
Beberapa waktu yang lalu, di sebuah forum dialog Judeo Christianisme Vs Kristen, Pdt. Teguh Hindarto, M.Th meluncurkan sebuah tulisan tentang Predestinasi. Beliau menolak paham yang diyakini oleh kelompok Calvinisme tersebut. Baginya, ini bertentangan dengan rencana YHWH untuk menyelamatkan manusia. Bagaimana Calvinisme menjawab hal ini? Berikut adalah artikel Teguh Hindarto (warna hitam) dan sanggahan dari Pdt. Budi Asali, M.Div (warna coklat).
Teguh Hindarto:
PREDESTINASI TERHADAP ORANG YANG BERIMAN PADA YESUS SEBAGAI MESIAS
ANAK TUHAN
YHWH telah
memiliki RENCANA (zamam, yatsar, Ibr) dalam kekekalan mengenai penciptaan dunia, baik fisik maupun metafisik dan, penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, organisme lainnya. Ketika
YHWH menciptakan dunia, Dia memberikan identifikasi BAIK terhadap seluruh
ciptaan-Nya, bahkan amat baik (Kej 1:4,10,12,18,21,25,31)
Tujuan Penciptaan Alama Semesta dan Manusia
Mencerminkan kemuliaan YHWH
“Langit menceritakan kemuliaan Tuhan, dan cakrawala memberitakan
pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2)
Mencerminkan kekuasaan YHWH (Mzm 50:6)
“Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Tuhan sendirilah Hakim.
S e l a” (Mzm 50:6)
Menjadi mandataris YHWH (Kej 1:27-28)
“Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Tuhan diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya
mereka. Tuhan memberkati mereka, lalu Tuhan berfirman kepada mereka:
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,
berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala
binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:27-28)
Dosa Mencemari Rencana Tuhan
Tanggapan Budi Asali:
Kalau rencana
manusia bisa dicemari, tetapi kalau rencana Allah tidak mungkin bisa
dicemari. Pada waktu Ia membuat rencana, Ia tahu segala sesuatu yang akan
terjadi. Lalu untuk apa membuat rencana yang akan dicemari?
Ia maha kuasa,
sehingga semua rencanaNya pasti terjadi, tak ada yang gagal atau berubah.
Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana
bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana
TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.
Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan
langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku
telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari
pada itu”.
Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2)
‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada
rencanaMu yang gagal’”.
Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah,
firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi,
dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26)
Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan
yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah
merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung,
siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.
Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya
hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang
berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan,
(11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan
putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak
melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.
Dosa /
kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:
a) Adam ditentukan untuk tidak jatuh.
Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam
direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh.
b) Allah tidak merencanakan apa-apa
tentang hal itu.
Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai
Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti
jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30),
bagaimana mungkin tentang hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut
kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mempunyai Rencana?
c) Allah
memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.
Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan
inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa
sudah ada dalam Rencana Allah.
Teguh Hindarto:
Apakah YHWH
menciptakan adanya dosa? Tidak! Dosa adalah pelanggaran terhadap Hukum YHWH
oleh manusia. Jika
YHWH menciptakan dosa, berarti dalam diri YHWH ada dosa dan ini tidak mungkin
Tanggapan Budi
Asali:
Calvinist juga
tak percaya Allah sebagai pencipta dosa. Menentukan dosa, dan mengatur
(secara pasif) terjadinya dosa, berbeda dengan menciptakan dosa.
Teguh Hindarto:
Apakah YHWH
bertanggung jawab terhadap kejatuhan manusia dalam dosa? Tidak! YHWH
sudah memberi peringatan kepada manusia sebelumnya. Kejatuhan adalah tanggung jawab manusia. Namun
semua yang terjadi atas sepengetahuan dan seijin YHWH
Tanggapan Budi Asali:
Ada 2 kata
dari kalimat anda di atas yang akan
saya bahas:
1)
‘Sepengetahuan’.
Kalau Dia maha tahu, Dia pasti tahu apapun yang akan
terjadi sejak minus tak terhingga. Kalau Dia tahu, maka apa yang Dia tahu
pasti terjadi. Kalau pasti terjadi, maka semua itu sudah tertentu. Kalau
sudah tertentu, siapa yang menentukan? Pada saat itu hanya ada Allah saja!
Calvinist mengatakan: Allah yang menentukan. Kalau tak setuju jawaban ini,
berikan jawaban alternatif. Bagaimana mungkin pada minus tak terhingga segala
sesuatu sudah tertentu?
2) ‘Seijin’.
R. C. Sproul: “That
God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of
his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission.
If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to
allow something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say that God
foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign
over his entire creation. If something could come to pass apart from his
sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his
sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened
anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power
than God himself. If there is any part of creation outside of God’s
sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then
God is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject
divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam
arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus
ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus
terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan
untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka
dalam arti tertentu Ia menentukannya. ... Mengatakan bahwa Allah menentukan
segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah
itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di
luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi
kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap
terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan
kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan
berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah
tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ... Tanpa kedaulatan Allah
tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka
kita harus mempercayai atheisme) - ‘Chosen
By God’, hal 26-27.
Teguh Hindarto:
Mengapa YHWH
mengijinkan kejatuhan manusia dalam dosa? YHWH, dalam Kemaha tahuanNya, telah
melihat bahwa manusia akan memberontak terhadap diriNya. Dalam
KemahatahuanNya, YHWH telah MERENCANAKAN untuk memulihkan, menyelamatkan,
menebus ciptaan (dunia dan manusia)
Tanggapan Budi Asali:
Lucu sekali. Ia merencanakan ‘obat’nya,
tetapi tidak merencanakan ‘penyakit’nya? Kalau penyakitnya tidak ditentukan,
berarti bisa terjadi bisa tidak. Bagaimana kalau tidak terjadi? Lalu apa
gunanya obatnya?
Disamping itu,
kalau sesuatu belum ditentukan oleh Allah, Ia sendiri tidak mungkin tahu akan
hal itu. Ini mungkin sukar dimengerti / diterima. Tetapi coba pikir, kalau
sesuatu belum ditentukan, maka dari sudut pandang Allahpun, itu bisa terjadi
dan bisa tidak. Jadi dari sudut pandang Allahpun itu tidak pasti. Bisakah
Allah mengetahui secara pasti,
sesuatu yang dari sudut pandangNya sendiri tidak pasti?
Teguh Hindarto:
Predestinasi YHWH
Sebelum langit dan bumi serta manusia diciptakan, YHWH telah melakukan
beberapa karya sbb:
Menetapkan, merencanakan untuk menebus ciptaan
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang
sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang
fana, bukan pula dengan perak atau emas” (1 Ptr 1:18)
Tanggapan Budi Asali:
Kalau ‘Yesus
menebus dosa manusia’ sudah ditetapkan, bagaimana mungkin dosa yang akan
ditebus tidak ditetapkan? Dan juga penebusan Yesus mengharuskan Ia mati
dibunuh melalui salib. Pembunuhannya harus ditentukan bukan? Dan pembunuhan
terhadap Dia adalah dosa bukan?
Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul
di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan
suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi,
(28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari
semula oleh kuasa dan kehendakMu”.
Charles Hodge: “The crucifixion of Christ was beyond
doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever
committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that
sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi
ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal
terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa
dosa ditentukan lebih dulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544.
Charles Hodge: “it
is utterly irrational to contend that God cannot foreordain sin, if He
foreordained (as no Christian doubts) the crucifixion of Christ” [=
adalah sama sekali tidak rasionil untuk berpendapat bahwa Allah tidak bisa
menentukan dosa, jika Ia menentukan (seperti yang tidak ada orang kristen
yang meragukan) penyaliban Kristus] - ‘Systematic
Theology’, vol I, hal 547.
Teguh Hindarto:
Menetapkan,
merencanakan untuk memanggil manusia dalam rencana penyelamatan
“Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil
menjadi milik Mesias” (Rm 1:6)
Menetapkan,
merencanakan untuk memilih manusia dalam rencaana penyelamatan
“Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan
memanggil aku oleh kasih karunia-Nya” (1 Ptr 1:20)
Tanggapan Budi Asali:
Kalau nulis
ayat jangan ngawur bung! Kamu tulis 1Pet 1:20, tetapi bunyi ayatnya dari Gal
1:15!
Allah
merencanakan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Lagi-lagi, kalau dosanya
tidak ditentukan dulu, tidak mungkin Ia merencanakan penyelamatan manusia dari dosa!
Teguh Hindarto:
Rencana kekalNya
yang telah disusun sebelum dunia tercipta, dikarenakan Dia mengetahui
kejatuhan manusia dalam dosa, sehingga Dia merencanaakan pemulihan seperti
semula
Arti Pemilihan YHWH Terhadap Manusia
Pemilihan dilakukan berdasarkan KASIH KARUNIA dan kemurahanNya. YHWH
mengaruniakan keselamatan dan hidup kekal sebagaimana dikatakan: “Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Tuhan” (Ef 2:8)
Dan juga dikatakan, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa
yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya”
(Rm 9:18)
Apakah jika seseorang telah dipilih/dipanggil sebelum langit dan bumi
tercipta, berarti dia telah tercatat di Sorga dan tidak mungkin kehilangan
keselamatan? Golongan Calvinis sangat percaya perihal doktrin “sekali selamat
tetap selamat”.
Tanggapan Budi
Asali:
Saya tanya
balik: apakah anda percaya rencana Allah tentang pemilihannya bisa gagal? Ini
bertentangan dengan Ayub 42:2 dabn sederetan ayat-ayat lain yang sudah saya
berikan di atas.
Teguh Hindarto:
Y ohanes Calvin merumuskan suatu ajaran yang dikenal
oleh kalangan Calvinisme sebagai Dotrin Predestinasi atau Ketetapan Tuhan. Rev. Gregory S. Neal mendefinisikan
Predestinasi sbb, “Predestination is the doctrine which attempts to
describe justification as the decision and act of God alone--an act based
upon no external determinants, but only on God's own, divine decision.
Additionally, it is held that those who are not elected to salvation are,
through Divine will, elected to damnation. In this, 'double predestination'
is, in fact, accepted. God elects people to both redemption and to
reprobation” [1](Predestinasi adalah
doktrin yang mencoba untuk menggambarkan
pembenaran sebagai keputusan dan tindakan Tuhan sendiri -
sebuah tindakan yang tidak berdasarkan faktor-faktor
penentu eksternal, tapi hanya pada keputusan Ilahi dari Tuhan
sendiri. Selain itu dinyatakan bahwa mereka yang
tidak terpilih untuk keselamatan terpilih untuk menerima
hukuman. Dalam hal ini, “predestinasi ganda” pada
kenyataannya, diterima. Disatu sisi Tuhan memilih orang baik
untuk penebusan maupun untuk kutukan).
Rumusan doktrin
itu diringkaskan dalam bentuk akrostik TULIP sbb:
T - Total Depravity (Kerusakan Total)
U - Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)
L - Limited Atonement (Penebusan yang
Terbatas)
I - Irresistible Grace (Anugrah yang
Tidak Dapat Ditolak)
P - Perseverance of the Saints (Ketekunan
Orang-orang Kudus)[2]
Tanggapan Budi
Asali:
Predestinasi
hanya point ke 2 dari TULIP! Bukannya itu diringkas menjadi TULIP!
Teguh Hindarto:
Benarkah pemahaman “sekali selamat tetap selamat?” Tanpa menampik
pemahaman yang brilian dari Yohanes Calvin namun terhadap pemahaman yang satu
ini, saya tidak sependapat. Keselamatan bisa hilang jika kita tidak
menjaganya dengan kesungguhan.
Tanggapan Budi
Asali:
Kalau begitu,
untuk tetap selamat, orang harus melakukan sesuatu! Ini menjurus pada doktrin
keselamatan karena perbuatan baik, yang jelas-jelas adalah ajaran sesat!
Teguh Hindarto:
Bangsa Israel sebagai bangsa pilihanpun dapat/berpotensi untuk
memberontak dan kehilangan kemurahan YHWH sebagaimana dikatakan: “Tetapi
tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata:
"YHWH, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman
timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Mesias. Tetapi aku
bertanya: Adakah mereka tidak mendengarnya? Memang mereka telah mendengarnya:
"Suara mereka sampai ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke
ujung bumi." Tetapi aku bertanya: Adakah Israel menanggapnya?
Pertama-tama Musa berkata: "Aku menjadikan kamu cemburu terhadap
orang-orang yang bukan umat dan membangkitkan amarahmu terhadap bangsa yang
bebal."Dan dengan berani Yesaya mengatakan: "Aku telah berkenan
ditemukan mereka yang tidak menc ari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada
mereka yang tidak menanyakan Aku." Tetapi tentang Israel ia berkata:
"Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak
taat dan yang membantah”. (Rm 10:16-21)
Tanggapan Budi
Asali:
Israel memang
bangsa pilihan tetapi bukan dalam arti pilihan untuk selamat. Pemilihan Allah
terhadap Israel hanya merupakan type dari pemilihan dalam predestinasi
Teguh Hindarto:
Rasul Paul mengingatkan bahwa keselamatan dan kehidupan kekal
membutuhkan kondisi tertentu keteguhan pada keyakinan tersebut sebagaimana
dikatakan: “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, asal saja
kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang
semula” (Ibr 3:14)
Tanggapan Budi
Asali:
Ayat ini hanya
menunjukkan bahwa sekalipun ada jaminan keselamatan tetapi manusia tetap
diberi tanggung jawab untuk melakukan apapun yang terbaik.
Bdk. Kis
27:22-34 - “(22) Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku
menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak
seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. (23) Karena
tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah
sebagai milikNya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut,
Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya
oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di
kapal ini akan selamat karena engkau. (25) Sebab itu tabahkanlah hatimu,
saudara-saudara! Karena aku percaya kepada
Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku.
(26)
Namun kita harus
mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.’ (27) Malam
yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut
Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka
telah dekat daratan. (28) Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air
di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan
ternyata lima belas depa. (29) Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu
karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami
sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. (30) Akan tetapi anak-anak
kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan
berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. (31)
Karena itu Paulus
berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: ‘Jika mereka tidak tinggal
di kapal, kamu tidak mungkin selamat.’
(32)
Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut.
(33) Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: ‘Sudah
empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak
makan apa-apa. (34) Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu.
Hal itu perlu untuk keselamatanmu.
Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan
sehelaipun dari rambut kepalanya.’”.
Yang saya beri
warna merah, merupakan jaminan. Tetapi yang warna biru menunjukkan bahwa
sekalipun dijamin selamat, tetap ada tanggung jawab untuk melakukan yang
terbaik!
Jelas bahwa
adanya jaminan keselamatan tidak berarti dibuangnya tanggung jawab. Kita
tetap harus melakukan yang terbaik sesuai dengan Firman Tuhan.
Dua hal ini
bukannya bertentangan tetapi saling melengkapi!
Teguh Hindarto:
Bahkan sabda Yesus memberikan penegasan perihal orang-orang tertentu
yang akan dihapus dari Kitab Kehidupan yaitu mereka yang tidak berjuang
mempertahankan iman sampai penghabisan dan murtad dari Tuhan sebagaimana
dikatakan: “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang
demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan
Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para
malaikat-Nya” (Why 3:5).
Tanggapan Budi Asali:
Ayat ini
justru mengatakan tidak akan dihapus!
Memang ada syarat ‘barangsiapa menang’, tetapi mungkinkah orang Kristen
sejati kalah?
1. Ro 8:35-37
- “(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan
atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau
bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada
dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba
sembelihan.’ (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada
orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita”.
Ini masih ditambahi lagi dengan Ro 8:38-39 yang menjamin
bahwa tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita (orang kristen) dari kasih
Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
2. Wah
17:14 - “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba
akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan
Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan
yang setia.’”.
Catatan: kata-kata ‘juga
akan menang’ (yang saya cetak miring) sebetulnya tidak ada, tetapi secara
implicit itu ada.
3. 1Kor 15:57
- “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.
4. 2Kor 2:14a
- “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan
kemenanganNya”.
Kalau orang
kristen sejati tidak mungkin kalah, maka jelas bahwa Wah 3:5 itu berlaku
untuk setiap orang kristen dan dengan demikian penghapusan nama dari kitab
kehidupan itu tidak mungkin terjadi.
Teguh Hindarto:
Apakah Predestinasi bermakna bahwa YHWH telah menetapkan sebagian
orang binasa dan sebagian orang memperoleh hidup kekal? Dimanakah letak
keadilan YHWH?
Tanggapan Budi Asali:
Ro 9:10-14
- “(10) Tetapi bukan hanya itu saja.
Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari
Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan
dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya
diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya
- (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang
muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian,
apakah yang hendak kita katakan? Apakah
Allah tidak adil? Mustahil!”.
Pertanyaan ‘apakah Allah tidak adil?’ (ay 14)
membuktikan bahwa Paulus memang sedang mengajar doktrin tentang predestinasi,
karena doktrin ini hampir selalu menimbulkan reaksi ‘Allah tidak adil!’.
Teguh Hindarto:
Tetapi apakah Dia tidak adil? Sebetulnya kalau ia membuang semua orang
ke neraka, Ia adil. Tetapi Ia mau menyelamatkan sebagian. Yang sebagian ini
mendapatkan kemurahan, yang lain mendapatkan keadilan. Tidak ada yang
mendapat ketidak-adilan.
Ia memang tidak bersikap sama rata, Ia lebih baik / murah hati kepada
orang-orang pilihan. Tetapi siapa yang mengatakan bahwa adil berarti bersikap
sama rata? Bdk. Mat 20:1-15, khususnya ay 13-15nya!
Kalau memang adil berarti bersikap sama rata, maka sejak penciptaan
Dia sudah tidak adil. Karena Ia tidak menciptakan semua secara sama rata. Ada
yang jadi binatang, manusia, malaikat. Ada orang yang pandai dan ada yang
bodoh, ada yang cantik dan ada yang jelek dan sebagainya.
Pertama, Itu
bertentangan dengan karakter Yahweh yang menghendaki pertobatan orang berdosa
sebagaimana dikatakan, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup,
demikianlah firman Tuhan YHWH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang
fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari
kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat
itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?” (Yehz 33:11).
Tanggapan Budi
Asali:
Ada beberapa
arti dari kata ‘kehendak’. Kadang-kadang menunjuk pada Rencana kekal dari
Allah, dan yang ini pasti terjadi. Kadang-kadang menunjuk pada perintah
Allah, seperti dalam Yeh 33:11 ini, dan ini jelas bisa tidak terjadi. Ayat
ini tak ada hubungannya dengan predestinasi!
Teguh Hindarto:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku
mengenai kamu, demikianlah firman YHWH, yaitu rancangan damai sejahtera dan
bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh
harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku
akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu
menemukan Aku, demikianlah firman YHWH, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan
akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke
mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman YHWH, dan Aku akan
mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu” (Yer
29:11-14)
Tanggapan Budi Asali:
Bukankah kita
harus menafsirkan dengan membandingkan ayat dengan ayat supaya jangan
bertentangan? Bagaimana kalau ayat ini dibandingkan dengan Yer 21:10 dan beberapa
ayat lain?
Yer 21:10 Sebab Aku telah menentang kota
ini untuk mendatangkan kecelakaan dan bukan untuk mendatangkan
keberuntungannya, demikianlah firman TUHAN. Kota ini akan diserahkan ke
dalam tangan raja Babel yang akan membakarnya habis dengan api."
Yer 49:20 Sebab itu dengarlah putusan yang telah
diambil TUHAN terhadap Edom dan rancangan-rancangan yang telah dibuatNya terhadap penduduk Teman: Bahwa
sesungguhnya, yang paling lemahpun di antara kawanan domba akan diseret. Bahwa
sesungguhnya, padang rumput mereka sendiri akan merasa ngeri terhadap mereka.
Yer 50:45 Sebab itu dengarlah putusan yang telah
diambil TUHAN terhadap Babel dan rancangan-rancangan yang telah dibuat-Nya terhadap negeri orang-orang Kasdim:
Bahwa sesungguhnya, yang paling lemahpun di antara kawanan domba akan diseret. Bahwa sesungguhnya, padang rumput
mereka sendiri akan merasa ngeri terhadap mereka.
Yer 51:29 Bumi berguncang dan bergetar, sebab rancangan TUHAN terhadap Babel sedang terlaksana,
yakni untuk membuat negeri Babel menjadi tempat tandus yang tidak berpenduduk.
Lalu apakah
ayat yang diatas saling bertentangan dengan kelompok ayat ini? Tidak. Yang
Yer 29:11-14 ditujukan kepada orang-orang pilihan, sedangkan Yer 21:10 dan 3
ayat lain itu ditujukan kepada orang-orang non pilihan!
Teguh Hindarto:
Kedua, Itu
bertentangan dengan rencana YHWH untuk menyelamatkan manusia sebagaimana dikatakan: “...Itulah yang
baik dan yang berkenan kepada Tuhan, Juruselamat kita, yang menghendaki
supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran”
(1 Tim 2:3-4)
Tanggapan Budi Asali:
Mari kita melihat pembahasan John Owen, tetapi
sebelumnya, mari kita melihat dulu kontext dari text yang dibahas secara
keseluruhan.
1Tim 2:1-6 - “(1) Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa
syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, (2) untuk raja-raja dan
untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala
kesalehan dan kehormatan. (3) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada
Allah, Juruselamat kita, (4) yang menghendaki supaya semua
orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (5) Karena
Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan
manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, (6) yang
telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian
pada waktu yang ditentukan”.
Catatan: perhatikan ada 3 x
kata-kata ‘semua orang / manusia’
dalam text ini, yaitu dalam ay 1, ay 4, ay 6. Sebetulnya untuk ay 6, hanya
ada kata ‘semua’; kata ‘orang / manusia’ tidak ada. Tetapi
dalam ay 1 dan ay 4 kata ‘orang’
memang ada.
Ada 2 hal yang dibahas oleh John Owen:
1. Apa yang
dimaksud dengan ‘kehendak Allah’ di sini.
John Owen mengatakan (hal 344) bahwa istilah ‘kehendak
Allah’ mempunyai 2 kemungkinan arti, yaitu:
a. Rencana
kekal dari Allah.
b. Perintah
Allah.
Catatan: tak ada yang
menganggap bahwa Allah punya 2 kehendak seperti yang dituduhkan oleh Lenski.
Yang ada adalah: kalau kata-kata ‘kehendak Allah’ itu muncul, maka ada 2
kemungkinan arti. Sebetulnya ada kemungkinan arti yang ketiga, yaitu hal
yang, kalau terjadi, menyenangkan Allah.
Kalau dari 2 arti di atas kita mengambil arti kedua, maka
arti ayat ini adalah sebagai berikut: Allah memerintahkan semua manusia untuk
menggunakan cara-cara dengan mana mereka bisa mendapatkan keselamatan. Dengan
demikian ayat ini menjadi sama seperti Kis 17:30 - “Dengan tidak memandang lagi
zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia,
bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat”.
KJV: ‘And the times of this ignorance God winked at; but now commandeth
all men every where to repent’ (= Allah pura-pura tidak melihat jaman
kebodohan ini; tetapi sekarang memerintahkan semua orang di mana-mana
untuk bertobat).
John Owen sendiri memilih arti pertama, dimana ‘kehendak Allah’ menunjuk pada ‘rencana kekal dari Allah’. Alasan
Owen adalah: kehendak Allah dalam 1Tim 2:4 itu merupakan dasar /
landasan dari doa kita dalam 1Tim 2:1-2. Bdk. 1Yoh 5:14 - “Dan
inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita,
jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut
kehendakNya”.
2. Siapa ‘semua orang’ / ‘semua manusia’ di sini.
Jelas bahwa ‘semua
orang / manusia’ di sini tidak berarti betul-betul ‘semua dan setiap orang di seluruh dunia’, karena:
a. Paulus
sendiri menggunakan kata-kata ‘semua
orang’ dalam ay 1. Dalam arti apa? Perhatikan ay 2nya! Untuk
jelasnya lihat 1Tim 2:1-2 secara keseluruhan: “(1) Pertama-tama aku
menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, (2) untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup
tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”.
John Owen menyimpulkan dari sini
(hal 346) bahwa yang dimaksud dengan ‘semua orang’ adalah ‘orang-orang
dari semua jenis, kedudukan, kondisi, dan tingkatan’.
Calvin juga menafsirkan secara
sama.
Calvin (tentang 1Tim 2:4): “the Apostle simply
means, that there is no people and no rank in the world that is excluded from
salvation; because God wishes that the gospel should be proclaimed to all
without exception. Now the preaching of the gospel gives life; and hence he
justly concludes that God invites all equally to partake salvation. But the
present discourse relates to classes of men, and not to individual persons;
for his sole object is, to include in this number princes and foreign
nations. That God wishes the doctrine of salvation to be enjoyed by them as
well as others, is evident from the passages already quoted, and from other
passages of a similar nature” (= sang Rasul hanya memaksudkan,
bahwa disana tidak ada bangsa atau rangking / pangkat di
dunia yang dikeluarkan dari keselamatan; karena Allah menginginkan supaya injil diproklamirkan kepada semua
orang tanpa kecuali. Pemberitaan injil memberikan kehidupan; dan karena itu
ia secara benar menyimpulkan bahwa Allah mengundang semua orang secara sama
untuk mengambil bagian dalam keselamatan. Tetapi
pembicaraan sekarang ini berhubungan dengan semua golongan manusia, dan bukan
dengan pribadi-pribadi / individu-individu; karena
satu-satunya obyeknya adalah, mencakup dalam bilangan / jumlah ini
pangeran-pangeran dan bangsa-bangsa asing. Bahwa Allah ingin doktrin
keselamatan untuk dinikmati oleh mereka maupun oleh orang-orang lain, adalah
jelas dari text yang sudah dikutip, dan dari text-text lain yang sifatnya
mirip).
Bdk. 1Tim
2:1-2 - “(1) Pertama-tama aku
menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, (2) untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup
tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.”.
Di sini
Paulus menyuruh berdoa bukan hanya untuk orang-orang yang baik kepada mereka,
tetapi juga kepada raja dan pembesar, yang biasanya dibenci oleh orang-orang
Kristen, karena golongan orang ini menindas mereka. Dan mengingat saat itu
Israel dijajah Romawi, maka jelas bahwa raja-raja dan pembesar-pembesar itu
adalah orang-orang Romawi / non Yahudi.
Bandingkan
perintah Paulus untuk mendoakan penggede-penggede non Yahudi ini dengan Yer
29:7 - “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan
berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah
kesejahteraanmu”.
Catatan: ‘kota’ yang dimaksudkan adalah ‘Babel’.
Calvin (tentang 1Tim 2:5): “as there is one God, the Creator and Father of
all, so he says that there is but one Mediator, through whom we have access
to the Father; and that this Mediator was given, not only to one nation,
or to a small number of persons of some particular rank, but to all;
because the fruit of the sacrifice, by which he made atonement for sins,
extends to all. ... The universal term ‘all’ must always be referred to classes of men, and not to persons; as if
he had said, that not only Jews, but Gentiles also, not only persons of
humble rank, but princes also, were
redeemed by the death of Christ” [= sebagaimana disana ada satu Allah, Pencipta
dan Bapa dari semua orang, demikian juga ia berkata bahwa disana hanya ada
satu Pengantara, melalui siapa kita mendapatkan jalan masuk kepada Bapa; dan
bahwa Pengantara ini diberikan, bukan hanya bagi satu bangsa, atau bagi sejumlah kecil
orang-orang dari kedudukan tertentu, tetapi bagi semua; karena buah dari korban, dengan mana Ia membuat penebusan
untuk dosa-dosa, diperluas kepada semua. ... Istilah universal ‘semua’
harus selalu dihubungkan dengan
golongan-golongan manusia, dan bukan kepada pribadi-pribadi; seakan-akan
ia telah mengatakan, bahwa bukan hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga orang-orang non
Yahudi, bukan hanya orang-orang dari kedudukan rendah, tetapi juga
pangeran-pangeran, ditebus oleh
kematian Kristus].
b. Kita diharuskan berdoa untuk ‘semua orang’, padahal dari antara ‘semua orang’ itu pasti ada orang-orang yang ditentukan untuk
binasa dan yang melakukan dosa yang membawa maut, tentang siapa kita tidak
diperintahkan untuk berdoa (Owen, hal 346) .
1Yoh 5:16 - “Kalau ada seorang melihat saudaranya
berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa
kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang
berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut:
tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa”.
Catatan: keberatan saya tentang kata-kata
Owen di sini adalah: bagaimana kita bisa tahu mana yang elect / orang-orang pilihan dan mana yang reprobate / orang-orang yang ditentukan untuk binasa?
c. ‘Semua orang yang diselamatkan’
(ay 4a) pasti sama dengan orang-orang yang ‘memperoleh pengetahuan akan kebenaran’ (ay 4b).
Padahal Kitab Suci jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak
menghendaki semua orang memperoleh pengetahuan tentang kebenaran. Ini terlihat
dari:
·
Maz 147:19-20 -
“(19) Ia memberitakan firmanNya kepada Yakub, ketetapan-ketetapanNya dan
hukum-hukumNya kepada Israel. (20) Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukumNya
tidak mereka kenal. Haleluya!”.
· Kis 14:16,30 - “(16) Dalam
zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti
jalannya masing-masing, ... (30) Dengan tidak memandang lagi zaman
kebodohan, maka sekarang Allah
memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat”.
· Kol 1:26 - “yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang
kudusNya”.
· Mat 11:25-26 - “(25) Pada
waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan
bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi
orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. (26) Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu”.
· Mat 13:10-17 - “(10) Maka
datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata
kepada mereka dalam perumpamaan?’ (11) Jawab Yesus: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada
mereka tidak. (12) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia
berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada
padanya akan diambil dari padanya. (13) Itulah
sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun
melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar
dan tidak mengerti. (14) Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan
mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat,
namun tidak menanggap. (15) Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan
telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan
telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. (16) Tetapi berbahagialah
matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. (17) Sebab Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya banyak
nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak
melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak
mendengarnya”.
Owen (hal 347) juga mengatakan bahwa ‘semua manusia’ dalam 1Tim 2:6 juga harus berarti sama
dengan kata-kata ‘semua orang’
dalam 1Tim 2:1b,4. Dan Owen lalu menyimpulkan bahwa ‘semua manusia’ di sini harus diartikan sebagai ‘semua orang pilihan, dari semua jenis /
golongan’, dan ia membandingkan ini dengan Wah 5:9 yang ia katakan
sebagai ayat penafsir dari 1Tim 2:6 ini.
Wah 5:9 - “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru
katanya: ‘Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka
meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darahMu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa
dan kaum dan bangsa”.
Kalau diambil arti ke 3, maka itu tak bertentangan dengan
predestinasi maupun ‘Limited Atonement’
(= Penebusan Terbatas).
|
Saya setuju dengan pandangan Anda tentang Kurios, jelas tidak ada perbedaan makna dalam PB seperti tafsiran Pak Teguh.
BalasHapus