Senin, 30 Januari 2012

PENYALIBAN YESUS KRISTUS: SUATU TINJAUAN TEOLOGIS HISTORIS DAN ARKEOLOGIS

Oleh: Albert Rumampuk



Baru-baru ini dalam sebuah forum debat Kristen vs Islam, saya dan seorang Islam yang bernama Arda Chandra mendiskusikan sebuah topik tentang peristiwa penyaliban dan kematian Yesus Kristus. Orang ini mengklaim bahwa Yesus ‘pada mulanya disalib’ tapi kemudian ‘lolos / lepas dari penyaliban’ dan ‘tidak mati disalib’. Menurutnya, informasi seperti ini justru ‘diberikan oleh Yesus sendiri’.






Arda Chandra: "Yesus sendiri memberikan informasi bahwa Yesus lolos dari usaha penyaliban, itu kalau kita membacanya dengan tidak memakai 'modal' doktrin yang menyatakan bahwa Yesus mati disalib.."

Dalam diskusi kami yang cukup panjang, terlihat jelas bahwa Chandra hanya bermodalkan ‘percaya diri’ atas kesimpulannya tersebut. Tetapi sayang sekali, sekalipun dia bahkan telah terlihat membenarkan pandangan saya dan tak bisa menyanggahnya, namun tetap saja ngotot dan bersikukuh pada klaim yang dibuatnya itu.

Benarkah Yesus Kristus tidak mati disalib? Bagaimana pandangan Kitab Suci dan sumber-sumber di luar Alkitab? Berikut pembahasan singkat tentang penyaliban Yesus Kristus yang ditinjau dari sisi teologis (didasari pada teks Kitab Suci), historisitasnya, dan bukti dari arkeologis.


TINJAUAN TEOLOGIS

Penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah fondasi dalam kekristenan. Penyangkalan akan hal ini, sama saja menyangkali fakta dalam Kitab Suci.

1 Kor 15:1-5 “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.”

Karya penebusan Kristus di atas kayu salib adalah tema sentral dari berita Injil. Dalam 1 Kor 15:1, rasul Paulus memberikan tiga hal penting dalam kekristenan: 1) Kristus telah mati; 2) Dikuburkan; 3) Bangkit pada hari ketiga dan menampakkan diri-Nya. Ketiga point inilah yang akan saya jadikan dasar argumentasi untuk menyanggah klaim Chandra yang telah menolak peristiwa kematian Kristus di atas kayu salib.

1) Kematian Kristus

Penderitaan dan kematian Yesus diatas kayu salib tentu adalah berita yang sangat mengejutkan bagi para murid-Nya. Bayangkan saja, saat Yesus menyampaikan peristiwa yang akan dialami-Nya itu, rasul Petrus lalu “menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’" (Mat 16:22). Petrus yang terlihat agresif ini, bahkan memutuskan telinga seorang hamba Imam Besar pada saat Yesus ditangkap oleh tentara Romawi (Yoh 18:10). Tetapi apakah para murid dapat menggagalkan peristiwa bersejarah dan yang amat penting ini? Tentu saja tidak! Mengapa? Karena kematian-Nya disalib adalah merupakan ketetapan / rencana Allah sendiri (Kis 2:23). Tujuan kedatangan-Nya ke dunia memang adalah untuk mati (Mat 20:28). 

Berikut adalah ayat-ayat yang menggambarkan secara jelas peristiwa kematian Kristus:

Mat 27:50  “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya”.

Mark 15:37  “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya”.

Luk 23:46  “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya”.

Yoh 19:30 “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya”.

Konteks dari ayat-ayat ini adalah saat dimana Yesus sedang berada disuatu tempat yang bernama Golgota dan disalibkan bersama dengan dua orang penyamun (Mat 27:32-38). Pada saat misi penebusan-Nya sudah selesai, Yesus lalu ‘menyerahkan nyawanya’. Dalam komentarnya atas Mrk 15:37, The Wycliffe Bible Commentary berkata: “Menyerahkan nyawa-Nya. Kata Yunaninya ialah EXEPNEUSEN, yang secara harfiah artinya menghembuskan nafas atau mati. Pergumulan itu tidak berkepanjangan, sebagaimana biasanya dilukiskan oleh suatu bentuk waktu imperfect. Sebaliknya bentuk waktu aoris melukiskan suatu peristiwa yang singkat dan sebentar. Yesus menghembuskan roh-nya dan mati.” (hal. 207).

Kematian Yesus adalah suatu tindakan yang aktif. Ini berbeda dengan kematian yang umumnya terjadi pada manusia. Saat ajal akan menjemputnya, Stefanus berdoa: “Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59). Nyawa / roh dari Stefanus ‘diambil’, ini berbeda dengan Yesus. Dia ‘menyerahkan roh-Nya’ dan tidak seorangpun yang dapat mengambilnya!

Bdk. Yoh 10:17-18  “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Kematian Kristus sebenarnya bukan dikarenakan penderitaan secara fisik yang dialami-Nya; pencambukan, penyaliban, penikaman, dsb. Tetapi merupakan ‘penyerahan yang sukarela’ dari rohNya. Jika roh-Nya tidak diserahkan, maka Dia pasti tidak akan mati. Tidak ada seorangpun / apapun yang bisa menyentuhnya sebelum saatnya tiba. Bagi saya ini adalah salah satu dasar yang menunjukkan keilahian Kristus.

Kematian-Nya semakin dipertegas lagi dengan ditusuknya bagian tubuh Yesus dengan tombak (Yoh 19:34). Di sisi sebelah mana dari tubuh Yesus yang ditikam? Mungkin tak bisa dipastikan (sekalipun menurut F.F. Bruce, tradisi kuno menyatakan rusuk kanan). Perhatikan komentar Dr. Metherell mantan ilmuan riset yang mengajar di The University of California dan bergelar medis (University of Miami di Florida), tentang ‘penusukan tombak’: “Tombak itu rupanya menusuk paru-paru kanan dan ke jantung, jadi ketika tombak itu ditarik keluar, sejumlah cairan-pericardial effusion dan pleural effusion-keluar. Ini akan terlihat sebagai cairan jernih, seperti air, diikuti dengan banyak darah, seperti yang dideskripsikan saksi mata Yohanes dalam Injilnya.”[1]

Perlu diketahui, para serdadu yang mengawal / menjaga penyaliban Yesus adalah orang-orang yang professional dan pakar dalam membunuh manusia. Dan pada masa itu, jika ada seorang tahanan yang berhasil lolos maka tentara-tentara yang bertanggungjawab itu sendiri yang akan dibunuh. Ini tentunya menyebabkan mereka  dapat memastikan bahwa setiap korban telah benar-benar mati saat diturunkan dari salib.[2]

Ada cukup banyak saksi mata yang melihat peristiwa penting ini. Simon dari Kirene, orang-orang Yahudi, Imam-imam kepala, ahli Taurat, tua-tua, prajurit-prajurit dan Yohanes, adalah mereka yang menyaksikan penyaliban Yesus (Mat 27:32-44; Yoh 19:16-27). Kepala pasukan, para prajurit, orang banyak, perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea (seperti Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses, serta Salome), perempuan-perempuan yang lain, Yusuf dari Arimatea, Nikodemus dan orang-orang Yahudi, juga adalah saksi mata kematian Kristus (Mat 27:54-60; Mrk 15:39-41; Luk 27:47-49; Yoh 19:31-42).  

Dengan melihat kondisi seperti ini, maka sangat tidak memungkinkan jika Yesus bisa lolos atau meloloskan diri-Nya dari kematian. Yesus memang benar-benar mati di atas kayu salib. Itulah yang dikatakan Kitab Suci!

2) Penguburan Kristus

Mat 27:57-61 “Menjelang malam datanglah seorang kaya, orang Arimatea, yang bernama Yusuf dan yang telah menjadi murid Yesus juga. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih, lalu membaringkannya di dalam kuburnya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia. Tetapi Maria Magdalena dan Maria yang lain tinggal di situ duduk di depan kubur itu.”

Yusuf orang Arimatea dikatakan telah meminta mayat Yesus pada Pilatus, mengambil mayat itu / menurunkannya dari salib (bdk. Yoh 19:38), dan menguburkannya. Jika kita melihat dalam Luk 23:50-53 (juga Mat 27:59), disitu tercatat bahwa setelah menurunkan mayat Yesus, Yusuf lalu ‘mengapaninya dengan kain lenan’. Menurut Wycliffe, “Kata kerja ini artinya dibungkus dengan ketat, dibungkus dengan cara dibalutkan.” (hal. 290). Nikodemus juga datang dan ikut membantu dengan menyediakan minyak mur dan minyak gaharu untuk persiapan pemakaman. Mayat itu kemudian dibubuhi rempah-rempah sesuai dengan adat orang Yahudi dan selanjutnya di letakkan di kuburan  (Yoh 19:39-42).

Seluruh peristiwa ini semakin memperjelas bahwa Yesus memang benar-benar telah mati. Mereka yang menjadi saksi mata atas penguburan Yesus antara lain: Yusuf orang Arimatea, Nikodemus, Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses (Mat 27:59-61; Mrk 15:46-47; Luk 23:53-55; Yoh 19:38-42).

3) Kebangkitan Kristus

Mat 28:5-7 “Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: ‘Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.  Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.’" 

Bagian ini adalah kesaksian dari malaikat kepada Maria Magdalena dan Maria yang lainnya tentang kebangkitan Kristus. Ayat 6 menjelaskan bahwa ‘Yesus telah bangkit.’ Bangkit? Bagaimana caranya? Bukankah kubur itu ditutupi oleh sebuah batu besar dan dijaga oleh para serdadu? Bukankah Yesus masih terbalut kain dengan begitu ketatnya? Faktanya, Dia memang sudah tidak ada lagi dikubur; kubur itu telah kosong! Apa sebenarnya yang terjadi? Ketika hal ini disampaikan kepada para murid, mereka bahkan menganggapnya sebagai ‘omong kosong.’ Tidak heran jika Petrus heran dengan kejadian yang ‘heran’ ini (bdk. Luk 24:12).

Saya kira salah satu jawabannya ada di dalam Yoh 10:17-18  “… Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali…”

Saya tertarik untuk membandingkan peristiwa kebangkitan Kristus dengan kebangkitan Lazarus. Pada saat Lazarus mati, sekujur tubuhnya juga terikat dengan kain kafan dan kain peluh. Tapi saat dia bangkit dan keluar dari kubur, kain kafan itu masih ada dan tetap terikat ditubuhnya (Yoh 11:44). Ini berbeda dengan kebangkitan Kristus, kain kafan itu tertinggal didalam kubur! (Luk 24:12). Mayat Lazarus yang sudah empat hari membusuk itu dibangkitkan oleh Yesus (Yoh 11:43-44). Tetapi saat Yesus hidup kembali, Dia bangkit sendiri!

Menurut saya, peristiwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati sebetulnya sedang menjelaskan tindakan Kristus yang ‘mengambil kembali nyawa / roh-nya’ setelah Dia melepaskannya dengan sukarela di atas kayu salib. Kebangkitan Kristus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dia bisa bangkit kapan saja dan dimana saja. Kain kafan, batu besar yang menutupi kubur atau penjagaan para prajurit, sama sekali tak bisa menghalangi kebangkitan-Nya. Disini Kristus lagi-lagi sedang memproklamirkan keilahian-Nya.

Ketika Marta memprotes ketidakhadiran Yesus yang menyebabkan kematian Lazarus, Yesus menjawab: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yoh 11:25).

Mayat setiap pendiri agama tetap ada dikuburnya, sebab mereka adalah manusia biasa. Tetapi mayat Yesus sudah tidak ada lagi, kubur itu telah kosong. Mengapa? Karena Dia adalah kebangkitan dan hidup itu sendiri! Hidup kekal akan anda dapatkan saat saudara mengambil keputusan untuk beriman pada Kristus. Mungkin anda akan mati secara fisik, tetapi itu sebenarnya hanyalah sebuah perpindahan dari dunia yang fana ke kehidupan yang kekal (surga). Itulah yang di alami Lazarus, semua murid-murid Kristus dan yang akan dialami setiap orang yang percaya pada-Nya. Saudara bisa mendapatkannya juga jika saudara mau percaya pada-Nya.

Kebangkitan Kristus dari kematian semakin diperjelas saat Ia menampakkan diri-Nya kepada Maria (Yoh 20:15-18), kepada sepuluh Rasul / murid-murid-Nya (Lukas 24:36-49; Yohanes 20:19-23), kepada Thomas (Yoh 20:24-29), 500 saudara-saudara (1 Kor 15:6), dan berulangkali menampakan diri-Nya kepada para murid-murid-Nya (Yoh 21:1-14, dsb). Peristiwa kebangkitan Yesus dari antara orang mati pada hari yang ketiga, menunjukkan bahwa sebelumnya Dia telah mati.

Kesaksian para Nabi dan Rasul

Saya akan memperkuat argumentasi saya dengan memberi kesaksian dari para nabi dan rasul atas peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus.

Ada begitu banyak nubuatan yang diucapkan oleh para nabi di zaman Perjanjian Lama tentang peristiwa penyaliban dan kematian Kristus. Dua diantaranya adalah nubuatan dari nabi Daud dan Yesaya, yang hidup sekitar 1000 dan 700 tahun sebelum Kristus.

Nabi Daud

Mzm 22:2a,17b,19 “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? … Mereka menusuk tangan dan kakiku… Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”

Nabi Yesaya


Yes 53:1-12 “[1] Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? [2] Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. [3] Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. [4] Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. [5] Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. [6] Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. [7] Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. [8] Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. [9] Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. [10] Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. [11] Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. [12] Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.”

Para Rasul di zaman Perjanjian Baru juga telah memberi kesaksian mereka.

Rasul Petrus

Kisah Rasul 2:23 "Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka".

Rasul Paulus

1 Kor 15:3-4 “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (Bdk. Kis 17:3).

Sekarang kita lihat teks dalam Kis 13:27

Kis 13:27 “Sebab penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat.

Ayat ini mencatat bahwa perkataan nubuatan para nabi, dibacakan setiap hari sabat (Bdk Kis 13:14b-15a). Bagaimana jika kematian Kristus di kayu salib tidak terjadi? Saya yakin tidak akan ada Kekristenan!

Serangan dari Islam

Arda Chandra, seorang anggota dari Group ‘The Best Debater: Christian Vs Moslem’, memberi kritikannya:

"Yesus sendiri memberikan informasi bahwa Yesus lolos dari usaha penyaliban, itu kalau kita membacanya dengan tidak memakai 'modal' doktrin yang menyatakan bahwa Yesus mati disalib.."

“'Yesus lolos dari usaha penyaliban', artinya Yesus lolos dari usaha pembunuhan melalui cara disalib, artinya : dia tidak mati disalib, sekalipun sudah digantung ditiang salib, makanya dia tidak bisa dikatakan sudah disalib, karena tidak memenuhi syarat dikatakan sebagai orang yang disalib, yaitu mati ditiang salib..”

Ada lima point yang ditekankan Chandra: 1) Yesus awalnya disalib; 2) Namun lolos dari usaha penyaliban; 3) Tidak mati disalib; dan 4) Yesus sendiri yang menginformasikan hal ini; dan 5) Mereka yang meyakini Yesus mati di salib, hanya bermodalkan doktrin.

Saya sudah sering berhadapan dengan orang ini dan tahu persis bagaimana sepak terjangnya selama ini. Awalnya kami mendiskusikan fakta sejarah dari peristiwa penyaliban Kristus, tetapi karena pihak Islam tak bisa menyanggahnya (dan mungkin merasa terpojok karena data yang diberikan Al-Qur’an ternyata bertentangan dengan sejarah), akhirnya yang dilakukan kemudian adalah menyerang Alkitab dan berusaha untuk meruntuhkannya. Merasa lucu saja melihat kepedean orang ini, bukankah Alkitab dengan gamblang menegaskan bahwa Yesus memang disalib, dan mati diatas kayu salib? Lalu bagaimana mungkin dia bisa memastikan kevalidan argumennya? Dari gaya diskusinya, saya melihat sepertinya dia hanya mengikuti Ahmad Deedat, salah seorang debater Islam ternama. Seperti Deedat yang mempersoalkan ‘saksi mata’ atas peristiwa penyaliban, dan menyatakan bahwa Yesus tidak mati disalib, Chandra-pun melakukan hal yang serupa dan bahkan mengutip sebuah pernyataan / tulisan Deedat.

Ada begitu banyak bukti dari dalam Kitab Suci yang secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus memang alami kematian disalib. Paling tidak, dua point ini (seperti yang sudah disinggung diatas) bisa menjelaskannya:

1) Yesus tidak akan mungkin bisa lolos dari penyaliban karena saat disalib, tangan dan kaki-Nya dipaku (bdk. Yoh 20:25; Maz 22:17b; Luk 24:39-40), dan dijaga oleh kepala pasukan Romawi lengkap dengan bala tentara / prajurit-nya (Mat 27:36,54).

2) Kitab Suci mencatat bahwa Yesus memang benar-benar mati disalib (Mat 27:50; Mrk 27:50; Luk 23:46; Yoh 19:30).

Menurut saya dua hal ini adalah bukti yang sangat kuat dan yang sekaligus menggugurkan klaim / kritikan Arda Chandra diatas. Namun aneh, Chandra tak bergeming sedikitpun, sama seperti Ahmad Deedat pendahulunya!

Diskusi selanjutnya mengarah ke pertanyaan “siapa saksi mata atas peristiwa penyaliban dan kematian Yesus?” Saya lalu memberikan banyak bukti dari para saksi mata (termasuk rasul Yohanes - Yoh 19:25-26). Chandra kemudian menyanggahnya: “Mat 26: (56) ‘Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.’ Mark 14 :(50) ‘Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.’ Catatan Mat dan Mark ini jelas menunjukkan bahwa SEMUA murid melarikan diri ketika Yesus ditangkap, tentu saja termasuk Johanes. maka cerita selanjutkan sulit untuk menyatakan Johanes kemudian muncul lagi, kumpul dengan yahudi dan prajurit Romawi, sama-sama 'menonton' Yesus disiksa, hanya melihat Yesus disalib, dan tidak diganggu sama yahudi, padahal dia berstatus 'murid yang dikasihi Yesus'”

Apa yang dikatakan Chandra diatas memang benar. Semua murid meninggalkan Yesus dan melarikan diri! Bagaimana kita menjawab serangan ini? Gampang saja! Mat 26:56 dan Mrk 14:50 adalah peristiwa dimana Yesus ditangkap oleh para serdadu Romawi dan itu bukan situasi saat penyaliban. Semua murid melarikan diri pada saat penangkapan, bukan berarti semua murid tidak ada saat penyaliban. Dua hal itu adalah peristiwa yang berbeda dan bahkan ditempat / lokasi yang juga berbeda. Sekalipun semua murid lari, tetapi toh, Petrus tetap saja mengikutinya dari jauh (Mat 26:58). Alkitab mencatat seorang ‘murid yang dikasihi-Nya’ (Yohanes) ada didekat salib. Ini menunjukkan bahwa tidak semua murid ‘melarikan diri’ / tak ada saat penyaliban berlangsung.

Dua point terakhir Chandra: 4) Yesus sendiri yang menginformasikan hal ini; dan 5) Mereka yang meyakini Yesus mati di salib hanya bermodalkan doktrin, tentu hanyalah klaim sepihak yang tak berdasar. Sebenarnya bukan Kristen yang hanya ‘bermodalkan doktrin’, tetapi justru pengkritik dari pihak Islam yang hanya mengandalkan doktrin Al-Qur’an dan lalu berusaha mengubah ajaran Alkitab (Strawman). Ini adalah sebuah kesesatan pikir yang sangat pincang!

Diskusi menjadi cukup panjang karena Chandra seringkali hanya mempertanyakan hal-hal yang out of topic (red herring), misalnya dengan mempertanyakan keabsahan para penulis Injil yang tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, lalu lari ke persoalan penguburan dan kebangkitan Kristus yang justru merupakan dasar yang sangat kuat yang mendukung pandangan saya. Ketika saya terus mengingatkan untuk kembali ke topic, Arda malah menyerang balik dengan jurus ‘Ad Hominem’ dengan  mengatakan saya ‘tidak beradab’ dan ‘berangasan’.

Selanjutnya, Chandra memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi dengan mempertanyakan ‘Mengapa saat Yesus menampakkan diri, Maria tidak mengenal-Nya dan baru tahu setelah Yesus menyebut nama-Nya?’ (Yoh 20:11-18), lalu mempersoalkan larangan Yesus kepada Maria agar tidak menyentuh-Nya (Yoh 20:16-17). Buat saya ini adalah pertanyaan yang mengada-ada dan sama sekali tak punya kekuatan apapun untuk menyanggah peristiwa kematian Kristus. Tentu saja dalam kondisi yang sedang menangis Maria mungkin agak sulit mengenal Yesus, atau dikarenakan adanya ‘tubuh kebangkitan’ pada Yesus. Tetapi apapun alasannya, tetap saja beberapa saat kemudian Maria bisa mengenal saat Yesus memanggil namanya. Tentang pelarangan Yesus untuk menyentuh-Nya, apa urusannya dengan klaim Chandra yang menolak kematian Yesus? Tentu saja istilah ‘menyentuh’ pada ayat tersebut punya arti tertentu. Namun sekalipun itu misalnya harus diartikan secara hurufiah, tetapi tetap saja bukan hal yang penting yang bisa menyanggah peristiwa kebangkitan Kristus. Fakta menunjukkan bahwa Yesus menyuruh Tomas untuk menyentuhnya (Yoh 20:24-28). Ini membuktikan bahwa Yesus telah bangkit secara jasmani. Tak perduli mengapa Yesus melarang Maria, namun yang jelas itu tidak meruntuhkan fakta bahwa Yesus telah bangkit!

Arda kemudian melanjutkan pertanyaannya: “Ke-4 Injil kanonik memberitakan bahwa Maria Magdalena membawa rempah-rempah untuk meminyaki mayat Yesus di kuburan: 1) Apakah mereka tidak mengetahui bahwa mayat yang sudah mati 3 hari pasti akan membusuk..?? apakah memang ada kebiasaan Yahudi yang meminyaki mayat yang sudah membusuk..?? Dan, 2) Mengingat yang datang pada minggu pagi adalah 3 orang wanita, bahkan Johanes menginformasikan hanya Maria Magdalena yang datang. Apa tujuannya mereka medatangi kuburan yang ditutup oleh batu besar, apakah mereka sanggup untuk menggeser batu tersebut agar bisa masuk kedalam kuburan..??” Kedua pertanyaan ini lagi-lagi hanyalah omong kosong ala Ahmad Deedat saja! Kedatangan Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, serta Salome ke kubur Yesus pada Minggu pagi (Mrk 16:1-2), justru sedang menunjukkan bahwa Yesus telah mati. Pertanyaan Chandra yang kedua yang mempertanyakan tujuan kedatangan Maria ke kubur Yesus, sebetulnya sudah dijawabnya; ‘Untuk meminyaki mayat Yesus dengan rempah-rempah’. Aneh juga, dia mempertanyakan sesuatu yang sudah dijawabnya sendiri. Lucu! Kelihatannya Chandra sudah frustrasi karena tak bisa membuktikan kebenaran klaim Al-Qur’an secara historis / teologis. Dia lalu kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan remeh yang justru mendukung Alkitab. Bagi saya, kedatangan Maria Magdalena dan perempuan-perempuan lainnya untuk meminyaki mayat Yesus adalah tindakan yang salah karena tidak mempercayai kata-kata Yesus sendiri yang telah menubuatkan kebangkitannya pada hari yang ketiga (Bdk. Mat 20:19). Dan seandainya saja jika mereka menolak kebangkitan Yesus, mereka pasti akan binasa! Hal yang sama juga akan terjadi pada bapak Arda Chandra jika tetap konsisten dengan pandangannya.

Tak ada serangan yang cukup berarti dari seluruh pertanyaan Chandra ini. Sebaliknya, semuanya justru mendukung klaim Kitab Suci yang secara tegas memproklamirkan Kematian dan kebangkitan Kristus! Tindakan Arda yang terus menerus bertanya tanpa bisa mempertanggungjawabkannya, saya kira hanyalah trik / jurus yang biasa di gunakan untuk ‘menghindar / melarikan diri’ dari kesalahan sendiri. Saya tidak merasa terkejut dengan perilaku seperti ini karena pada umumnya, inilah yang seringkali dipertontonkan oleh para pendebat muslim.


TINJAUAN SECARA HISTORIS

Para skeptis biasanya akan menolak data Kitab Suci tentang kebangkitan Kristus. James Tabor menolak kebangkitan tubuh Yesus dan menganggapnya sebagai ‘rekayasa pengikut-Nya’. Demikian pula dengan Ioanes Rakhmat (seorang Liberal). Ahmad Deedat (apologet Islam) lebih parah lagi karena menolak peristiwa kematian Yesus di salib,dsb. Saya kira mereka adalah orang-orang yang hanya bermodalkan ‘ngotot’ tanpa bisa memberi argumentasi yang benar / valid. Sepanjang tak cocok dengan kitab / ajaran mereka, maka pasti akan diserang habis-habisan sekalipun tanpa memperdulikan apa dan bagaimana kwalitas argumennya.  Namun apakah mereka bisa memberikan sanggahan yang cocok dengan fakta sejarah? Sepanjang pengalaman saya berdiskusi dengan pihak Islam, tak ada satupun yang bisa memberikan data sejarah yang valid, yang bisa dijadikan rujukan untuk menggugurkan fakta penyaliban, kematian dan kebangkitan Kristus. Biasanya mereka hanya menggunakan sumber-sumber Injil non kanonik (seperti ‘Injil’ Yudas), atau tulisan Apokrif (misalnya Apocalypse of Peter), yang tentu saja bukan rahasia umum lagi bahwa tulisan-tulisan semacam itu punya ‘kwalitas yang rendah’. Kita bahkan bisa menunjukkan banyaknya pengakuan dari injil non kanonik / Apokrif yang mendukung historisitas penyaliban Kristus.

Edwin Yamauchi dari Miami University, seorang pakar ternama dalam bidang sejarah purba, berkata: “Kita memiliki dokumentasi historis tentang Yesus yang lebih baik daripada para pendiri agama purba yang lain.” Lee Strobel, mantan ateis yang memiliki gelar Master of Studies bidang Hukum dari Yale Law School, selanjutnya berkata: “Sumber-sumber di luar Alkitab mendukung bahwa banyak orang percaya Yesus mengadakan mukjizat-mukjizat penyembuhan, dan bahwa Dia adalah sang Mesias, bahwa Dia disalibkan, dan meskipun kematian-Nya sungguh memalukan, para pengikut-Nya yang meyakini bahwa Dia masih hidup, memuja-Nya sebagai Allah. Salah seorang pakar mendokumentasikan tiga puluh sembilan sumber-sumber purba yang mendukung lebih dari seratus fakta tentang kehidupan Yesus, ajaran-ajaran-Nya, penyaliban-Nya, dan kebangkitan-Nya…” [3]

Mayoritas para pengkritik dari umat Islam biasanya menggunakan teks dalam An-Nisa; 4:157 yang mencatat bahwa Yesus tidak disalib dan dibunuh. Seorang Islam berkata bahwa mereka yang mengakui penyaliban Yesus, telah “merubah keaslian ajaran Nabi Isa a.s” Para penulis Injil yang menulis Kitab Suci atas ‘inspirasi Allah’, bahkan dituduh telah “menyesatkan ajaran yang benar, yang diperjuangkan Nabi Isa a.s dengan mati-matian” [4]

Apakah penyaliban dan kematian Yesus hanyalah cerita dongeng yang tercatat dalam Alkitab, ataukah sebuah fakta sejarah? Berikut saya akan mengutip beberapa pengakuan dari para ahli sejarah atas peristiwa bersejarah ini.

Kesaksian para sejarawan purba

Pertama, ada beberapa penulis Romawi. Tacitus, “senior” di antara para sejarawan Roma (sekitar 60-120 M), antara lain telah menulis Annals, sebuah sejarah tentang para kaisar dari wangsa Julius-Claudius, mulai dengan Tiberius sampai dengan Nero (14-68 M). Dalam bagian tentang Nero, Tacitus secara ringkas menggambarkan penganiayaan orang-orang Kristen dan dalam proses tersebut menyebut nama pemimpin mereka, “Kristus, dari nama ini mereka telah memperoleh nama mereka, yang dibunuh oleh procurator Pontius Pilatus dalam pemerintahan Tiberius.” [5]

Lucian dari Samosata (sekitar tahun 125-190), yang dianggap oleh banyak orang sebagai penulis yang paling brilian dari sastra Yunani yang hidup kembali dibawah kekaisaran Romawi, yang juga menjadi pejabat pemerintah di Mesir, dalam karangan sindirannya tentang orang Kristen, yang diterbitkan dengan judul The Passing of Peregrinus (sekitar tahun 170), menggambarkan Kristus sebagai pemrakarsa kultus kekristenan dan menyebutkan bahwa Ia “disalibkan di Palestina” karena telah menciptakan kultus ini. [6]

Seorang sejarawan Yahudi ternama (abad pertama) yang bernama Josephus, dalam karyanya Antiquities (93 M) membuat sebuah pernyataan tentang Yesus dan “memberitahu bagaimana Pilatus menjatuhkan hukuman mati pada-Nya dan bagaimana Ia hidup kembali dan menampakkan diri kepada para pengikut-Nya pada hari ketiga” [7]

Yulius Afrikanus, menulis kira-kira tahun 221 M, mengutip seorang sejarawan keturunan Samaria (yang menulis tahun 52 M), menyatakan tentang saat-saat kegelapan pada waktu penyaliban Yesus, “Thallus, dalam buku ketiga tentang sejarahnya, menjelaskan tentang kegelapan ini sebagai sebuah gerhana matahari – kelihatannya tidak masuk akal bagi saya… Dan pada saat itu adalah masa bulan purnama paskah ketika Yesus mati.” [8]

Philopon (De. opif. mund. II 21) mengutip kata-kata Phlegon, seorang sejarawan abad pertama, mengatakan: “Dan mengenai kegelapan ini… Phlegon mengenangnya dalam Olympiads (judul buku sejarahnya).” Dia berkata bahwa “Phlegon berbicara tentang gerhana matahari yang terjadi pada waktu penyaliban Tuhan Kristus…” [9]

Kesaksian Bapa-bapa Gereja awal

Origen, seorang sarjana Kristen pada awal abad ketiga: “Agaknya Yesus telah disalibkan pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius. Pada peristiwa itu telah terjadi gerhana matahari dan gempa bumi besar, saya kira Phlegon juga telah menulis kejadian-kejadian itu di dalam buku Tawarikhnya yang ke-13 atau yang ke-14.” [10]

Ignatius (th. 50-115 M), Uskup Antiokhia, murid Rasul Yohanes berkata: “Dia disalibkan dan wafat dibawah pemerintahan Pontius . Dia benar-benar, dan bukan hanya tampaknya saja, disalibkan dan wafat, disaksikan oleh mahluk-mahluk di surga, di bumi, dan dibawah bumi… Dia benar-benar wafat, dan dimakamkan, dan bangkit dari antara orang mati…” [11]

Apa yang saya tunjukkan ini hanyalah sebagian kecil dari begitu melimpahnya kesaksian dari berbagai sumber yang terpercaya. Para sejarawan purba dari bangsa Romawi, Yunani, Yahudi, Samaria, serta para bapa Gereja telah dengan jelas mengatakan bahwa peristiwa kematian Yesus di salib dan kebangkitan-Nya adalah sebuah fakta sejarah yang tak terbantahkan! Lalu bagaimana mungkin para pengkritik umat Islam bisa dengan yakin mengatakan bahwa Yesus tidak mati disalib??? 


BUKTI ARKEOLOGIS

“John McRay, seorang profesor bidang arkeologi selama lebih dari lima belas tahun dan pengarang buku Archeology and the New Testament, mengatakan tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa penemuan-penemuan arkeologis telah memperkuat kredibilitas Alkitab Perjanjian Baru. Tidak ada satupun penemuan yang memutarbalikkan atau bertolak belakang dengan referensi Alkitab…” [12]

Makam Yesus

Posisi / letak kubur Yesus memang masih bisa diperdebatkan. Ada dua lokasi yang diklaim sebagai tempat dimana Yesus dikuburkan: Gereja Holly Sepulchre dan Garden Tomb. ‘Garden Tomb’ sepertinya tidak mendapat dukungan sejarah yang kuat. Sebaliknya, gereja ‘Holly Sepulchre’ mendapat konfirmasi dari para arkeolog.

Secara tradisi, lokasi Kalvari dan makam Yesus adalah di Gereja Makam Suci, yang terletak jauh di dalam kota tua Yerusalem. Konstantinus membangun sebuah gereja ditempat itu pada abad ke-4. Dalam membangun gerejanya, Konstantinus memindahkan sebuah kuil kecil yang dibangun oleh Hadrianus untuk Venus / Afrodite di tempat itu ketika ia membangun kembali kota Yerusalem pada awal abad ke-2 M. Orang-orang Kristen local telah memperkenalkan tempat ini kepada Ratu Helena, ibu Konstantinus, sebagai tempat kematian dan pemakaman Kristus, ketika ia mengunjungi Yerusalem pada tahun 326 M (Bahat, 35). Eusebius, sejarawan ternama, yang berkhotbah di gereja tersebut segera setelah pembangunannya selesai, melaporkan bahwa setelah kuil Venus disingkirkan, makam Kristus muncul (Charles Couasnon, The Church of the Holy Sepulcher Jerusalem [London: The British Academy, 1974]; 13-14). Gereja masa perang salib itu meliputi lokasi makam, taman, Kalvari, dan basilica Konstantinus. Tahun 1959 sebuah rencana pemugaran disepakati oleh badan-badan keagamaan. Tahun berikutnya, Virgilio Corbo dari Fransiscan School di Yerusalem ditunjuk sebagai Arkeolog untuk proyek tersebut. Pemugaran itu menyebabkan sejumlah besar penggalian di bawah gereja. Di bawah tembok sebelah utara dari bangunan bundar terletak sebuah makam yang secara tradisional dihubungkan dengan Yusuf Arimatea (Bahat, 31). Setelah menyelesaikan penelitiannya mengenai Gereja Makam Suci, Finegan menyimpulkan, “Dengan yakin kita dapat mencari di bawah atap bangunan ini tempat yang sesungguhnya dari Golgota dan makam Kristus” [13]
 
Penggunaan paku pada salib

Banyak orang telah meragukan kesejarahan dari penggunaan paku pada penyaliban di masa itu. Dr. J.W. Hewitt berkata: “Untuk menyimpulkan, bukti bahwa kaki seseorang yang disalibkan pernah ditembus paku sangatlah sedikit.” Ini berarti bahwa kisah Perjanjian Baru tentang Yesus yang dipaku disalib adalah salah. Tetapi pada bulan Juni tahun 1968, arkeolog V. Tzaveris, dibawah bimbingan Israeli Departement of Antiquities and Museums, menemukan 4 kubur dalam gua di tempat Giv’at ha-Mivtar (Rasel-Masaref) tepat diutara Yerusalem. Makam I, berasal dari abad pertama M, karena barang tembikarnya, berisi sejumlah osuari. Dalam osuari 4, dengan tulisan nama Yohanan Ben Ha’galgal, ditemukan tulang-tulang seorang pria dewasa dan seorang anak. Peninggalan kerangka itu diperiksa oleh DR. N. Haas dari departemen anatomi pada Hebrew University dan Hadassah Medical School. DR. Haas melaporkan mengenai pria dewasa itu: “Kedua tulang tumit ditemukan tertancap sebuah paku besi yang besar. Tulang keringnya ditemukan telah dipatahkan secara sengaja. Kematian disebabkan oleh penyaliban.” 14 Dengan demikian, maka cerita Alkitab dalam Yoh 20:25, terbukti benar.

Penemuan inskripsi

Pada Juni 1961 para arkeolog Italia yang dipimpin oleh Dr Frova  tahun 1961 menemukan prasasti di dekat Kaisarea, Israel; ‘The Pilate Inscription.’ Inskripsi ini tertulis Yesus mati di salib sama seperti yg dituliskan oleh penulis sekuler kuno Josephus (37 – 100 AD), Tacitus (55 – 115 AD), dan penulis-penulis PB.15


KESIMPULAN

Jika Kristus tidak disalib, mati dan bangkit pada hari ketiga, maka Yesus adalah seorang pendusta karena telah menubuatkan peristiwa ini (Mat 16:21; 17:22-23; 20:18-19). Para nabi di zaman PL juga adalah pendusta! Tetapi adanya seluruh fakta sejarah dan penemuan arkeologis yang mendukung seluruh peristiwa ini, membuktikan kebenaran Kitab Suci.

Penolakkan akan hal ini sama saja dengan menolak keselamatan sendiri! (bdk. 1 Kor 15:1-5 dan 17).



Sumber

[1] Lee Strobel, The Case For Christ, hal 257.
[2] ibid, hal 260. Bandingkan Kis 12:19.
[3] Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristiani, hal. 330, 331.
[4] Tasirun Sulaiman, AL-QUR’AN BERBICARA AGAMA LAIN, hal 111, 112, 113.
[5] Joseph P. Free, Arkeologi dan Sejarah Alkitab, direvisi dan diperluas oleh Howard F. Vos. Gandum Mas, 2001, hal 369.
[6] ibid, hal. 369, 370.
[7] ibid, hal. 370.
[8] Apologetika, Josh McDowell, Vol 3. Gandum Mas, 2007, hal 43,44. 
[9] ibid, Vol 1, hal 142.
[10] ibid, Vol 3, hal 45.
[11] ibid, Vol 1, hal 287,288.
[12] Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristiani, hal. 331.
[13] Joseph P. Free, Arkeologi dan Sejarah Alkitab, direvisi dan diperluas oleh Howard F. Vos. Gandum Mas, 2001, hal 387, 388.
[14] Apologetika, Josh McDowell, Vol 3. Gandum Mas, 2007, hal 328.
[15] http://www.bible-history.com/empires/pilate.html

1 komentar:

  1. Muslim selalu mencoba dgn berbagai eisegese utk membuktikan Yesus tidak mati melainkan pingsan. Namun bukti begitu melimpah menolak tesis tsb, pak Albert telah memaparkan dengan cukup lengkap bukti-bukti tsb.

    Sebagai tambahan, 3 bukti kuat lainnya:
    1. Berbagai anggapan kontradiksi dlm kisah penyaliban & kebangkitan Kristus, umumnya karena tdk memahami konteks, gaya sastra penulisan & menyerang menggunakan argument of silence. Lepas dari perdebatan masalah kontradiksi, tetap tidak menghilangkan HISTORICAL CORE, bahwa seorang tokoh kharismatis pada abad pertama di Palestina, telah dibunuh & mati di kayu salib. Kemudian bangkit berdasarkan kesaksian banyak orang, kuburnya dalam keadaan kosong & kisah kebangkitanNya telah menginspirasi para murid & pengikutNya untuk memberitakannya.

    2. Jika memang benar setelah penyaliban Yesus tidak mati, maka sungguh tidak masuk akal para murid bisa begitu bersemangat & penuh sukacita setelah bertemu Yesus. Justru yg terjadi mereka akan begitu bersedih melihat Yesus dengan kondisi sangat menyedihkan penuh luka-luka, lemah dan menderita. Rempah-rempah yg dianggap obat tidak mungkin bisa begitu cepat memulihkan kondisi Yesus tersebut.Justru yang masuk akal, para murid bersemangat & bersukacita, karena Yesus memang benar telah mati dan bangkit.

    3. Pasca peristiwa kematian & kebangkitan Petrus, terjadi perubahan dashyat terhadap para murid. Petrus yang tadinya penakut, menjadi tokoh gereja yang gagah berani bahkan menurut tradisi dia mati dengan posisi salib terbalik. Hampir semua para murid mengalami penyiksaan & kematian tragis karena memberitakan injil. Jika Yesus tidak mati & tidak pernah bangkit, mungkinkah mereka mau memberitakan sebuah kisah bohong? Adakah orang mau mati untuk suatu kebohongan?

    BalasHapus