Selasa, 04 September 2012

BUKAN ALLAH TAPI TUHAN? SANGGAHAN TERHADAP UNITARIANISME



Oleh: Albert Rumampuk





Artikel ini terinspirasi dari diskusi yang saya lakukan bersama Benny S Irawan (seorang Unitarian) di facebook. Dia berkata: “Kata ‘Allah’ memiliki pengertian yang berbeda dengan ‘Tuhan/Tuan’. TUHAN/YHWH/Bapa-lah Allah saya, dan Yesus adalah Tuhan saya. (Kisah 2:36)”. Menurutnya, predikat ‘Tuhan’ yang disandang Yesus bukan dalam arti bahwa Dia adalah ‘Allah’.

Senada dengan Benny, penulis buku ‘Bukan Allah Tapi Tuhan’ Ellen Kristi yang juga seorang Unitarian berpendapat bahwa kata ‘Tuhan’ dan ‘Tuan’ sebetulnya tidak ada perbedaan arti, sama-sama berasal dari kata ‘adon’ atau ‘kurios’. Konsekwensinya, ‘Tuhan’ tidak boleh disamakan dengan Allah (elohim). “Allah pasti Tuhan, tetapi Tuhan belum tentu Allah”. (Hal. 13: Sadar Publication. Semarang, cetakan ke-1, 2005).

Kelompok Unitarian yang percaya pada ‘Allah tunggal mutlak’ memang beranggapan bahwa kata ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ berbeda dalam pemaknaannya. ‘Allah’ ditujukan bagi Sang Bapa / YHWH, tetapi ‘Tuhan’ adalah sebuah gelar untuk Yesus. Bapa / YHWH yang adalah Allah, sudah pasti Tuhan, tetapi Yesus yang adalah Tuhan bukanlah Allah.

Setiap orang memang berhak mengemukakan pandangannya, tetapi yang terpenting adalah bukan ‘apa kata orang’ namun ‘apa kata Alkitab’. Bagaimanakah pandangan Kitab Suci tentang hal ini? Ini yang akan kita bahas secara singkat.


DEFINISI

Istilah ‘Allah’ dalam konteks PB berasal dari kata Yunani ‘THEOS’. Bahasa Ibraninya disebut ‘ELOHIM’ atau ‘EL’ atau ‘ELOAH’. Dalam bahasa Inggris disebut ‘God’. Sedangkan istilah ‘Tuhan’, berasal dari kata ‘KURIOS’ (Yunani), ADON atau ADONAI (Ibrani) atau ‘Lord’ (Inggris). Dalam bukunya, Ellen Kristi memberikan arti dari ‘nama-nama Allah’ ini menurut The New Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible (hal.8, 10). Jika kita melihat dari arti katanya, maka kata ELOHIM dan THEOS memiliki beberapa arti. Kata itu bisa bermakna ‘Allah, hakim, dewa, dsb’. Tetapi kata ADON dan KURIOS bisa bermakna ‘tuan, majikan, pemilik atau Allah’.

Nama Allah dalam arti yang ketat sebetulnya adalah ‘YHWH (Yahweh)’, tetapi banyak teolog / penafsir menggolongkan sebutan El, Elohim, Theos, Kurios, dsb, juga sebagai ‘nama-nama dari Allah’ (atau mungkin ‘sebutan bagi Allah’). Disini saya akan mengutip pandangan dari seorang teolog tentang ‘nama-nama’ ini.

Dr. Charles C Ryrie: “Istilah ‘elohim’ dalam pengertian umum Keallahan terdapat sekitar 2.570 kali dalam PL. Kira-kira 2.310 kali istilah ini digunakan bagi Allah yang benar. Pertama kali disebut dalam ayat pertama Alkitab. Kata ini juga dipakai untuk menunjukkan kepada Keallahan palsu dalam Kej. 35:2,4; Kel 12:12; 18:11; 23:24.” (Teologi Dsar 1: hal. 65).

Ryrie: “Seperti Elohim, Adonai adalah sebuah bentuk jamak yang agung. Bentuk tunggalnya berarti, tuan, majikan, pemilik (Kej 19:2; 40:1; 1 Sam 1:15)... Bila dipakai tentang hubungan Allah terhadap manusia kata ini mengandung makna otoritas mutlak dari Allah.” (Teologi Dasar 1: hal.70).

“Theos... Kata ini hampir selalu menunjuk kepada satu Allah yang benar walaupun kadang-kadang dipakai juga untuk ilah-ilah kafir didalam laporan tentang kekafiran atau oleh orang Kristen yang menolak allah-allah palsu tersebut (Kis 12:22; 14:11; 17:23; 19:26,27; 1 Kor 8:5; 2 Tes 2:4)...” (Ryrie, Hal. 70)
Dr. Ryrie juga menjelaskan soal kata Kurios sebagai berikut: “Kata ini menekankan otoritas dan supremasi. Dapat juga berarti tuan atau bapak (Yoh 4:11), pemilik (Luk 19:33), penguasa atau majikan (Kol 3:22), atau menunjuk kepada berhala-berhala (1 Kor 8:5) atau suami (1 Ptr 3:6). Bila penggunaan kurios berkenaan dengan Allah, ini ‘menyatakan terutama kekhalikan-Nya, kuasa-Nya yang dinyatakan dalam sejarah, dan kuasa-Nya atas alam semesta...’” [Hal. 72].

Sama seperti Strong’s Concordance, Ryrie juga menjelaskan bahwa nama-nama tersebut bisa menunjuk pada Allah yang benar, tetapi bisa juga untuk yang bukan Allah. Sekarang kita melihat apa arti kata ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ menurut Kamus Bahasa Indonesia:

Allah: “nama Tuhan dalam bahasa Arab; pencipta alam semesta yang mahasempurna; Tuhan Yang Maha Esa yang disembah oleh orang yang beriman.”
Tuhan: “yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan sebagainya; Allah, Tuhan Allah, Allah, Tuhan yang Esa: Allah yang hanya satu.”

Disini terlihat bahwa kata ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ sepertinya adalah sesuatu yang identik / bermakna sama. Sekalipun kedua kata ini mempunyai asal-usul tertentu, tetapi ini telah diterima dalam kosa kata bahasa Indonesia, dan telah disepakati bersama.


KATA ‘ALLAH’ DAN ‘TUHAN’ DALAM ALKITAB

Seperti yang sudah disinggung diatas, kelompok Unitarian mempunyai sebuah moto: “Allah pasti Tuhan, tetapi Tuhan belum tentu Allah”. Atau jika kita kembali ke bahasa asli Perjanjian Baru, maka bisa dikatakan “THEOS pasti KURIOS, tetapi KURIOS belum tentu THEOS”. Dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan ‘THEOS’ disini adalah ‘Bapa’, tetapi Yesus disebut ‘Tuhan / KURIOS’.

Jika kita membandingkan konsep Unitarian tersebut dengan arti kata ‘Allah’ dan ‘Tuhan’ menurut kamus bahasa Indonesia, terlihat jelas bahwa keduanya berbeda. Menurut kamus, kedua kata itu bisa dimengerti sebagai “Allah sudah pasti Tuhan dan Tuhan sudah pasti adalah Allah”.

Bagaimana Alkitab menjelaskan hal ini? Tentu saja Kitab Suci punya pandangannya sendiri. Memang, kata ‘Allah / ELOHIM / THEOS’ dan kata ‘Tuhan / ADONAI / KURIOS’ dalam Alkitab, bisa menunjuk pada Allah yang sejati, tetapi bisa juga menunjuk pada yang bukan Allah. Berikut adalah beberapa contohnya.
Kel 7:1  “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu.’”

Kel 12:12  “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.”
Kata ‘Allah (Ibrani: ELOHIM)’ dalam Kel 7:1 jelas menunjuk pada yang bukan ‘Allah sejati’ karena dijelaskan bahwa ‘sang Allah’ tersebut hanya diperuntukan bagi Firaun dan bukan kepada semua manusia. Ayat ini berarti bahwa Musa diangkat Tuhan sebagai wakil-Nya untuk melaksanakan apa yang dikehendaki Allah bagi Firaun (misalnya menyampaikan Firman Tuhan, dsb). Kata ‘allah’ dalam Kel 12:12 juga bukan bermakna Allah yang sesungguhnya, karena kata itu menunjuk pada dewa-dewa Mesir. Tetapi kata ‘Allah / ELOHIM’ yang menunjuk pada Allah yang sejati, bisa dilihat pada teks dalam Kej 1:1; Ul 6:4; dsb.
Kis 12:21-22  “Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. Dan rakyatnya bersorak membalasnya: ‘Ini suara allah dan bukan suara manusia!’"

2 Korintus 4:4 “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”
Kata ‘allah’ dalam Kis 12:22 tentu bukan bermakna Allah yang sesungguhnya, karena yang dibicarakan disini adalah Herodes (seorang manusia). Demikian pula kata ‘ilah’ (Yunani: THEOS) dalam 2 Kor 4:4, ini bukan menunjuk pada Allah dalam arti yang sesungguhnya,  tetapi jelas sedang membicarakan ‘si jahat / setan’.
Matius 21:40 “Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”

Yoh 4:11  “Kata perempuan itu kepada-Nya: ‘Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?’”

Kata ‘tuan’ (Yunani: KURIOS) pada Mat 21:40 itu berarti ‘tuan’ yang menunjuk pada seorang ‘manusia / pemilik’ dan tak boleh diartikan ‘Tuhan’. Sedangkan dalam Yoh 4:11, KJV lebih tepat dalam menterjemahkan kata Yunani ‘KURIE’ dalam teks ini sebagai ‘Sir’ (tuan) dan bukan ‘Lord / Tuhan’. Mengapa Yesus dalam ayat ini disebut ‘tuan’? Karena konteks menjelaskan bahwa perempuan Samaria itu sama sekali belum mengenal Yesus sebelumnya.

Jadi, jika kata ‘Allah / ELOHIM / THEOS’ atau ‘Tuhan / KURIOS’ digunakan untuk menunjuk pada yang bukan Allah atau Tuhan, maka Kitab Suci selalu memberi penjelasannya bahwa yang dimaksudkan bukanlah Allah / Tuhan dalam arti yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan kata ‘Allah / THEOS’ dan ‘Tuhan / KURIOS’ yang dikenakan bagi Yesus? Apakah Yesus adalah Allah dan Tuhan dalam arti yang sebenarnya atau bukan?


Kata THEOS dalam Yohanes 1:1

Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

KJV: In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God.

Yunani: en arkhe ēn ho logos kai ho logos en pros ton theon kai theos en ho logos

Konteks menunjukkan bahwa kata ‘Firman / LOGOS’ pada ayat ini menunjuk pada Yesus (lihat ayat 14-17). Tetapi benarkah Sang Firman / Yesus Kristus adalah Allah (THEOS)?

Ellen Kristi dalam bukunya ‘Bukan Allah Tapi Tuhan’ menyanggah keAllahan Kristus dalam ayat ini dengan berkata: “Berdasarkan keterangan dari NSECB, kata Teos akan berarti the Supreme Divinity (Yang Maha Ilahi, Allah yang benar) jika mendapat artikel atau kata sandang. Kata sandang itu adalah ho, he, atau to (ton). Yohanes 1:1 dua kali menyebut kata Allah, yang pertama diawali oleh artikel ton (Sang Firman itu bersama-sama dengan Sang Allah), yang kedua tidak (Sang Firman itu adalah Allah). Dengan demikian, ayat ini tidak menunjukkan bahwa Yesus adalah Yahweh, the supreme Divinity, tetapi menyatakan bahwa Yesus adalah allah, makhluk sorgawi.” (Hal. 44).

Jawaban saya: Memang benar bahwa kata ‘Allah’ yang pertama menggunakan artikel (TON THEON) dan kata ‘Allah’ yang kedua tidak menggunakan artikel (THEOS). Tetapi mengapa lalu disimpulkan bahwa artikel yang dilekatkan pada kata ‘Allah / THEOS’ bermakna ‘Allah yang benar’? Bagaimana dengan kata ‘THEOS’ di 2 Kor 4:4 dimana kata ‘ilah’ (KJV: god) pada ayat itu menggunakan artikel ‘HO THEOS’. Haruskah kata itu bermakna ‘Allah yang sejati’? Bukankah konteksnya menunjuk pada setan?? Lalu bagaimana dengan Tit 2:13 dan Ibr 1:8, dimana kata ‘Allah’ di kedua ayat itu menggunakan kata sandang ‘TOU THEOU’ dan ‘HO THEOS’ ? Jika Kristi konsisten dengan pemahamannya, maka seharusnya dia menerima keAllahan Yesus berdasarkan kedua ayat ini dan bahkan setuju bahwa ‘setan’ adalah ‘Allah yang sesungguhnya’! 

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kata ‘Allah’ yang ditujukan pada Sang Firman / Yesus dalam Yoh 1:1 menujukkan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati ataukah hanya sekedar ‘mahluk sorgawi / malaikat’ seperti yang dikatakan Ellen? Mari kita  melihatnya dari dua aspek: 1] Kajian Linguistik; dan 2] Kajian kontekstual.

1] Kajian Linguistik. Disini ada kata-kata ‘Pada mulanya adalah’ (Yunani: ‘en arche ēn’).
Marantika dalam tulisannya berkata “Kata-kata ‘pada mulanya’ diterjemahkan dari ungkapan kata-kata bahasa Yunani ‘en’ yang berarti ‘di dalam’ atau ‘pada’ dan ‘arche’ yang berarti ‘purbakala’ (tanpa artikel), maka ini berarti purbakala itu tak terbatas (timeless existence). Ditambah pula dengan penggunaan bentuk ‘imperfect’ yaitu keterangan waktu ‘past continuous’ bagi kata ‘adalah’ (en), maka teranglah sudah yang dimaksudkan disini adalah masa lampau yang tak terbatas atau kekekalan masa lampau…” (‘Yesus Kristus Allah, manusia sejati’ Chris Marantika, Th.D. hal 15-16).

Paul Enns: “Yohanes 1:1 meneguhkan kekekalan Kristus. Kata kerja ‘adalah (Inggris: was)’ (Yunani imperfek hen) menyatakan keterusmenerusan eksistensi-Nya dalam waktu yang lampau.” (‘The Moody Handbook Of Theology’. hal. 276)

Dalam diskusi saya dengan Benny S Irawan, dia membantah bagian ini dengan mengatakan:
“Kata ἀρχή / archē yang dalam ayat ini diterjemahkan dengan ‘pada mulanya’, juga dipakai di lain.

Act 11:15 Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, SAMA SEPERTI DAHULU (archē) ke atas kita.
Php 4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku BARU MULAI (archē) mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.”

Menurutnya, “Ke-dua ayat itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekekalan. Oleh karena itu, secara obyektif kita harus mengatakan bahwa : archē -- menunjuk kepada suatu waktu tertentu, yang adalah permulaan dari suatu pembicaraan.” 

Jawaban saya: Kata-kata ‘sama seperti dahulu’ di Kis 11:15 berasal dari kata Yunani ‘ARCHE’ yang menurut Strong’s, bisa mempunyai beberapa arti. Bisa berarti ‘beginning (permulaan); chief (kepala); ruler (pemerintah), dsb. Dalam Yoh 1:1, arti yang diambil adalah ‘beginning (permulaan / mulanya)’. Anda beragument bahwa kata ‘ARCHE’ itu juga digunakan dalam Kis 11:15 dan Fil 4:15, tetapi kata itu tidak bermakna ‘kekekalan’. Memang benar bahwa kedua ayat itu juga menggunakan kata ‘ARCHE’ tetapi tentu saja tidak menunjuk pada suatu ‘masa lampau yang kekal’. Mengapa? Karena kata ‘ARCHE’ pada Kis 11:15 mempunyai sebuah ‘permulaan’, yaitu peristiwa pentakosta (Kis 2:4). Jadi, Roh Kudus yang turun di Kis 11:15 merupakan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya yang mulanya tercurah bagi orang percaya di Kis 2:4. Sama seperti kata ‘baru mulai / ARCHE’ di Fil 4:15. Kata itu tidak bermakna ‘kekekalan’, karena pemberitaan Injil yang dilakukan memang punya ‘permulaan / berawal’ (Bdk. Fil 1:5).  

Lalu bagaimana dengan kata ‘ARCHE’ di Yoh 1:1? “Pada MULANYA adalah Firman...” Saya Tanya: Kapan Sang Firman itu mempunya sebuah ‘permulaan’?  Saya yakin kelompok Unitarian pasti akan menunjuk Amsal 8:22 dan Wah 3:14 untuk menjawab hal ini. Ellen Kristi dalam bukunya (hal. 41-42) juga menggunakan ayat-ayat ini dan menyimpulkan bahwa: “Yesus adalah ciptaan Yahweh, yang diciptakan paling awal dari semua ciptaan”. Disini tentunya Kristi telah salah dalam memahami teks Alkitab, karena setiap kata dalam bahasa Ibrani dan Yunani sebenarnya terdiri dari beberapa arti. Kata-kata ‘telah menciptakan aku’ berasal dari kata dasar ‘QANAH’ yang menurut Strong’s Dictionaries, ini memiliki beberapa arti: ‘to create (mencipta); to get (mendapatkan); to posses (memiliki); dsb’. Kita tidak boleh memilih arti ‘mencipta’, karena akan menentang banyak ayat Alkitab yang mencatat bahwa Yesus Kristus adalah Allah (Yoh 1:1; Fil 2:6; Tit 2:13; Ibr 1:8; 1 Yoh 5:20, dsb) dan menentang ayat-ayat yang mencatat kekekalan Kristus (Mik 5:1; Yes 9:5; Yoh 8:58, dsb). KJV, NIV dan NASB menterjemahkan ‘possesed (memiliki)’, ini adalah terjemahan yang tepat.
Demikian pula dengan kata ‘ARCHE’ di Wah 3:14. Ini tak boleh diartikan ‘permulaan’ tetapi ‘ruler / chief (pemerintah / kepala)’ seperti terjemahan NIV atau ‘sumber’ seperti terjemahan BIS.

Jadi, karena ‘Sang firman / Yesus’ tidak memiliki titik awal, maka kata-kata “Pada MULANYA...” tak boleh diartikan menunjuk pada suatu waktu tertentu, namun menunjuk pada waktu lampau yang tak terbatas. Ini cocok dengan kata selanjutnya:  ‘adalah (Inggris: was)’ yang merupakan bentuk imperfek yang menyatakan kekekalan eksistensi-Nya di masa yang lampau.

2] Kajian konteks. Jika kita melihat ayat 3, disitu dikatakan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Kalimat ini menjelaskan secara gamblang bahwa Sang Firman / Yesus itu adalah pencipta segala sesuatu. Kata ‘segala sesuatu’ (dalam Yoh 1:3) dijelaskan secara rinci dalam Kol 1:16 - “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kalau saya mau simpulkan kalimat dalam Kol 1:16, maka dapat diartikan bahwa ‘segala sesuatu diluar / selain Allah, semuanya diciptakan oleh Yesus.’ Karena Yesus adalah pencipta segala sesuatu, maka sangat tidak mungkin jika Dia adalah ‘mahluk ciptaan’ belaka.

Dalam bukunya, Ellen Kristi berkata: “Yesus adalah ciptaan Yahweh, yang diciptakan paling awal dari semua ciptaan.” (hal. 42).

Jika memang benar demikian, maka ini akan bertentangan dengan Yoh 1:3 dan Kol 1:16 dimana Yesus disebut sebagai ‘pencipta segala sesuatu’, dan pasti juga menentang Yoh 1:1 yang menunjukkan kekekalan Kristus. Jika Yesus adalah ‘mahluk ciptaan’ tetapi disisi lain Dia dikatakan pencipta segala sesuatu, lalu apakah berarti Yesus mencipta diriNya sendiri? Ataukah Yahweh dan Yesus bekerjasama mencipta Yesus? Ini tentu sesuatu yang ganjil dan menggelikan!

Nah, paling tidak ada 2 hal yang ditemukan sehubungan dengan pembahasan kata ‘THEOS’ dalam Yohanes 1:1.  Pertama, kata itu menunjuk pada seorang pribadi yang bersifat kekal. Pada masa lampau, Yesus terus menerus ada dan tak pernah tak ada; Kedua, Dia adalah pencipta segala sesuatu (ayat 3).
Sekarang pertanyaannya adalah: mahluk manakah yang ada dibawah kolong langit ini (bahkan yang ada dilangit dan di bawah bumi) yang memiliki kedua atribut ini? Alkitab menjawab:

Maz 90:2  “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.”

Yes 44:24  “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; ‘Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi--siapakah yang mendampingi Aku?--'"
 
Kata-kata “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakan” (Maz 90:2) menunjukkan waktu yang lampau. Ayat ini mejelaskan bahwa Allah itu bukan hanya kekal ke depan, tetapi juga kekal ke belakang; dari minus tak terhingga sampai plus tak terhingga; dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Nabi Yesaya juga secara jelas menyatakan bahwa sang pencipta segala sesuatu itu adalah TUHAN / YHWH itu sendiri dan tidak ada yang lain.
Mengapa disatu sisi Yes 44:24 mengatakan bahwa YHWH pencipta segala sesuatu tetapi disisi lain, Yoh 1:3 mencatat Yesus pencipta segala sesuatu? Mengapa Maz 90:2 mencatat kekekalan Allah, tetapi disisi lain Yesus juga adalah pribadi yang bersifat kekal (Yoh 1:1)?  Saya yakin ini akan memusingkan kaum Unitarian dan Saksi Yehovah. Tetapi bukanlah seorang bidat, jika mereka tak bisa membelokkan makna sesungguhnya dari ayat-ayat ini. Tetapi, bagaimanapun hebatnya serangan / pembelokkan makna oleh kelompok sesat ini, tak bisa tidak, ayat-ayat ini secara cukup meyakinkan menunjukkan bahwa Yesus adalah YHWH itu sendiri!

Jadi, dari hasil eksegese terhadap teks dalam Yoh 1:1, maka kata ‘THEOS’ yang ditujukan bagi Yesus dalam ayat ini, sudah pasti menunjuk pada Allah yang sejati. Yesus Kristus adalah Allah sang pencipta yang kekal adanya!


Kata KURIOS dalam Filipi 2:11

Fil 2:5  “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, [6]  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, [7]  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. [8]  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. [9]  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, [10]  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, [11]  dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

KJV: [6] “Who, being in the form of God, thought it not robbery to be equal with God: ... [11] And [that] every tongue should confess that Jesus Christ [is] Lord, to the glory of God the Father.”

Apakah kata ‘Tuhan (Yunani: KURIOS)’ dalam ayat ini bermakna ‘Tuhan’ atau hanya sekedar ‘tuan’? Kembali kita menggalinya berdasarkan kajian linguistic dan konteksnya.

1] Kajian Linguistik. Dalam buku ‘Menjawab doktrin Tritunggal’ Frans Donald mengkritik ayat ini dengan mengatakan bahwa tidak ada kata ‘dipertahankan’ (ayat 6), melainkan kata ‘perampasan’ (KJV: robbery) – [hal. 21]. Ellen Kristi menerjemahkan ayat 6 sebagai: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah...” (‘Bukan Allah Tapi Tuhan’: hal.78).

Jawaban saya: Kata ‘being’ dalam kalimat ‘Being in the form of God’ (ayat 6 - KJV) atau terjemahan Indonesia (TB): “yang walaupun dalam rupa Allah,” berasal dari kata Yunani ‘HUPARCHON’  kata yang menjelaskan suatu keadaan yang terus-menerus / tidak berubah. Juga kata ‘MORPHE’ (rupa) “menunjukkan suatu ungkapan permanen tentang sifat-sifat hakiki” (Wycliffe, hal.778). Maka kalimat ‘Being in the form of God’ menunjukkan bahwa Yesus secara hakiki adalah Allah yang permanen / tak berubah!

Seorang penafsir berkata: “Disini tidak dikatakan bahwa Kristus ‘mempunyai rupa Allah’ (morphei Theou echon), tetapi bahwa Ia ‘berada dalam rupa Allah’ (en morphei Theou huparchon). Ungkapan ini menyatakan bahwa sebelum Kristus menjadi manusia Ia telah ada, Ia telah mempunya pra-eksistensi. Ia seujud, sehakikat dengan Allah... Hal ini diperkuat oleh kata ‘huparchon’ (berada), yang berdasarkan kata dasarnya ‘arche’ menunjuk kepada suatu keberadaan yang dari mulanya, yang asli, yang orisinil (bnd. Kis 3:2; 16:3, 2-21, 17:27, 29; 1 Kor 11:7; 2Kor 8:17; 12:16, Gal 1:14; 2:14, dll).” [‘Tafsiran Alkitab Surat Filipi’: DR. J.L. Ch. Abineno. Hal. 56].

Jadi, sekalipun Kristi menterjemahkan “tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah...” Ini bukanlah masalah yang serius, karena, buat apa Yesus ingin ‘merampas’ untuk setara dengan Allah, sementara Dia sendiri adalah Allah? Untuk apa Yesus ‘merampas’ sesuatu yang sudah dimilikinya sejak kekekalan??

Sekarang kita melihat terjemahan baru LAI: [ayat 6] “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.” Terjemahan “yang walaupun dalam rupa Allah” saya kira tak perlu dipersoalkan karena Ellen Kristi – pun kelihatannya setuju. Selanjutnya, yang disoroti adalah kalimat “tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” terjemahan ini tentu menunjukkan bahwa Yesus itu setara dengan Allah. Ini tak mungkin ditafsirkan bahwa Yesus bukan Allah, karena ada kata-kata sebelumnya yang menyebutkan bahwa Dia ada “dalam rupa Allah”. Kata-kata “... sebagai milik yang harus dipertahankan [7]  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri”, berbicara tentang ‘perendahan diriNya’ menjadi manusia hingga mati di salib’ (ayat 8). Saat inkarnasi sampai alami kematian, Dia memang tidak ‘mempertahankan’ keadaan / hakekat ilahinya sebagai Allah.

Mari kita bandingkan beberapa terjemahan dalam Fil 2:6,

Terjemahan Ellen Kristi: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah...”

KJV: “Who, being in the form of God, thought it not robbery to be equal with God:”

Terjemahan LAI: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,”

NIV: “Who, being in very nature God, did not consider equality with God something to be grasped,”

Para penafsir (penerjemah-penerjemah) memang saling beda pendapat tentang arti yang sebenarnya dari kata-kata yang saya garis bawahi tersebut. Terjemahan manakah yang benar? The Wycliffe Bible Commentary memberi terjemahan yang menurutnya lebih tepat: “Sekalipun di dalam keadaan-Nya sebelum berinkarnasi memiliki sifat-sifat hakiki Allah, kesetaraan dengan Allah itu tidak dianggap-Nya harga yang harus dipertahankan untuk kepentingan-Nya.” (hal. 778)

Tetapi buat saya, saudara mau pilih terjemahan manapun juga (dan seandainyapun terjemahan Ellen yang benar), itu tak jadi soal, karena ini sama sekali tidak mempengaruhi / merubah keAllahan Yesus yang ditekankan dalam ayat ini!

2] Kajian Konteks. Kajian bahasa diatas sebetulnya juga merupakan konteks / latarbelakang dari ayat 11 dalam Filipi pasal 2, saat kita sedang menyoroti /  memunculkan makna sebenarnya dari kata KURIOS. Setelah meninjau kata-kata “yang walaupun dalam rupa Allah” dari sudut bahasa Yunani-nya, maka didapati bahwa Yesus Kristus memang benar-benar adalah Allah yang sejati. Ini hal yang pertama. Yang kedua, perhatikan ayatnya yang ke-10.

[10]  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, [11]  dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Ayat 10 menyatakan bahwa dalam Yesus, segala mahluk di segala wilayah, akan bertekuk lutut / menyembah. Yang menjadi pertanyaannya adalah: Siapakah sesungguhnya Yesus itu, sampai-sampai segala mahluk sujud kepadaNya? Bukankah penyembahan itu hanya diperuntukkan kepada YHWH / Allah?

Maz 95:6  “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.”

Yes 45:23  “Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa,”

Rom 14:11  “Karena ada tertulis: ‘Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.’"

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa ‘sujud sembah / bertelut’ seringkali ditujukan kepada Allah / YHWH itu sendiri. Selanjutnya perhatikan ayat 11, disitu tertulis “segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’”. Dalam bahasa aslinya, kata ‘Tuhan’ berasal dari kata KURIOS. Kelompok Unitarian seringkali membedakan kata ‘Allah’ (THEOS) dan ‘Tuhan’ (KURIOS). Menurut mereka, Allah itulah YHWH, tetapi Tuhan bisa diartikan sebagai ‘tuan’. Tetapi jika kata KURIOS dalam Fil 2:11 diartikan hanya sekedar ‘tuan’, lalu mengapa gerangan ‘sang KURIOS / Yesus’ menjadi sasaran penyembahan segala mahluk? Bukankah Yesus berkata bahwa hanya Allah / Tuhan saja yang wajib disembah?

Mat 4:10  “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’"

Memang benar bahwa kata KURIOS bisa bermakna ‘tuan’ dan bukan hanya berarti ‘Tuhan’, misalnya dalam Yoh 4:11. KJV menterjemahkan kata itu sebagai ‘Sir’ (tuan). Mengapa Yesus dalam ayat ini disebut ‘tuan’? Seperti yang sudah dijelaskan diatas, karena konteks menjelaskan bahwa perempuan Samaria itu belum pernah bertemu dan mengenal Yesus sebelumnya, jadi tak mungkin dia tiba-tiba menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan’. Tetapi khusus dalam Fil 2:11, kata ‘Tuhan’ (KURIOS) dalam ayat ini tidak boleh diartikan sebagai ‘tuan’ namun harus diartikan ‘Tuhan’ dalam pengertian sesungguhnya! 

Selain Fil 2:11, kata ‘KURIOS’ yang harus diartikan ‘Tuhan’ dapat dilihat juga dalam beberapa teks berikut:

Yoh 9:38 ‘Katanya: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembah-Nya.”  

Jika Yesus hanya sekedar ‘tuan’ dan bukan ‘Tuhan’, mengapa orang ini sujud dan menyembah Yesus?

Kis 7:59-60  “[59] Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ [60]  Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.’”

Kata Yunani ‘KURIE’ dalam ayat ini tentu tak boleh diterjemahkan ‘Tuan’ karena Stefanus tak mungkin berdoa dan menyerahkan rohnya pada seorang ‘Tuan’.

Ibr 1:8,10 – “[8] Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran... [10]  Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.’”

Kata ‘Tuhan’ diayat ini harus dalam arti yang tegas / setinggi-tingginya, karena tak mungkin seorang ‘Tuan’ disebut sebagai ‘Allah’, mempunyai ‘tahta yang kekal’ dan bahkan ‘pencipta langit dan bumi’. 



ALLAH PASTI TUHAN, TETAPI TUHAN BELUM TENTU ALLAH?

Ini adalah inti dari buku Ellen Kristi ‘Bukan Allah Tapi Tuhan’. Dia mengklaim bahwa Allah (YHWH / Bapa) sudah pasti adalah Tuhan, tetapi Tuhan (Yesus) belum tentu Allah. Atau dalam bahasa aslinya: ‘THEOS pasti KURIOS, tetapi KURIOS belum tentu THEOS.’

Ellen Kristi: “Sekalipun Alkitab bahasa Indonesia menggunakan dua kata, Tuhan dan Tuan, diantara kedua kata itu sebetulnya tidak ada perbedaan arti, sama-sama berasal dari kata adon atau kurios. Konsekwensinya, Tuhan tidak boleh disamakan dengan Allah (elohiym). Kata allah berarti mahluk ilahi atau sesembahan, sedangkan tuhan atau tuan berarti seseorang yang berkuasa atau terhormat. Allah pasti Tuhan, tetapi Tuhan belum tentu Allah. Sesembahan pasti dihormati, namun orang yang kita hormati belum tentu kita sembah.” (Bukan Allah Tapi Tuhan: Sadar Publication. Semarang, cetakan ke-1, 2005, hal 13).

Ellen Kristi: “Dalam Perjanjian Baru, Yahweh diperkenalkan dengan gelar baru, ‘Bapa’. Bapa bukan pribadi yang sama dengan Yesus. Bapa justru adalah Allah dari Yesus, yang meninggikan Yesus menjadi Tuhan, Kristus, pemimpin, dan Juruselamat. Dengan begitu, bagi orang Kristen hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, dan satu Tuhan saja, yaitu Kristus. Kata Tuhan untuk Kristus diambil dari kata kurios (tuan), bukan theos (allah) dan bukan pula Yahweh (TUHAN).” (Bukan Allah Tapi Tuhan: hal. 37).

Saya memang setuju bahwa ‘Allah sudah pasti Tuhan’. Namun saya menolak jika disimpulkan bahwa ‘Tuhan (Yesus) belum tentu / bukan Allah’. Penolakan saya terhadap ‘rumus palsu’ ciptaan kelompok Unitarianisme ini, memang bukan tanpa alasan, karena seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa kata ‘KURIOS’ (untuk Yesus) dalam banyak ayat di Alkitab (Mis: Yoh 9:38; Kis 7:59-60; Fil 2:11; Ibr 1:10) justru sangat-sangat tegas dan jelas menyatakan keAllahan-Nya! Jika Kitab Suci mencatat sebutan ‘KURIOS’ bagi Yesus bermakna ‘Tuhan yang sejati’ (bukan sekedar ‘Tuan’), maka otomatis ‘Tuhan / KURIOS (dalam konteks ini) sudah pasti adalah Allah / THEOS’. 

Selanjutnya saya akan menyoroti kata-kata Ellen berikut:

“Kata allah berarti mahluk ilahi atau sesembahan, sedangkan tuhan atau tuan berarti seseorang yang berkuasa atau terhormat ... Sesembahan pasti dihormati, namun orang yang kita hormati belum tentu kita sembah.”

Benarkah pernyataan Ellen ini? Bandingkan dengan ayat-ayat berikut ini:

  • Mat 8:2 “Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepadaNya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’”.
  • Mat 9:18 “Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: ‘Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tanganMu atasnya, maka ia akan hidup.’”.
  • Mat 14:33 “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”
  • Mat 15:25 “Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ‘Tuhan, tolonglah aku.’”.
  • Mat 17:14 “Ketika Yesus dan murid-muridNya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah”.
  • Mat 20:20 “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya”.
  • Mat 28:9,17  “[9] Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: ‘Salam bagimu.’ Mereka mendekatiNya dan memeluk kakiNya serta menyembahNya. ... [17] Ketika melihat Dia mereka menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”.
  • Yoh 9:38 “Katanya: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembahNya”.
  • Luk 24:51-52 “[51] Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. [52] Mereka sujud menyembah kepadaNya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita”.
  • Ibr 1:6  “Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’"
Seluruh orang-orang yang dibicarakan dalam ayat ini, semuanya sujud menyembah Yesus. Bahkan, dalam Ibr 1:6, Sang Bapa sendiri (YHWH) memerintahkan seluruh malaikat untuk menyembah Sang Anak (Yesus)! Tentu disini Yesus bukan hanya sekedar ‘di hormati’, tetapi bahkan disembah! Jadi, kata-kata Kristi ini: “Sesembahan pasti dihormati, namun orang yang kita hormati belum tentu kita sembah”, pasti hanyalah sebuah omong kosong!

Perbedaan makna kata ‘Tuhan’ dan ‘Tuan’  juga terungkap dalam diskusi saya dengan Benny S Irawan. Dia berkata: “Kata ‘Allah’ memiliki pengertian yang berbeda dengan ‘Tuhan/Tuan’. TUHAN/YHWH/Bapa-lah Allah saya, dan Yesus adalah Tuhan saya. (Kisah 2:36)”. Menurutnya, predikat ‘Tuhan’ yang disandang Yesus bukan dalam arti bahwa Dia adalah ‘Allah’.

Saya kemudian bertanya padanya: “Anda katakan makna kata ‘Allah’ beda dengan ‘Tuhan’. Baiklah, saya ingin tahu bagaimana anda bisa menafsirkan ayat ini:

1 Kor 8:4-6 - “(4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Ayat ini menyatakan bahwa " hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa" dan "satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus". Saya tanya: Bapa itu Tuhan atau bukan?

Melihat pertanyaan ini, Benny kemudian menyuruh saya melihat kamus dan memastikan bahwa kata “Allah/Theos/Elohim/God” memiliki makna yang berbeda dengan “Tuhan/Kurios/Adonai/Lord”. Dia juga menegaskan bahwa “Alkitab menyatakan amat sangat gamblang (jelas sekali), Bahwa hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa (bukan Yesus, bukan pula Roh Kudus)... Posisi sebagai ALLAH, adalah posisi yang paling puncak, yang oleh karenanya disebut sebagai YANG MAHA KUASA - yang paling berkuasa. Oleh karenanya, ketika kita menyebut YHWH/Bapa sebagai ALLAH, maka seluruh posisi yang ada di dunia ini (bukan hanya ‘Tuhan’) berada dalam genggamanNya.” Demikian ujar Benny.

Jawaban Benny ini sebetulnya semakin mempertegas posisinya yang meyakini bahwa Allah itu mutlak hanya satu saja yaitu Bapa (bukan Yesus dan Roh Kudus). Jika Benny konsisten dengan pemahamannya, maka konsekwensinya dia harus menerima  bahwa Tuhan itu hanya satu saja yaitu Yesus. Tetapi anehnya, dia hanya mau menerima sebagian kata-kata dalam 1 Kor 8:6 (‘hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’), tetapi kalimat selanjutnya ‘dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’ ditolaknya / dibuang. Ini tentu sebuah inkonsistensi!    

Lalu bagaimana Kristen menyikapi ayat tersebut? Disini ada dua pribadi yang dibicarakan: ‘Bapa’ dan ‘Yesus Kristus’:

  • Bapa (ALLAH):  ---- > Dari padaNya berasal segala sesuatu                                          
                                     ---- > Untuk Dia kita hidup   

  • Yesus Kristus (TUHAN):   ---- > OlehNya segala sesuatu telah dijadikan

                                             ---- > Karena Dia kita hidup                                                                                                    
Kata-kata ‘dari padaNya berasal segala sesuatu’ menunjukkan bahwa Bapa adalah sumber segala yang ada / sang pencipta (bdk. Yes 44:24). Ini sebetulnya sama saja dengan kalimat ‘OlehNya segala sesuatu dijadikan’, yang menunjukkan bahwa Yesus pencipta segala sesuatu (bdk. Yoh 1:3; Kol 1:16). Kemudian kata-kata ‘Untuk Dia kita hidup’ menjelaskan bahwa Sang Bapa adalah tujuan hidup manusia / orang percaya. Ini juga sama saja dengan kalimat ‘Karena Dia kita hidup’ yang menunjukkan karena Yesus-lah kita bisa ada / hidup dan dengan demikian, tentu kita harus hidup untuk pribadi yang telah menciptakan kita (bdk. Rom 14:8). Dari sini bisa disimpulkan bahwa apa yang dimiliki / dikerjakan Bapa, itu juga yang dimiliki / dikerjakan Yesus. Ini tentu menjelaskan bahwa sang Anak / Yesus itulah Allah dan sang Bapa itulah Tuhan. Allah sudah pasti Tuhan dan Tuhan sudah pasti adalah Allah.

Ayat-ayat seperti Ul 6:4; 1 Kor 8:6; dsb, memang adalah ayat-ayat ‘emas’ dari kelompok Unitarian yang mencatat keesaan / ketunggalan Allah. Tetapi adanya ayat-ayat seperti ini, tujuannya bukan untuk membantah keAllahan Yesus atau menentang doktrin Allah Tritunggal, tetapi untuk menentang Polytheisme yang ada disekitar mereka.                                                                                                                                               

Kitab Suci mencatat bahwa Bapa itu Allah, Anak / Yesus adalah Allah; Bapa itu Tuhan, Yesus juga adalah Tuhan. Lalu apakah berarti ada dua Allah dan dua Tuhan? Tidak! Hanya ada satu Allah dan satu Tuhan yang esa (Ul 6:4; 10:17; 1 Tim 2:5; 1Kor 8:4,6; Yak 2:19, dsb). Mengapa demikian? Karena Bapa dan Yesus adalah dua pribadi yang sehakikat / satu (Yoh 10:30). Bagi Kristen, ayat-ayat seperti ini tak menjadi masalah, karena Alkitab memang mengajarkan ‘doktrin Allah Tritunggal’ dimana Allah ada dalam 3 pribadi yang sehakikat. Tetapi bagi seorang Unitarian, ayat seperti 1 Kor 8:6 pasti akan sangat memusingkan.


KESIMPULAN DAN PENERAPAN

Dibagian akhir ini saya akan mengutip kata-kata Ellen Kristi, dan yang akan saya tanggapi sebagai kesimpulan dari seluruh tulisan ini.

Ellen Kristi: “Saya pikir cukup bukti untuk menunjukkan Yesus bukan Yahweh. Dengan demikian, Yesus bukan Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub, Allah nenek moyang bangsa Israel. Bapa itulah “satu-satunya Allah yang benar”. (Bukan Allah Tapi Tuhan: hal. 30)

Jawaban saya: Terlihat jelas bahwa Ellen begitu PD (Percaya Diri) untuk menyatakan bahwa Yesus bukan ‘Allah yang benar’ dan bukan ‘Yahweh’ dengan hanya memberi ‘bukti yang cukup’. Perhatikan beberapa kutipan ayat-ayat berikut ini:

Bapa adalah ‘Allah / ELOHIM / THEOS’       : Ul 10:17; Ef 1:2
Yesus adalah ‘Allah / THEOS’                      : Yoh 1:1; Ibr 1:8; Fil 2:6; Tit 2:13
Bapa adalah ‘Tuhan / ADONAI / KURIOS’   : Maz 8:10
Yesus adalah ‘Tuhan / KURIOS’                  : Kis 7:59-60; Fil 2:11; Ibr 1:10
Yesus disebut Tuhan dan Allah                     : Yoh 20:28
Yesus adalah YAHWEH                                  : Yer 23:5-6
Yesus adalah Allah yang benar                      : 1 Yoh 5:20

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, ketika Yesus disebut ‘Allah / THEOS’ dalam Yoh 1:1; Ibr 1:8, dsb, lalu saat Yesus disebut ‘Tuhan / KURIOS’ dalam Kis 7:59-60; Fil 2:11; Ibr 1:10, dsb, disana Dia tak bisa hanya diartikan sebagai ‘Tuan / yang dihormati / mahluk sorgawi / malaikat’ saja, tetapi harus diartikan sebagai Tuhan dan Allah dalam pengertian yang tegas / setinggi-tingginya. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah yang benar, Sang pencipta segala sesuatu dan yang layak disembah! Saya setuju bahwa Bapa itu adalah (bernama) Yahweh, tetapi tentu saja Yesus juga adalah Yahweh!

Bukan rahasia umum lagi jika kaum Unitarianisme dan Saksi Yehovah selalu berusaha merontokkan ayat-ayat keIlahian Yesus dengan menggunakan ayat-ayat kemanusiaan-Nya. Disatu pihak, orang-orang seperti Benny S Irawan, Frans Donald, dan Ellen Kristi, selalu menekankan ‘Sola Scriptura’, tetapi disisi lain, mereka hanya memilih ayat-ayat yang cocok dengan ajarannya dan mengabaikan bagian-bagian yang tak sesuai dengan doktrinnya. Sebuah inkonsistensi dan sikap yang tidak menghormati Kitab Suci. Saya yakin istilah ‘Cukup bukti’ yang dimaksud Ellen, pasti adalah ‘cukup bukti menurut versi dan penafsiran Ellen dan kelompoknya sendiri’ bukan apa kata Alkitab.

Kitab Suci Perjanjian Baru mencatat bahwa hanya didalam Yesus Kristus ada keselamatan / hidup kekal (Yoh 14:6). Tetapi anehnya, Perjanjian Lama mencatat bahwa Allah / YHWH adalah satu-satunya Juruselamat (Yes 43:10-11). Alkitab juga mencatat bagaimana cara / syarat keselamatan; Iman pada Tuhan (KURIOS) Yesus Kristus [Kis 16:31]. Tapi apakah hanya sekedar percaya sebagai ‘Tuhan’ dalam arti ‘Tuan’ saja? Tidak! Firman Tuhan menegaskan bahwa Yesus adalah ‘Allah yang benar’ dan hidup kekal (1 Yoh 5:20). Ini berarti bahwa hidup kekal itu bisa diterima jika manusia menerima keAllahanNya. 

1 Yoh 5:20 "Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya YESUS KRISTUS. DIA ADALAH ALLAH YANG BENAR dan HIDUP YANG KEKAL." .


Maukah saudara percaya pada-Nya?
Kemuliaan hanya bagi Allah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar