Minggu, 30 September 2012

JULUKAN “KURIOS” BAGI YESUS: TUAN ATAU TUHAN? SANGGAHAN UNTUK PDT TEGUH HINDARTO M.TH



Oleh: Albert Rumampuk


Istilah ‘Tuhan’ bagi Yesus memang adalah ‘kontroversial’! Kristen seringkali di cap sebagai agama ‘penyembah banyak Tuhan’ atau kepercayaan yang mengabaikan Keesaan Allah. Berikut adalah tulisan dari Pdt. Teguh Hindarto M.Th, salah seorang penentang istilah ‘Tuhan / Allah’ bagi Yesus. Tulisan ini saya kutip dari blog pribadinya: http://bet-midrash.blogspot.com/2011/11/julukan-kurios-bagi-yesus-tuan-atau.html, dan yang akan saya tanggapi. 


Bagian Pertama

Bagi mayoritas Kekristenan di Indonesia, sebutan “Tuhan Yesus” atau “Tuhan Yesus”, sudah sangat akrab ditelinga. Siapapun yang mengklaim diri sebagai orang Kristen, ditandai dengan pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan.

Persoalannya adalah, ketika telinga orang Muslim mendengar pernyaaan tersebut, menjaadi suatu batu sandungan bagi iman Tauhid atau Keesaan Tuhan. Bagi Islam, tiada Tuhan selain Allah. (Qs 20:14) Konsekwensinya, jika Kekristenan menyatakan keimananya terhadap Yahshua sebagai Tuhan, menimbulkan gesekan teologis yang cukup tajam dengan Islam. Apalagi menurut Qur’an, Isa Al Masih adalah ciptaan Allah yang setara penciptaannya dengan Adam (Qs 3:59).

Tanggapan saya:
Kitab Suci mencatat bahwa Yesus adalah Tuhan / Allah (Yoh 1:1; 20:28; Fil 2:10, 11; Tit 2:13; Wah 1:8; dsb). Dan ciri dari orang yang beriman ialah pengakuan bahwa Yesus itu Tuhan (Rom 10:9). Anda katakan ini adalah ‘suatu batu sandungan bagi iman Tauhid?’ Jangan pikir bahwa Kristen menganut paham ‘banyak Tuhan’. Tuhan itu Esa (Ul 6:4)! Pengakuan Yesus adalah Tuhan, bukan menolak keesaan Tuhan, tetapi menunjukkan adanya semacam ‘kejamakan tertentu’ dalam diri Allah. Jika kita meneliti secara seksama, maka yang ‘Esa’ itu adalah esensinya, dan yang ‘jamak’ itu adalah pribadinya. Istilah ‘Tuhan’ bagi Yesus sangat banyak tercatat dalam Alkitab. Dalam Kitab Kisah Para Rasul misalnya; Yesus disebut ‘Tuhan’ sebanyak 92 x, disebut ‘Tuhan Yesus’ sebanyak 13 x, dan disebut ‘Tuhan Yesus Kristus’ sebanyak 6 x. Ini adalah Alkitabiah, maka tak ada salahnya jika Kristen mengaminkannya.

Alkitab adalah wahyu Allah yang merupakan pedoman / dasar bagi iman Kristen. Mengapa mengaitkannya dengan Qur’an? Anda mau menjadikan Qur’an sebagai pedoman iman? Bagi Islam, ‘tiada Tuhan selain Allah’ dan ‘Isa itu dicipta’, ini adalah iman mereka. Lalu mengapa memaksakan Kristen untuk tunduk pada iman Islam? Akan menimbulkan gesekan Teologis yang tajam? Anda ingin membuang kebenaran Kitab Suci hanya demi menghindari sebuah ‘gesekan teologis’? Iman yang sungguh rapuh dan tidak firmaniah!

2Ti 3:15-16 “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”  

Teks ini menjelaskan bahwa Kitab Suci adalah ilham Allah yang mendidik orang dalam kebenaran. Kebenaran yang mana? Kebenaran yang menuntun kepada keselamatan karena iman pada Yesus Kristus. Iman yang bagaimana? Iman bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Rom 10:9-10). Konsekwensinya, bagi mereka yang menolak Yesus itu Tuhan, sudah pasti menolak keselamatannya sendiri!

Perhatikan juga nasihat Tuhan Yesus berikut ini:

Mat 10:32-33 “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Jadi, janganlah sekali-kali mendasari iman percaya anda menurut ‘telinga orang muslim’, jangan pula ‘menyangkal’ keTuhanan Yesus didepan Islam, tetapi berpeganglah pada kebenaran Kitab Suci, apapun resikonya!

Dalam penjelasan sebelumnya telah kita pahami bahwa HAKIKAT Yesus adalah Sang Firman YHWH. Firman tidak diciptakan karena Firman yang menciptakan segala sesuatu. Karena Firman tidak diciptakan, berarti Firman juga kekal. Maka firman adalah daya cipta dan ekspresi pikiran dan kehendak YHWH sendiri. Secara ontologis, Yesus adalah Elohim (Tuhan). Sementara secara anthropologis, Dia adalah manusia, karena Dia adalah Sang Firman yang telah menjadi manusia. Seutuhnya manusia.

Sekalipun secara hakikat, Yesus adalah Firman Tuhan dan Firman Tuhan adalah Tuhan itu sendiri (Yoh 1:1), namun penyebutan “Tuhan Yahshua” atau “Tuhan Yesus”, menimbulkan sejumlah persoalan teologis. Sekali lagi, yang dipersoalkan bukan HAKIKAT-NYA melainkan PENYEBUTAN-NYA atau SAPAAN terhadap pribadi-Nya. Apakah Dia lebih tepat disapa “Tuan” atau “Tuhan” saat Dia masih berkarya di bumi dan saat setelah kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga? Pertanyaan ini bukan hendak meragukan “Ketuhanan” atau “Divinitas” Yesus, melainkan mempertanyakan sebutan yang proper bagi Yesus, apakah “Tuan” atau “Tuhan”?

Tanggapan saya:
Saya tidak setuju penyebutan Yesus sebagai ‘Firman YHWH’ atau ‘Firman Tuhan’. Yoh 1:1 sama sekali tidak mencatat bahwa pada mulanya Yesus adalah ‘Firman Tuhan’, tetapi “pada mulanya adalah Firman”. ‘Firman’ yang dimaksud dalam teks ini sedang “bersama-sama dengan Allah”. Kalimat Yunani PROS (‘Bersama-sama dengan’) secara hurufiah berarti ‘face to face’ (= muka dengan muka / berhadapan muka) [1]. Dr. Sagala berkata: “kata sandang ‘pros’ itu tidak sekedar dipahami sebagai posisi, tetapi lebih baik dimengerti sebagai ‘logos berada dalam persekutuan yang aktif dengan Allah’” [2] Jadi, ‘Logos / Firman’ yang dimaksudkan bukanlah hanya sekedar ‘kata-kata’ Allah saja, tapi adalah suatu pribadi. Lebih cocok disebut ‘Sang Firman’ bukannya ‘Firman Tuhan’.

Diatas anda mengakui bahwa secara hakiki Yesus adalah Tuhan dan Elohim. Namun anehnya, mengapa menolak sebutan ‘Tuhan Yesus’? Dalam diskusi dengan saya, anda berkata: “Kalau ‘Sang Firman adalah Tuhan’ itu memang BENAR dan sesuai dengan TEKS dan KONTEKS. Namun jika dikatakan ‘Yesus adalah Tuhan’ (Yahshua Hu Elohim/Ieosous ho Theos) itu SALAH. Mengapa salah? Karena Yesus tidak pernah menyebut dirinya dan disapa dengan sapaan Theos dalam percakapan dengan siapapun. Jika sapaan Theos ditujukan pada diri Yesus, maka serentak orang-orang Yahudi yang Monoteis akan merajam Yesus karena dianggap melakukan Avodah Zarah (Syrik)” [3]. Benar bahwa Yesus tak pernah mengatakan “Akulah Theos / Allah), tetapi dia mengakui dirinya sebagai ‘Anak Allah’ dan istilah itu sama / setara dengan Allah (Yoh 5:18). Pengakuan itu pula yang menyebabkan Yesus akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi (Yoh 5:18a). Bagaimana pula menyimpulkan bahwa Yesus tak pernah di sapa Theos dalam sebuah percakapan, padahal Tomas bukan hanya menyebutnya ‘Tuhan’ tapi bahkan ‘Tuhanku’ dan ‘Allahku’ saat bercakap-cakap dengan Yesus (Yoh 20:28). Mungkin Anda beralasan bahwa saat berkarya di dunia Yesus adalah manusia dan seharusnya menyebutnya dengan istilah ‘Tuan’. Tetapi bagaimana mungkin Yesus yang pra-eksistensinya adalah Sang Firman / Tuhan itu sendiri (Yoh 1:1), namun setelah inkarnasi ‘Tuhan-nya’ menjadi hilang? Sangat tidak masuk akal!

Beberapa persoalan teologis yang dapat kita temukan adalah sbb: Dalam Yohanes 4:11 versi Lembaga Alkitab Indonesia dikatakan, “Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?”. Bagaimana mungkin perempuan Samaria menyapa dengan sebutan “Tuhan”, karena sebutan “Tuhan”, selalu menunjuk pada Sang Pencipta?

Tanggapan saya:
Saya sepakat dengan King James Version dan NIV yang menterjemahkan kata Yunani KURIOS dalam Yoh 4:11 dengan ‘Sir’ (tuan). Mengapa demikian? Karena konteks menjelaskan bahwa perempuan Samaria itu baru bertemu dan belum pernah mengenal Yesus. Saya pikir TB-LAI salah dalam hal ini, tetapi versi BIS-LAI sudah benar.
Anda katakan bahwa sebutan ‘Tuhan’ selalu menunjuk pada Sang pencipta. Bukankah Yesus juga adalah Sang pencipta segala sesuatu (Yoh 1:3; Kol 1:16)? Bagaimana juga dengan Ibr 1:10 dimana Yesus disebut dengan ‘Tuhan’ dan ‘pencipta langit bumi’?

Persoalan selanjutnya ditemukan dalam 2 Korintus 11:26, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan”

Bagaimana mungkin sebutan Tuhan yang dikhususkan bagi Sang Pencipta, dapat mengalami kematian dan menjadi mayat? “God is Dead” –ungkapan filsuf Nietzhe- mungkinkah Tuhan mati? Demikian pula dalam Lukas 24:3 dikatakan,”…dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus”. Tuhan menjadi mayat? Sungguh tidak dapat dibayangkan bahwa Kekristenan bertuhankan mayat…

Tanggapan saya:
Kematian’ yang dimaksud dalam 1 Kor 11:26 menunjuk pada peristiwa penyaliban Kristus (Bdk. Dengan kata-kata ‘tubuh-Ku dan darah-Ku’ dalam ayat 24-25). Jika yang tergantung disalib hanyalah manusia Yesus, maka penebusanNya tidak mempunyai nilai / kuasa yang tak terbatas.  Sebagai manusia, Dia tak mungkin bisa menebus seluruh manusia yang lainnya (Maz 49:8-9). Tetapi disini Yesus sedang memikul hukuman dosa sebagai Allah dan manusia. Kata ‘Tuhan’ dalam 1 Kor 11:26 dihubungkan dengan ‘dosa’ dan ‘penghukuman’. Apakah seorang ‘tuan’ (sapaan untuk manusia) bisa menghukum manusia yang berdosa padanya? Dia adalah Allah dan manusia sepenuhnya, maka pada saat dikatakan ‘kematian Tuhan’ atau ‘mayat Tuhan’ tentu saja yang mati adalah tubuhnya, tetapi keIlahianNya / Allah-nya tetap ada / tidak mati. Justru tujuan Allah datang kedunia untuk mati, dan karena itu Dia harus jadi manusia dulu! Kekristenan bertuhankan mayat? Anda lupa bahwa ‘mayat’ itu bangkit pada hari yang ketiga (Luk 24:7)? Bahkan, sebelum kematianNya, Yesus sendiri telah memberitahu bahwa Dia akan bangkit sendiri (Yoh 2:19 – bdk. Yoh 10:17-18). Kebangkitan Kristus dari kematian, justru membuktikan bahwa Dia benar-benar adalah Tuhan. ‘God is dead’? No problem!

Persoalan-persoalan teologis yang mengemuka ini harus disikapi dengan melakukan analisis teks bahasa, baik Ibrani maupun Aramaik serta Greek sebagai bahasa yang dipergunakan pertama kali untuk mengkomunikasikan kehidupan dan ajaran Yesus Sang Mesias. Tanpa analisis kebahasaan, akan menimbulkan sejumlah persepsi yang spekulatif dan tidak firmaniah.

Tanggapan saya:
Beberapa hal yang anda anggap sebagai ‘persoalan teologis’ diatas, bukanlah sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Sah-sah saja jika anda meninjaunya dari sudut bahasa Ibrani atau Aram, tetapi jangan lupa bahwa Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, maka sepantasnyalah jika analisa itu dilakukan berdasarkan kaidah bahasa Yunani. Saya setuju kalimat anda “Tanpa analisis kebahasaan, akan menimbulkan sejumlah persepsi yang spekulatif dan tidak firmaniah.” Diatas sudah saya tunjukkan bagaimana ‘persepsi yang spekulatif dan tidak firmaniah’ dari anda itu.

Merujuk pada Kitab TaNaKh (Torah, Neviim, Kethuvim), yang lazim dikenal oleh Kekristenan dengan sebutan Kitab Perjanjian Lama, baik yang berbahasa Ibrani maupun Greek yang dikenal dengan sebutan Septuaginta serta berbahasa Aram yang dikenal dengan sebutan Peshitta, maupun Kitab Perjanjian Baru versi Yunani dan Aramaik serta terjemahan Ibrani modern, ada beberapa gelar atau sapaan yang harus kita ketahui, yaitu : Adon, Adonai, Elohim (Ibr) atau Maran, MarYah, Alaha (Aram) serta Kurios, Theos (Greek).

Kita akan telusuri makna istilah-istilah tersebut menurut kamus sbb: ADON. Lord, Lord, LORD, master, owner….Adon usually refers to men[1]. ELOHIM : is the assumed root of El, Eloah, and Elohim, which mean "god" or "God[2]. KURIOS : one having legal power lord, master.  THEOS[3]:  as the supreme divine being, the true, living, and personal God[4]

Dari analisis tekstual diatas, sebutan Adon atau Adonai dalam bahasa Ibrani, setara dengan sebutan Mar, Maran dalam bahasa Aram dan setara dengan sebutan Kurios dalam bahasa YunanI. Sementara sebutan Elohim dalam bahasa Ibrani, setara dengan sebutan Elah atau Alaha dalam bahasa Aram dan Theos dalam bahasa Greek. Sebutan Adon, Mar, Maran dan Kurios, dapat dikenakan kepada manusia, orang terhormat, raja, tuan tanah, orang kaya, bangsawan, dll namun juga dapat dikenakan untuk menyapa Sang Pencipta. Sementara sebutan Elohim, atau Alaha, Elah atau Theos, hanya patut ditujukan bagi yang “dipertuhan”. Dalam konteks paganisme, tentunya petung dewa-dewa dapat disebut elohim atau theos. Sementara dalam konsep monoteistik Yudaisme dan Kekristenan, sebutan Elohim atau Theos, menunjuk kepada Bapa Surgawi, yaitu YHWH.

Tanggapan saya:
Sumber anda kurang lengkap memaknai kata KURIOS. Ini menurut Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries: “From κῦρος kuros (supremacy); supreme in authority, that is, (as noun) controller; by implication Mr. (as a respectful title): - God, Lord, master, Sir”.

Louis Berkhof: “KURIOS. ... Nama ini tidak mempunyai arti yang sama seperti YAHWEH, tetapi menunjukkan Allah sebagai Yang Perkasa / Kuat, Tuhan, Pemilik, Pemerintah / Penguasa yang mempunyai kuasa dan otoritas yang sah” [4] 

Kata Yunani KURIOS, memang bisa menunjuk pada Tuhan atau yang bukan Tuhan (tuan). Dalam Septuaginta, kata YHWH (nama Tuhan), bahkan diganti dengan KURIOS (mis: 1 Sam 15:2). Anda sendiri setuju bahwa KURIOS bisa menunjuk kepada Sang pencipta. Lalu mengapa pada saat kata itu dikenakan bagi Yesus sang pencipta, anda menolak menterjemahkannya dengan ‘Tuhan’? Adalah sungguh premature jika kata / sebutan THEOS ‘hanya’ ditujukan kepada Bapa yaitu YHWH, karena di Yoh 1:1; Yoh 20:28; Ibr 1:8; Rom 9:5; Tit 2:13; 2 Ptr 1:1; 1 Yoh 5:20; Wah 1:8, ditegaskan secara eksplisit bahwa Sang Anak / Yesus adalah THEOS / Allah! 

Didasarkan pada analisis diatas, maka sebutan Kurios bagi Yesus dalam naskah Perjanjian Baru berbahasa Yunani, seharusnya diterjemahkan dengan sebutan “Tuan” atau “Junjungan Agung”.  Maka pernyataan, “Legei hautoi Kurie houte antlema ekheis kai to phrear estin bathu phosen houn ekheis to udoun to zoon” (Yoh 4:11) seharusnya diterjemahkan "Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?”. Demikian pula pernyataan, “Hosakis gar ean esthiete ton arton touton kai to poterion ton thanaton tou kuriou kataggelete akhris hou elthe (1 Kor 11:26) seharusnya diterjemahkan, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuan . Maka pernyataan, “Eiselthousai de oux euron to soma tou Kuriou Iesou” (Luk 24:3) pun seharusnya diterjemahkan, ““dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuan Yesus”.

Tanggapan saya:
Silahkan lihat beberapa teks berikut ini:

  • Mat 7:21-22 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?”

    Konteks kata ‘Tuhan’ di ayat ini dihubungkan dengan persoalan ‘sorga’. Yesus bukan hanya berkuasa untuk memasukkan orang percaya ke sorga tetapi bahkan memberi neraka bagi yang tak beriman (ayat 23, bdk. Mat 25:12,41). Jika Yesus punya kekuasaan untuk ‘mengenyahkan’ manusia ke neraka, lalu siapakah Dia sesungguhnya? Layakkah kata ‘KURIOS’ diayat itu diterjemahkan ‘tuan’ dan bukan‘Tuhan’?
  • Mat 15:25 “Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah dia sambil berkata: ‘Tuhan, tolonglah aku.’”. Perhatikan juga kata-kata dalam Yoh 9:38 “Katanya: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembahnya”.

    Istilah Yunani KURIOS yang diterjemahkan ‘Tuhan’ dalam kedua teks tersebut, tak mungkin diartikan ‘tuan’, karena tak mungkin orang Yahudi yang monotheisme itu mau menyembah seorang ‘tuan’ atau ‘Junjungan Agung’ yang bukan Tuhan. Kebenaran yang tak bisa dibantah adalah adanya klaim Kitab Suci bahwa hanya Allah / YHWH saja yang harus disembah (Ul 6:13; Mat 4:10)  Karena itu, jika Yesus disembah dan menerima sembah, maka Dia pasti adalah Tuhan!
  • 1 Kor 1:2   “kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.”

    Ayat ini mencatat adanya seruan / doa kepada Yesus oleh semua orang percaya disegala tempat. Sangat tidak mungkin kata ‘Tuhan’ diayat itu diganti dengan ‘tuan’.
  • Fil 2:10-11 “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

    Sebuah kengawuran jika kata KURIOS dalam ayat ini diterjemahkan ‘tuan’, karena jika Yesus hanya sekedar ‘tuan’, lalu mengapa segala mahluk sujud / menyembah Yesus?

Dalam diskusi dengan saya, anda bolak-balik katakan: “kata Kurios (untuk Yesus – red) tidak istimewa dan tidak dipahami sebagai istilah yang dihubungkan dengan Tuhan Pencipta karena siapapun bisa memiliki sapaan Kurios namun tidak satu manusiapun disapa dengan Theos atau Elohim” [5]. Pernyataan ini lagi-lagi menunjukkan bahwa anda seringkali 'amnesia' atau berlagak tidak tahu terhadap ayat berikut ini:

Ibr 1:8-12 “Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.’  Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu. Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.’"

Kata Kurios / Tuhan dalam ayat ini tentu menunjuk pada sang Anak / Yesus. Disini disebutkan bahwa Yesus adalah KURIOS (Tuhan) pencipta langit dan bumi. Bahkan, Bapa sendiri menyebutnya Allah / THEOS. Sungguh ‘hebat’ karena anda berani membantah pengakuan Sang Bapa! Lagi-lagi adalah sebuah kengawuran jika kata Kurios diayat ini dipahami sebagai ‘tuan’ atau ‘junjungan Agung’. 

Begitu pula dalam hubungannya dengan Rom 10:9, Shedd menulis: “orang Yahudi yang mengakui dimuka umum bahwa Yesus yang dari Nazaret itu adalah Tuhan, akan dipahami mengenakan sifat dan hakikat ilahi kepada Dia” [6]





Sumber:
[1] Chris Marantika, Yesus itu Tuhan, hal. 16.
[2] Mangapul Sagala, Firman menjadi daging, hal. 62
[3] http://www.facebook.com/groups/259025264138201/426654070708652/
[4] (Systematic Theology, hal 50).
[5] http://www.facebook.com/groups/259025264138201/426654070708652/
[6] William G.T Shedd, Romans, New York: Scribner, 1879, hal. 318.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar