Senin, 29 Oktober 2012

BENARKAH YESUS ADALAH YAHWEH?


Oleh: Albert Rumampuk


Suatu hal yang tidak asing lagi jika keilahian Yesus selalu menjadi bahan perdebatan yang sengit. Serangan terhadap ‘jantung’ Kekristenan ini, bukan hanya dilontarkan oleh kalangan non Kristen saja, tetapi bahkan dilakukan oleh kelompok yang menggunakan Alkitab sebagai dasar imannya. Sebut saja Saksi Yehuwa yang menganggap Yesus pra-inkarnasi adalah ‘suatu allah’ atau ‘allah kecil’ yang posisinya lebih rendah dari Yahweh, atau Unitarian yang berpendapat bahwa Sang Firman dalam Yoh 1:1 hanyalah 'mahluk sorgawi / bersifat ilahi'. Namun ternyata bukan hanya kedua sekte sesat ini yang menolak keAllahan Yesus, seorang yang mengaku penganut Judeo Christianity yang juga pengagung nama Yahweh (Pdt. Teguh Hindarto M.Th), faktanya juga menolak Yesus sebagai Allah / Yahweh. Benarkah Yesus bukan Yahweh? Ataukah Dia adalah Yahweh itu sendiri yang telah berinkarnasi?


DASAR ARGUMENTASI

Para pengkritik biasanya mempertanyakan 'Mana ayat dalam PB yang menyatakan bahwa Yesus adalah Yahweh?'. Memang benar bahwa dalam Perjanjian Baru, adalah hal yang mustahil menemukan kata 'Yahweh' atau 'Yesus adalah Yahweh'. Tetapi sebetulnya, jika rasul Yohanes mengatakan bahwa Sang Firman yang jadi manusia itu adalah Allah (Yoh 1:1, 14), atau bahkan rasul Paulus yang memproklamirkan Yesus sebagai Allah Yang Maha besar (Tit 2:13), maka pada dasarnya kita dapat mengatakan bahwa Yesus adalah Yahweh itu sendiri. Tetapi bagaimana kita bisa membuktikannya? Bukankah Perjanjian Baru sama sekali tak pernah mencatat bahwa Yesus adalah Yahweh? Pertanyaan ini mungkin dapat kita jawab dengan menyodorkan Maz 83:19 yang konteksnya menyebutkan bahwa Allah (Ibrani: ELOHIM), itu sebetulnya bernama Yahweh. Jadi pada saat Yesus disebut sebagai Allah (Yunani: THEOS), maka konsekwensinya, Yesus adalah Yahweh itu sendiri. Tetapi disini para pengkritik mungkin akan membantahnya dengan mengatakan bahwa kata ‘THEOS / Allah’ belum tentu menunjuk pada ‘Allah yang sejati’, karena itu bisa menunjuk pada yang bukan Allah. Namun ayat-ayat seperti Yoh 1:1 atau Tit 2:13 sangatlah mustahil diterapkan kepada yang bukan Allah sejati!

Pada umumnya umat Kristen menggunakan ayat-ayat seperti Yes 9:5; Yoh 1:1; Yoh 20:28; Fil 2:6; Rom 9:5; Tit 2:13; 1 Yoh 5:20, dsb, untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi, sekali lagi, bagaimana kita tahu bahwa Yesus adalah Yahweh? Disini saya akan menggunakan Yer 23:5-6 sebagai dasarnya.

NUBUAT UNTUK SANG MESIAS

Yer 23:5-6 “[5] Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. [6] Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita.”

Hal pertama yang harus ditekankan adalah, bahwa teks Yer 23:5-6 ini, merupakan nubuatan yang digenapi dalam diri Kristus. Orang-orang Yahudi yang menganut monotheisme, menolak mengaitkan nubuatan ini dengan Yesus dan berusaha mencari raja-raja lain sebagai penggenapannya. Tetapi nubuat ini secara spesifik berbicara tentang ‘Tunas adil bagi Daud’, yang tentunya menunjuk pada ‘keturunan Daud’, dan bukan keturunan yang lainnya.

Alkitab mencatat bahwa Yesus seringkali disebut dengan istilah ‘Tunas’ (bdk. Yes 11:1; 53:2; Why 5:5). Dia juga disebut dengan ‘keturunan Daud’ (Rom 1:3), memerintah sebagai raja dari benih Daud / mewarisi tahta Daud (Luk 1:32-33). Bahkan dalam Why 22:16, Yesus sendiri mengakui bahwa Dialah yang dimaksudkan dengan istilah ‘Tunas’ tersebut: "Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." Welly Pandensolang menyoroti dua istilah Yunani yang dipakai dalam ayat ini, yakni rhiza artinya tunas, dimana kata ini menjelaskan bahwa Yesus adalah keturunan Yehuda melalui Isai (Yes 11:1). Istilah yang kedua adalah genos artinya keturunan, yaitu menyatakan bahwa Kristus adalah Anak Daud. [1]

Jadi, Yer 23:5-6, jelas berbicara tentang Yesus, Mesias yang dijanjikan. Hal ini diperkuat dengan konteks ayat ini yang sangatlah mustahil dipenuhi untuk yang lain selain untuk Kristus seorang!


BUKTI YESUS ADALAH YAHWEH

Diatas sudah ditunjukkan bahwa Yer 23:5-6 adalah nubuatan yang jelas berbicara tentang Sang Mesias. Sekarang saya akan membuktikan mengapa saya menjadikan Yer 23:5-6 sebagai dasar untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Yahweh. Paling tidak ada dua alasannya.

Pertama: Konteks menjelaskan bahwa ‘Sang Tunas adil’ tersebut akan memerintah sebagai raja yang bijaksana, adil dan benar (ayat 5). Terjemahan LAI ini mirip dengan versi NIV, tetapi KJV menterjemahkan: “Behold, the days come, saith the LORD, that I will raise unto David a righteous Branch, and a King shall reign and prosper, and shall execute judgment and justice in the earth.” Perhatikan kalimat yang saya garisbawahi. Raja yang akan memerintah itu menyebabkan kemakmuran dan akan melaksanakan penghakiman dan keadilan di bumi. Lalu ayat 6a menyebutkan Yehuda akan dibebaskan dan Israel akan hidup dengan tentram (terjemahan LAI). Baik KJV maupun NIV (bahkan TDB, milik Saksi Yehuwa) menterjemahkan bahwa Yehuda akan diselamatkan dan Israel akan aman. Pertanyaannya adalah, apakah ada raja-raja Israel / Yehuda yang bisa melakukan semua ini? Sepanjang pengetahuan saya, tak ada satupun yang dapat melakukannya, karena ini memang tak mungkin bisa dilakukan oleh seorang manusia biasa saja. Lalu siapa? Para pengikut Kristus mengklaim bahwa raja yang akan memerintah tersebut pasti menunjuk pada Yesus. Tetapi, jika ini bicara tentang Kristus, benarkah Yesus adalah seorang raja yang memerintah? Orang-orang non Kristen banyak yang meragukan hal ini dan bahkan Pilatus sendiri mempertanyakannya. Apa reaksi Yesus? Yesus tidak mengelak namun membenarkannya (Mat 27:11). Tetapi benarkah Yesus seorang raja? Bukankah disini Yesus berdusta? Tentu saja tidak, karena Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini...” (Yoh 18:36). Jadi, kata-kata ‘raja’, ‘memerintah’, ‘makmur’, dsb, tak bisa dimaknai secara literal tetapi harus secara rohani (bdk. Yes 9:6). Demikian pula dengan kata-kata “Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan (diselamatkan), dan Israel akan hidup dengan tenteram” (ayat 6a). Mungkin ada yang protes dan katakan bahwa hal ini juga tak cocok diterapkan untuk Yesus, karena saat Dia didunia, Yehuda tetap dijajah oleh Romawi bahkan setelah Yesus mati dan naik ke sorga, kerajaan Daud itu tetap saja dijajah. Tetapi ini lagi-lagi tak bisa diartikan secara duniawi, namun harus secara rohani. Yehuda / Israel dalam teks ini bukan bicara tentang sebuah wilayah / Negara secara hurufiah, tetapi merupakan type yang menggambarkan umat Allah / gereja. Dalam PL, Yehuda dan Israel itu umat pilihan Allah, tetapi di PB, gereja / orang Kristenlah umat Allah (1 Pet 2:9).

Selanjutnya, perhatikan kata-kata ‘Dalam zamannya’. Apakah frasa ini bermakna hanya ‘dimasa Kristus hidup / berkarya didunia saja?’ Ada penafsir yang mengatakan bahwa ini bukan hanya menunjuk pada kehidupan duniawi Kristus saja, tetapi pada kekekalanNya. Saya setuju dengan pendapat ini, karena jika kita membandingkan dengan 2 Sam 7:12-16 (yang juga merupakan nubuat untuk Kristus), jelas sekali bahwa kerajaan / pemerintahannya bukan hanya berlangsung untuk waktu tertentu saja, tetapi sampai selama-lamanya.  Yes 9:5-6 juga mencatat  ciri-ciri pemerintahan sang putera yang akan lahir itu: ‘kekuasaannya besar’; ‘damai sejahtera tak berkesudahan’; dan mendasari kerajaannya dengan ‘keadilan dan kebenaran’; 'dari sekarang sampai selama-lamanya'. Jadi, pemerintahan yang dimaksudkan disini, berlangsung secara kekal tak berkesudahan! Bisakah ini dipenuhi oleh seorang manusia biasa saja? Mustahil! Ini digenapi secara sempurna dalam Kristus: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." (Luk 1:31-33)

Nah, jika nubuatan ini cocok untuk Yesus, lalu siapakah Dia sesungguhnya? Hanya seorang manusia biasa / nabi saja? Jika Yesus hanya seorang manusia, maka Dia tak mungkin dapat menegakkan penghakiman dan keadilan. Jika hanya seorang nabi, Dia tak mungkin bisa membebaskan / menyelamatkan semua orang percaya di seluruh dunia ini. Dia juga tak akan mungkin memerintah secara kekal. Lalu siapakah yang bisa melakukan pekerjaan yang luar biasa ini? Tentu saja hanya Allah / Yahweh seorang. Bandingkan Yes 45:21 -  “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!(Lihat kembali Luk 1:31-33 yang mencatat bahwa Yesus, raja yang memerintah itu disebut sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, sebuah gelar ilahi yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah {Bdk. Yoh 5:18}).
Jika Yer 23:5-6 terbukti berbicara tentang Yesus, maka konsekwensinya, Dia adalah Yahweh itu sendiri!

Kedua: Yesus disebut sebagai Yahweh. Yer 23:6 mencatat bahwa Sang Tunas adil itu bernama ‘TUHAN Keadilan kita’. Kata ‘TUHAN’ dalam bahasa asli Perjanjian Lama (Ibrani), disebut dengan YHWH (Yahweh). Jadi, dibagian ini Alkitab mencatat bahwa Yesus adalah Yahweh!
Wycliffe dalam mengomentari teks ini berkata: “‘Keadilan’ disini memiliki makna ganda: ‘keadilan’ dan ‘keselamatan’ (bdg. Yes 46:13; 51:6, 8; Rm 1:16, 17). Allah disini dipandang sebagai Juruselamat atau Pelepas” [2] Apa yang dikatakan Wycliffe mungkin ada benarnya, karena konteksnya demikian dan sebetulnya inilah yang ditekankan dalam Yer 23:5-6. Tetapi bagi saya, pernyataan Yesus adalah ‘Yahweh’ dalam teks ini, adalah sesuatu yang tak terbantahkan karena istilah-istilah untuk Tuhan (yang para teolog sering menggolongkan sebagai ‘nama-nama Tuhan’), seperti ADONAI (Tuhan / Lord), ELOHIM (Allah / God), THEOS (Allah) atau KURIOS (Tuhan), itu bisa menunjuk kepada yang bukan Allah sejati (menunjuk pada dewa, manusia, atau bahkan setan): Kel 4:16; 7:1; Maz 82:1,6; Yes 21:8; Kis 28:6, 2 Kor 4:4. Tetapi nama YAHWEH yang adalah nama diri Allah (proper name), tidak pernah diberikan kepada SIAPAPUN juga. Bandingkan Maz 83:19 – “supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN (Yahweh), Yang Mahatinggi atas seluruh bumi” (Juga Yes 42:8).
Jadi, jika Yesus disebut dengan Yahweh, maka tidak bisa tidak, Yesus adalah Yahweh itu sendiri. Hal ini tentunya sangat cocok dengan konteksnya seperti yang sudah dijelaskan dalam point pertama.

INKARNASI YAHWEH


Janji akan munculnya Mesias Ilahi dalam 2 Sam 7:12-16; Mik 5:1; dan Yes 9:5, yang adalah Yahweh itu sendiri, semakin dipertegas oleh nabi Yesaya, pada saat dia berkata: “Ada suara yang berseru-seru: ‘Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!...’”(Yes 40:3). Kata ‘TUHAN’ dalam ayat ini berasal dari kata Ibrani YHWH (Yahweh). Yohanes Pembaptis kembali mengutip kata-kata ini dan menerapkannya untuk Yesus (Mat 3:1-4; Mrk 1:1-4; Luk 1:76-78; Yoh 1:23).
Pernyataan Yohanes Pembaptis ini semakin meneguhkan inkarnasi Yahweh, dan tentunya sangat mendukung Yer 23:5-6!


MENJAWAB KEBERATAN

Dalam beberapa hari belakangan ini, saya mendiskusikan sebuah topic yang berjudul ‘Apakah Yesus adalah Yahweh?’ bersama dengan Pdt. Teguh Hindarto M.Th, seorang penganut Judeo Christianity (yang juga seorang pemuja nama Yahweh) di sebuah forum diskusi.  Dalam diskusi tersebut, terlihat jelas bahwa orang ini menolak Yesus sebagai Tuhan / Yahweh. Saya akan memberikan salah satu sanggahannya terkait dengan teks Yer 23:5-6 dan jawaban dari saya.

Teguh Hindarto: Lha menurut Anda, siapa yang berfirman pada ayat tersebut? Yesus atau Yahweh? Sangat jelas bahwa Yahweh bersabda mengenai “Tunas Adil bagi Daud” dan namanya “YHWH Tsidkenu” (YHWH keadilan kita). Namun apakah pernah Yesus dinamai “YHWH Tsidkenu?” Sebagaimana Mesias yang dinubuatkan dalam Yesaya 9:5, apakah nama-nama itu pernah diklaim oleh Yesus sebagai nama dirinya? Pernyataan “YHWH Tsidkenu” bermakna bahwa YHWH hadir di tengah umatnya melaui Firman-Nya yang menjadi manusia BUKAN dirinya yang menjadi manusia.

Saat itu saya menjawab demikian: Yang mengatakan ‘Sang Tunas adil’ disebut ‘TUHAN (YHWH)- keadilan kita’ memang adalah Yahweh sendiri. Jadi, jika ada yang menolaknya, sama saja menolak firman Yahweh. Anda menyoroti kata-kata “dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya” dan mengatakan bahwa Yesus tidak pernah dinamai seperti itu. Kasus seperti ini memang sama dengan kata-kata dalam Yes 9:5b: “namanya disebutkan orang…”. Mengapa Yesaya mengatakan “namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” tetapi ternyata tak ada orang yang menyebutkan demikian? Apakah nubuat Alkitab ini menjadi gagal? Tentu saja ini tak boleh dihurufiahkan, namun berarti bahwa sebutan-sebutan ini memang menunjukkan diri dan karakterNya. Bagi orang Yahudi, ‘nama’ selalu berkaitan erat dengan pribadi itu sendiri.

The International Standard Bible Encyclopedia, vol II: “Dalam kebudayaan Barat jaman sekarang nama-nama pribadi tidak lebih dari sekedar label-label yang membedakan satu pribadi dari pribadi yang lain. ... jaman alkitab, dalam mana nama seorang pribadi mempunyai arti yang jauh lebih dalam. Pentingnya nama pribadi mendapatkan pernyataan yang jelas dalam PL dalam cerita-cerita mengenai pemberian atau perubahan nama-nama. Nama mewakili / menggambarkan seluruh pribadi; dapat dikatakan bahwa nama adalah pribadi itu sendiri”  (hal 504).

Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: “Sekarang mengenai hubungan nama dengan pribadi yang beroleh nama itu. Ajaran Alkitab dapat dirumuskan dalam tiga dalil: nama itu adalah pribadi itu sendiri; nama itu adalah pribadi yang diungkapkan; dan nama itu adalah pribadi yang hadir secara aktif.” (hal 123)

Istilah ‘Allah yang perkasa’ (EL GIBOR) dalam Yes 9:5, tak berarti bahwa saat berkarya didunia Yesus dipanggil ‘Allah yang perkasa’, tetapi bahwa Dia memang adalah Allah / THEOS itu sendiri. Ini ditunjukkan dengan sifat / karakterNya sebagai pribadi yang Maha hadir (Mat 28:20; Yoh 14:18,20,23); Maha Tahu (Yoh 2:24-25); Maha Kuasa / mengampuni dosa (Mrk 2:10); Maha Suci (Ibr 4:15; Yoh 8:46); disembah (Mat 8:2; 14:33; Ibr 1:6), dsb (bdk. dengan sifat Allah / YHWH yang mengampuni dosa [Yer 31:34]; Maha kudus [Yes 41:14], dsb). Demikian pula dengan nama ‘YHWH Sidqenu’, sebutan ini bukan berarti saat didunia Yesus dipanggil demikian, tetapi ini menunjuk pada diri Yesus yang adalah Yahweh.
Lalu jika Yesus adalah Yahweh, bagaimana kita bisa memastikannya lebih lanjut? Ini tentu bisa dilihat dari perbuatan / karya-karyaNya. Misalnya, Yesus adalah Juruselamat satu-satunya (Yoh 4:42; Kis 4:12), ini cocok dengan pribadi Yahweh yang juga adalah satu-satunya Juruselamat (Yes 45:21; 43:11). Yesus adalah pencipta segalanya (Yoh 1:3; Kol 1:16), ini tentu adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Yahweh sendiri (Yes 40:28; 64:8), dsb. Oleh karena itu, ketika Yesus disebut ‘YHWH keadilan kita’, ini berarti bahwa Yesus adalah Yahweh itu sendiri.  

Saya lalu mengatakan bahwa penafsiran Hindarto yang memaknai “‘YHWH Tsidkenu’ sebagai “YHWH hadir di tengah umatnya melaui Firman-Nya yang menjadi manusia BUKAN dirinya yang menjadi manusia.” Bukan hanya mengabaikan konteks bahwa istilah ‘TUHAN keadilan kita’ (ayat 6) menunjuk pada ‘Sang Tunas adil’ (ayat 5) bukannya kepada ‘Firman YHWH’, tetapi juga menentang arti kata ‘nama’ menurut Kitab Suci / orang-orang Yahudi.

Selanjutnya, dibagian akhir dari diskusi kami, saya kemudian menekankan bahwa pernyataan Teguh Hindarto disini menjadi kontradiksi, karena awalnya dia mengatakan bahwa yang hadir ditengah umatnya adalah YHWH sendiri, yang kemudian diperjelas ‘melalui Firman-Nya yang menjadi manusia’ (disini saya menangkap bahwa Sang Firman itu adalah YHWH sendiri). Tetapi anehnya, disisi lain dia mengatakan bahwa bukan YHWH yang jadi manusia. Jika memang bukan YHWH yang jadi manusia, mengapa dikatakan bahwa yang hadir ditengah umatnya adalah YHWH? Setelah saya menunjukkan ketidakkonsistenan penafsiran Teguh ini, dia kemudian langsung menghentikan diskusi! [3]


KESIMPULAN

Yer 23:5-6 adalah nubuatan yang diungkapkan oleh Yahweh sendiri melalu nabi Yeremia yang digenapi secara sempurna dalam diri Yesus Kristus! Ini bukan hanya sekedar nubuat tentang kehadiran seorang manusia saja (keturunan Daud), tetapi bahkan kehadiran Allah (Yahweh). Allah dan manusia sepenuhnya dinyatakan dalam teks ini. Yesus Kristus adalah Yahweh!




Sumber:

[1] Welly Pandensolang, Kristologi Kristen, hal. 86-87
[2] Wycliffe Bible Commentary, hal. 609-610.
[3] Diskusi dengan topik mengenai ‘Apakah Yesus adalah Yahweh’ selengkapnya bisa dilihat disini: http://www.facebook.com/groups/259025264138201/





1 komentar:

  1. Saya setuju dengan anda pak Albert.. Penyerangan/penolakkan terhada ketuhannan Yesus makin samar2, bahkan orang2 yg percaya goyah imannya, mudah di belokkan saat ini, hampir tergenapi sudah nubuatanNya, ini salah satu pekerjaan kuasa gelap yg paling mutakhir.
    Kita bisa waspada jika serangan datang dari luar Kristus, tp serangan dari dalam yg isinya orang2 yg pandai, peneliti, sarjana theologi Dan ahli bahasa yg membuat domba2 Kristus tidak waspada.
    Saya ada membaca beberapa artikel terkait diragukannya ketuhanan Yesus sebagai Tuhan/Yahweh itu sendiri. Namun puji Tuhan, saya berterima kasih kepada Tuhan Yesus bahwa saya tetap percaya bahwa Yesus Kristus adalah Yahweh yg berinkarnasi.
    Jika dahulu di jaman PL YHWH begitu jauh istilahnya untouchable, tp di jaman PB dan saat ini YHWH kita bisa begitu dekat melalui pengenalan kita di dalam Yesus/Yahshua oleh karena penebusanNya.
    Banyak bukti bahwa Yesus adalah YHWH itu sendiri, namun saya sedih, berduka saat ini, sekali lagi Yesus mengalami penolakkan oleh orang2 yg telah mengenal Dia (walaupun tidak kentara), tp jelas bagi saya.
    YHWH berfirman bahwa Dia adalah Juruselamat. Tidak memberikan kemulianNya kepada yg lain. Bukankah Yahshua juga berarti AKU/YAH penyelamat/menyelamatkan atau YAH kalau di artikan sebagai TUHAN berarti TUHAN menyelamatkan?
    Bukankan Gabriel menyuruh Maria menamai anak itu sebagai Yahshua? Dan di kitab Yohanes nama Bapa sudah diberikan kepada Yahshua? Dan kemuliaanNya juga.
    Saya dapat ini :
    "...Suhento Liauw, Th.D menyatakan lebih tepat terjemahannya, “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki yang adalah YAHWEH”. Kata “dengan pertolongan” dalam Alkitab LAI yang saya sengaja cetak huruf tebal miring (bold-italic) itu tidak ada dalam bahasa aslinya. Sesungguhnya …. Lebih tepat diterjemahkan “seorang laki-laki yang adalah YAHWEH.” Kata et adalah direct object mark (tanda obyek langsung), seperti ‘saya makan pisang’ sebelum kata pisang harus ada kata ..(et). Jadi kelihatannya Hawa yang telah jatuh ke dalam dosa sangat percaya janji Allah untuk mengirim Juruselamat, dan ia tahu bahwa Sang Juruselamat itu adalah Allah sendiri yang akan menjadi manusia, sehingga ketika ia melahirkan Kain, ia menyangka bahwa itu adalah Sang Juruselamat."
    Dari http://dedewijaya.blogspot.com/2009/05/nama-tuhan-yg-diperdebatkan.html?m=1
    Buat saya sudah jelas Dan tidak ada yg perlu diperdebatkan lagi.
    Saat saya memuliakan Yesus saya turut/otomatis memuliakan YHWH, kesatuan ALLAH. Tapi saat saya hanya mengakui YHWH, belum tentu saya mengakui Yesus sebagai Tuhan.
    Kiranya Bapa di surga melimpahkan kepada pak Albert kasih karuniaNya melalui Yesus Kristus Tuhan, serta RohNya senantiasa menyertai anda senantiasa, maranata.
    Djie Sun Gie

    BalasHapus