan pada umumnya, acara mingguan, empat puluh hari, seratus hari dan bahkan setahun setelah kematian seseorang selalu diadakan acara kebaktian / ibadah oleh pihak keluarga Kristen. Hal inipun terjadi didalam keluarga kami. Pihak keluarga telah mengadakan acara mingguan dan rencananya akan mengadakan peringatan ke- 40 puluh harinya.

Ada hal yang menarik, sejak awal saya berkata pada tante saya bahwa sebetulnya tak perlu mengadakan acara semacam demikian sebab hanya “buang-buang uang saja”. Tapi karena ini telah menjadi semacam tradisi turun temurun, maka tante dan saudara-saudara saya tetap akan mengadakannya. Anehnya, sekalipun kami ditekan oleh masalah tertentu yang membahayakan keselamatan kami (sehubungan dengan persoalan yang dialami almarhum papa saya), pihak keluarga saya awalnya tetap saja bersikukuh untuk mengadakannya.

Karena hal ini telah menjadi semacam polemik di dalam keluarga kami, maka saya memutuskan untuk membuat tulisan tentang hal ini.

"Haruskah orang Kristen mengadakan peringatan hari yang ke-40?"

Berikut beberapa alasan yang seringkali dikemukakan oleh orang-orang Kristen dan sanggahannya.

1] Yesus naik ke surga pada hari yang keempat puluh setelah kebangkitanNya. Demikian pula dengan orang yang telah meninggal. Jadi, mengadakan acara 40 hari sesuai dengan Alkitab.

Jawaban saya:

Apa hubungannya peristiwa kenaikan Yesus ke surga dengan peringatan hari ke-40 bagi orang yang telah meninggal? Bukankah sepanjang empat puluh hari setelah kematian-Nya, Yesus telah bangkit / hidup kembali dan menampakan diri pada para murid (bdk. Kis 1:3)? Selama 40 hari itu, Yesus tidak dalam posisi ‘mati’, namun dalam keadaan ‘hidup’. Ini tentu berbeda dengan 40 hari setelah kematian seseorang; orang itu telah mati selama 40 hari dan tidak bangkit / hidup kembali. Jadi, peristiwa kematian Yesus berbeda dengan kematian manusia pada umumnya. Dan karena itu, mengaitkan peristiwa kenaikan Kristus kesurga pada hari yang keempat puluh dengan 40 hari setelah kematian seseorang, adalah tak cocok / tidak Alkitabiah.

2] Roh / arwah dari orang yang telah meninggal itu masih ada dirumahnya dan akan ‘pergi’ setelah 40 hari.

Jawaban saya:

Pandangan seperti ini dilatarbelakangi oleh kepercayaan tertentu. Bagi ajaran Kejawen, dipercaya bahwa “roh manusia akan melanjutkan ‘perjalanannya’ ke alam baka bila telah melewati hari ke 40 terhitung sejak hari kematiannya. Selama 40 hari itu roh akan tetap tinggal di rumah tinggalnya sendiri. Hanya bagi orang-orang tertentu saja yang ‘pinilih’ dan terpilih tidak perlu melewati masa ‘tenggang’ 40 hari.” (http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/rahasia-di-balik-40-har/).

Argumen seperti ini tentunya bertentangan dengan Firman Tuhan. Kitab Suci mencatat bahwa saat manusia mati, rohnya langsung ke surga atau neraka. Berikut beberapa bukti / dasar Alkitab-nya:

  • Luk 23:43  “Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’"

    Kalimat ini diucapkan oleh Yesus saat Dia disalibkan bersama-sama dengan dua orang penjahat. Ini adalah jawaban dari permintaan seorang penjahat kepada-Nya; “Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23:42).

    Kata ‘firdaus’ pada ayat 43, berasal dari kata Yunani PARADEISOS yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan ‘paradise’ (surga). Full Life Study Bible: “Istilah ‘Firdaus’ dipakai untuk menunjukkan sorga atau kehadiran Allah (bahwa ‘sorga’ dan ‘firdaus’ menunjukkan tempat yang sama telah jelas dari 2 Kor 12:2,4). Perkataan Yesus mengajarkan dengan jelas bahwa setelah kematian orang yang diselamatkan akan langsung ke hadirat Yesus dalam sorga.” (Hal. 1690).

    Hari Jumat adalah hari penyaliban dan kematian Kristus di atas kayu salib. Jawaban Yesus dalam Luk 23:43, diucapkan pada hari itu dan penjahat tersebut juga mati pada hari tersebut (bdk. Yoh 19:31-33). Kitab Suci mencatat bahwa setelah Yesus dan penjahat itu mati, maka hari itu juga (bukan hari ketujuh, keempat puluh, dst), mereka langsung pergi / ada di surga.
  • Kis 7:59  “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’”

    Ayat ini memberitahu bahwa Stefanus menyerahkan rohnya kepada Yesus saat kematian akan menjemputnya. Ini berarti rohnya langsung pergi ke surga, sedangkan tubuhnya dikuburkan (Kis 8:2).
  • Fil 1:21,23  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. … Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik”.

    Mengapa Paulus katakan bahwa “mati adalah keuntungan”? Karena saat dia ‘pergi’ (mati), dia pasti akan ada / tinggal bersama-sama dengan Kristus di surga.
  • Luk 16:22-23 “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.”

    Teks dalam Luk 16:19-31 menunjukkan bahwa orang percaya (orang miskin yang bernama Lazarus) saat mati langsung ke surga dan bagi mereka yang tidak percaya (orang kaya) langsung ke neraka.
Jadi, argument bahwa roh / arwah orang yang telah mati itu masih ada dirumahnya / didunia dan akan pergi (meninggalkan dunia) setelah 40 hari, adalah konsep yang salah dan menentang Alkitab!

4] Acara 40 hari adalah untuk mendoakan orang yang telah meninggal.

Jawaban saya:

Ini adalah kepercayaan tahyul / dongeng belaka! Jika Alkitab mencatat bahwa orang yang telah mati itu langsung masuk surga atau neraka, lalu apa hubungannya dengan orang yang masih hidup? Surga dan neraka dalam ajaran Alkitab bukanlah bersifat temporer / sementara. Sekali orang tersebut ada di surga, maka dia akan selama-lamanya disurga,dan sekali di neraka, selama-lamanya di neraka (Bdk. Luk 16:26). Lalu mau mendoakan dalam hal apa? Bagaimanapun hebatnya doa-doa yang dinaikan, itu sama sekali tidak akan berpengaruh pada orang yang telah meninggal. Ada atau tidaknya acara seperti itu, tidak akan mempengaruhi keselamatan seseorang.

3] Tujuan peringatan 40 hari adalah untuk kebaktian dan mengingatkan bahwa hidup ini hanya sementara saja, sebagai bentuk ucapan syukur pada Tuhan dan untuk menghibur / menguatkan keluarga yang ditinggalkan.

Jawaban saya:

Saya sudah sering mengikuti acara peringatan hari ke-40 tersebut dan menyaksikan sendiri bagaimana acara semacam demikian ibarat ‘pesta pora’ belaka. Segala macam makanan saling tumpang tindih bahkan ada yang saling ‘berebut’ (membungkus) sisa makanannya saat hendak pulang. Saya bahkan mendengar langsung dari seorang jemaat yang hanya memperbincangkan soal makanan dan mempersoalkan enak atau tidaknya. Pertanyaannya adalah, apakah acara seperti itu tujuannya hanya untuk makan dan minum? Ataukah untuk mempertontonkan gengsi belaka? Ibadah pengucapan syukur, sebetulnya tidak harus bersentuhan dengan soal makanan dan minuman. Bagi saya, tindakan seperti itu adalah tindakan yang berlebihan dan hanya ‘menghambur-hamburkan uang saja’!

Jika memang acara tersebut bertujuan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, tapi mengapa harus dihibur sampai 40 hari dan bahkan satu tahun? Bukankah sebagai orang percaya seharusnya kita bersukacita, karena orang percaya yang telah mati itu pasti ada di surga? Merasa sedih karena ditinggalkan oleh keluarga tercinta itu sah-sah saja. Tetapi jika terus-menerus bersedih sampai setahun,dst, itu menjadi tidak wajar. Pertanyaan yang penting yang harus dijawab adalah, mengapa harus hari yang ke-40? Kenapa bukan hari ke-43, 51, 66, dst? Apakah pihak keluarga yang ditinggalkan berani buat kebaktian ucapan syukur pada hari yang ke 47 atau 49, dan mengharuskan hari tersebut? Mengapa memutlakkan hari yang ke-40? 

PERTANYAAN

Jika demikian, apakah acara ibadah / kebaktian hari ke-40 tidak boleh dilaksanakan oleh orang Kristen?

Jawaban saya:

Harus dilihat dulu, bagaimana motivasi dan tujuan dari acara seperti itu. Jika hal ini dilandasi dengan konsep bahwa nanti pada hari ke-40 maka roh / arwah orang yang telah meninggal itu akan benar-benar pergi meninggalkan dunia, ini tentu sangat keliru dan menentang Kitab Suci! Saya pribadi berpendapat bahwa sebetulnya acara semacam demikian sah-sah saja jika dilakukan, tetapi harus dengan tujuan yang benar, yaitu agar Injil keselamatan Kristus bisa disampaikan kepada orang banyak. Jadi, momentum seperti itu (yang dilatarbelakangi kepercayaan kafir) dijadikan sarana untuk pekabaran Injil. Tapi bagi mereka yang tak mau menyelenggarakannya, itu tak jadi soal.

KESIMPULAN

Peringatan Hari yang keempat puluh bagi orang yang telah meninggal tidak harus dilaksanakan! Mengapa? Karena orang yang telah meninggal itu sudah tak punya hubungan lagi dengan orang yang masih hidup. Orang yang telah mati langsung menuju ke dua tempat; surga bagi mereka yang beriman pada Tuhan Yesus Kristus dan neraka bagi mereka yang menolak Kristus! Berbahagialah saudara yang telah percaya pada Kristus, karena saat ajal menjemput, maka detik itu juga, 7 hari kemudian, 40 hari, satu tahun, bahkan sampai selama-lamanya, saudara akan tetap ada bersama dengan Kristus di surga!

5 komentar:

  1. Wah sangat setujuju dengan pendapat Bapak dengan dukungan ayat-ayat FT. Tetapi menurut saya sebenarya hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Di tempat kami juga ada perayaan-perayaan seperti itu, tetapi hal itu bukanlah untuk mendoakan orang-orang yang sudah lebih dulu di panggil oleh Bapa di surga, tetapi hanya untuk mengucap syukur bersama-sama dengan keluarga yang masih dipelihara dan diberkati oleh Tuhan. Janganlah mengabaikan perkumpulan/ persekutuan, tetapi jadikanlah itu sebagai kesempatan untuk menyaksikan kasih Tuhan. Bagitulah menurutku. Tuhan memberkati :)

    BalasHapus
  2. Dua-duanya Saudaraku benar, tidak mempermasalahkan tetapi memberi penjelasan iman Kristiani yang injili dan harus terus menerus dilakukan karena generasi silih berganti, Umat Kristiani terkemudian belum tentu sudah memiliki iman Kristiani sejati (mungkin karena Turunan Kristiani) jadi yang tahu wajib memberitahu. Salam dalam Kasih Kristus!

    BalasHapus
  3. artikel ini menenangkan hati skali. mama saya 4 minggu yang lalu berpulang dan ini agak membuat saya senang karena mamam sudah lepas dari sakitnya tapi saya terganggu ketika penghiburan di rumah berubah menjadi ajang cerita horor bahwa mama saya masih ada di bumi ini dan itu sungguh sangat mengganggu saya karena yg saya tahu adalah apa yang sudah lepas dari raganya akan kembali kepada Tuhan Yesus. terima kasih atas pencerahan iman melalui artikel ini. Tuhan Yesus memberkati :)

    BalasHapus
  4. Sudah pekerjaan iblis memperdaya manusia agar manusia menyangkal Tuhan Allah atau tidak setia kepada Firman Tuhan. Milikilah Hikmat Tuhan agar iblis tidak berhasil membuat engkau menduakan Tuhan Allahmu.

    Tuhan Allah adalah Allah yang sangat cemburu. Tuhan tidak mau kita menduakan Dia sebagai Tuhan yang harus kita sembah. Iblis yang mengetahui hal itu, berusaha menipu manusia dengan menjelma sebagai roh orang yang telah meninggal dunia. Iblis bisa merubah wujudnya sama atau persis seperti orang yang sudah mati. termasuk cara, pakaian, suara dan lain sebagainya. Iblis juga bisa membuat orang sakit, dan penyakit yang iblis berikan, bisa juga dia sembuhkan. biasanya dengan cara berdoa kepada orang yang telah meninggal dunia agar bisa sembuh.

    Tapi sebenarnya yang terjadi adalah iblis itu yang melakukan semua itu.

    Tujuannya bukan masalah kita percaya atau tidak bahwa masih adanya roh orang yang sudah meninggal di sekitar kita. Tapi tujuannya adalah agar kita menduakan Tuhan. Dengan kita meminta pertolongan, kesembuhan, rejeki, kenyamanan keluarga, dan lain sebagainya kepada orang yang telah meninggal dunia, maka jelas sekali, KITA TELAH MENDUAKAN TUHAN!!! IBLIS TELAH BERHASIL MEMPERDAYA KITA !!!

    BalasHapus
  5. Jika ditinjau dari sejarah, mulanya dalam suku Minahasa khususnya, ketika ada peringatan 7 hari, 40 hari, 1 tahun, dsb memiliki upacara tersendiri dengan diikuti tata cara adat setempat. Upacara adat itu diekspresikan dengan beberapa cara, salah satunya dengan memakai pengorbanan hewan. Namun, ketika penginjil mulai masuk ke Minahasa, peringatan-peringatan tsb dipakai sebagai sarana penyampaian Injil (istilah tren masakini "ibadah penghiburan dan ucapan syukur). Tata cara adat yang berbau mistis mulai terkikis, walaupun ada beberapa tua-tua di Minahasa masih melakukannya. Pendekatan Injil melalui budaya dan adat oleh penginjil-penginjil itu dikenal dengan Teologi Kontekstual.

    Suatu kesempatan, saya berkhotbah digereja desa saya. Waktu itu saya sempat menyinggung mengenai perayaan-perayaan tersebut. Beberapa waktu kemudian ada jemaat yang menanggapi dan mengatakan "semua harikan milik Tuhan!" Benar semua hari milik Tuhan, tapi kenapa harus hari ke 7, hari ke 40 dan satu tahun? Tanya saya balik. Inilah yang dinamakan dengan sinkretisme, perpaduan antara dua kepercayaan yang berbeda. Jika ditinjau melalui perpekstif alkitab, jelas Rasul Paulus telah menyanggahnya.

    BalasHapus