Rabu, 26 Desember 2012

MANUSIA YESUS TIDAK KEKAL! (1)



Oleh: Pdt. Budi Asali, M.Div


Yoh 1:1,14 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.



Pendahuluan.

Yang membuat saya menyusun khotbah ini pada perayaan Natal ini adalah karena saya menerima email dari seseorang, yang berbunyi sebagai berikut:



Halo pak Budi, maap mengganggu. Saya mempunyai pertanyaan mengenai Kristologi dan sepertinya berbau Apollinarisme. Dibawah ini adalah sebuah pertanyaan yang dijawab oleh Pdt. Stephen Tong. Saya kurang puas dengan jawaban pak Tong karena koq sepertinya bertentangan ddengan pengakuan iman Nicea dan tidak tegas dalam menjawab. Apalah pak Budi, bisa memberikan komentarnya? Terima kasih sebelumnya.
          
Question: Did the dual nature, divine and human, of Christbegin with the incarnation into His infancy and does it last forever? (Original: 稣的神人二性是从道成肉身包括婴儿期一直到永远吗?)

Answer: Jesus’s humanity, in terms of His bodily needs and bodily human nature, began with His incarnation, but would it it possible that Jesus’s humanity already existed with Him from all eternity?


This is a big theological question. If humankind was created in God’s image, and if humankind’s humanity is created from the humanity that is a part within the deity, then Jesus would have possessed from all eternity the humanity that is archetypal of humankind, so “humanity” and “human body” are two different things. Many theologians find their starting point in identifying Jesus’s humanity with the human body. If that is the case, does a human being’s humanity exist before he possesses a body? After we die [physically], do we lose our humanity? We still possess the human nature after we die, right? If you don’t, then you become a demonic ghost! We are still human after we die, albeit a human soul that has departed from the body. So, is Jesus Christ’s humanity necessarily bound to His bodily existence? My answer is, not absolutely so. Then, I’ll leave you some room to think this through. (Original: 稣的人性从他肉身的需要跟肉身的人的本性,是他降生以后有的,但是耶稣的人性和他永恒中间有没有可能就有呢?这是很大的神学问题。假如说人是照着上帝的 形像造的,那假如人的人性是从神性里面的人性的部份造出来的话,那耶稣就有在永恒的人的模范的那个本性,所以「人性」跟「人的身体」是两件事情。很多的神 学家把人的身体就是耶稣人性的基础。那么,人性在人没有身体的时候还存在吗?我们死了以后还有没有人性呢?我们死了以后还有没有人性啊?没有人性了,那你 变成鬼了!我们死了以后还是人,过是一个灵魂离开身体的人。所以,这样,耶稣基督的人性是不是一定跟他的肉身的存在结合在一起呢?我的答案是,不是绝对 的。那你们再思考,留一点空间给你们。Translation mine).


Terjemahan saya:

Pertanyaan: Apakah dua hakekat, ilahi dan manusiawi, dari Kristus mulai dengan inkarnasi ke dalam ke-bayi-anNya dan apakah itu bertahan selama-lamanya?

Jawab (dari Pdt. Stephen Tong): “Kemanusiaan Yesus, berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan tubuhNya dan hakekat manusia jasmaniNya, mulai dengan inkarnasiNya, tetapi apakah memungkinkan bahwa kemanusiaan Yesus telah ada dengan Dia dari kekekalan? Ini merupakan suatu pertanyaan theologis yang besar. Jika umat manusia diciptakan dalam gambar Allah, dan jika kemanusiaan dari umat manusia diciptakan dari kemanusiaan yang merupakan suatu bagian di dalam keallahan, maka Yesus sudah mempunyai dari kekekalan kemanusiaan yang merupakan pola dari umat manusia, maka ‘kemanusiaan’ dan ‘tubuh manusia’ adalah dua hal yang berbeda. Banyak ahli theologia mendapatkan titik awal mereka dalam mengidentifikasi kemanusiaan Yesus dengan tubuh manusia. Jika itu adalah kasusnya, apakah kemanusiaan dari seorang manusia ada sebelum ia memiliki suatu tubuh? Setelah kita mati (secara jasmani), apakah kita kehilangan kemanusiaan kita? Kita tetap memiliki hakekat manusia setelah kita mati, benar? Jika kamu tidak memilikinya, maka kamu menjadi seorang hantu! Kita tetap adalah manusia setelah kita mati, sekalipun jiwa manusia telah meninggalkan / berpisah dari tubuh. Jadi, apakah kemanusiaan Yesus Kristus harus terikat pada keberadaan tubuh / jasmaniNya? Jawaban saya, tidak secara mutlak demikian. Jadi, saya memberi kamu tempat untuk memikirkan hal ini dalam-dalam.”.


Catatan
: bagian yang saya beri garis bawah tunggal betul-betul gila! Dari mana Pdt. Stephen Tong bisa beranggapan bahwa kemanusiaan adalah suatu bagian dalam keallahan? Apa dasarnya?


Juga bahwa Pdt. Stephen Tong membedakan antara ‘manusia Yesus’ dengan ‘kemanusiaan Yesus’, menurut saya merupakan omong kosong.


Dan ia menganggap (sekalipun tidak secara tegas) bahwa kemanusiaan Yesus itu kekal (sudah ada sebelum manusia Yesus itu ada), berdasarkan suatu argumentasi yang sangat konyol! Pada waktu seseorang mati, tentu saja ia tetap adalah manusia, karena sekalipun ada perpisahan antara tubuh dan jiwa / rohnya, tetapi jiwa / rohnya tetap ada. Tetapi sebelum orang itu ada dalam kandungan, jiwa / rohnya tidak ada, dan demikian juga dengan tubuhnya! Jadi seluruh manusia atau kemanusiaan (saya tak membedakan 2 hal ini) tidak mempunyai existensi sebelum manusia itu mulai ada dalam kandungan!

Bagian terakhir ini, tentang kekekalan dari manusia Yesus, adalah bagian yang ingin saya bahas dalam khotbah ini. Pdt. Stephen Tong bukan satu-satunya yang mempunyai pandangan seperti ini. Pdt. Petrus Pamuji (GKT / ITA Lawang) juga pernah berdebat dengan saya, dan dia berpandangan bahwa manusia Yesus kekal dan tidak dicipta. Ia bahkan ‘menantang’ saya dengan mengatakan kata-kata yang kurang lebih bunyinya adalah sebagai berikut: ‘Coba cari ahli theologia Reformed mana yang mengatakan bahwa manusia Yesus dicipta’. Dalam khotbah ini saya akan menjawab ‘tantangan’ itu.

Dan GKA bahkan mempunyai dalam pengakuan iman mereka kata-kata sebagai berikut: “Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah menjadi manusia (inkarnasi), Allah sejati dan manusia sejati yang memiliki dua natur dalam satu pribadi dari kekal sampai kekal”. (1)
Kata-kata ini berarti natur / hakekat manusia Yesus juga dari kekal sampai kekal.

Saya menyusun khotbah ini bukan dengan tujuan untuk menyerang, merusak, menghancurkan, atau melakukan apapun yang negatif terhadap orang-orang / gereja-gereja yang mempunyai pandangan yang salah, bahwa manusia Yesus itu kekal. Maksud saya adalah untuk meluruskan, dan menyatakan apa yang saya anggap sebagai kebenaran dalam hal itu, dan mencegah orang-orang lain dari kesesatan dalam hal ini.

I) Argumentasi yang mendukung pandangan bahwa manusia Yesus itu kekal.

1)   1Kor 15:47 - “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.”.

Ini mungkin sekali ditafsirkan sebagai berikut: ‘manusia kedua’ jelas menunjuk kepada Yesus Kristus. Dikatakan bahwa manusiaNya berasal dari surga, menunjukkan bahwa manusiaNya sudah ada sebelum inkarnasi.

Jawab:

Louis Berkhof (‘Systematic Theology’, hal 334) mengatakan bahwa ajaran Anabaptist mengatakan bahwa Kristus membawa hakekat manusiaNya dari surga (berdasarkan 1Kor 15:47b) dan bahwa Maria hanya merupakan saluran melalui mana Ia datang ke dunia. Jadi hakekat manusiaNya betul-betul merupakan ciptaan yang baru, yang serupa / mirip dengan kita tetapi secara organic tidak berhubungan dengan kita.

Kalau ini benar, maka boleh dikatakan bahwa Kristus adalah semacam bayi tabung yang dimasukkan ke dalam kandungan Maria!

Louis Berkhof / ajaran Reformed menentang ajaran Anabaptist tersebut di atas, dan mengajarkan bahwa Kristus mendapatkan hakekat manusiaNya dari ibuNya / Maria. Dengan kata lain, sebagai manusia, Yesus berasal dari sel telur Maria. Sel telur Maria tidak kekal, dan karena itu, jelas manusia Yesus juga tidak mungkin kekal!

Louis Berkhof: In opposition to the teachings of the Anabaptists, our Confession affirms that Christ assumed His human nature from the substance of His mother. The prevailing opinion among the Anabaptists was that the Lord brought His human nature from heaven, and that Mary was merely the conduit or channel through which it passed. On this view His human nature was really a new creation, similar to ours, but not organically connected with it. The importance of opposing this view will be readily seen. If the human nature of Christ was not derived from the same stock as ours but merely resembled it, there exists no such relation between us and Him as is necessary to render His mediation available for our good. (= ) - ‘Systematic Theology’, hal 334.

Lalu bagaimana kita menjelaskan 1Kor 15:47b itu? Penjelasan ayat itu adalah sebagai berikut: Dalam Alkitab memang banyak ayat-ayat yang menggunakan sebutan / gelar yang hanya cocok untuk hakekat yang satu, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat yang lain. Ini terbagi dalam 2 golongan:

a)   Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar ilahi, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat manusia.


Contoh
:

1.   Kis 20:28 (NIV):  ‘... the church of God, which he bought with his own blood’ (= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli dengan darahNya sendiri).


Catatan: dalam ayat ini TB1 - LAI salah terjemahan karena menterjemahkan ‘darah AnakNya’. Ini dibetulkan dalam TB2 - LAI yang menterjemahkan ‘darahNya’ (menghapus kata ‘Anak’ yang memang sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya).
Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Allah’), tetapi predikatnya berbicara tentang ‘darah’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

2.   1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia’ / ‘The Lord of glory’), tetapi menggunakan predi­kat ‘menyalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

3.   1Yoh 1:1 - “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Firman’ / LOGOS), tetapi menggunakan predikat ‘telah kami lihat dengan mata kami’ dan ‘telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

4.   Wah 11:8 - “Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘disalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

5.   Ibr 7:14 - “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘berasal dari suku Yehuda’, yang tentu saja hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

b)   Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar manusia, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


Contoh
:

1.   Mat 9:6 - “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa’ - lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu - : ‘Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’”.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘berkuasa mengam­puni dosa’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


2.   Mat 12:8 -
“Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.’”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘Tuhan atas hari Sabat’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


3.   Yoh 3:13 - “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘telah turun dari sorga’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

4.   Yoh 6:62 - “Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.


5.   1Kor 15:47 juga harus dijelaskan dengan cara yang sama.
1Kor 15:47b - “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.”.


Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘manusia kedua’), tetapi menggunakan predikat ‘berasal dari sorga’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.
Dengan demikian ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa manusia Yesus berasal dari surga, yang lalu dimasukkan ke dalam kandungan Maria, dan lebih-lebih lagi ayat ini tidak menunjukkan bahwa manusia Yesus itu kekal!

Calvin menjelaskan mengapa hal itu dilakukan dalam Alkitab dengan berkata sebagai berikut:

“And they (Scriptures) so earnestly express this union of the two natures that is in Christ as sometimes to inter­change them”  [= Dan mereka (Kitab-kitab Suci) begitu sungguh-sungguh mewujudkan kesatuan dari dua hakekat yang ada di dalam Kristus sehingga kadang-kadang menukar / membolak-balik mereka] - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 1.

“Because the selfsame one was both God and man, for the sake of the union of both natures he gave to the one what belonged to the other” (= Karena ‘orang’ yang sama adalah Allah dan manusia, demi kesatuan dari kedua hakekat, ia memberikan kepada yang satu apa yang termasuk pada yang lain) - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 2.

Westminster Confession of Faith, Chapter 8 No 7:
“Christ, in the work of mediation, acts according to both natures, by each nature doing that which is proper to itself; yet, by reason of the unity of the person, that which is proper to one nature is sometimes in scripture attributed to the person denominated by the other nature.” (= Kristus, dalam pekerjaan pengantaraan, bertindak sesuai dengan kedua hakekat, dengan setiap hakekat melakukan apa yang cocok bagi dirinya sendiri; tetapi, karena kesatuan pribadi, apa yang cocok untuk hakekat yang satu dalam Kitab Suci kadang-kadang dihubungkan dengan pribadi yang disebut dengan hakekat yang lain.).

2)   Theophany.

Theophany merupakan pemunculan Allah dalam bentuk manusia dalam Perjanjian Lama, dan biasanya para ahli theologia menganggap bahwa ini menunjuk kepada Yesus.

Kalau ini digunakan sebagai dasar, maka bacalah Kej 18-19.


Kej 18:1-2,16,22 - “(1) Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik. (2) Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah, ... (16) Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. ... (22) Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.”.


Kej 19:1 - Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah,”.


Bdk. Ibr 13:2 - “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.”.

Jadi jelas, bahwa di sana ada tiga orang, yang satu adalah Allah sendiri (Kej 18:22b; pada umumnya dianggap sebagai Allah Anak), sedangkan yang dua adalah malaikat (Kej 19:1  Ibr 13:2).
Jadi, kalau ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa pada saat itu Yesus betul-betul sudah adalah manusia, maka secara konsisten harus dikatakan bahwa malaikat-malaikat juga adalah manusia / mempunyai hakekat manusia! Dan ini akan menjadi suatu kekonyolan!

Jadi, Theophany hanya menunjukkan pemunculan Allah atau malaikat-malaikat dalam bentuk manusia, tetapi itu tidak berarti bahwa manusia yang mereka gunakan untuk menampilkan diri itu betul-betul ada!

Bdk. Dan 7:13 - “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapanNya.”.
Catatan: ini jelas juga adalah Theophany.

Komentar Calvin tentang kata-kata seperti anak manusia’ dalam Daniel 7:13:
“We must now see why he uses the word ‘like’ the Son of man; ... the Prophet says, ‘He appeared’ to him ‘as the Son of man,’ as Christ had not yet taken upon him our flesh. And we must remark that saying of Paul’s: ‘When the fulness of time was come, God sent his Son, made of a woman.’ (Gal. 4:4.) Christ then began to be a man when he appeared on earth as Mediator, for he had not assumed the seed of Abraham before he was joined with us in brotherly union. This is the reason why the Prophet does not pronounce Christ to have been ‘man’ at this period, but only ‘like man;’ for otherwise he had not been that Messiah formerly promised under the Law as the son of Abraham and David. For if from the beginning he had put on human flesh, he would not have been born of these progenitors. It follows, then, that Christ was not a man from the beginning, but only appeared so in a figure. ... This was a symbol, therefore, of Christ’s future flesh, although that flesh did not yet exist [= Sekarang kita harus melihat mengapa ia menggunakan kata ‘seperti’ Anak manusia; ... sang Nabi berkata ‘Ia muncul / kelihatan’ baginya ‘seperti Anak manusia’, karena Kristus belum mengambil bagiNya daging kita. Dan kita harus memperhatikan kata-kata Paulus itu: ‘Pada waktu kegenapan waktunya tiba, Allah mengutus AnakNya, dibuat dari seorang perempuan’. (Gal 4:4). Maka Kristus mulai menjadi / adalah manusia ketika Ia muncul di bumi sebagai Pengantara, karena Ia belum mengambil benih / keturunan Abraham sebelum Ia digabungkan dengan kita dalam persatuan persaudaraan. Ini adalah alasan mengapa sang Nabi tidak mengumumkan bahwa Kristus sudah adalah ‘manusia’ pada masa ini, tetapi hanya ‘seperti manusia’; karena kalau tidak, maka Ia bukanlah Mesias itu yang sebelumnya dijanjikan di bawah hukum Taurat sebagai anak / keturunan Abraham dan Daud. Karena seandainya dari semula Ia telah mengenakan daging manusia, Ia tidaklah dilahirkan dari para nenek moyang ini. Maka akibatnya adalah bahwa Kristus bukanlah seorang manusia dari semula, tetapi hanya terlihat demikian dalam suatu bentuk tubuh manusia. ... Karena itu, ini adalah suatu simbol, dari daging Kristus yang akan datang, sekalipun daging itu belum ada / belum mempunyai keberadaan].

Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.

3)   Ibr 13:8 - “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”.

Ayat ini dianggap menunjukkan ketidakberubahan Yesus. Kalau manusia Yesus mempunyai titik awal / tidak kekal, maka Yesusnya berubah, dari Allah saja, menjadi sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Jawab:

a)   Kebanyakan penafsir menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan tidak berubah dalam ayat ini bukanlah Yesusnya sendiri ataupun existensiNya, tetapi hal-hal lain tentang Yesus, seperti kedaulatanNya, pemerintahanNya, hubunganNya / sikapNya kepada kita yang adalah orang-orang percaya, dsb.

Calvin (tentang Ibr 13:8): “‘Jesus Christ the same,’ etc. The only way by which we can persevere in the right faith is to hold to the foundation, and not in the smallest degree to depart from it; for he who holds not to Christ knows nothing but mere vanity, though he may comprehend heaven and earth; for in Christ are included all the treasures of celestial wisdom. This then is a remarkable passage, from which we learn that there is no other way of being true, wise than by fixing all our thoughts on Christ alone. Now as he is dealing with the Jews, he teaches them that Christ had ever possessed the same sovereignty which he holds at this day; ‘The same,’ he says, ‘yesterday, and today, and forever.’ By which words he intimates that Christ, who was then made known in the world, had reigned from the beginning of the world, and that it is not possible to advance farther when we come to him. ‘Yesterday’ then comprehends the whole time of the Old Testament; and that no one might expect a sudden change after a short time, as the promulgation of the Gospel was then but recent, he declares that Christ had been lately revealed for this very end, that the knowledge of him might continue the same for ever. It hence appears that the Apostle is not speaking of the eternal existence of Christ, but of that knowledge of him which was possessed by the godly in all ages, and was the perpetual foundation of the Church. It is indeed certain that Christ existed before he manifested his power; but the question is, what is the subject of the Apostle. Then I say he refers to quality, so to speak, and not to essence; for it is not the question, whether he was from eternity with the Father, but what was the knowledge which men had of him. But the manifestation of Christ as to its external form and appearance, was indeed different under the Law from what it is now; yet there is no reason why the Apostle could not say truly and properly that Christ, as regarded by the faithful, is always the same. (= ).

Matthew Henry (tentang Ibr 13:8): First, From the immutability and eternity of the Lord Jesus Christ. Though their ministers were some dead, others dying, yet the great head and high priest of the church, the bishop of their souls, ever lives, and is ever the same; and they should be stedfast and immovable, in imitation of Christ, and should remember that Christ ever lives to observe and reward their faithful adherence to his truths, and to observe and punish their sinful departure from him. Christ is the same in the Old-Testament day, in the gospel day, and will be so to his people for ever. (= ).

Adam Clarke (tentang Ibr 13:8): “‘Jesus Christ the same yesterday.’ In all past times there was no way to the holiest but through the blood of Jesus, either actually shed, or significantly typified. Today - he is the lamb newly slain, and continues to appear in the presence of God for us. Forever - to the conclusion of time, he will be the way, the truth, and the life, none coming to the Father but through him; and throughout eternity, ‎eis ‎‎tous ‎‎aioonas‎, it will appear that all glorified human spirits owe their salvation to his infinite merit. This Jesus was thus witnessed of by your guides, who are already departed to glory. Remember HIM; remember them; and take heed to yourselves.” (= ).

Barnes’ Notes (tentang Ibr 13:8): “‘Jesus Christ the same yesterday ...’ As this stands in our common translation, it conveys an idea which is not in the original. It would seem to mean that Jesus Christ, the unchangeable Saviour, was the end or aim of the conduct of those referred to, or that they lived to imitate and glorify him. But this is by no means the meaning in the original. There it stands as an absolute proposition, that ‘Jesus Christ is the same yesterday, today, and forever;’ that is, that he is unchangeable. The evident design of this independent proposition here is, to encourage them to persevere by showing that their Saviour was always the same; that he who had sustained his people in former times, was the same still, and would be the same forever. The argument here, therefore, for perseverance is founded on the ‘immutability’ of the Redeemer. If he were fickle, vacillating, changing in his character and plans; if today he aids his people, and tomorrow will forsake them; if at one time he loves the virtuous, and at another equally loves the vicious; if he formed a plan yesterday which he has abandoned today; or if he is ever to be a different being from what he is now, there would be no encouragement to effort. Who would know what to depend on? Who would know what to expect tomorrow? For who could have any certainty that he could ever please a capricious or a vacillating being? Who could know how to shape his conduct if the principles of the divine administration were not always the same? At the same time, also, that this passage furnishes the strongest argument for fidelity and perseverance, it is an irrefragable proof of the divinity of the Saviour. It asserts immutability - sameness in the past, the present, and to all eternity but of whom can this be affirmed but God? It would not be possible to conceive of a declaration which would more strongly assert immutability than this. (= ).

Pulpit Commentary (tentang Ibr 13:8): Ver. 8 must be taken as a distinct appended sentence, the watchword on which the preceding exhortation is based. Its drift is that, though successive generations pass away, Jesus Christ remains the same - the Savior of the living as well as of the departed, and the Savior of all to the end of time. It may be here observed that, though his eternal Deity is not distinctly expressed - for ‘yesterday’ does not of necessity reach back to past eternity - yet the sentence can hardly be taken as not implying it. For his unchangeableness is contrasted with the changing generations of men, as is that of Jehovah in the Old Testament (e.g. in Ps 90:2-4), and surely such language would not have been used of any but a Divine Being. (= ).

Catatan: dalam bagian yang saya beri garis bawah ganda dari kutipan dari Barnes maupun Pulpit Commentary, terlihat bahwa mereka juga menerapkan ketidak-berubahan itu kepada diri Yesus sendiri, dan mereka gunakan untuk membukitkan keilahian Yesus. Jelas mereka tidak menerapkan hal itu kepada manusia Yesus! Kita memang tidak bisa memisahkan Yesus sebagai manusia dan Yesus sebagai Allah, tetapi kita bisa membedakannya.

b)   Kalau ayat ini mau diterapkan kepada diri dari Yesusnya, maka kita harus menerapkannya kepada Yesus sebagai Allah, bukan kepada Yesus sebagai manusia. Sebagai manusia Dia jelas berubah, baik fisikNya maupun pengetahuan / hikmatNya (Luk 2:40,52)!

Luk 2:40,52 - “(40) Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya. ... (52) Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”.

William Hendriksen (tentang Luk 2:40): By and large it resembled the development of any other normal child. This brings to mind Heb. 4:15, ‘one who has been in every respect tempted as we are.…’ ... The finite character of Christ’s human nature is sometimes denied. For example, when it is suggested that even when he was a man there were certain things which, according to his human nature, Jesus did not know, some devout believers are shocked. Are they forgetting such clear passages as Matt. 24:36; Mark 5:32; 11:13; Luke 8:45? The present passage too shows very clearly that according to his human nature there were certain things which the child Jesus did not know from the start. He had to learn them. He had to grow up, and this not only physically but also mentally, etc. In a sense did not the process of learning continue throughout his life? See Heb. 5:8. Those who deny this are in danger of acquiring the mentality that must have marked the authors of certain apocryphal writings. These picture Jesus as being, even according to his human nature, omniscient and almighty (or at least nearly so), and this from the very start. Lions and leopards worship him. The infant Jesus says to a palm, ‘Bend down and refresh my mother with your fruit,’ and it does so immediately. At five years of age Jesus models twelve sparrows out of soft clay. He claps his hands and the sparrows become alive and fly away, etc., etc. All this is clearly contrary to the pleasing reticence that marks Luke 2:40. [= Pada umumnya itu (perkembangan bayi Yesus) menyerupai perkembangan dari anak normal manapun. Ini mengingatkan pada Ibr 4:15, ‘seseorang yang telah dicobai dalam segala hal seperti kita ...’ ... Karakter yang terbatas dari hakekat manusia Kristus kadang-kadang disangkal. Sebagai contoh, pada waktu diusulkan / ditunjukkan bahwa bahkan pada waktu Ia adalah seorang manusia, ada hal-hal tertentu yang, sesuai dengan hakekat manusiaNya, yang Yesus tidak tahu, sebagian orang-orang percaya yang saleh kaget. Apakah mereka lupa text-text yang jelas seperti Mat 24:36; Mark 5:32; 11:13; Luk 8:45? Text saat ini juga menunjukkan dengan jelas bahwa menurut hakekat manusiaNya ada hal-hal yang anak Yesus tidak tahu dari awal. Ia harus bertumbuh, dan ini bukan hanya secara fisik tetapi juga secara mental / pikiran, dsb. Dalam arti tertentu tidakkah proses belajar berlanjut sepanjang hidupNya? Lihat Ibr 5:8. Mereka yang menyangkal ini ada dalam bahaya mendapatkan mentalitas yang pasti telah menandai pengarang-pengarang dari tulisan-tulisan Apocrypha tertentu. Tulisan-tulisan ini menggambarkan Yesus, bahkan menurut hakekat manusiaNya, sebagai maha tahu dan maha kuasa (atau setidaknya hampir demikian), dan ini sejak permulaan yang paling awal. Singa-singa dan macan-macan tutul menyembahNya. Bayi Yesus berkata kepada sebuah pohon palm, ‘membungkuklah dan segarkan ibuKu dengan buahmu’, dan pohon itu segera melakukan demikian. Pada usia lima tahun Yesus membuat / membentuk 12 burung pipit dari tanah liat yang lembut. Ia bertepuk tangan dan burung-burung pipit itu menjadi hidup dan pergi terbang, dsb., dsb. Semua ini secara jelas bertentangan dengan sikap diam yang menyenangkan yang menandai Luk 2:40.].

Mat 24:36 - “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’”.

Mark 5:32 - “Lalu Ia memandang sekelilingNya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.”.

Mark 11:13 - “Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara.”.

Luk 8:45 - Lalu kata Yesus: ‘Siapa yang menjamah Aku?’ Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: ‘Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.’”.

Ibr 5:8 - “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya,”.

William Hendriksen (tentang Luk 2:40): Luke writes, ‘And the child continued to grow … being (or becoming) filled with wisdom.’ He uses the present tense of the participle, indicating that this development in wisdom was a gradual, day by day, process. What is meant by wisdom? That it includes knowledge is clear. But it far surpasses knowledge. It implies the ability and the desire to use this knowledge to the best advantage. (= Lukas menulis, ‘Dan Anak itu terus bertumbuh ... menjadi diisi / dipenuhi dengan hikmat’. Ia menggunakan tensa present dari participle, menunjukkan bahwa perkembangan dalam hikmat ini merupakan suatu proses bertahap, hari demi hari. Apa yang dimaksudkan dengan ‘hikmat’? Bahwa itu mencakup pengetahuan adalah jelas. Tetapi itu jauh melampaui pengetahuan. Itu secara tak langsung menunjuk pada kemampuan dan keinginan untuk menggunakan pengetahuan ini pada manfaat yang terbaik.).




-bersambung-




Catatan kaki :
(1) : Saya baru ditelpon oleh Pdt Ruslan, yg pernah menjabat ketua sinode GKA, dan yang sekarang ini adalah Ketua Departemen Theologia di GKA, dan ia menjelaskan bahwa kata-kata tentang 2 natur yang dari kekal sampai kekal itu memang salah, dan kesalahan itu SUDAH disadari sejak awal. Dalam Sidang Sinode, hal itu sudah dinyatakan sebagai salah, dan disetujui untuk diubah, dan sekarang hanya tinggal menunggu keputusan perubahannya secara resmi.


BACA SELENGKAPNYA:
Manusia Yesus Tidak Kekal !!!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar