Sabtu, 15 Januari 2011

Jawaban yang sesungguhnya atas sayembara Jalan Avraham tentang 'memecahkan misteri Matius 27:9' (Part 2)

Oleh: Albert Rumampuk



Ini adalah bagian kedua dari jawaban saya atas sayembara yang diadakan Jalan Avraham (JA), seorang muslim, pengelolah situs http://jalanibrahim.wordpress.com/. Perlu diketahui, beberapa waktu yang lalu JA mengadakan sayembara 'berhadiah' yang diberi judul:

"Sayembara memecahkan Misteri Matius 27:9"

http://www.facebook.com/notes/jalan-avraham/sayembara-memecahkan-misteri-matius-279/10150290349190454.

Tujuan tulisan ini adalah menantang siapa saja yang dapat menjawab pertanyaan yang diajukan, akan diberi hadiah berupa “penutupan akun JA”. Bagi saya sayembara yang diadakan JA ini, justru memunculkan satu pertanyaan: Apa maksud dan tujuan sayembara itu? Jika dalam tulisan saya yang pertama telah diberikan sedikit tanggapan atas sayembara tersebut, maka dibagian kedua ini, saya akan lebih memperjelasnya lagi.

Sebelumnya, mari kita melihat Matius 22:15-22,

“Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.”

Bagian ini menceritakan tentang orang-orang Farisi dan Herodian yang sedang menyampaikan satu pertanyaan pada Yesus. Sebelum menyampaikannya, mereka terlebih dahulu ‘memuji’ Yesus dengan mengatakan bahwa Dia adalah orang  yang jujur, jujur mengajar jalan Allah, tidak takut kepada siapapun dan seorang yang tidak mencari muka.
Saya yakin kata-kata ‘pembuka’ dari mereka ini benar adanya (bdk. Kesucian Yesus dalam 2 Kor 5:21; Ibr 4:15). Tetapi tentunya ‘pujian’ tersebut tidak dikatakan dengan hati yang tulus.
Namun ada hal yang aneh disini, Yesus justru balik menyerang mereka! Perhatikan ayat 18:

“Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: 'Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?'”.

Saya pikir, ini adalah suatu ungkapan yang ‘mematikan’ bagi orang-orang Farisi itu. Betapa tidak, para murid yang diutus oleh guru mereka itu, sebelumnya telah melakukan perundingan yang terencana dan matang. Tetapi saat mengajukan pertanyaan, Yesus justru ‘menghajar’ mereka! Saya tak bisa membayangkan betapa grogi dan malunya para murid tersebut saat mendengar kata-kata Yesus itu.

Tetapi, yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa Yesus melakukan hal itu? Bukankah para murid itu sedang bertanya dengan baik-baik? Jawabannya ada dalam ayat 15,

“Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan”

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang Farisi tersebut telah mengadakan persekongkolan / pemufakatan agar dapat menjerat / menjebak Yesus (bdk. Mat 12:10). Ternyata mereka tidak sungguh-sungguh bertanya dan hanya ingin mencari-cari kesalahan Yesus dengan menjebaknya. Disamping itu, perlu diketahui bahwa orang-orang Farisi dan Herodian merupakan 2 kelompok yang sama-sama membenci Yesus dan meragukan keMesiasan-Nya (Bandingkan dengan keraguan / ketidakpercayaan JA atas keTuhanan Yesus). Yesus yang Maha Tahu, tentu mengetahui dengan persis niat jahat tersebut dan langsung membongkarnya.

Ini adalah tanggapan Yesus yang pertama atas serangan orang-orang Farisi itu, yang kemudian disusul dengan tanggapannya kedua dengan menjawab serangan / pertanyaan  tersebut (ayat 20-21).

Mungkin para pembaca bertanya-tanya apa hubungannya dengan persoalan ‘sayembara’ JA itu? Baiklah sekarang saya akan menjelaskannya. Pertama-tama, silahkan saudara simak ‘wawancara’ singkat saya pada JA disini: http://www.facebook.com/notes/albert-rumampuk/jawaban-yang-sesungguhnya-atas-sayembara-jalan-avraham-tentang-memecahkan-mister/155390554493666.

Jika saudara mencermatinya, maka dalam diskusi itu JA sama sekali tidak mempertanyakan serangan saya atas ‘ketidakjujurannya’ dengan meminta bukti atas ‘klaim’ saya tersebut. Tahukah saudara, bagi saya ini justru membuktikan bahwa JA merasa bahwa dia memang ‘tidak jujur’. Namun kemudian saya sendiri yang memberi sedikit bukti ketidakjujurannya itu. Ketika mengatakan JA tidak jujur / tidak tulus, saya tidak hanya asal bicara, tapi itu adalah hal yang bisa dilihat dengan jelas.

Paling tidak ada 3 bukti ketidakjujuran JA:

1) JA suka menghapus komentar lawan


- Hal itu bisa dilihat langsung dari diskusi saya dengannya disini:
  http://www.facebook.com/notes/jalan-avraham/sayembara-memecahkan-misteri-matius- 279/10150290349190454

- Kesaksian Welly Mainollo:
"Hahahaaa... berharap si JA jujur? impossible... kemarin saja doi dibantai dan di-peti-mati-kan di dua bahasan sekaligus: Matius 15:24 dan Yesus jalan2 ke India, eh ga taunya ternyata bahasannya sudah dihapus... wkwkwkkkk... dasar tukang tipu.."

- Kesaksian Oml Tobing:
"Status, yang sama dgn yg tadi malam DIULANG. Why ?DIHAPUS karna ngak sudi mengakui kesalahan, tdk bisa jawab atau biar anda  kelihatan sempurna? Hahaha...Mengakui kekurangan adalah kebaikan bro.!Mari piara budaya malu.Bukan malu-maluin."

Mengapa JA suka menghapus komentar lawan? Ada beberapa kemungkinan:

- Dia takut kalah debat
- Tidak bisa jawab
- Kesalahan / kesesatannya mungkin sudah terbongkar
- Takut dipermalukan
- Atau merasa terjepit, kepepet, dsb.

Ini jelas merupakan tindakan yang tidak fair / tak jujur alias pengecut!

2)  JA punya motivasi yang salah

Sebelumnya JA hanya mencari-cari ayat-ayat yang mengindikasikan adanya Islam dalam Alkitab, tetapi setelah kami (Kristen) menghancurkan serangannya itu, dia lalu mulai mencari-cari kesalahan Alkitab (Bandingkan dengan kelakuan orang Farisi dalam ayat 15 tadi). Ini dibuktikan JA dengan mengadakan sayembara ‘berhadiah’, bahkan dengan mempertaruhkan akunnya sendiri. Apa sebetulnya tujuan sayembara itu? Mungkinkah JA sedang mencari muka? Atau dia sudah kehilangan muka??

Bagi saya, tindakan JA ini jelas bukan tindakan dari seorang ‘pencari kebenaran’ yang sungguh-sungguh tulus, tapi merupakan tindakan seorang ‘pencari kesalahan’ yang sungguh munafik!

3)  Tidak berani mengakui kesalahannya

Bukti yang ketiga, bisa dilihat disini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=150960391603349
Disitu saya telah membuat jawaban atas 2 ayat yang menjadi dasar JA untuk mengklaim bahwa Muhammad ada dan dinubuatkan dalam Alkitab. Saya kira para pembaca bisa melihat dengan jelas bahwa JA telah dibuat TKO dan tak berkutik sama sekali. Tetapi anehnya, dia tetap bersikeras dan tak mau mengakui jawaban tersebut, padahal saya telah menunjukkannya dengan gamblang. Ini membuktikan apa? Lagi-lagi JA adalah seorang yang tidak bersikap jujur dalam mengakui kesalahannya.

Jika memang demikian, lalu buat apa JA mengadakan sayembara???



Kesimpulan:

1) Sayembara yang dibuat JA itu adalah sayembara ‘murahan’ dari seorang pengecut yang tidak jujur dan munafik.

2) Bagi orang Kristen / hamba Tuhan / para Pendeta, hendaklah ini menjadi satu pelajaran agar dalam setiap tindakan dan pelayanan kita pada Tuhan, jangan lupa untuk selalu menyertakan kejujuran, ketulusan, keberanian dan jangan sekali-kali mencari muka.


Catatan: Seri pertama bisa dilihat disini:
http://www.facebook.com/notes/albert-rumampuk/jawaban-yang-sesungguhnya-atas-sayembara-jalan-avraham-tentang-memecahkan-mister/155390554493666

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar